Pertamina rugi adalah biasa karena perusahaan ini adalah sapi perahan penguasa neo-Mojopahit dan konco bin sahabat. Kalau masih diingat sejarah Pertamina pada zaman Soeharto berkuasa, perusahaan ini mengalami kerugian kurang US$ 10 miliar, sementara pada waktu bersamaan perusahaan minyak dan gas di dunia mengeruk laba berlipat ganda. Kalau tidak disuntik dengan pinjaman, maka Pertamina waktu itu sudah dinyatakan bangkrut.
Agaknya patut diperhatikan bahwa baik badaan executive mau legislative dikuasai oleh pengusaha jadi kalau mereka itu mempunyai dua tugas kepentingan yaitu perusahaan mereka dan yang disebut rakyat. Pertanyaannya kepentingan siapa yang diutamakan? Kepentingan mereka ataukah "rakyat"? Istilah "win-win" itu hanya kedok mereka untuk mengelabui rakyat mau ditipu. Apakah tidak sebaiknya NKRI (Negara Kleptokrasi Republik Indonesia) dilenyapkan saja, karena tidak memberikan faedah yang bermutu bagi kehidupan rakyat banyak. Lihat saja sudah 75 tahun "merdeka" masih saja soal sembako menjadi masalah tanpa berakhir. Dalam masa 75 tahun yang berutung siapa?