"Bukan
hanya Umat Islam yang marah dan tersakiti dengan cuitan Ferdinand. Tetapi, semua
lapisan masyarakat yang tanpa lelah merawat Pancasila dan NKRI juga merasakan
hal yang sama," sambungnya.
Raihan
mengatakan, citra sebagai pegiat media sosial yang selama ini selalu
didengungkan Ferdinand tidak pantas lagi disandang. Sebab, menurutnya, sebagai
pegiat media sosial, Ferdinand seharusnya menginspirasi orang untuk bijak
menggunakan media sosial.
"Pegiat
media sosial itu meneduhkan, mewartakan kebaikan dan menginspirasi orang-orang
untuk bijak menggunakan media sosial. Bukan malah menciptakan keonaran dan
merusak tatanan masyarakat yang sangat plural ini," ungkap Raihan.
"Apa
yang dilakukan Ferdinand melalui cuitannya itu telah menganggap rendah
kebhinekaan kita," tegas Raihan.
Lebih
lanjut, Raihan mengajak kepada semua pihak untuk memanfaatkan teknologi digital
dalam hal-hal positif dan dengan cara-cara yang beradab.
"Jangan
sampai teknikalisme teknologi digital mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
Tujuan teknologi kan mempertinggi harkat dan martabat kemanusiaan kita. Untuk
itu, transfer of knowledge dan transfer of values adalah satu kesatuan dalam
menciptakan dan menggunakan teknologi digital saat ini," katanya.
Baca
juga:
Polri
Jelaskan Dugaan Tindak Pidana di Kasus Cuitan Ferdinand
Hutahaean
Sebelumnya
diketahui, Ketua Umum DPP KNPI Haris Pertama secara resmi telah melaporkan
Ferdinand Hutahaean ke Bareskrim Polri. Laporan ini merupakan buntut cuitan
'Allahmu lemah' yang diposting Ferdinand di akun media sosialnya.
Cuitan
Ferdinand di akun Twitter pribadinya yang menjadi sorotan adalah
'Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih
Allahku luar biasa maha segalanya. Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu
dibela'. Kalimat tersebut dinilai menyakiti hati umat Islam.
(mae/lir)
Baca
artikel detiknews, "PB HMI: Cuitan Ferdinand Hutahaean 'Allahmu Lemah' Rendahkan
Kebhinekaan" selengkapnya