WTI: Review BlackBerry Classic Q20

19 views
Skip to first unread message

Herry SW

unread,
Jul 24, 2015, 1:53:21 AM7/24/15
to gadge...@googlegroups.com
Naskah ini sebenarnya dilengkapi 18 foto. Supaya ukuran email tidak terlalu besar, hanya enam foto yang saya kirimkan ke milis. Versi lengkap dapat dibaca di http://goo.gl/RmKRdR
 
Tautan di atas boleh Anda informasikan dan sebarkan kepada orang lain.
 
Tanpa konfirmasi dan izin tertulis, dilarang memakai naskah review ala HSW untuk materi promosi atau bahan penunjang berjualan.

 
Dalam berponsel penulis sesekali memilih jalur yang tidak mainstream. Penulis telah dua kali mengalami masa ketika memakai peranti BlackBerry dipandang janggal. Pertama, bertahun-tahun silam. Terus terang penulis lupa tepatnya tahun berapa. Satu hal yang pasti, sebelum 2007.

Saat itu penulis menggunakan peranti BlackBerry 5820 dengan layanan BlackBerry Internet Services (BIS) Indosat. Layar ponsel tersebut masih monokrom. Hitam putih. Ketika memakainya di tempat gelap, penulis harus mengaktifkan backlight secara manual. Tekan tombol tertentu dulu sampai cahaya berwarna hijau menerangi layar.

Tidak ada kamera maupun selot memori eksternal di 5820. Kalau akan bertelepon, sebuah handsfree berkabel harus ditancapkan. Ponsel berwarna hitam itu tak memungkinkan penggunanya berhalo-halo tanpa headset. Bagaimana tampilan BlackBerry Messenger (BBM) pada masa tersebut? He… he… he… ketika itu belum ada BBM.

Meskipun minim fitur untuk ukuran sekarang, dulu menggunakan 5820 terasa sangat asyik. Keren. Email yang bisa langsung masuk ke ponsel, layaknya sebuah SMS, membuat penulis selalu bergegas ingin membukanya. Biar seperti orang sibuk. Ha… ha… ha….

Kala orang lain kebetulan melihat penulis mengoperasikan ponsel itu, tersirat kekaguman di wajah mereka. Mungkin lantaran tak sanggup menahan rasa penasaran, sebagian di antara mereka akhirnya bertanya, “Kamu pakai ponsel apa? Kok modelnya seperti kalkulator.” Glodaks!

Layanan BIS saat itu masih mahal. Ehmm… kalau bukan Rp 350 ribu, ya berarti Rp 400 ribu per bulan. Kuota pemakaiannya, jika penulis tidak silap ingatan, dijatah 20 MB. Ya, dua puluh megabyte.

Hanya satu bulan penulis memakai BlackBerry tersebut. Alasannya sederhana, biaya berlangganannya mahal. Toh dengan mencicipi selama satu bulan, setidaknya penulis sudah mengetahui rasa menggunakan BlackBerry yang saat itu diposisikan sebagai layanan push email paling tepat bagi para eksekutif.

Masa bakti 5820 milik penulis berakhir menggelikan. Ceritanya, ponsel tersebut dibeli oleh seorang pemilik toko buah di Jakarta. Di resi pengiriman, penulis menyebutkan paket itu berisi BlackBerry. Paket tiba di alamat tujuan dan diterima oleh karyawan toko buah. Saat membaca kata BlackBerry di deskripsi barang, si penerima menyangka isinya buah blackberry. Dengan sigap satu kardus kiriman itu dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

Untunglah beberapa menit kemudian pemilik toko buah tersebut menelepon ke toko. Salah satunya untuk menanyakan kiriman dari penulis. Singkat cerita, 5820 itu batal membeku di dalam lemari pendingin.

Berikutnya, cerita bergulir dengan relatif cepat. XL menawarkan layanan BIS dengan tarif jauh lebih murah. Kompetisi antaroperator GSM penyedia layanan BIS berlangsung ketat. Perang tarif tak terelakkan. Popularitas BlackBerry di sini meningkat pesat. Mulai asisten rumah tangga hingga pemilik perusahaan memanfaatkan BlackBerry. Banyak pihak dari luar negeri sampai menyebut Indonesia sebagai BlackBerry Nation. Negara BlackBerry.

Kini popularitas BlackBerry di Indonesia telah merosot. Penampakan ponsel BlackBerry terasa janggal lagi. Misalnya, seperti yang bulan lalu dialami penulis. Sore itu, dalam acara buka puasa bersama, penulis duduk satu meja dengan petinggi operator seluler. Anggap saja namanya Hanare.

BlackBerry Classic dan LG G4 penulis letakkan di meja. “Lho Her, kamu masih pakai BlackBerry tho?” tanya Hanare. “Iya, Pak. Namun, seperti biasa, biarpun memakai BlackBerry, saya tidak menggunakan BlackBerry Messenger (BBM). Kontak BBM nol,” jawab penulis.

Sesuai namanya, BlackBerry Classic memiliki tampilan klasik ala peranti BlackBerry di masa kejayaannya. Papan ketik qwerty berada di bagian bawah. Di tengah ada tombol menu berlogo BlackBerry, call, end, back, dan tak lupa trackpad yang legendaris. Bergeser ke atas lagi, terbentang layar berukuran 3,5 inci.

Kalau sebagian orang menilai Classic menyerupai BlackBerry Bold 9900 alias Dakota, hal itu sangat wajar. Dakota menjadi cikal bakal pengembangan Classic. Bedanya, Classic telah disesuaikan dengan sistem operasi BlackBerry 10 (BB10).

Layar Classic, misalnya, menggunakan layar sentuh beresolusi 720 x 720 piksel. Pemakaian layar sentuh di BB10 merupakan hal wajib karena sistem operasi itu mengenali aneka gerakan tangan untuk operasional ponsel. Contohnya, pengguna cukup menyapukan jari dari bawah ke atas layar untuk mengaktifkan dan membuka layar.

Konektor handsfree berkabel dan tombol power diletakkan di sisi atas Classic. Di sisi kiri, terdapat selot kartu nano SIM dan microSD. Tombol volume berada di kanan, sedangkan konektor micro USB di bagian bawah ponsel.

Papan ketik qwerty Classic sangat ergonomis. Menonjol, empuk, dan membal. Tactile feedback-nya mengajak pengguna mengenang kembali sensasi ber-BlackBerry di masa lalu. Demikian pula trackpad-nya. Sensitif terhadap sapuan jari, tetapi tak sampai bergerak liar.

Kamera utama ponsel bernama lain BlackBerry Q20 itu dilengkapi fokus otomatis dan lampu kilat. Ia mampu menghasilkan foto beresolusi delapan megapiksel dan klip video full HD 1080p. Sedangkan kamera depan Classic siap memproduksi foto dua megapiksel dan klip video HD 720p.

Ketika ingin mencari aplikasi tambahan, pengguna dapat masuk ke BlackBerry World dan Amazon Appstore. Berencana memantau dan membalas email, SMS, dan BBM dari laptop/PC? Jalankan BlackBerry Blend. Koneksi antara laptop/PC dan Classic bisa menggunakan kabel data maupun Wi-Fi.

Agar lebih praktis saat sehari-hari mengoperasikan Classic, pengguna pantas mengoptimalkan aneka fitur berbasis gerakan. Cara pengaturannya sederhana. Masuklah ke menu settings, lalu pilih advance interaction. Aktifkan fitur yang dibutuhkan. Salah satu yang, menurut penulis, layak diaktifkan adalah lift to wake. Dengan demikian, setiap kali ponsel diangkat dari meja atau bidang datar, layar ponsel otomatis akan menyala.

Mengikuti perkembangan terkini layanan operator seluler di Indonesia, Classic telah kompatibel dengan layanan LTE. Classic bergaransi resmi mendukung LTE band 1, 2, 3, 5, 7, 8, dan 20. Dihubungkan dengan layanan LTE di Indonesia, yang perlu diperhatikan cukup band 3, 5, dan 8.

Band 3 menggunakan frekuensi 1.800 MHz. Layanan LTE Telkomsel, XL, Indosat, dan Tri sedang atau akan berjalan di rentang frekuensi ini. Band 5 memakai frekuensi 850 MHz. Layanan LTE Smartfren bekerja di frekuensi tersebut plus band 40 di 2.300 MHz. Sementara itu, band 8 memanfaatkan frekuensi 900 MHz yang kini dipakai Telkomsel, XL, dan Indosat untuk menggelar layanan LTE di area tertentu.

Apakah Classic dapat digunakan untuk mencicipi layanan LTE Smartfren? Di atas kertas seharusnya bisa. Namun, mengacu kepada pengalaman penulis saat mencoba memadukan aneka tipe ponsel LTE berbasis GSM, praktiknya belum tentu sukses.

Pengguna bisa mengatur supaya Classic selalu berada di jaringan 2G atau 3G. Namun, pengguna tidak dapat mengunci ponsel supaya setia di jaringan 4G. Pengguna yang ingin ber-4G via Classic harus memilih ponsel itu diizinkan berpindah otomatis di jaringan 2G, 3G, dan 4G atau hanya 3G dan 4G.

Prosesor berinti ganda (dual core) Qualcomm MSM8960 1,5GHz, Wi-Fi, bluetooth, GPS, NFC, dan kompas merupakan sebagian spesifikasi lain Classic. Begitu membaca kalau Classic memanfaatkan prosesor dual core, sebagian di antara Anda mungkin langsung berpikir, “Wah, berarti Classic lemot. Tidak gegas. Kayak ponsel Android Rp 600 ribuan.”

Saran penulis, buanglah jauh-jauh persepsi tersebut. Biarpun memakai prosesor dual core, ponsel yang mendukung USB On-The-Go itu tergolong responsif. Sama halnya dengan ponsel BlackBerry 10 tipe lain dan Nokia/Microsoft Lumia yang berprosesor dual core.

Classic yang penulis uji pakai menggunakan sistem operasi versi 10.3.1.1779. Memorinya terdiri atas RAM 2 GB, ROM 16 GB, dan selot microSD. Saat ponsel diaktifkan untuk kali pertama, ruang kosong yang tersedia mencapai 10,55 GB. Sumber tenaga Classic berasal dari baterai tanam berkapasitas 2.515 mAh.

Kalau dirangkum, performa umum ponsel berdimensi fisik 131 x 72,4 x 10,2 milimeter dan berat 178 gram itu tergolong memuaskan. Ponsel yang gegas dengan tampilan fisik elegan deh. Papan ketik qwerty-nya ergonomis, hasil jepretan kameranya pun relatif bagus. Classic ibarat mengumpulkan beragam kenangan manis peranti BlackBerry keluaran sebelumnya. Romantisme masa lalu itu kemudian diracik ulang dan diperbarui.

Umpama harus menyebutkan sisi minus Classic, penulis akan berkata, “Sayang bukan dual SIM. Untuk meningkatkan angka penjualan, selain mempertimbangkan penggunaan sistem operasi Android, BlackBerry mestinya menghadirkan ponsel dual SIM.”

Menurut penulis, ada dua kelompok pengguna BlackBerry yang pantas beralih ke Classic. Pertama, pemakai BlackBerry Bold 9900 alias Dakota yang ingin meremajakan ponselnya. Kedua, pemilik BlackBerry Passport yang memimpikan peranti BlackBerry 10 dengan dimensi fisik tidak terlalu lebar.

Saat ini harga pasar Classic baru dan bergaransi resmi mulai Rp 4,725 juta hingga Rp 4,75 juta. Ponsel yang sama, tetapi tanpa garansi resmi, dijual di kisaran Rp 4,3 juta.

***

Contoh foto yang dihasilkan Classic alias Q20.

Dua foto berikut ini dijepret menggunakan kamera depan.

 

Salam,

 

Herry SW

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages