Diskusi tentang Status dan Hakekat Konstitusi NKRI Dewasa ini

4 views
Skip to first unread message

Lusi D.

unread,
Apr 30, 2022, 6:33:51 PM4/30/22
to Gelor...@googlegroups.com, chalik.hamid<>Gelora1945@googlegroups.com
Diskusi untuk Menambah Wawasan Status dan Hakekat Konstitusi NKRI
Dewasa ini. Sangat menarik.


ROCKY GERUNG, UBEDILLAH BADRUN, JUMHUR HIDAYAT DLL : KONSTITUSI DI
UJUNG TANDUK
https://www.youtube.com/watch?v=46tH9-r3ML4

Noroyono 1963

unread,
Apr 30, 2022, 8:17:32 PM4/30/22
to gelor...@googlegroups.com, Lusi D.
“Saya mencintai PKS karena PKS mencintai Indonesia.” 
”Ketika Rizieq Shihab pulang ke Indonesia, Rocky menyebutnya sebagai pulangnya sebuah "janji perubahan." 

tirto.id - Dalam Pidato Kebudayaan di Dewan Kesenian Jakarta, 10 November 2010, Rocky Gerung menyuarakan dua tesis tentang pentingnya menjaga makna Republik. “Pertama, suatu imajinasi intelektual untuk merawat konsep ‘publik’ pada kondisi sekulernya. Kedua, suatu perlawanan politik terhadap teokratisasi institusi-institusi publik,” kata dia.

Pada tesis pertama, Rocky hendak mengatakan ruang publik haruslah berupa ruang di mana setiap orang dapat mempercakapkan gagasannya secara bebas, asalkan bersetia pada komitmen rasionalitas. Konsekuensinya, dan ini merupakan maksud dari tesisnya yang kedua, upaya menghadirkan argumen-argumen agama dalam percakapan publik harus dilawan.

Keduanya merupakan posisi epistemik para pemikir sekuler sejati sejak era Renaisans Eropa, apalagi setelah George Jacob Holyoake memberi nama posisi ini 'sekularisme' di akhir abad ke-18. Buat mereka yang mengenal sosok Rocky sebagai pemikir dan akademisi sejak lama, pernyataan dalam pidato di atas hanyalah percikan kecil dari gagasan-gagasan sekulernya.

Tak sampai sewindu sejak pidatonya itu, Rocky justru menjadi juru bicara “akal sehat” bagi kalangan yang dikritiknya dengan ketus: kaum islamis. Ia bukan sekadar merapat kepada mereka dalam suatu kalkulasi strategis, tetapi bahkan banyak menjilat ludahnya sendiri. “Teokratisasi institusi-institusi publik” yang dilakukan kaum islamis di Monas dalam rangkaian Aksi Bela Islam dipuji Rocky sebagai "Monumen Akal Sehat"— sebuah pelesetan atas Monumen Nasional.

Ia juga memuji Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di banyak kesempatan, seperti dengan frasa “Partai Kehendak Semesta” atau “Saya mencintai PKS karena PKS mencintai Indonesia.” Ketika Rizieq Shihab pulang ke Indonesia, Rocky menyebutnya sebagai pulangnya sebuah "janji perubahan." Dalam ukuran premis-premis sekuler, partai politik atau sosok pemimpin paramiliter berbendera agama adalah upaya nyata teokratisasi.

Apa yang terjadi pada Rocky hanyalah satu contoh karikatural mengenai wacana gagah bernama 'sekularisme' yang takluk kepada realitas masyarakat Indonesia, setidaknya sampai hari ini. Menurut Yudi Latif dalam Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011), "saham keagamaan" sudah begitu kuat dalam pembentukan kebangsaan sehingga para pendiri bangsa yang terdidik secara sekuler pun “… tidak bisa membayangkan ruang publik yang hampa Tuhan.”

[Cuplikan dari: “Analisis Mengapa Indonesia Tak Pernah Terus Terang Mengaku Negara Sekuler?”. Oleh: Ismail Al-‘Alam - Rabu, 24 Februari 2021 - tirto.id]   





--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+unsub...@googlegroups.com.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages