JANGAN KERDILKAN PANCASILA MENJADI TRI SILA DAN EKA SILA
Untuk membahas masalah ini saya akan mulai dari cuplikan fakta sejarah tentang perkembangan paradigma ilmu pengetahuan, yang telah membuat konsep-konsep baru dalam fisika dan teori Quantum, yang telah menimbulkan perubahan yang mendalam terhadap pandangan dunia manusia, yaitu dari pandangan dunia mekanistik yang berasal dari Rene´decartes dan Newton, yang disebut Pardigma lama abad ke 17 (Pola pikir Mekanisme Cartesian ), menjadi suatu pola pikir yang berpandangan holistis, ekologis, pemikiran sistem, dan munculnya teori Fisika Kuantum yang sangat mengejutkan. Sehingga Ilmu pengetahuan di era digital abad ke- 20 telah membawakan suatu perubahan besar, yang mengatakan bahwa sistem-sistem tidak dapat dimengerti melalui analisis. Siaft-sifat bagian bukan sifat-sifat intrinsik, ia hanya dapat di mengerti dalam konteks keseluruhan yang lebih besar. Dengan demikian hubungan di antara bagian-bagian dan keseluruhan telah dibalik. Dalam pendekatan sistem, sifat-sifat bagian dapat dimengerti hanya dari pengaturan keseluruhan. Oleh karenanya, pemikiran sistem tidak berkonsentrasi pada balok-balok dasar bangunan, tetapi lebih pada prinsip-prinsip dasar organisasi. Pemikiran sistem bersifat `kontekstual`, yang merupakan lawan dari pemikiran analistis. Demikian juga teori Fisika Quantum, ia adalah juga lawan dari pemikiran Analistis . Pemikiran analitis berarti memisahkan sesuatu untuk dapat memahami keseluruhan; pemikiran sistem bertarti menempatkan sesuatu itu ke dalam konteks sebuah keseluruhan yang lebih besar. Nampaknya pandangan holistik, ekologis, dan theori Fisika Quantum tersebut tidak mudah untuk diterima oleh para fisikawan pada permulaan abad ke 20. Dalam konteks ini nampaknya para ilmuwan penyelidik (pengamat) dunia atomik dan subatomik telah membawa mereka bersentuhan dengan realitas yang asing dan tidak disangka-sangka. Dalam upaya mereka memahami realitas baru ini, para ilmuwan dengan susah payah menyadari bahwa bahwa konsep-konsep, bahasa, dan seluruh cara berpikir mereka tidak memadai lagi untuk melukiskan fenomema atomik. Masalah yang mereka hadapi bukanlah hanya bersifat intelektual, tetapi berkembang menjadi suatu krisis emosional yang mendalam, yang dapat disebut sebagai krisis eksistensial, yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi krisis ini, namun akhirnya mereka dapat memahami wawasan yang mendalam mengenai materi dalam hubungannya dengan pikiran manusia. Menurut pengamatan saya penomena krisis emosional yang mendalam, yang bisa dipandang sebagai krisis eksistensial ini nampaknya memantul ke Indonesia di abad ke 21, ini tercermin dalam sikap DPR & MPR RI dan juga para elite politik bangsa Indonesia di berbagai Partai politk terkesan telah gagal dalam memahami Pancasila sebagai suatu sistem, strategi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam konteks mengelola keteraturan bernegara, kualitas hukum dan kuwalitas demokrasinya.
Ini dibuktikan dengan munculnya Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP), yang kemudian dirubah menjadi BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancsila) ;yang terkesan gagal dalam usahanya untuk menyatukan bangsa Indonesia, karena konsep-konsep bahasa dan seluruh cara berpikir mereka secara substansial berakar pada pola pikir Mekanisme Cartesian; sehingga tidak memadai untuk melukiskan hakekat Lima Sila Pancasila diera digital diabad ke 21 ini. Menurut pengamatan saya, RUU HPI (BPIP) terkesan telah mereduksi (mengkerdilkan) nilai-nilai Pancasila.Ini berarti telah memecah belah sila-sila untuk memahami Pancasila secara keseluruhan.
Dalam konteks ini mereka telah membuat suatu analisa tentang Pancasila dengan cara membedah lima sila Pancasila menjadi 3 sila yang disebut Tri Sila, dan selanjutnya Trisila ini, dibedah lagi menjadi satu sila yang disebut Eka Sila, yang kemudian digunakan untuk memahami hakekat Pancasila secara keseluruhan, lalu menyimpulkan bahwa hakekat Pancasila adalah Gotong Royong.
Metode berpikir DPR RI, dan para elite politik yang tergabung didalamnya, terkesan sama seperti metode berpikir analitis Decartes, pencipta cara berpikir Mekanisme Catesian, yang sudah kedaluwarso. Dalam konteks ini, Decartes telah menciptakan metode berpikir analitis; Yaitu dengan cara memecah-mecah fenomena yang rumit kedalam kepingan-kepingan, untuk mengerti perilaku keseluruhan dari sifat-sifat bagian-bagiannya itu.
Menurut pemahaman saya, paradigma ilmu pengetahuan sistemik diera digital ini telah memperlihatkan bahwa sila-siala dalam Pancasila tidak dapat dimengerti melalui analisis. Ini berarti bahwa : Silat-sifat dari lima (5) Sila Pancasila itu bukanlah sifat-sifat intrinsik (hakekat),melainkan hanya dapat dimengerti dalam konteks keseluruan yang lebih besar. Jadi pola pikir DPR RI, dan para pendukungnya, yang terkait dengan RUU HIP (BPIP), terkesan kuat teleh melakukan kebijakan politik yang bertujuan untuk mereduksi Pancasila menjadi Trisila, dan ekasila, yang ujung-ujungnya menyimpulkan bahwa Pancasila adalah gotong Royong. Harap di pahami bahwa Gotong royong adalah metode kerja yang dipandu oleh 5 sila dari Pancasila sebagai dasar negara, sedangkan Pancasila adalah dasar negara yang sekligus merupakan strategi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam konteks mengelola keteraturan bernegara, kualitas hukum dan kuwalitas demokrasinya. Oleh karena itu dalam konteks ini menolak PBIP dapat dibenarkan.
Memang benar jika dikatakan bahwa pada sekitar tahun 1945 Bung Karno pernah juga mengatakan bahwa Pancasila bisa diperas menjadi 3 sila, yaitu Trisila , dan Trisila bisa diperas lagi menjdai Satu sila (Eka sila) yaitu Gotong Rayong . Dalam konteks ini harus di pahami bahwa di saat itu ilmu pengetahuan masih didominasi oleh polapikir Cartecian yaitu pandangan dunia abad ke-17 (pandangan dunia abad pertengahan) yang kurang lebih 200 tahun lamanya telah menguasai ilmu pengetahuan duinia. Sedangkan polapikir Sistemimik itu, baru sekitar tahun 1950-an dan 1960-an mempunyi pengaruh yang kuat pada ilmu teknik dan manageman, dimana konsep-konsep sistem termasuk sibernetika diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Jadi logis jika pada tahun 1945 (hari lahirnya Pncsila), Bung Karno masih berpartisipasi dengan polapikir dunia abad pertengan. Saya yakin bahwa di Indsonesia sampai dewasa ini belum semua warganya sudah berpartisipasi dengan paradigma Ilmu Pengetahuan baru,yang lahir pada pada paroh pertama abad ke 20, yaitu``pemikiran sistem``dalam kerangka keterkaitan, hubungan-hubungan, dan konteks. Menurut pandangan sistem, sifat-sifat dasar sebuah organisme, atau sistem hidup, adalah sifat-sifat keseluruhan, yang tidak dimiliki oleh bagian-bagian. Sifat-sifat itu muncul dari interaksi dan hubungan antara bagian-bagian. Sifat-sifat itu akan rusak ketika sistem itu dibedah baik secara sisik maupun teoritis. Demikianlah sistem berpikir saya dalam memahami Pancasia secara keseluruhan.
Menurut pengamatan saya, manusia dengan ilmu pengetahuan-nya yang bertambah itu, juga akan mengalami kemajuan untuk turut mampu berpartisipasi mengendalikan evolusi kebudayaan-nya, dalam konteks ini nampaknya para biolog organismik, para psikolog gestalt dan para ekolog, telah membawa para ilmuan bersentuhan dengan kreteria pemikiran sistem. Yang paling umum, kriterianya ialah perubahan dari bagian-bagian menjadi keseluruhan. Artinya sistem-sistem hidup adalah keseluruhan yang terpadu yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi kepada sifat-sifat bagiannya yang lebih kecil, untuk mengerti perilaku keseluruhan dari sifat-sifat bagian-bagiannya itu.
Demikalah pemahamnan saya dalam memahami Pancasila yang berkaitan dengan 5 silanya dalam hubungannya dengan wawasan yang mendalam mengenai lima-sila Pancasila dalam hubungannya dengan kenyamanan hidup jiwa dan raga manusia-manusia Indonesia dari Sabang sampai Maruke.
Bisa dipercaya bahwa krisis kesaradan yang mendalam dalam konteks RUU HIP (BPIP) ini akan bergeser menjdai krisis Persepsi selektif, yang diaplikasikan pada kecenderungan persepsi manusia yang dipengaruhi oleh keinginan-keinginan,kebutuhan-kebutuhan,sikap-sikap,dan faktor-faktor psikologi lainnya. Yang akan bedampak buruk bagi persatuan bangsa dan keutuhan NKRI, jika pemrintah Indonesia tidak dapat menemukan solusi yang bijak dalam menanganinya.
Kesimpulan akhir.
Ada bebera solusi untuk masalah yang berkaitan dengan RUU HIP dizaman digital yang sekarang kita alami ini. Namun solusi itu menghendaki adanya suatu perubahan radikal dalam persepsi, pemikaniran, dan nilai-nilai kita. Sebenarnya kita sekarang ini berada pada suatu perubahan fundamental pandangan dunia dalam ilmu masyarakat, yaitu perubahan Paradigma yang sama radikalnya dengan Revolusi Copernikan,yaitu suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan revolusioner yang diadakan Copernicus dalam bidang astronomi. Namun kebijakan ini belum berkembang pada sebagian besar pemimpin politik kita.
Oleh karena itu bangsa Indonesia membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi kritis ini; untuk maksud tersebut bangsa Indonesia harus dapat menemukan seorang pemimpin yang yang Visioner,Karismatik dan Revolusioner, Yaitu : Seorang pemimpin yang visioner, yaitu seorang pemimpin yang energi batinnya (egonya) sudah bisa menyatu dengan pandangan umum yaitu energi ilmu pengetahuan, sehingga terbentuklah suatu kesadaran System (baca:kesadaran holistik); Sehingga ucapan, tindakan, dan kebijakan-kebijakannya bukan diatur dari luar atau yang didasarkan pada kepentingan jaringan oligarki kekuasaan. Seperti yang kita saksikan sekarang ini. Mungkin dalam hal ini diperlukan campurtangan para tokoh-tokoh Intelektual, untuk menjelaskan tenang makna dari Paradigma Ilmu Pengetahuan, khususnya dalam konteks ini adalah Paradigma Holistik, Ekologis (ekologi-dalam) dan kaitannya dengan pemikiran Sistim. Sebagai akhir kata, menurut pendapat saya Bangsa Indonesia sekarang ini harus bisa menjalankan Reformasi sosial yang fundamental, atau mendasar, yang menurut istilahnya Bung Karno disebut Retooling alat-alat lama yang perlu diganti sama sekali dengan yang baru; dibidang legislatif, eksekutif dan Judikatif. Khususnya dibidang Politik; Ekonomi; Sosial; Mental dan Kebudayaan dll.
Roeslan
On Sun., 4 Sep. 2022 at 12:23 p.m., 'Roeslan' via GELORA45<gelor...@googlegroups.com> wrote:
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/003001d8c07a%24a15c1820%24e4144860%24%40gmail.com.
On Sun., 4 Sep. 2022 at 9:12 p.m., Chan CT<sa...@netvigator.com> wrote: