Jumlah penduduk NKRI kurang lebih 276 juta. Apakah penduduk Indonesia tidak menghadapi atau mengalami kerawanan pangan dan apakah tidak ada yang perlu diberi bantuan?
Banjar Chaeruddin
- Jumat, 15 Juli 2022 | 10:06 WIB
Menkeu Sri Mulyani (Foto: Dok)
SINARHARAPAN--Menteri Keuangan
(Menkeu) Sri Mulyani menyebutkan sebanyak 276 juta orang
di dunia menghadapi kerawanan pangan akut saat ini, meningkat dua kali lipat
sejak 2019 sebelum pandemi COVID-19 yakni 135 juta orang, berdasarkan catatan
Program Pangan Dunia.
"Ada urgensi dimana krisis pangan harus ditangani," ujar Sri
Mulyani dalam Pembukaan Pertemuan Ketiga Menteri Keuangan dan
Gubernur Bank Sentral (3rd FMCBG) G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali.
Ia menjelaskan peningkatan risiko keamanan pangan yang mengkhawatirkan
merupakan dampak perang di Ukraina dan sanksinya, serta pembatasan ekspor yang
memperburuk dampak pandemi sehingga telah mendorong harga pangan mencapai rekor
tertinggi.
Peningkatan harga pangan mendorong tambahan jutaan orang ke dalam keadaan
kerawanan pangan. Oleh karenanya, terdapat urgensi dimana krisis pangan
harus ditangani.
Menurut Sri Mulyani, penyebaran mekanisme pembiayaan yang
lebih tersedia segera diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat
stabilitas keuangan dan sosial.
Selain itu, kebijakan ekonomi makro yang baik juga menjadi penting secara
fundamental, karena telah membantu banyak negara dalam menghadapi krisis.
Tak hanya pangan, komoditas yang sangat penting dan melonjak harganya saat ini
salah satunya adalah energi, yang menjadi tantangan besar.
Ia menuturkan lanskap energi global telah diubah atau dibentuk kembali secara
radikal. Harga komoditas energi pun meroket.
"Saya yakin Anda semua sebagai Menteri Keuangan sekaligus Gubernur Bank
Sentral melihat ini sebagai ancaman bagi stabilitas makro ekonomi kita, serta
lingkungan yang kondusif bagi kita untuk mempertahankan pemulihan,"
ungkapnya.
Bank Dunia, kata dia, memperkirakan harga minyak mentah naik 350 persen dari
April 2020 hingga April 2022.Peningkatan ini merupakan yang terbesar untuk
periode dua tahun sejak 1997.
Pada bulan Juni 2022, terdapat pula kenaikan harga gas alam di Eropa sebesar 60
persen hanya dalam dua minggu. Kekurangan bahan bakar pun sedang berlangsung di
seluruh dunia dan memiliki implikasi politik dan sosial yang besar di Sri
Lanka, Ghana, Peru, Ekuador, dan di tempat lain.
Dirinya menjelaskan, kelangkaan ini terjadi lantaran harga gas yang tinggi
benar-benar menjadi masalah yang mengancam pemulihan ekonomi. "Dunia
berada di tengah krisis energi global," tambah Sri
Mulyani.
Editor: Banjar Chaeruddin
Sumber