Kebudayaan tradisional adalah sumber kelahiran budaya bangsa Tionghoa. Pemimpin tertinggi negara selalu berpesan agar masyarakat mewarisi dan mewariskan kebudayaan terbaik bangsa Tionghoa dengan menyesuaikan diri dengan arus zaman agar adat istiadat bangsa memperlihatkan pesona dan keasrian zaman yang kekal abadi. Menjelang tibanya Hari Peh Cun atau Duanwu, marilah kita ikuti jejak Xi Jinping untuk menikmati bersama pesona kebudayaan bangsa Tionghoa.
Menjelang tibanya Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek, Xi Jinping melakukan inspeksi kerja ke sebuah desa etnis Miao di pegunungan terpencil di Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya. Begitu masuk ke desa, Xi Jinping segera tertarik oleh pakaian adat etnis Miao dan pernak-pernik adiluhung.

Sulaman Miao yang diwarisi turun-temurun oleh rakyat Miao kerap kali dijuluki “sampel hidup sejarah busana Tiongkok”. Kini sebanyak 500 ribu tenaga kerja wanita terlibat di industri sulaman Miao di Guizhou. Produk sulaman Miao terjual ke 60 negara dan daerah.
Xi Jinping memberikan dorongan kepada masyarakat setempat agar terus menyemarakkan kerajinan tersebut.
“Hal-hal tradisional juga adalah hal feyson. Kebudayaan boleh juga dikembangkan sebagai industri, yang selain bisa mengembangkan kebudayaan bangsa, juga bisa dimanfaatkan untuk pengentasan kemiskinan dan revitalisasi pedesaan.”

Selain Sulaman Miao, Permadani Tibet adalah kerajinan lain lagi yang juga tercantum dalam Daftar Warisan Tak Benda Tingkat Nasional. Beberapa hari lalu, Xi Jinping mendatangi Qinghai, kampung halaman Permadani Tibet untuk menginspeksi pabrik permadani setempat, terutama inovasi yang terjadi di sektor tersebut.
Permadani Tibet adalah hasil kerajinan tangan yang bersejarah 2000 tahun. Xi Jinping mengatakan, industri Permadani Tibet adalah industri yang layak dikembangkan di Qinghai, karena industri ini selain bisa menyejahterakan rakyat dan mendorong revitalisasi pedesaan, juga berperan memperkuat persatuan antar etnis.

Kedokteran tradisional atau jamu yang bersejarah lama patut disebut sebagai khazanah bangsa Tionghoa. Xi Jinping pernah memberikan instruksi penting atas pengembangan usaha jamu tradisional. Ia berpesan agar berkonsistensi pada tradisi unggul dan berinovasi diri untuk mendorong kedokteran tradisional semakin mendunia. Sejak 2020, kedokteran tradisional telah memberikan andil yang luar biasa dalam menangani pandemi COVID-19.

“Dalam keadaan tiada obat khasiat, diterapkan perpaduan kedokteran tradisional dengan kedokteran Barat, dan berturut-turut digulirkan delapan protokol pengobatan penyakit COVID-19. Sementara itu ditemukan ‘tiga farmasi dan tiga resep’ untuk diterapkan dalam perawatan klinis yang berbasis perpaduan kedokteran tradisional dan kedokteran Barat. Preskripsi itu dijadikan refleksi atau digunakan di banyak negara lain,” demikian ujar Xi Jinping.

Minuman teh yang populer di seluruh dunia adalah salah satu nama kartu budaya bangsa Tionghoa. Dalam pergaulan dengan pimpinan luar negeri, Xi Jinping sering kali menyuguhkan teh kepada sahabat asing untuk meningkatkan saling pengertian. Pada 2014 saat berpidato di Belgia, Xi Jinping mengumpamakan minuman teh dan minuman keras sebagai dua peradaban yang seharusnya saling toleransi dan bercermin satu dengan yang lainnya.
“Minuman teh yang berkarakter introvert dan minuman keras yang ekstrovert mewakili pemahaman dunia melalui dua saluran yang berbeda. Akan tetapi minuman teh dan arak bukanlah dua hal yang tidak bisa dipersatukan. Kedua-duanya boleh dimanfaatkan untuk meningkatkan silaturahmi antara sesama manusia.”

Xi Jinping menunjukkan perlunya mengembangkan budaya teh, industri teh dan teknologi teh secara selaras dan menjadikannya sebagai industri soko guru dalam membangkitkan pedesaan.
Mewarisi dan mewariskan kebudayaan bangsa selalu melekat di lubuk hati Xi Jinping. Ia mengatakan, “Bangsa Tionghoa yang jaya sudah bersejarah lama dan memiliki peradaban yang adiluhung. Bangsa Tionghoa telah menciptakan dan mewariskan kebudayaan tradisional yang ulung, itulah akar dan kekayaan spiritual bangsa Tionghoa,” tutur Xi Jinping.
