
Jubir Kemenlu Tiongkok Wang Weibin dalam jumpa pers hari Senin kemarin (20/6) menyatakan, seiring dengan terus membaiknya situasi penanggulangan pandemi COVID dan perkembangan ekonomi dan sosial, kinerja ekonomi yang stabil Tiongkok telah meningkatkan lebih lanjut kepercayaan komunitas internasional bagi prospek perkembangan ekonomi Tiongkok.

Dikabarkan, laporan yang dikeluarkan Pertemuan Puncak Qingdao Perusahaan Transnasional Ke-3 menunjukkan, Tiongkok tetap adalah tempat tujuan penting perusahaan transnasional untuk menanam modal di seluruh dunia.

Wang Wenbin menunjukkan, pada bulan Mei lalu, angka utama ekonomi Tiongkok membaik, operasi ekonomi menunjukkan tren rehabilitasi. Menurut data statistik Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok, ekspor barang dagang Tiongkok pada bulan Mei lalu meningkat 15,3 persen dari tahun lalu. Laporan yang dikeluarkan Bursa Transaksi Pengangkutan Laut Shanghai menunjukkan, pasar ekspor pengangkutan peti kemas Tiongkok relatif stabil, berth utilization ratio kapal-kapal pengangkut yang melayar ke Eropa, pantai barat AS dan pantai timur AS hampir mencapai seratus persen.

Pada Hari Belanja 18 Juni yang baru berlalu, volume penjualan di beberapa platform e-bisnis mencetak rekor tertinggi, para pengirim atau kurir yang sibuk bekerja justru mencerminkan dinamika konsumsi Tiongkok. Buku Putih yang dikeluarkan Kamar Dagang AS Tiongkok menunjukkan, kebanyakan anggota kamar dagang AS berpendapat, jika ingin menjadi pemenang, pemeliharaan daya saing di pasar Tiongkok merupakan hal yang sangat penting, para anggota kamar dagang tetap berupaya merintis secara mendalam di pasar Tiongkok. Pada lima bulan pertama tahun ini, jumlah penanaman modal asing yang terealisasi di Tiongkok meningkat 17,3 persen, atau meningkat 22,6 persen jika dihitung dengan dolar AS.
Tanggal 20 Juni adalah Hari Pengungsi Dunia ke-22. Juru bicara
Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers hari Senin kemarin
(20/6) menunjukkan bahwa sebagian negara Barat yang dikepalai Amerika Serikat
(AS) sejak lama mengekspor perang dan kekacauan, mengintervensi urusan dalam
negeri negara lain, membuat bencana kemanusiaan, merupakan biang keladi masalah
pengungsi.
Wang Wenbin memperkenalkan bahwa laporan tahunan yang diumumkan Program PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) belakangan ini menunjukkan jumlah total pengungsi yang melarikan diri dari negara mereka karena konflik atau kekerasan mencapai 100 juta orang untuk pertama kalinya.
Data survei terbaru Yayasan Kanak-kanak PBB (UNICEF) menunjukkan sampai akhir tahun 2021, anak-anak yang terlantar karena konflik, kekerasan dan krisis lain mencapai 36,5 juta orang, merupakan rekor tertinggi sejak Perang Dunia II. Wang Wenbin menunjukkan bahwa data yang menyedihkan tersebut adalah akibat dari agresi dan intervensi yang dilakukan segelintir negara.
“AS melancarkan perang dengan bendera ‘demokrasi’ dan ‘HAM’, lalu hengkang dari porak-poranda yang ditimbulkannya, tapi rakyat di kawasannya terpaksa menjadi pengungsi, dan harus menghadapi kemiskinan dan masa depan yang tidak diketahui nasibnya.
AS adalah biang kerok masalah pengungsi dunia, negeri inilah yang terus menginjak-injak HAM dunia.
Negara-negara maju yang memiliki sumber daya paling banyak sedang sibuk membangun pagar pemisah, menutup perbatasan dan mengusir pengungsi, ini benar-benar adalah peremehan dan penginjakan biadab terhadap gagasan perlindungan pengungsi.”
Wang Wenbin menekankan bahwa hari pengungsi dunia hanya satu hari, tapi kesulitan yang dialami pengungsi terjadi di setiap hari. Tiongkok mendesak negara-negara terkait merenungkan kembali kebiadabannya, dengan sungguh-sungguh menghapuskan akar penyebab pengungsi, bertanggung jawab atas masalah pengungsi.
Tiongkok bersedia berusaha bersama dengan masyarakat internasional, mendukung multilateralisme, memainkan peran konstruktif untuk menyempurnakan sistem perlindungan pengungsi global dan mendorong penyelesaian masalah pengungsi.