“Saya mencintai PKS karena
PKS mencintai Indonesia.”
”Ketika Rizieq Shihab pulang ke
Indonesia, Rocky menyebutnya sebagai pulangnya sebuah "janji
perubahan."
tirto.id - Dalam Pidato Kebudayaan di
Dewan Kesenian Jakarta, 10 November 2010,
Rocky Gerung menyuarakan dua tesis tentang pentingnya menjaga makna
Republik. “Pertama, suatu imajinasi intelektual untuk merawat konsep ‘publik’
pada kondisi sekulernya. Kedua, suatu perlawanan politik terhadap teokratisasi
institusi-institusi publik,” kata dia.
Pada tesis pertama, Rocky hendak
mengatakan ruang publik haruslah berupa ruang di mana setiap orang dapat mempercakapkan
gagasannya secara bebas, asalkan bersetia pada komitmen rasionalitas.
Konsekuensinya, dan ini merupakan maksud dari tesisnya yang kedua, upaya menghadirkan
argumen-argumen agama dalam percakapan publik harus dilawan.
Keduanya merupakan posisi epistemik para pemikir sekuler
sejati sejak era Renaisans Eropa, apalagi setelah George Jacob Holyoake memberi
nama posisi ini 'sekularisme' di akhir abad ke-18. Buat mereka yang mengenal
sosok Rocky sebagai pemikir dan akademisi
sejak lama, pernyataan dalam pidato di atas hanyalah percikan kecil dari
gagasan-gagasan sekulernya.
Tak
sampai sewindu sejak pidatonya itu, Rocky justru menjadi juru bicara “akal sehat” bagi
kalangan yang dikritiknya dengan ketus: kaum islamis. Ia bukan sekadar merapat
kepada mereka dalam suatu kalkulasi strategis, tetapi bahkan banyak menjilat
ludahnya sendiri. “Teokratisasi institusi-institusi publik” yang dilakukan kaum
islamis di Monas dalam rangkaian Aksi Bela Islam dipuji Rocky sebagai "Monumen Akal
Sehat"— sebuah pelesetan atas Monumen Nasional.
Ia juga
memuji Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di banyak kesempatan, seperti dengan
frasa “Partai Kehendak Semesta” atau “Saya mencintai PKS karena PKS mencintai Indonesia.” Ketika
Rizieq Shihab pulang ke Indonesia, Rocky menyebutnya sebagai pulangnya sebuah "janji
perubahan." Dalam ukuran premis-premis sekuler, partai politik
atau sosok pemimpin paramiliter berbendera agama adalah upaya nyata
teokratisasi.
Apa
yang terjadi pada Rocky hanyalah satu contoh karikatural mengenai wacana gagah
bernama 'sekularisme' yang takluk kepada realitas masyarakat Indonesia,
setidaknya sampai hari ini. Menurut Yudi Latif dalam Negara
Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2011),
"saham keagamaan" sudah begitu kuat dalam pembentukan kebangsaan
sehingga para pendiri bangsa yang terdidik secara sekuler pun “… tidak bisa
membayangkan ruang publik yang hampa Tuhan.”
[Cuplikan dari: “
Analisis Mengapa Indonesia Tak Pernah
Terus Terang Mengaku Negara Sekuler?”. Oleh: Ismail Al-‘Alam - Rabu, 24
Februari 2021 - tirto.id]