Sri Mulyani: Pendapatan negara melonjak 50,3 persen per Juli 2022
3 views
Skip to first unread message
Chan CT
unread,
Aug 11, 2022, 7:23:55 PM8/11/22
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Sri Mulyani: Pendapatan
negara melonjak 50,3 persen per Juli 2022
Kamis, 11 Agustus 2022 19:12
WIB
qMenteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati. ANTARA/Sanya Dinda/am.
Bandung, Jawa Barat
(ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan realisasi
pendapatan negara mencapai Rp1.551 triliun hingga Juli 2022 dari target APBN
Rp2.266,2 triliun atau melonjak 50,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu
sebesar Rp1.031,7 triliun.
"Pendapatan negara Rp1.551 triliun itu tumbuh
50,3 persen," katanya dalam Konferensi Pers APBN KiTA yang diikuti ANTARA secara
daring di Bandung, Jawa Barat, Kamis.
Realisasi pendapatan negara meliputi penerimaan
perpajakan Rp1.213,5 triliun yang meningkat 53,8 persen dari Rp788,9 triliun
pada Juli 2021 serta PNBP Rp337,1 triliun yang meningkat 39,1 persen dari
Rp242,3 triliun dibanding periode sama tahun lalu.
Penerimaan
perpajakan ini terdiri dari penerimaan pajak Rp1.028,5 triliun yang naik 58,8
persen dari periode sama tahun lalu Rp647,7 triliun serta kepabeanan dan cukai
Rp185,1 triliun yang naik 31,1 persen dari Rp141,2 triliun.
Realisasi
penerimaan pajak Rp1.028,5 triliun yang merupakan 69,3 persen dari target
Rp1.485 triliun ini secara rinci meliputi PPh nonmigas Rp595 triliun atau 79,4
persen dari target serta PPN dan PPnBM Rp376,6 triliun atau 59,1 persen dari
target.
Kemudian, PBB dan pajak lainnya Rp6,6 triliun
atau 20,5 persen dari target serta PPh migas Rp49,2 triliun atau 76,1 persen
dari target.
Kinerja penerimaan pajak ini dipengaruhi oleh
tren peningkatan harga komoditas, pertumbuhan ekonomi yang ekspansif, basis yang
rendah pada 2021 akibat pemberian insentif fiskal serta dampak implementasi
program pengungkapan sukarela (PPS).
Sementara untuk penerimaan kepabeanan dan cukai
yang sebesar Rp185,1 triliun atau 61,9 persen dari target Rp299 triliun meliputi
bea masuk yang tumbuh 31,5 persen didorong tren perbaikan kinerja impor nasional
terutama sektor perdagangan dan industri
Penerimaan kepabeanan dan cukai juga didorong
oleh cukai yang tumbuh 20,8 persen dipengaruhi efektivitas kebijakan tarif,
lonjakan produksi pada Maret 2022 dan efektivitas pengawasan.
Bea keluar
(BK) yang tumbuh 97,8 persen turut mendorong penerimaan kepabeanan dan cukai
seiring tingginya harga komoditas, kenaikan tarif BK produk kelapa sawit dan
kebijakanflush out.
Terakhir,
untuk penerimaan PNBP sebesar Rp337,1 triliun yang merupakan 70 persen dari
target Rp481,6 triliun didukung oleh meningkatnya pendapatan semua komponen PNBP
kecuali pendapatan badan layanan usaha (BLU).