Salam Sejahtera bagi Pak Muslim

1 view
Skip to first unread message

maslanang

unread,
Feb 1, 2006, 4:20:26 AM2/1/06
to gat-co...@googlegroups.com, budi...@garuda-indonesia.com, de...@asuransibintang.com, sasi_g...@garuda-indonesia.com, subiy...@garuda-indonesia.com, esman...@purefoodsindonesia.co.id
Salam Sejahtera bagi Pak Muslim

Adzan maghrib berkumandang, waktu berbuka puasa pun tiba.
Tapi sore itu saya masih berada di angkot, duduk di pojok
berhadapan dengan lelaki paruh baya. Lelaki itu, serta
merta mengeluarkan sebuah minuman kemasan rasa jeruk dari
dalam tasnya. Untuknya berbuka puasa, pikir saya. Tapi
ternyata, “Silahkan berbuka, sudah masuk waktunya,” sambil
menyodorkan minuman itu ke arah saya. Belum sempat saya
menolaknya, ia sudah mengeluarkan beberapa gelas minuman
kemasan yang sama, kemudian dibagikan kepada seluruh
penumpang dalam angkot, termasuk seorang mahasiswa di
sebelahnya.

Mahasiswa itu, seorang non muslim. Dengan sangat sopan ia
menolak pemberian lelaki paruh baya itu. “Saya bukan
muslim, saya tidak berpuasa, terima kasih,” ujarnya sopan.
Lelaki itu tak mau kalah, ia tetap menyodorkan minuman
itu, dan, “Ini bulan berkah, keberkahan puasa bukan hanya
untuk kami yang muslim, bahkan juga untuk orang diluar
muslim,” kata-kata itu teramat menyentuh batin saya, dan
saya yakin juga bagi mahasiswa itu.

“Nama saya Muslim” begitu ia memperkenalkan dirinya kepada
saya. Nama yang sangat mewakili perbuatannya. Islam
sebagai rahmat bagi semesta alam, dan seorang muslim
semestinya menjadi rahmat bagi semua orang, tidak
terkecuali. Seorang muslim ialah yang senantiasa menebar
kasih sayang kepada sesama, tak peduli ia berbeda agama.
Dan Pak Muslim telah mengajarkan langsung kan hal-hal yang
selama ini masih sering menjadi materi dasar di berbagai
pengajian dan forum keagamaan yang kita ikuti. Pak Muslim
bukan seorang ustadz, bukan ulama, dia juga tidak banyak
berbicara di atas mimbar, di televisi, tapi apa yang baru
saja dilakukannya di hadapan saya, jauh lebih mengagumkan
dari sekadar kata-kata indah yang terumbar di berbagai
mimbar dan corong pengeras suara.

Sungguh saya malu, terlalu sering berbicara dan tak
berupaya mengimbanginya dengan amal nyata. Kalau mau
dihitung, sedikit sekali yang sudah saya kerjakan untuk
membuktikan betapa Islam itu benar-benar menjadi rahmat
bagi seluruh alam, bagi semua umat, tidak terkecuali.

Jati diri seorang muslim bukan ditunjukkan dengan simbol,
bendera dan kata-kata. Sesungguhnya, jati diri itu
tertanam dalam jiwa yang kemudian tercermin dalam perilaku
dan perbuatannya sehar-hari. Pakaian yang kita kenakan
hanya menunjukkan fisik kemusliman kita, tapi kesejatian
seorang muslim lebih dipancarkan dari kebaikan-kebaikan
yang kita kerjakan. Pakaian seorang muslim yang
sebenarnya, adalah kata-kata baik penuh hikmah dan
perbuatan yang mengandung keberkahan bagi siapa saja,
tidak terkecuali.

Nama saya bukan Muslim, tapi saya seorang muslim. Semoga
saya bisa seperti Pak Muslim

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages