Serangan Balik Putin ke Paman Sam yang Tak Kalah Kejam

1 view
Skip to first unread message

Chan CT

unread,
Mar 16, 2022, 9:04:58 PM3/16/22
to GELORA45_In
Serangan Balik Putin ke Paman Sam yang Tak Kalah Kejam
Tim detikcom - detikNews
Kamis, 17 Mar 2022 05:41 WIB
Putin Tuntut Jaminan Keamanan untuk Rusia, Tuduh Barat Sulut Ketegangan di Eropa
Ilustrasi: Presiden Rusia, Vladimir Putin (DW News)
Jakarta - Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi ke Rusia karena serangan militer ke Ukraina. Putin kemudian balik menyerang AS, lewat aksi non-militer tentu saja. Namun, serangan balik Presiden Rusia Vladimir Putin tak kalah kejam dengan sanksi Paman Sam.
Dilansir Reuters, Sabtu (12/3) lalu, negara-negara Barat sekutu AS telah menjatuhkan sanksi ke sejumlah pejabat Rusia. Ini membuat Rusia tambah 'berat' saja bila tidak menghentikan serangan ke Ukraina.

Baca juga:
Penerbangan Jepang-London Terpaksa Melipir Kutub Utara untuk Hindari Rusia

Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi ke Rusia pada Jumat (11/3) waktu setempat. Ada 10 orang dari Bank VTB, peminjam terbesar kedua di Rusia, juga sanksi ke 12 anggota Duma atau majelis rendah pada parlemen Rusia.



"Departemen Keuangan terus meminta pertanggungjawaban para pejabat Rusia karena mengizinkan perang (Presiden Rusia Vladimir) Putin yang tidak bisa dibenarkan dan tak beralasan," tegas Menteri Keuangan AS Janet Yellen dalam pernyataannya.

Baca juga:
Gempuran Rusia Kian Intens di Ibu Kota Ukraina, Warga Dilarang Keluar Rumah

Juru bicara Putin, Dmitry Peskov, telah dikenai sanksi AS sejak 3 Maret lalu. Dalam pengumumannya, AS menjatuhkan sanksi-sanksi baru terhadap istri Peskov dan dua anaknya yang sudah dewasa.


Selanjutnya, orang-orang terkemuka Rusia kena sanksi:


Simak Video 'Biden Juluki Putin Penjahat Perang':





Empat anggota dewan Novikombank, termasuk Ketuanya Elena Georgieva, dan ABR Management dan empat anggota dewannya, termasuk Direktur Bank Rossiya Dmitri Lebedev dan Wakil Gubernur St Petersburg Vladimir Knyaginin juga dikenai sanksi.

Pada pertengahan Februari lalu, majelis rendah pada parlemen Rusia memvoting untuk meminta Putin mengakui dua wilayah separatis Ukraina sebagai negara merdeka.

Ketua majelis rendah parlemen Rusia, Vyacheslav Volodin, dan 11 anggotanya ditambahkan ke dalam daftar sanksi pada Jumat (11/3) waktu setempat.

Baca juga:
Rusia Balas Sanksi Joe Biden dkk, Pejabat AS: Kita Tak Akan Pergi ke Rusia!

Inggris (sekutu AS) juga memberi sanksi ke pihak Rusia. Ada 386 anggota parlemen Rusia yang kena sanksi dilarang masuk Inggris, aset mereka juga dibekukan. Kamis (10/3), aset pemilik klub sepakboleh Chelsea, Roman Abramovich, sudah kena sanksi Barat.

FILE - In this file photo taken on Friday, May 4, 2018, Russian Tu-95 strategic bombers fly past the Russian flag on the Kremlin complex during a rehearsal for the Victory Day military parade in Moscow, Russia.  South Korean air force jets fired 360 rounds of warning shots after a Russian military plane briefly violated South Korea's airspace twice on Tuesday, Seoul officials said, in the first such incident between the two countries. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)
Ilustrasi Rusia (AP Photo/Pavel Golovkin, File)
Selanjutnya, serangan balik Rusia:

Serangan balik Rusia
Tak mau kalah, Rusia menjatuhkan sanksi terhadap serangkaian pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) menyusul sanksi terhadap para pejabat dan pengusaha mereka terkait invasi ke Ukraina. Di antara pejabat AS yang diberi sanksi Rusia, terdapat Presiden Joe Biden dan mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Hillary Clinton.

Seperti dilansir CNN, Rabu (16/3/2022), Menurut pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri Rusia pada Selasa (15/3) waktu setempat, pemerintah Rusia menambahkan sejumlah individu ke dalam 'stop list' atau larangan masuk ke wilayah Rusia.

Baca juga:
Tak Seperti McDonald's, Restoran Pizza Papa John's di Rusia Tetap Beroperasi

Para individu itu terdiri atas Biden, kemudian Menlu Antony Blinken, Menteri Pertahanan Lloyd Austin, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley, penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan, Direktur CIA William Burns, Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki, wakil penasihat keamanan nasional AS Daleep Singh, Direktur USAID Samantha Power, Wakil Menteri Keuangan Adewale Adeyemo, dan Presiden Bank Ekspor-Impor AS Reta Jo Lewis.

Beberapa individu non-pejabat pemerintahan AS saat ini juga dimasukkan ke dalam daftar tersebut, antara lain putra Biden, Hunter Biden, dan mantan Menlu AS Hillary Clinton.

Baca juga:
Putin Membalas, Biden dan Jajaran Pejabat AS Kena Sanksi!

Langkah penjatuhan sanksi oleh Rusia ini sebagian besar dinilai simbolis, karena tampaknya sangat tidak mungkin bagi Biden dan jajaran pemerintahannya untuk bepergian ke Rusia dalam waktu dekat. Terlebih AS dan sekutu-sekutunya tengah mengambil langkah-langkah untuk menghukum Putin dan para elite pemerintahannya karena menginvasi Ukraina.

Biden dan pemerintahannya telah mengesampingkan kemungkinan pertemuan langsung dengan Putin. AS bahkan mempertanyakan apakah Putin sungguh-sungguh tertarik pada solusi diplomatik untuk perang di Ukraina.

President Joe Biden delivers his first State of the Union address to a joint session of Congress at the Capitol, Tuesday, March 1, 2022, in Washington, as House speaker Nancy Pelosi of Calif., looks at a copy of Biden's speech at left.
Presiden AS Joe Biden (AP Photo)

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut sanksi-sanksi itu merupakan 'konsekuensi yang tidak terhindarkan untuk langkah sangat Russofobia yang diambil pemerintahan AS saat ini, yang merupakan upaya putus asa mempertahankan hegemoni Amerika, yang mengandalkan, menghilangkan semua kesopanan, pada pembatasan frontal Rusia'.

Pemerintah Rusia menyatakan lebih banyak sanksi akan diumumkan, dengan daftar hitam itu diperkirakan semakin panjang dengan menyertakan 'para pejabat tinggi AS, pejabat militer, anggota parlemen, pengusaha, pakar dan orang-orang media yang Russofobia atau berkontribusi dalam menghasut kebencian pada Rusia.

Ditambahkan juga Kementerian Luar Negeri Rusia bahwa pemerintah Rusia 'tidak menolak untuk mempertahankan hubungan resmi jika memenuhi kepentingan nasional kami, dan jika diperlukan, akan menyelesaikan masalah yang timbul dari status orang-orang yang masuk dalam daftar hitam demi mengatur kontak tingkat tinggi'.

(dnu/dnu)

Baca artikel detiknews, "Serangan Balik Putin ke Paman Sam yang Tak Kalah Kejam" selengkapnya 
https://news.detik.com/internasional/d-5986928/serangan-balik-putin-ke-paman-sam-yang-tak-kalah-kejam.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages