Belakangan ini, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Park Kim mengadakan kunjungan ke Tiongkok selama 3 hari. Park Kim menyatakan harapannya untuk dapat bersama Tiongkok membahas masalah denuklirisasi di Semenanjung Korea, serta masalah pemeliharaan kestabilan rantai pasokan global dan pertukaran kebudayaan, ekonomi dan perdagangan bilateral.
Terkait hal tersebut, dalam jumpa pers hari Selasa (9/8) lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin menyatakan, tahun ini bertepatan dengan peringatan 30 tahun penjalinan hubungan diplomatik Tiongkok-Korsel, dan hubungan kedua negara menghadapi peluang penting untuk memperdalam perkembangan.
Kunjungan itu merupakan kunjungan perdana Menteri Luar Negeri Park Kim dan delegasi tingkat tinggi setelah pemerintah baru Korea Selatan berkuasa. Pihak Tiongkok bersedia bersama pihak Korsel memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan komunikasi, berfokus pada kerja sama dan mendorong hubungan Tiongkok-Korsel terpelihara dalam momentum perkembangan yang sehat dan stabil.
Berkenaan dengan masalah SAAD, pihak Tiongkok menyatakan perlunya mementingkan perhatian atas keamanan satu sama lain dan berupaya menangani masalah tersebut dengan baik. Kini, penempatan sistem SAAD tahap pertama di Korea Selatan sudah dirampungkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam jumpa pers Kementerian Luar Negeri Tiongkok hari Rabu (10/8) kemarin, Wang Wenbin menunjukkan, penempatan sistem SAAD di Korsel oleh AS secara nyata merugikan kepentingan keamanan strategis Tiongkok. Pihak Tiongkok telah berulang kali menyatakan perhatiannya kepada pihak Korsel, dan pemerintah Korsel sudah secara resmi mengemukakan kebijakan ‘3 tidak dan satu pembatasan’.
Pihak Tiongkok menaruh perhatian besar pada pendirian pemerintah Korsel tersebut. Berdasarkan kesepahaman kedua pihak, Tiongkok dan Korsel telah secara bertahap menyelesaikan masalah SAAD dengan baik. Dalam pertemuan menteri luar negeri Tiongkok dan Korsel kali ini, kedua pihak telah bertukar pendapat secara mendalam mengeni masalah SAAD, menjelaskan pendirian masing-masing dan meningkatkan rasa saling pengertian. Kedua pihak setuju untuk saling memperhatikan kekhawatiran rasional satu sama lain, terus berhati-hati dalam menangani dan mengontrol masalah tersebut, agar tidak menjadi batu sandungan yang mengganggu perkembangan sehat dan stabil hubungan kedua negara.