Tangkisan PD Atas Serangan PDIP 'SBY Pengalaman dengan
Kecurangan'
Lisye
Sri Rahayu - detikNews
Kamis,
22 Sep 2022 07:40 WIB
https://news.detik.com/pemilu/d-6305280/tangkisan-pd-atas-serangan-pdip-sby-pengalaman-dengan-kecurangan?single=1
Jakarta
- Politikus senior PDIP Panda Nababan menyebut Ketua Majelis Tinggi Partai
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seperti memiliki pengalaman dengan
kecurangan saat menyinggung ada upaya agar Pilpres 2024 hanya diikuti 2 pasangan
calon. Partai Demokrat menangkis serangan PDIP.
Panda
Nababan menyampaikan hal itu dalam acara Adu Perspektif bertema 'Adakah Skenario
'Mereka' Jegal Pencapresan?' yang tayang di detikcom dengan kolaborasi bersama
Total Politik, Rabu (21/9/2022). Panda mengaku sedih saat mendengar pernyataan
SBY. Dia menilai SBY sangat fasih saat menyampaikan soal potensi kecurangan
Pemilu.
"Saya
terus terang saja sejauh yang saya pahami, saya mendengar dia (SBY) bicara itu
sedih. Karena apa? Sepertinya dia mengakui yang pernah dia lakukan, sepertinya.
Artinya kok fasih betul ada kecurangan, ada ini. Seperti fasih, seperti akrab
persoalan itu dengan dia," kata Panda.
"Artinya
kalau lihat omongannya sepertinya dia sudah punya pengalaman. Ada
pengalamannya," imbuhnya.
Baca
juga:
Senior
PDIP Nilai SBY Pengalaman soal Jegal Pencapresan, PD
Membela
Panda
lantas berbicara 'keunikan' yang ada di Partai Demokrat. Keunikan itu terkait
dengan suara Demokrat pada saat Pemilu 2009.
"Ini
kan partai buat saya sendiri sebagai orang partai, yang mendirikan juga partai.
Partainya SBY ini terus terang saja buat gue satu hal yang menarik, unik. Baru
lahir bisa melejit menjadi nomor satu, top. (Setelah pemilu kedua) Iya relatif
dalam waktu yang singkat gitu lho. Dan dalam sejarah partai ndak ada," tutur
Panda.
"Ada
dulu sejarah partai gini waktu dulu waktu Golkar dalam kekuasaan melejit naik
begitu. Itu dan di data-data yang ada sama saya, nomor 1 ya kan tahun 2009
dengan 148 kursi di DPR, kemudian tahun 2014 menjadi yang nomor 4, kemudian jadi
nomor 7. Jadi nomor 1 dari sama sekali baru, kemudian ini," jelasnya.
Demokrat
Menangkis
Dalam
diskusi itu, turut hadir Kepala BPOKK DPP Partai Demokrat Herman Khaeron. Dia
memberikan pembelaan terhadap SBY. Herman menerangkan Partai Demokrat menang
pada pemilu 2009 karena pengaruh SBY yang maju sebagai calon Presiden.
"Ini
kan pemilihan presiden secara langsung. Di situlah fungsinya ada di situlah
fungsinya ada kotelepek, ketika ada calon presiden dan wakil presiden maka
memang akhirnya juga partai terangkat di situ, apalagi rakyat juga merespons
terhadap program-program prorakyat yang digulirkan oleh Pak SBY," kata
Herman.
Baca
juga:
Senior
PDIP: Hubungan Megawati dan SBY Memang Pahit
Herman
lantas menjelaskan pernyataan SBY soal konteks tidak jujur dan adil. Dia
menyebut yang disampaikan SBY itu adalah potensi kecurangan.
"Jadi
konteks kecurangan itu, bukan curang sebetulnya, koteksnya itu bisa tidak adil
bisa tidak jujur. Karena ada setting untuk hanya menjadi 2 calon. Jadi bukan
kemudian akan terjadi kecurangan suara, kecurangan apa, bukan ke situ
konteksnya," jelasnya.
Mengenai
SBY dinilai fasih menyampaikan penjegalan itu, Herman juga memberikan pembelaan.
Dia menyebut informasi mengenai capres hanya ada 2 calon yang diterima SBY itu
valid.
"Kan
disampaikan tadi, kan ada informasi disampaikan dan kemudian diklarifikasi
informasi ini, valid. Ya disampaikan kepada kader," kata Herman.
Simak
selengkapnya pada halaman berikut.
Panda
lalu bertanya soal 'valid' yang dimaksud Herman. Herman menjelaskan informasi
yang valid itu mengenai hanya ada 2 paslon pada Pilpres 2024.
"Informasi
bahwa ada setting hanya dibuat 2 calon, 2 kandidat dari hanya kelompok mereka
saja," turut dia.
Panda
kemudian menilai pernyataan SBY soal hanya 2 capres mengada-ada. Dia menilai SBY
menyampaikan itu karena SBY yakin Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
tak mungkin jadi capres atau cawapres.
"Jadi
terkesan mengada-ada omongan ini karena dia sudah yakin AHY nggak mungkin maju
jadi capres. Tapi keinginannya supaya AHY maju," katanya.
Herman
kembali menepis Panda Nababan.
"Saya
kira tidak di situ," katanya.
Baca
juga:
NasDem
Dengar KPK Gelar Perkara Formula E Lusa, Sebut-sebut Nama
Anies
PDIP
Menyarankan PD Realistis