Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Beijing pada 21 Juni kemarin, beberapa petinggi pemerintah Tiongkok membeberkan secara terinci terkait UU Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan atau HFTP. Dari konferensi pers itu terbaca pesan yang jelas bahwa Tiongkok akan dengan teguh tak tergoyahkan mendorong keterbukaan dan globalisasi ekonomi.
Rencana membangun pelabuhan perdagangan bebas di Hainan adalah salah satu langkah penting keterbukaan yang dirancang dan dipimpin langsung oleh pemimpin tertinggi Tiongkok. Pembangunan HFTP akan terus digalakkan menurut jadwal dengan mengatasi kesulitan akibat pandemi dan arus anti globalisasi.
Perumusan UU HFTP merupakan langkah penting untuk mengubah regulasi menjadi hukum sebagai wujud pembinaan tata hukum dalam proses pembangunan HFTP.
Kebebasan perdagangan dan fasilitasi investasi adalah titik berat dalam pembangunan HFTP. UU HFTP secara terpisah memberikan penetapan spesial terhadap kebebasan perdagangan dan fasilitasi investasi. Selain itu, UU HFTP menetapkan sistem perpajakan yang mematuhi prinsip “perpajakan sederhana, tarif nol dan tarif rendah”, tata hukum adalah iklim bisnis terbaik dalam hal ini. Maklumlah pemberlakuan UU HFTP akan menciptakan kemudahan berusaha yang kian menarik bagi para investor sehingga memperkokoh kepercayaan para investor untuk terus berkiprah di Hainan, dan yakin akan memperoleh lebih banyak peluang investasi dan imbalan yang menjanjikan.
Yang patut ditunjukkan ialah antisipasi risiko sama pentingnya dengan pelaksanaan keterbukaan. Demi melindungi para investor dari risiko, Tiongkok pada beberapa tahun terakhir telah melaksanakan keterbukaan sistemik yang berbasis regulasi, peraturan, manajemen dan standar baku. Pemberlakuan UU HFTP menandai Tiongkok akan mengayunkan langkah baru dalam implementasi keterbukaan sistemik.
Dapat diramalkan bahwa pembangunan pelabuhan bebas Hainan yang berlandaskan pada tata hukum akan dimajukan menuju targetnya secara mantap. Pesan dari pembangunan HFTP adalah: pintu keterbukaan Tiongkok tidak akan tertutup, malah akan terbuka semakin lebar, dan dunia akan memperoleh semakin banyak peluang daripadanya.
Jake Sullivan, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Amerika Serikat, menyatakan bahwa jika Tiongkok tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap sumber virus Covid-19, Tiongkok akan menghadapi isolasi dari masyarakat internasional. Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian menyatakan di depan jumpa pers rutin hari senin kemarin (21/6) bahwa pernyataan AS adalah pemerasan dan ancaman terang-terangan. Tiongkok mengungkapkan ketidakpuasan yang kuat dan penentangan yang tegas, dan mutlak tidak akan menerimanya.
Zhao Lijian menunjukkan bahwa sejak terjadinya pandemi COVID-19, Tiongkok selalu mengadopsi sikap terbuka dan transparan dan tanpa pamrih berbagi pengalaman pencegahan serta pengendalian diagnosis dan pengobatan dengan negara lain. Tiongkok telah menerima pakar WHO dua kali untuk datang ke Tiongkok dan bersama kelompok ahli WHO merilis laporan penelitian tentang penelusuran, memberikan kontribusi positif untuk pelacakan asal-usul virus secara global.
"Wacana yang menuduh Tiongkok mengatakan 'tidak' terhadap investigasi tentang asal-usul virus corona tidak memiliki dasar. Penelusuran sumber virus adalah masalah ilmiah dan harus dilakukan oleh para ilmuwan global, dan tidak boleh dipolitisasi secara sewenang-wenang. Ini adalah konsensus yang diakui sebagian besar negara di dunia internasional. AS bersikeras melakukan manipulasi politik dan mendorong apa yang disebut "penyelidikan internasional" dengan mengerahkan tenaga intelijen alih-alih ilmuwan untuk melakukan penilaian yang relevan, dan memperkenalkan apa yang disebut ‘logika kekuasaan’ pada masalah penelusuran virus, ini adalah penentangan terhadap sebagian besar negara dalam komunitas internasional, dan ini adalah keterasingan dalam komunitas internasional."
Zhao Lijian menekankan bahwa AS telah berulang kali mendiskreditkan dan menyerang Tiongkok, tidak lebih dari menahan perkembangan Tiongkok, dan tidak lebih dari menimpakan kesalahan dirinya dalam memerangi pandemi kepada orang lain.
“Jika AS benar-benar peduli dengan kebenaran, maka cepat jawab tiga pertanyaan: Pertama, siapa yang harus bertanggung jawab atas kegagalan AS untuk memerangi pandemi? Kedua, apakah virus Covid-19 telah menyebar di AS sejak lama? Ketiga, bagaimana situasi sebenarnya dari laboratorium biologi Fort Detrick? Mengapa tidak memberikan akses yang diperlukan kepada pakar internasional untuk memperoleh informasi yang relevan?"