Di kerajaan neo-Mojopahit ada enam agama yang diakui negara. Kalau ada industri busana Muslim , maka barangkali harus juga perlu ada industri busana agama-agama lain, supaya tidak ada agama yang dilupakan. ehehehehe
Sabtu,
23 Juli 2022 | 18:18 WIB
Oleh : Herman / FER
Direktur Asia Pasifik Rayon Basrie Kamba dalam acara Muhadatsah Dewan Pakar Edisi 12 yang digelar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) bertajuk "Penguatan Sektor Sustainable Fashion Melalui Dukungan Bahan Baku Domestik Ramah Lingkungan", 23 Juli 2022. (Foto: Beritasatu Photo/Herman)
Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Asia Pasifik Rayon Basrie Kamba menilai, perlu adanya peta jalan untuk mengembangkan industri busana muslim berkelanjutan.
Menurut Basrie, sebetulnya produksi bahan baku terbarukan yang tersedia di Indonesia lebih dari cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai muslim fashion
"Kita ingin menjadi muslim fashion hub dunia, tetapi kita belum punya peta jalan. Istilahnya kalau kita ingin naik gunung, kita tidak tahu apakah lewat jalur timur, utara, barat, atau selatan, kita belum punya peta jalan," kata Basrie Kamba, dalam acara Muhadatsah Dewan Pakar Edisi 12 yang digelar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) bertajuk "Penguatan Sektor Sustainable Fashion Melalui Dukungan Bahan Baku Domestik Ramah Lingkungan", Sabtu (23/7/2022).
BACA JUGA : Modest Fashion Ramah Lingkungan Jadi Tuntutan Konsumen
Melalui Dewan Pakar MES, Basrie berharap bisa segera terwujud peta jalan sustainable muslim fashion, sehingga industri busana muslim berkembang.
"Kami dari industri, kita bisa bareng-bareng. Jangan dibuat peta jalan yang terlalu muluk-muluk, sehingga kita sendiri tidak bisa melakukannya. Kenapa? Eropa terus menerus membuat peta jalan yang mereka bisa lakukan, jadi kita jangan sampai ketinggalan," kata Basrie.
Indonesia, menurut Basrie, juga perlu mengikuti pola seperti yang dilakukan negara-negara di Eropa agar membuat atau memperkuat standar atau persyaratan untuk bahan mentah hingga pakaian jadi dari luar negeri.
BACA JUGA :Wamen Angela Dorong Digitalisasi Industri Busana Muslim
"Kita di sana (luar negeri) jualan terkena standar, tetapi di sini terbuka saja. Ini yang membuat pasar kita banjir, sehingga membunuh industri-industri dalam negeri," tegasnya.
Inagurasi Modest Fashion Project 2020, Sabtu (21/11/2020).
Ia mengungkapkan, pasar domestik untuk busana muslim berkelanjutan sebetulnya sangat besar. Hanya saja pasar domestik terus dibanjiri oleh produk dan brand dari luar negeri dengan harga jual yang lebih murah.
"Bayangkan, kerudung produk luar di online dijual Rp 7.000. Tidak mungkin saudara-saudara kita pelaku UMKM bisa membuat produk busana muslim seharga itu. Ini yang terjadi, mereka membanjiri produknya di pasar domestik, dibuat ketergantungan, baru harga dinaikkan," ujarnya.
BACA JUGA : Zoya Luncurkan Koleksi Busana Muslim Antivirus
Basrie menambahkan, pasar domestik yang besar juga memerlukan edukasi mengenai sustainable atau circular fashion, serta peran penting bahan baku lokal yang yang berkelanjutan.
"Kita juga perlu mendukung dan mendorong tumbuhnya sekolah, akademi maupun program-program studi fashion muslim berkelanjutan di Tanah Air. Kenapa? Indonesia itu dalam catatan kami hanya punya 19 sekolah fashion. di Tiongkok, itu hampir 4.000-an, kemudian di India lebih dari 1.500. Jadi kita tidak bisa bersaing karena mereka memang lebih ready," ungkap Basrie.