Buronan warga Hong Kong, Nathan Law Kwun-chung baru-baru ini mengakui telah menerima undangan pihak AS untuk menyampaikan pidato dalam apa yang disebut sebagai ‘KTT Demokrasi’. Seorang buronan yang berada dalam daftar pencarian orang malah diundang oleh AS sebagai tamu agung, hal ini benar-benar absurd dan sulit dimengerti. Undangan tersebut tidak hanya mengungkapkan niat jahat AS yang menaungi narapidana dengan alasan demokrasi untuk mengintervensi urusan dalam negeri Tiongkok, namun juga memperlihatkan kepada dunia betapa munafiknya ‘demokrasi’ yang digembar-gemborkan oleh AS, dan mengungkapkan wajah asli hegemoninya yang mempersenjatakan demokrasi untuk tidak segan-segan menindas negara lain.

Dari mengundang otoritas Taiwan ke ‘KTT Demokrasi’ hingga memberikan panggung kepada buronan Nathan Law untuk angkat bicara, terungkaplah intrik jahat AS yang berniat ‘menghalangi pembangunan bangsa Tionghoa dengan masalah Taiwan’ serta tujuannya untuk melawan Tiongkok dan mengacaukan Hong Kong. Para analis menunjukkan, AS sengaja memicu konfrontasi atau perlawanan ideologis dengan menyelenggarakan ‘KTT Demokrasi’, maksudnya adalah membentuk kubu baru yang didominasi oleh AS untuk mengisolasi dan melawan Tiongkok.
Intriknya tersebut tidak akan pernah berhasil. Dari awal fakta sudah membuktikan bahwa AS yang selalu mengibarkan panji ‘demokrasi’ tidak pernah mempedulikan demokrasi maupun HAM warga Hong Kong, yang diperhatikannya hanyalah hegemoni dan kepentingannya pribadi.

Dewasa ini, situasi keseluruhan Hong Kong sudah stabil. Dengan pemberlakuan UU Keamanan Nasional untuk Hong Kong, demokrasi dan HAM yang dimiliki warga Hong Kong telah memperoleh perlindungan yang belum pernah ada sebelumnya sepanjang sejarah. Kepala Pemerintah Daerah Administrasi Khusus Hong Kong Carrie Lam Cheng Yuet-ngor menunjukkan, Hong Kong pada akhirnya telah lulus dari ujian terjangan badai dan ombak besar, telah mengalami situasi yang stabil. ‘KTT Demokrasi’ yang disutradarai AS dengan kedok ‘demokrasi’ demi tujuan hegemoninya hanya akan menjadi bahan tertawaan di dunia, pasti akan sia-sia belaka dan berakhir dengan kegagalan total.
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyampaikan pidato secara virtual di depan Konferensi Internasional Rekonstruksi Nepal pada tanggal 8 Desember kemarin.
Wang Yi mengatakan, 6 tahun yang lalu, Nepal dilanda gempa bumi dahsyat dan rakyat setempat mengalami kerugian serius. Sebagai sahabat tulus Nepal, Tiongkok senantiasa berdiri bersama dengan rakyat Nepal dalam proses rekonstruksi pasca gempa Nepal, mengatasi kesulitan dan menunaikan komitmen, serta mencapai hasil positif. Pada tahun 2019, Presiden Xi melakukan kunjungan bersejarah ke Nepal, dan mengumumkan penambahan bantuan kepada Nepal, menjelaskan target baru kerja sama bersahabat antara Tiongkok-Nepal, serta memberikan daya penggerak yang lebih kuat bagi rekonstruksi dan pembangunan Nepal.
Wang Yi menyatakan, Tiongkok senantiasa menjadi negara tetangga bersahabat yang saling membantu serta mitra pembangunan senasib sepenanggungan bagi Nepal, bersedia bersama Nepal menanggulangi pandemi, mendorong pemulihan ekonomi, mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan, serta membangun komunitas senasib sepenanggungan Tiongkok-Nepal yang lebih erat. Wang Yi mengajukan tiga usulan sebagai berikut, pertama, terus mendorong kerja sama penanggulangan pandemi. Kedua, terus mendukung pemulihan ekonomi pasca gempa. Ketiga, terus memperdalam pembangunan bersama Sabuk dan Jalan.
Wang Yi menekankan, melalui persatuan dan kerja sama rakyat Tiongkok dan Nepal, diyakini Nepal pasti dapat menciptakan keajaiban penanggulangan bencana dan pandemi yang baru, serta terus mencapai prestasi yang baru dalam rekonstruksi dan revitalisasi negara.
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB361DBD16C94EDD8DA18CEF0A7E0080%40A10Live.