Rabu 16 February 2022
Benci Ras
Oleh : Dahlan Iskan
WANITA lagi. New York lagi. Pembunuhan
lagi.
Pokoknya orang keturunan Asia kini merasa tidak
tenang di Amerika Serikat. Kian lama kian tidak aman. Setahun terakhir setiap
satu dari lima orang mengalami kejadian akibat kebencian ras.
Korban terakhir: Christina Yuna Lee. Kejadiannya
menjelang subuh hari Minggu lalu. Pagi buta itu, pukul 04.30 dia baru pulang.
Sendirian. Naik taksi.
Rumah Lee di sebuah apartemen di China Town,
Manhattan, New York. Yakni di depan taman Roosevelt yang panjang itu. Yang kalau
hari Minggu penuh dengan pengunjung Tionghoa. Banyak juga yang main musik klasik
Tiongkok di sana. Menyanyi. Menari. Dan segala macam atraksi kebudayaan
Tionghoa.
Lee, 35 tahun, tinggal di lantai 6 apartemen itu.
Belum lama di situ. Baru setahun terakhir. Yakni sejak dia pindah dari New
Jersey ke New York. Dia berhenti bekerja sebagai profesional creative di
platform musik digital di Jew Jersey. Empat tahun dia bekerja di situ –sejak
lulus kuliah di Rutgers University. Itulah universitas tertua kedua di negara
bagian tetangga New York itu: didirikan tahun 1766.
Lee keturunan Korea. Yang di Amerika sering
dianggap sama saja dengan dari Tiongkok. Bahkan pernah ada orang asal India
dibunuh di Texas dikira dari Tiongkok.
Kalangan tertentu di Amerika menganggap semua orang
asal Asia sebagai asal Tiongkok.
Peristiwanya sendiri Anda sudah tahu: subuh itu Lee
turun dari taksi. Dia langsung menuju pintu masuk apartemen. Dia buka pintu itu
dengan kartu akses miliknyi. Semua penghuni apartemen punya kartu seperti
itu.
Lee tidak memperhatikan keadaan. Dia tidak tahu
kalau ada orang yang menguntitnyi. Begitu membuka pintu Lee langsung naik tangga
apartemen. Dia tidak menutup pintu itu –otomatis akan menutup sendiri. Mengunci
sendiri.
Sebelum pintu itu menutup, seseorang menahan pintu
itu. Ia menyelinap. Ia ikut naik tangga ke lantai 1 ketika Lee sudah belok naik
ke lantai dua. Ia pun mulai naik ke lantai 2 ketika Lee sudah membelok naik ke
lantai 3. Dan seterusnya: ia ikut naik ke lantai 6 ketika Lee sudah terlihat
membuka pintu kamar apartemennyi.
Sekali lagi terjadi: Lee tidak menutup pintu
kamarnya –yang memang akan menutup sendiri secara otomatis.
Sebelum pintu itu menutup dengan sempurna, Si
Penguntit menahan pintu itu. Ia pun memasuki kamar Lee: menyerang wanita
sendirian itu.
Rupanya terjadi perlawanan. Si Penguntit terluka
sedikit di badan, tangan, dan pundak. Lee sendiri tewas. Dengan luka sekitar 40
tusukan.
Mayatnya ditemukan polisi di bak mandi. Ceceran
darah di mana-mana. Lee terlihat telanjang di bagian pinggang ke atas. Rupanya
dia sudah copot atasan untuk mandi.
Kelak akan diketahui, siapa yang mengambil pisau
dapur di apartemen itu. Apakah Lee? Dengan maksud sebagai senjata untuk melawan?
Atau Si Penguntit? Yang menggunakannya untuk membunuh Lee?
Yang jelas Si Penguntit bingung setelah itu. Ia
bermaksud lari lewat pintu darurat kebakaran. Tapi sirine polisi terdengar
mendekat.
Tetangga di seberang kamar Lee memang menelepon
911. Ia memang mendengar ada teriakan minta tolong dari kamar Lee. Teriakan itu
seperti yang sering ia dengar di film-film: "Tolong, tolong, telepon ke
911".
Polisi pun datang. Si Penguntit bergegas balik
badan. Ia putuskan untuk kembali ke kamar Lee. Lalu mengunci pintu dari dalam.
Ditambah barikade seadanya.
Ketika polisi mengetuk pintu kamar Lee itu ada
jawaban dari dalam. "Saya tidak memerlukan pertolongan polisi," ujar suara dari
dalam –seperti suara yang dicewek-cewekkan.
Satu jam kemudian, polisi mendobrak pintu kamar
Lee. Tidak ditemukan ada orang. Polisi menemukan tubuh mati Lee yang tergeletak
di bak mandi. Polisi belum bisa menyimpulkan mengapa bagian atas Lee telanjang.
Apakah Lee sudah siap mandi? Atau Si Penguntit yang mencopotnya? Untuk apa? Akan
dipotong-potong di bak mandi?
Kamar itu sepi. Tapi polisi yakin masih ada orang
di dalamnya. Penggeledahan pun dilakukan. Ketemu: Si Penguntit bersembunyi di
bawah tempat tidur.
Namanya: Assamad Nash.
Umur: 25 tahun.
Ras: kulit hitam.
Kamera yang merekam semua lantai di apartemen itu
bisa menjelaskan banyak. Terutama bagaimana Nash menguntit Lee sejak turun dari
taksi. Tanpa sedikit pun Lee menyadari ada yang menguntitnya.
New York pun kembali heboh.
Ini mengingatkan orang pada peristiwa persis
sebulan lalu. Yakni ketika seorang wanita keturunan Tionghoa didorong jatuh ke
rel kereta bawah tanah. Tubuhnya langsung disambar kereta yang lewat di detik
itu.
Nama wanita itu: Michelle Alyssa Go.
Umur: 45 tahun.
Dia bekerja di perusahaan keuangan. Hari itu, pukul
9.45, Michelle ke stasiun bawah tanah di dekat Times Square. Dia berdiri di
pinggir platform menunggu kereta jurusan kantornyi tiba. Sambil menunggu itu dia
sibuk dengan HP-nya. Matanya terus menunduk: asyik menatap ke layar handphone.
Tiba-tiba seorang laki-laki kulit hitam mendekat di belakangnya:
mendorongnya.
Semua itu terekam di kamera stasiun. Termasuk
ketika si lelaki sebenarnya akan menyasar wanita lain. Gagal. Si Wanita Lain
waspada. Dia menjauh dari laki-laki itu.
Nama Si Pendorong segera diketahui: Martial
Simon.
Umur: 61 tahun.
New York pun heboh.
Tahun lalu, seorang lelaki Tionghoa tua juga jadi
korban. Saat itu ia lagi mengumpulkan kaleng-kaleng bekas minuman di China Town.
Ia dipukuli orang. Beberapa waktu kemudian meninggal akibat
luka-lukanya.
Baik Nash maupun Simon, sama-sama ditangkap. Mereka
sama-sama gelandangan. Sama-sama punya gangguan jiwa. Bahkan sama-sama
residivis.
Ketika melakukan kejahatan itu, keduanya juga sudah
dalam status tersangka: untuk kejahatan lain. Bukan pula hanya sekali.
Berkali-kali.
Tapi, orang seperti Nash, tidak pernah ditahan. Ia
boleh bebas dengan jaminan. Bulan depan, harusnya, Nash diadili untuk kejahatan
sebelumnya.
Menurut catatan polisi, kejahatan dengan motif
kebencian ras naik lebih 300 persen setahun terakhir. Sasarannya: keturunan
Asia. Atau keturunan pulau-pulau di Pacific.
"Cukup. Sudah cukup," teriak aktivis anti kebencian
ras. "Semua ini akibat penjahat dibiarkan tidak dihukum".
Maka nama Jaksa Distrik New York yang baru kembali
jadi sorotan: Alvin Bragg. Ia yang membuat kebijakan agar penjahat-penjahat
kecil tidak dihukum (baca Disway: Sesal Istri - Disway).
Kebencian atas ras Asia itu meningkat sejak
Presiden Donald Trump punya kebijakan anti imigran. Lalu naik lagi ketika
Covid-19 melanda Amerika. Banyak yang berpendapat pandemi itu merupakan dosa
Tiongkok. Bahkan muncul kesan: semua orang Asia membawa virus di badan
mereka.
Trump sudah lama diganti Joe Biden. Kejahatan
kebencian ras ternyata tidak juga surut.
Banyak hal, kalau sudah naik, rupanya sulit untuk
diharapkan turun. (Dahlan Iskan)