Siapakah Kakek dari Warsawa, Figur yang Menginspirasi Hacker Bjorka?

3 views
Skip to first unread message

Sunny ambon

unread,
Sep 14, 2022, 2:51:06 AM9/14/22
to

Hehhehehehehehehehe

https://www.beritasatu.com/news/975357/siapakah-kakek-dari-warsawa-figur-yang-menginspirasi-hacker-bjorka?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=NewsletterB1

Siapakah Kakek dari Warsawa, Figur yang Menginspirasi Hacker Bjorka?

Minggu, 11 September 2022 | 13:08 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Hacker Bjorka berbagi cerita lewat Twitter tentang seorang kakek yang sangat berpengaruh bagi dirinya. Bjorka sendiri adalah hacker yang membocorkan 1,3 miliar data registrasi SIM Card dan menjualnya di situs jual beli data ilegal breached.to.

"I just wanted to point out how easy it is for me to get into various doors due to a terrible data protection policy. primarily if it is managed by the government. i have a good indonesian friend in warsaw, and he told me a lot about how messed up indonesia is. i did this for him. (Saya hanya ingin menunjukkan betapa mudahnya bagi saya untuk masuk ke berbagai celahkarena kebijakan perlindungan data yang buruk. Apalagi jika dikelola oleh pemerintah. saya punya teman orang Indonesia yang baik di Warsawa, dan dia bercerita banyak tentang betapa kacaunya Indonesia. aku melakukan ini untuknya)," tulis Bjorka dalam akun Twitternya @bjorkanism, Sabtu (10/9/2022).

Dengan mengungkapkan dirinya memiliki teman di Warsawa, Polandia apakah lantas Bjorka membahayakan temannya dan dirinya sendiri? Tampaknya Bjorka yakin identitasnya tidak akan terendus.

BACA JUGA :Dugaan Kebocoran Data, BSSN-PSE Perkuat Keamanan Siber

"Yea don't try to track him down from the foreign ministry. because you won't find anything. he is no longer recognized by Indonesia as a citizen because of the 1965 policy. Even though he is a very smart old man. (Ya jangan coba lacak dia dari kementerian luar negeri. karena Anda tidak akan menemukan apa pun. Dia tidak lagi diakui oleh Indonesia sebagai warga negara karena kebijakan 1965. Meskipun dia adalah orang tua yang sangat pintar)," lanjutnya.

"Last year he just passed away. this old man has taken care of me since i was born. He wants to go back and do something with technology even though he sees how sad it is to be a habibie. He didn't have time to do it until he finally died peacefully. (Tahun lalu dia baru saja meninggal. Orang tua ini telah merawat saya sejak saya lahir. Dia ingin kembali dan melakukan sesuatu dengan teknologi meskipun dia melihat betapa sedihnya menjadi seorang Habibie. Dia tidak punya waktu untuk melakukannya sampai akhirnya dia meninggal dengan tenang)," kata dia.

Menurut LIPI, kebijakan 1965 mengacu kepada pengasingan (eksil) warga Indonesia di luar negeri. Setelah peristiwa G 30S PKI 1965, banyak orang-orang Indonesia yang terpaksa harus berada di luar negeri dan tidak bisa pulang kembali ke Indonesia. Mereka adalah orang yang sedang berada di luar negeri untuk berbagai keperluan, seperti sekolah, menjalankan tugas diplomatik, menjadi wakil di organisasi internasional, atau anggota kontingen kebudayaan.

Saat G30S meletus di Jakarta mereka sebetulnya tidak mengetahui peristiwa tersebut karena komunikasi masih terbatas. Tahun 1966 kemudian ada pendataan ulang terhadap WNI di luar negeri terutama di negara sosialis komunis seperti Tiongkok, Rusia, Praha (Rep. Cek), dan Kuba. Mereka diberi opsi untuk pulang ke Indonesia dengan syarat menyetujui Soeharto adalah pemimpin Indonesia yang sah dan Soekarno terlibat G30S atau menolak.

Sebelumnya diberitakan ada sebanyak 1,3 miliar data registrasi SIM Card masyarakat Indonesia yang diduga bocor. Pakar keamanan siber yang juga chairman lembaga riset siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) Pratama Persadha menjelaskan, kebocoran tersebut diunggah pada 31 Agustus 2022 oleh anggota forum situs breached.to dengan nama identitas 'Bjorka'. Pengunggah tersebut juga memberikan sampel data sebanyak 1,5 juta data.

"Jika diperiksa, sampel data yang diberikan tersebut memuat sebanyak 1.597.830 baris berisi data registrasi SIM Card milik masyarakat Indonesia. isinya berupa NIK (nomor induk kependudukan), nomor ponsel, nama provider, dan tanggal registrasi. Penjual juga mencantumkan harga sebesar US$ 50.000 dollar atau sekitar Rp 700 juta dan transaksi hanya menggunakan mata uang kripto,” terang Pratama Persadha.

Pratama menjelaskan, data pastinya berjumlah 1.304.401.300 baris dengan total ukuran mencapai 87 GB. Ketika sampel data dicek secara acak dengan melakukan panggilan beberapa nomor, maka nomor tersebut masih aktif.

 

 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages