
Situasi pandemi Covid-19 di AS semakin serius sesudah memasuki bulan Agustus ini, kasus positif Covid-19 harian yang jumlahnya melampaui 100 ribu orang telah mencapai level tertinggi selama tahun ini, dan jumlah kematian dalam dua minggu terakhir ini juga meningkat sebesar 89%.

Menurut statistik terbaru Worldometer, terhitung sampai pukul 6:30 waktu Beijing tanggal 13 Agustus, kasus terinfeksi Covid-19 di AS menambah 183.880 orang dibandingkan sehari sebelumnya, peningkatan harian terbesar sejak 24 Januari tahun ini, kasus kematian juga bertambah 468 orang. The New York Times melaporkan bahwa 583 rumah sakit di Amerika Serikat terdapat unit perawatan intensif, namun setidaknya 95% ICU tersebut sudah penuh.

Menghadapi situasi ini, Kepala Institut Kesehatan Nasional (NIH) Francis Collins mengakui bahwa “Benar, kami gagal, dan sekarang sudah membayar harga yang mengerikan”.

Selama satu setengah tahun lalu, AS tidak pernah menarik pelajaran dari kegagalan. Sebagai negara yang mempunyai sumber daya medis dan kemampuan perawatan paling kaya di seluruh dunia, AS tetap menduduki peringkat pertama dengan kasus positif dan kasus kematian terbanyak di seluruh dunia. Tampaknya AS tengah menempuh jalan kegagalan babak baru dari sebelumnya.

Meskipun situasi pandemi sudah sangat parah, bayangan politik masih mempengaruhi pengambilan keputusan terkait penanganan pandemi. Sejak merebaknya wabah Covid-19, manipulasi politik tidak pernah berhenti di AS. Selama satu tahun lebih, Partai Demokrat dan Republik AS terus saling bertarung dan menyerang dalam perihal penanganan pandemi. Isu ilmiah seperti "memakai masker" dan "vaksinasi" semuanya dianggap sebagai masalah politik yang terkait dengan nilai-nilai Amerika. Sejumlah politikus AS yang tidak menghormati sains tidak hanya mencabik-cabik masyarakat AS selangkah demi selangkah, tapi juga secara serius menghambat upaya penanggulangan epidemi secara ilmiah.

Pencegahan dan pengendalian pandemi sudah gagal, kekacauan sosial yang terkoyak, dan masalah ekonomi yang parah… Sambil melihat kekacauan di dalam negerinya, sambil melihat prestasi besar yang dicapai oleh negara lain di bidang penanganan wabah dan pemulihan ekonomi, mana mungkin AS tidak merasa cemas? Tidak panik?
Karena kepanikan, AS yang sudah biasa menimpakan kesalahan kepada negara lain mulai membuat kebohongan untuk menyembunyikan kepanikannya. Jika kebohongan dapat menipu sejumlah orang, namun mutlak tidak menipu semua orang. Ketika tangan hitam yang memainkan "virus politik" ditangkap dan terungkap, AS pastilah lebih panik.

Marilah kita bersama melihat kebohongan-kebohongan apa yang dibuat AS baru-baru ini. Pemerintah Biden pernah memerintah badan intelijen AS untuk menyerahkan laporan tentang penelusuran asal usul virus corona dalam waktu 90 hari. Sekarang batas wakunya hampir datang, badan intelijen AS bersama CNN dan media AS lain mengatur lagi pertunjukan untuk memfitnah Tiongkok.
Pada 5 Agustus, CNN mengeluarkan laporan eksklusif yang menyebut badan intelijen AS telah mengumpulkan data genetik dengan jumlah besar dari Laboratorium Institut Virologi Wuhan, jika data tersebut diuraikan, mungkin akan menjadi data kunci yang dapat menyingkap asal usul virus corona. Namun, CNN menyatakan masih belum membuktikan sumber data tersebut.
Tiada bukti apapun namun disebut “laporan eksklusif” CNN? Bahkan kami masih belum tahu apakah data tersebut benar-benar berada. Pertunjukan terbaru AS ini tampaknya seperti perang opini publik yang diluncurkan AS, tujuannya hanya untuk menjadikan Tiongkok sebagai fokus penelusuran asal usul virus Corona, untuk mewujudkan intriknya yang memfitnah Tiongkok.

Yang perlu diperhatikan ialah bagaimana badan intelijen AS mendapatkan “data kunci” tersebut? Apakah diperoleh dari badan intelijen AS? Karena mantan Menlu AS Mike Pompeo pernah mengatakan, “Sebagai mantan Kepala CIA, kami berbohong, kami menipu, kami mencuri, kami bahkan memiliki kursus yang khusus mengajarkan ini. Inilah kebanggaan AS yang terus bermaju.”
Selain laporan media, juga tidak kekurangan partisipasi politikus AS. Anggota Kongres Michael McCaul mengeluarkan apa yang disebut edisi terbaru “Laporan Penelusuran Asal Usul Virus Corona” pada 2 Agustus lalu, untuk menggembar-gemborkan teori kebocoran laboratorium Wuhan. Namun laporan McCaul ini penuh dengan celah, tidak terdapat data asli, dan tidak berdaya mengikat secara hukum. Bahkan analis politik AS Andrew Kribko juga dengan terus terang menunjukkan bahwa laporan Partai Republik ini hanya untuk memfitnah Tiongkok, dengan tujuan mempolitisasikan masalah penelusuran virus, mewujudkan tujuannya yang mendapat lebih banyak dukungan dari para pemilih dalam pemilihan paruh waktu AS.

Abraham Lincoln, Presiden AS Ke-16 pernah mengatakan, kamu bisa menipu semua orang untuk sementara waktu, atau kamu dapat menipu sejumlah orang selamanya, tetapi kamu mutlak tidak bisa menipu semua orang untuk selama-lamanya.

Bagi AS sendiri, memfitnah negara lain tidak akan membantunya. Hanya dengan meninggalkan penyebarluasan kebohongan politik, dan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan jiwa rakyat, serta bergotong royong dalam penanggulangan wabah dengan berbagai negara, barulah tidak usah panik dan memyebarluaskan kehobongan lagi.