Hidup M. H. Lukman, Pemimpin PKI Yang Tumbuh di Pembuangan Digul

10 views
Skip to first unread message

Chan CT

unread,
Dec 7, 2021, 4:48:25 AM12/7/21
to GELORA45_In

Hidup M. H. Lukman,

Pemimpin PKI Yang Tumbuh di Pembuangan Digul

Header muhammad hatta lukman. (tirto.id/Fuad)Header muhammad hatta lukman. (tirto.id/Fuad)

Oleh: Petrik Matanasi - 6 Desember 2021

https://tirto.id/hidup-m-h-lukman-pemimpin-pki-yang-tumbuh-di-pembuangan-digul-glNT

Lukman kecil tumbuh di tanah pembuangan Boven Digul. Ikut PKI sejak era Revolusi hingga jadi tangan kanan Aidit.

tirto.id - Di antara Aidit, Lukman, dan Njoto, trio pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1950-an, Lukman-lah satu-satunya yang pernah merasakan hidup di pengasingan. Saat kecil, ia hidup bersama keluarganya di Boven Digul, Papua. Di sanalah dia tumbuh jadi seorang komunis.

Pada mulanya adalah Pemberontakan PKI pada 1926-1927. Setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda berhasil mematahkannya, banyak kader yang ditangkap dan dibuang ke Digul. Salah satunya adalah Haji Muchlas, ayah Lukman. Haji Muchlas yang asal Tegal dikirim bersama keluarganya pada 1927. Kala itu Lukman berusia sekitar sembilan tahun.

Pada 1934, kamp Digul kedatangan interniran baru, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Keduanya adalah tokoh Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Setelah beberapa saat, Hatta dan Sjahrir menjadi cukup akrab dengan Haji Muchlas dan keluarganya. Hatta yang terpelajar dan membawa berkotak-kotak buku itu pun jadi guru bagi Lukman.

Kekaguman dan kedekatan Haji Muchlas dengan Hatta kemudian membuat Lukman ketambahan dua nama depan sehingga namanya jadi Muhammad Hatta Lukman.

Terkait hubungan antara Hatta-Sjahrir dan remaja Lukman itu, koran PKI Harian Rakjat (7/9/1955) menulis, “Lukman banyak mendapat didikan langsung dari Hatta dan Sjahrir, tetapi perkenalannya dari dekat dengan dua orang pemimpin ini justru membawa Lukman sampai pada kesimpulan bahwa dia harus menempuh jalan yang lain daripada yang mereka tempuh.”

Baca juga: Cara Hatta Membunuh Kesepian dalam Pembuangan

Antipenjajah sejak Remaja

Sedari dini Lukman sudah ikut melawan Belanda. Di umur 16, ia disebut ikut menentang kebijakan Wilde Schoolen Ordonantie, yang melarang sekolah-sekolah tak berizin dan bukan dikelola pemerintah karena dianggap bakal meningkatkan kemampuan masyarakat. Dia bahkan sampai dijebloskan ke penjara Digul.

Trikoyo Ramidjo dalam Kisah-Kisah dari Tanah Merah (2009) menulis soal Lukman dan kawan-kawan kecilnya yang berani memperingati Pemberontakan PKI 1926. Di hari peringatan itu, Lukman dan kawan-kawannya berulang-ulang menyanyikan lagu-lagu perjuangan macam Dua Belas November, Satu Mei dan Enam Jam Kerja. Kontan saja aparat kolonial membubarkannya.

“Perayaan kami dibubarkan, diobrak-abrik, dan kue-kue yang seharusnya bisa kami nikmati berhamburan di tanah […] Anak-anak perempuan menangis […] Mas Suroso dan Mas Lukman digelandang serdadu Belanda, walaupun mereka berdua belum dewasa mereka berdua dijebloskan ke dalam tahanan,” tulis Trikoyo.

Lukman pulang ke Jawa pada 1938. Menurut Rex Mortimer dalam Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959–1965 (1974), setelah itu Lukman melanjutkan sekolahnya. Harian Rakjat menyebut Lukman kemudian jadi petani dan lalu buruh di perusahaan bus hingga Jepang datang menyerbu. Selama itu pula dia tak lepas diawasi oleh polisi kolonial.

Di zaman Pendudukan Jepang, menurut Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (1989), Lukman sempat bekerja di kantor Poesat Tenaga Rakjat (Poetera) lalu Jawa Hokokai di bawah Sukarno dan Hatta. Selain itu, dia juga sering nongkrong di Asrama Menteng 31, Jakarta.

Di masa inilah Lukman berkenalan dengan Dipa Nusantara Aidit. Keduanya lalu jadi kawan karib dalam Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom), sebuah organisasi bawah tanah anti-Jepang. Menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011), Lukman dan Aidit adalah rekrutan Wikana.

Lukman dan Aidit juga aktif dalam gerakan selama masa jelang Proklamasi 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, Lukman aktif di Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Barisan Rakyat (Bara).

Baca juga: (Tiada) Proklamasi Indonesia Tanpa Wikana

Masuk Lingkaran PKI

Setelah Indonesia merdeka, M. H. Lukman bersilang jalan dengan Hatta. Ketika PKI jadi oposisi Hatta pada 1948, menurut Poeze, Lukman berada di bagian Agitasi dan Propaganda bersama Alimin dan Sardjono. Setelah Geger Madiun 1948, PKI dibabat oleh tentara pemerintah atas restu Kabinet Hatta.

Untungnya Aidit dan Lukman tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang kemudian dieksekusi. Mereka berdua, bersama Njoto dan Sudisman, menjadi kader-kader muda yang turut membangun kembali PKI yang remuk. Pada awal 1950-an, mereka menerbitkan lagi majalah partai Bintang Merah untuk membersihkan stigma antinasional. Mereka kemudian sepakat mengambil jalan perjuangan parlementer.

Langkah maha penting yang mereka lakukan adalah mengambil alih kepemimpinan partai dari Tan Ling Jie pada 1951. Sejak itu, Lukman jadi orang penting di PKI.

“Oleh sidang pleno CC Oktober 1953, kemudian diperkuat oleh Kongres Nasional ke-V PKI Maret 1954, Lukman dipilih sebagai Wakil Sekretaris Jenderal I CC PKI,” demikian tulis Harian Rakjat.

Lukman adalah orang nomor dua di CC PKI. Trio Aidit-Lukman-Njoto kemudian sukses memperbesar kuantitas anggota partai dan membentuk massa yang solid. Bahkan mereka berhasil mendudukkan PKI dalam jajaran empat besar pemenang Pemilu 1955. Perolehan suara PKI hanya kalah di bawah PNI, NU, dan Masjumi.

Di luar PKI, Lukman juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan merangkap jadi menteri.

Baca juga: Pemuda Kiri Mendesak Proklamasi

infografik mild muhammad hatta lukman

Setelah kudeta gagal Gerakan 30 September 1965, PKI hancur lebur. Lukman bersama tokoh-tokoh teras PKI lain jadi sasaran Angkatan Darat. Sebelum huru-hara pun, Lukman sempat diterpa isu miring yang mencoreng karakternya.

Koran Kompas (23/9/1965), misalnya, merilis berita bertajuk “MH Lukman Korupsi 25 Djuta Uang Rakjat”. Menurut berita itu itu, “Tanggal 7 September 1965, Menteri Wakil Ketua DPR-GR Lukman mengajukan permohonan kepada Menteri Anggaran Negara untuk memperoleh uang sebesar Rp 250 juta.” Uang itu sedianya bakal digunakan untuk membeli rumah. Berita ini terkait pembelian rumah di Jalan Gondangdia Lama seluas 2 ribu meter persegi.

Nasibnya lalu nahas. Menurut berita dari surat kabar Ampera yang dikutip harian Angkatan Bersendjata (4/5/1966), Lukman dikabarkan tertangkap pada 29 April 1966 dini hari. Dia diciduk saat bersembunyi di rumah seorang dokter Tionghoa di Jalan Ciomas, Kebayoran Baru.

Persembunyian itu rupanya diketahui oleh kelompok mahasiswa antikomunis. Lukman sempat diamankan pihak militer dari Kodam Siliwangi, namun dia dikabarkan tewas tertembak karena melarikan diri dan melakukan perlawanan.

Baca juga artikel terkait TOKOH PKI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi (tirto.id - Humaniora) Penulis: Petrik Matanasi Editor: Fadrik Aziz Firdausi

Baca selengkapnya di artikel "Hidup M. H. Lukman, Pemimpin PKI Yang Tumbuh di Pembuangan Digul",
https://tirto.id/glNT

Tatiana Lukman

unread,
Dec 7, 2021, 9:41:37 AM12/7/21
to Chan CT, GELORA45_In

M.H. Lukman Korupsi?

18 Maret 2018 | 12:14

Tulisan di harian Kompas pada November 1965 yang menuduh Wakil Ketua DPR-GR sekaligus Wakil Ketua I PKI,, M.H. Lukman korupsi [Foto: blog Robert Adhi Kusumaputra]

Koran Sulindo – Menyusul tersingkirnya Orde Baru, muncul banyak tulisan yang membelejeti kebohongan dan fitnah yang telah disebarkan dan dicekokkan oleh rezim militer Soeharto. Walau begitu masih ada saja tulisan yang terus mengunyah-unyah propaganda busuk anti-komunis dan anti PKI dalam usaha menghapus hasil kecil yang dicapai reformasi.

Salah satu kebohongan, pemutarbalikan fakta dan fitnah itu berhasil saya temukan di blog mantan wartawan harian Kompas, Robert Adhi Kusumaputra. Ia membuka arsip Kompas dengan berita di halaman 1 edisi 23 November 1965. Judul berita itu adalah M.H. Lukman korupsi 250 djuta uang rakjat. M.H. Lukman dituduh menggunakan Rp 250 juta untuk membangun rumah mewah di jalan Gondangdia Lama yang dianggap sebagai rumah pribadinya. Rumah itu memiliki tujuh kamar tidur, lapangan tenis, dan kolam renang yang mewah.

Dalam fiksi yang disebar Kompas itu terdapat hal-hal aneh yang seharusnya dijelaskan oleh si pencipta khayalan. Misalnya tertulis di situ: “Pada tgl. 31 Agustus 1963, seorang pemilik rumah di Djl. Gondangdia menjerahkan rumah miliknja tsb. kepada M.H. Lukman untuk ditempati sendiri…..”. Kemudian terdapat kalimat: “Tgl. 7 September 1965, Menteri Wakil Ketua DPR-GR M.H. Lukman mengadjukan permohonan kepada Menteri Anggaran Negara untuk memperoleh uang sebesar Rp. 250 djuta, sesuai dengan otorisasi tgl. 15 Djuli 1965 No.II-174-65….-PM mengenai pembelian rumah bagi DPR-GR.”

Mengapa ada jarak waktu dua tahun antara penyerahan rumah kepada Lukman dan pengajuan permohonan untuk memperoleh uang pembeli rumah itu? Selama dua tahun apa yang terjadi dengan rumah itu? Kapan uang Rp 250 juta itu diterima Lukman? Untuk menuduh Lukman korupsi, tentu harus ada bukti bahwa uang itu betul-betul diterima Lukman.

Pada berita itu juga tertera bahwa rumah yang akan dibeli adalah “bagi DPR-GR”. Berarti, seandainya Lukman benar mengajukan permohonan, itu dilakukan karena jabatannya, bukan untuk kepentingan pribadi.

Namun Robert Adhi, dalam komentarnya, menulis: “Pembuatan rumah tersebut dan bagaimana sampai uang rakyat sebesar Rp 250 juta digunakan tanpa pertanggungjawaban, semuanya dilakukan di luar pengetahuan pimpinan DPR-GR lainnya. Benar bahwa pimpinan DPR-GR MH Lukman dan Sjaichu akan diberi rumah jabatan, dalam arti mereka memegang jabatan pimpinan DPR-GR. Sjaichu menggunakan prosedur umum, sebaliknya Lukman bertindak sendiri. Rumah dinas dijadikan rumah pribadi, untuk kemudian dirombak menjadi rumah mewah, dan menggunakan uang rakyat sebesar Rp 250 juta. Untuk ukuran 1965, jumlah uang itu sangat besar.”

Saya minta Robert Adhi menunjukkan bukti bahwa “penggunaan 250 juta rupiah tanpa pertanggungjawaban …… dilakukan di luar pengetahuan pimpinan DPR-GR lainnja.” Uang Rp 250 juta itu untuk beli rumah atau untuk merombaknya menjadi rumah mewah?

Robert Adhi harus membuktikan juga bahwa “Sjaichu menggunakan prosedur umum, sebaliknya Lukman bertindak sendiri.” Apa dan bagaimana konkretnya yang dimaksud “bertindak sendiri”. Ia juga harus menjelaskan dan mengajukan bukti bahwa Lukman telah merombak dan menjadikan rumah mewah itu sebagai rumah pribadinya. Karena kalau itu betul, maka bukankah saya sebagai anaknya seharusnya berhak untuk menuntut kepemilikan rumah tersebut? Bahkan saya berharap Kompas dan Robert Adhi mendampingi saya melacak dan mengurus supaya kepemilikan keluarga kami atas rumah yang diduga milik pribadi Lukman itu benar-benar diakui. Kalau tidak maka Kompas dan Robert Adhi telah seenak perut sendiri melempar tuduhan korupsi kepada M.H. Lukman tanpa tanggung jawab pembuktian. Nah, untuk membuktikan bahwa memang betul Lukman korupsi, saya harus dibawa ke rumah di Gondangdia Lama itu dan dikasih lihat sertifikat pemilikan pribadi Lukman atas rumah tersebut.

Yang jelas ibu saya tidak pernah bicara tentang kepemilikan rumah pribadi di jalan Gondangdia Lama itu. Aneh ya? Padahal setelah bapak dihilangkan dan sampai sekarang tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, kami hidup terlunta-lunta karena tidak ada penghasilan. Seandainya kami betul-betul punya rumah pribadi yang sangat mewah itu, tentu akan kami jual untuk bisa hidup layak sehingga gereja tidak perlu mengulurkan tangannya. Bayangkan rumah di atas lahan 2.000 meter persegi, dengan tujuh kamar tidur, serambi depan, serambi belakang, lapangan tenis dan kolam renang mewah di daerah Menteng! Tak terbayang bapak memiliki rumah seperti itu!

Robert Adhi mengimbau para pembaca berita “M.H. Lukman Korupsi” di blognya untuk menyebar berita itu melalui media sosial. Bagi pembaca yang tidak kenal sejarah dengan benar dan tak mampu berpikir kritis karena tercekoki propaganda Orba anti-PKI, besar sekali kemungkinan mereka membayangkan keluarga Lukman kini hidup mewah.

Ketika keluarga M.H. Lukman pindah dan tinggal di rumah di jalan Haji Agus Salim, lama ia menolak barang-barang dan perlengkapan rumah inventaris DPR. Tiba-tiba pada suatu hari, beberapa petugas datang dan berkata bahwa isi rumah itu tidak pantas sebagai rumah menteri. Ibu saya menjawab kami sudah biasa hidup dengan perabotan yang ada dan tidak merasa malu. Namun, akhirnya datang para petugas membawa barang-barang yang mereka tentukan sendiri. Ruang tamu kecil di depan diisi sebuah meja tamu kecil serta empat kursi mungil dan sebuah karpet menutupi lantainya. Kami bahkan tidak pernah duduk-duduk di situ. Hanya ketika istri dubes berkunjung, ibu menerimanya di ruang tamu itu.

Para petugas juga memasukkan meja makan besar, televisi, kulkas, lemari pakaian, meja tulis. Ketika barang-barang itu tiba, Lukman memanggil anak-anaknya dan berkata dengan serius bahwa semua barang itu adalah pinjaman rakyat, bukan milik kami. Kami tinggal di rumah itu karena rakyat. Seandainya harus meninggalkan rumah itu, maka tak satu barangpun akan kami bawa.

Lantas apa isi kulkas yang besarnya luar biasa itu? Hanya air! Ibu pergi setiap hari ke pasar. Makanan untuk 16 orang setiap hari selalu habis. Apa yang mau disimpan? Adik bungsu saya, ketika melihat air yang disimpan dalam kulkas menjadi dingin, maka pikiran kanak-kanaknya beranggapan kalau bajunya dimasukkan, ia akan merasa adem mengenakan baju yang dingin!

Telur adalah makanan mewah. Tak pernah kami bisa makan satu telur utuh, selalu dibagi dua. Senangnya luar biasa kalau salah satu anggota keluarga berulang tahun. Karena pada hari itu eyang putri dengan uang eyang kakung sebagai Perintis Kemerdekaan, memberi tiap anak sepiring kecil nasi kuning ditutupi telur dadar.

Kalau telur barang mewah, maka ayam super mewah! Saya minta tolong Kompas dan mantan wartawannya, Robert Adhi, mencari menteri dalam pemerintahan Soeharto sampai pemerintahan sekarang, yang istrinya harus menukarkan pantalon suaminya dengan ayam, agar keluarganya dapat makan ayam! Tidak perlu menteri, anggota DPR sajalah! Tunjukkan anggota DPR mana yang tidak mampu beli ayam untuk makan keluarganya. Siapa tahu ada? You never know! Makanya sekarang ada saja anggota DPR dan menteri yang korupsi. Barangkali untuk beli ayam?

Itulah yang terjadi pada suatu hari di sebuah rumah di Menteng. Bapak cari ubek-ubekan celana panjangnya untuk pergi kerja. Tahu-tahu celana itu sudah ditukar ayam yang beberapa hari sebelumnya menjadi santapan istimewa keluarga.

Mengapa pada jenjang SMA saya pindah dari Santa Ursula ke Budi Utomo? Setiap hari saya merengek pada bapak agar pindah. Tidak tahan saya sekolah bersama anak-anak orang kaya yang tiap waktu istirahat membuka bekal berisi telur dengan roti atau kentang goreng. Sedangkan saya tidak diberi apa-apa oleh ibu, karena memang tidak ada yang bisa dibawa. Eyang putri berusaha membantu dengan kadang-kadang goreng kentang untuk saya bawa. Tapi toh tidak membantu, karena saya tidak punya teman satu pun. Buat mereka, saya adalah “alien”, mahluk “asing” yang tidak sama dengan mereka. Akhirnya bapak mengerti saya tidak akan bisa belajar dengan suasana seperti itu.

Tuduhan Fiksi
Saya tidak akan heran kalau ada pembaca yang meragukan dan bahkan tidak percaya pada anekdote kehidupan keluarga seorang menteri komunis. Bisa saja saya dituduh bikin “fiksi” untuk membela bapak saya.

Seperti fakta tentang enam orang jenderal dan seorang kapten yang dibunuh ketika G30S meletus. Bukti sudah diajukan oleh beberapa saksi mata bahwa mereka sama sekali tidak disiksa, tubuh dan kemaluan mereka tidak disayat-sayat oleh anggota Gerwani yang dituduh menari telanjang dalam pesta cabul. Kebohongan dan fitnah ini sengaja dibuat untuk membangkitkan kebencian, membakar dan mengipasi kemarahan publik kepada Gerwani, satu-satunya organisasi massa wanita progresif terbesar dalam sejarah pergerakan rakyat Indonesia. Itulah jalan dan cara jahat dan keji tak kenal malu yang digunakan rezim militer fasis Soeharto guna membenarkan pembantaian, penyiksaan, persekusi, penghilangan paksa dan pemenjaraan terhadap rakyat tak bersalah.

Tuduhan korupsi kepada M.H. Lukman yang dilakukan Kompas pada 1965, dan sekarang kembali disebar oleh Robert Adhi adalah juga untuk menodai kehormatan PKI. Bukankah partai ini dikenal rakyat sebagai organisasi politik yang bersih dari korupsi dan tindakan kriminal. Mereka yang terlibat dalam menciptakan fiksi korupsi Lukman tidak merasa penting untuk mendalami dan menyelidiki dalam rangka memperoleh fakta dan kebenaran.

Sebagai wartawan, ada perbedaan mendasar antara Robert Adhi dengan Hendro Subroto, wartawan perang kawakan dan salah seorang saksi mata sejarah yang mengkonfirmasi bahwa enam jenderal dan seorang kapten tidak disiksa di Lubang Buaya. Sambil menunjukkan foto hitam putih kepada wartawan Tempo, pada Maret 2001, Hendro memperlihatkan alat kelamin jenderal yang utuh dan tidak disayat-sayat. (sumber: Tempo.co, 30 Septermber 2016, Apakah Para Jenderal Disiksa Seperti di Film G30S?)

Walau kebohongan itu sudah merupakan rahasia umum masih terlalu banyak yang belum mau membebaskan diri dari cuci otak Orba. Mereka terus-terusan menuding PKI berkali-kali berontak. Padahal satu-satunya peristiwa yang betul-betul patut dinamakan pemberontakan terjadi pada tahun 1926. Pemberontakan kepada siapa? Ini yang ditutupi oleh Orba dan kaki tangannya. Itulah pemberontakan nasional pertama melawan penjajah Belanda! Jadi sebelum ABRI, TNI, aparat kepolisian, dan semua partai yang anti-PKI lahir, PKI sudah tampil memimpin rakyat Indonesia untuk mengusir kaum kolonialis Belanda! [Tatiana Lukman]

 2.117

 

 

 

Sent from Mail for Windows

--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/254669B029B644DAA1A24661AA61C83D%40A10Live.

 

nesare hotmail

unread,
Dec 7, 2021, 10:33:45 AM12/7/21
to GELORA45_In

Sejarah PKI dari peristiwa madiun s/d G30S itu di jaman Orba ditutupin dgn ketat. Jangankan sejarah PKI tetapi sejarah Soekarno saja dibredel oleh Soeharto.

Jadi tidak heran tokoh2 pergerakan ini tidak diketahui oleh rakyat Indonesia sampai sekarang.

 

Sejarah gerakan kiri itu tidak akan pudar krn tertera dlm sila ke 4: kerakyatan. Diobok2 gimanapun sila ke 4 itu adalah hasil dari gerakan kiri yg berjuang melawan penjajah sampai merdeka.

 

Sudah sejak SI, penjajah belanda dgn corongnya PID = Politieke Inlichtingen Dienst = Dinas Intelijen Politik menghasut menggunakan Serekat Hejo utk menteror Serekat Merah. Hanya saja pada pemilu 1955 gak berhasil krn tantara masih netral dan keterbukaan pers. Hasilnya jelas pemilu 55 dan 57 mencerminkan pluralism bangsa Indonesia dimana PKI (kiri), NU dan masyumi (agamais), PNI (nasionalis) bercokol dipapan atas. Inilah dasarnya bung Karno mengumandangkan nasakom. Lucu sekali suara2 miringnya PID jaman itu yg mendiskreditkan PKI sbg atheis, sedangkan kenyataaannya anggota PKI itu ya orang2 yg beragama juga. Sayangnya sekarang masih didendangkan oleh kelompok2 Isfun sbg komoditi dagangan utk meraih suara rakyat.

 

Teruslah menulis. Dengan menulis sejarah akan terkuak. Ini kata Gus Dur dalam komentarnya dalam masalah pembunuhan massal 1965.

 

Nesare

Chan CT

unread,
Dec 7, 2021, 7:46:42 PM12/7/21
to GELORA45_In, Tatiana Lukman
Bukan karena prasangka dan tidak percaya akan bantahan yang diajukan nenek Tatiana ini, tapi sekadar ingin tahu saja.
 
Sebenarnya saja keluarga MH Lukman terakhir, jelang G30S itu dimana, di Jl. Gondangdia Lama atau di Jl. H. Agus Salim? Karena rumah Gondangdia dipersoalkan sudah 7 Sept. 1965, jadi, baru pindah atau kalian belum sempat masuk rumah Jl. H. Agus Sslim?
 
Kedua, kalau saja rumah Gondangdia itu merupakan perumahan DPR untuk ketua DPR, bukankah urusan pembelian rumah bukan diurus Lukman sendiri, apa yang dikorupsi dari 250 juta itu? Atau maksudnya rumah itu sebenarnya tidak pantas senilai itu, dan terjadi persekongkolan Lukman dan pemilik rumah? Aneh dan tidak masuk akal! Kecuali lebih pantas tuduhan korupsi itu pada petugas/pejabat yang bertanggungjawab membeli perumahan DPR itu, ...!
AB6B290BAFEF4689843C4BE3BA4BD816.jpg

Tatiana Lukman

unread,
Dec 8, 2021, 11:04:54 AM12/8/21
to Chan CT, GELORA45_In

Belajarlah membaca dan menyimak dengan teliti dan baik!!!

AB6B290BAFEF4689843C4BE3BA4BD816.jpg
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages