WTI: Review Sony SmartBand Talk SWR30

19 views
Skip to first unread message

Herry SW

unread,
May 12, 2015, 7:08:14 AM5/12/15
to gadge...@googlegroups.com
Naskah ini sebenarnya dilengkapi 19 foto/gambar. Supaya ukuran email tidak terlalu besar, hanya enam foto yang saya kirimkan ke milis. Versi lengkap dapat dibaca di http://goo.gl/KwdCfc
 
Tautan di atas boleh Anda informasikan dan sebarkan kepada orang lain.
 
Tanpa konfirmasi dan izin tertulis, dilarang memakai naskah review ala HSW untuk materi promosi atau bahan penunjang berjualan.

 
Meskipun tampilan fisiknya menyerupai arloji berukuran ramping, Sony memposisikan SmartBand Talk SWR30 sebagai smartband alias gelang pintar. Produsen asal Jepang itu tampaknya masih menganggap smartwatch atau jam pintar mesti berbentuk bujur sangkar dengan bentang layar yang lebih lebar.

Dari namanya, smartband talk, calon pengguna sebenarnya mudah meraba-raba fungsi SWR30. Smartband dapat dimaknakan sebagai gelang pintar yang bisa dihubungkan dengan ponsel. Sedangkan talk berarti berbicara. Hmmm… berarti SWR30 dapat dipakai bertelepon ya? Betul!

Dengan tampilan fisik yang relatif ramping dan berbobot 24 gram saja, SWR30 nyaman digunakan oleh pemilik lengan berukuran kecil maupun besar. Layar gelang pintar itu melengkung. Layarnya bukan memanfaatkan LCD, melainkan e-ink.

Asal tahu, e-ink adalah singkatan dari electrophoretic ink atau electronic ink. Bila kata demi kata langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, e-ink akan menjadi tinta elektronik. Padahal, ia sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kertas elektronik. Mudahnya e-ink meniru penampakan tinta saat diteteskan atau dicetak di atas selembar kertas.

Berbeda dengan LCD, layar e-ink tidak dilengkapi backlight. Ia memantulkan cahaya dari lingkungan di sekitarnya. Dalam kasus ini, semakin tinggi intensitas cahaya di sekitar SWR30, tampilan layar bakal semakin terang. Di satu sisi hal itu menguntungkan pengguna. Sebab, di bawah terik matahari pun tampilan gelang pintar tersebut masih terbaca jelas. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut merugikan. Di lokasi yang gelap gulita, pengguna pasti kesulitan melihat huruf dan angka di layar SWR30.

Seandainya masih bingung memperkirakan tampilan layar SWR30, ada cara mudah untuk membayangkannya. Ambillah selembar kertas yang diterima mesin faksimile. Alternatif lain, carilah struk yang didapatkan usai mengambil uang tunai di ATM atau berbelanja di minimarket. Nah, tampilan nyata layar SWR30 mirip dengan itu.

Gara-gara menyerupai tampilan kertas, selama memakai SWR30 penulis berkali-kali membuat orang lain kecele. Awalnya mereka menyangka penulis mengenakan jam tangan mainan. Pernah 1-2 kali ada orang yang terlihat memperhatikan SWR30 dengan seksama. Ketika penunjuk waktu berubah, mereka spontan berkata, “Lho, ternyata itu jam beneran ya?” Ha… ha… ha….

Sama dengan arloji digital konvensional, ketika sedang siaga, layar SWR30 selalu menyala dan menampilkan waktu terkini. Terdapat dua pilihan tampilan layar: latar belakang hitam dengan tulisan putih dan sebaliknya.

Berbekal aplikasi SmartBand Talk yang diinstalasikan di ponsel Android, pengguna dapat mengubah “wajah” jam tangan (watchface) itu. Tersedia berbagai pilihan tampilan penunjuk waktu, baik analog maupun digital. Prediksi cuaca atau tulisan sesuai keinginan pengguna juga dapat disajikan di layar SWR30.

Sebagai gelang pintar, SWR30 bukan hanya dapat menyajikan waktu. Kala ada panggilan masuk, peranti itu bakal bergetar dan menampilkan nomor/nama penelepon. Pengguna selanjutnya dapat menerima, menolak, atau membiarkan panggilan telepon tersebut.

Kalau mau, pengguna bisa langsung bercakap-cakap via speaker phone terintegrasi di SWR30. Jarak antara mulut dan gelang pintar sebaiknya tidak lebih dari 20 sentimeter. Aktivitas bertelepon seperti itu idealnya hanya dilakukan di lokasi yang relatif sunyi. Bila pengguna melakukannya di tempat yang gaduh, suara lawan bicara akan sulit didengar.

SWR30 juga mampu memberikan beragam notifikasi ketika ada pesan SMS, WhatsApp, BBM, atau email baru yang masuk ke ponsel. Pengguna leluasa mengatur aplikasi mana saja yang diharapkan memicu notifikasi di gelang pintar tersebut.

Alarm dan activity logging merupakan fitur bawaan lain SWR30. Activity logging yang dimaksud di sini adalah pencatatan aktivitas sehari-hari pengguna, baik aktivitas fisik maupun pemakaian ponsel. Di antaranya, total kalori yang dibakar, jumlah langkah kaki, durasi tidur, dan frekuensi bertelepon serta penggunaan kamera.

Pengguna dimungkinkan menginstalasikan aplikasi untuk menambahkan fitur SWR30. Dengan aplikasi Smart Camera, misalnya, SWR30 akan berfungsi sebagai tombol penjepret nirkabel. Pernah tahu tomsis alias tombol narsis? Seperti itulah cara kerjanya. Pengguna bebas mengarahkan kamera ponsel ke objek yang diinginkan. Untuk menjepret, pengguna cukup mengetukkan jari ke layar SWR30.

Ketika SWR30 telah terkoneksi via bluetooth dengan ponsel, sepasang peranti itu bisa saling mencari. Umpama pengguna lupa di mana telah meletakkan si gelang pintar, pengguna cukup menekan tombol locate smartband di layar ponsel. SWR30 bakal berbunyi sekaligus bergetar.

Sebaliknya, kalau pengguna ingin mencari ponsel yang terselip, pengguna tinggal mengakses ikon Find Phone di SWR30. Ketuklah layar satu kali. Ponsel akan spontan berdering, meskipun sebenarnya sedang berada di mode silent atau vibrate.

Lain waktu, pengguna yang telah mengenakan SWR30 mungkin terburu-buru meninggalkan rumah atau kantor. Ia lupa membawa ponsel. Dalam jarak sekitar sepuluh meter, gelang pintar itu akan bergetar. Di layar muncul simbol tanda seru. Seolah SWR30 berteriak, “Hoi… ponselmu ketinggalan!”

Saat ini SWR30 dijual di kisaran harga Rp 1,399 juta. Ia ditawarkan dalam dua pilihan warna, hitam dan putih. Walaupun bermerek Sony, gelang pintar itu bisa dipadukan dengan aneka ponsel merek lain. Syaratnya, ponsel tersebut bersistem operasi Android minimal 4.4 KitKat.

Pairing pertama antara ponsel dan SWR30 dapat memanfatkan koneksi NFC maupun bluetooth. Selanjutnya, dua peranti itu “bercakap-cakap” secara nirkabel via bluetooth. Untuk menikmati fitur lengkap SWR30, pengguna perlu menginstalasikan aplikasi SmartBand Talk dan Lifelog yang dapat diunduh di Play Store.

Berapa lamakah daya tahan baterai SWR30? Dengan perilaku pemakaian ala penulis, baterai gelang pintar itu rata-rata mampu bertahan 2,5 hari. Selama rentang waktu tersebut, SWR30 tak pernah dipadamkan. Bila daya baterai melemah, pengguna tinggal menancapkan charger ke konektor micro USB di bodi SWR30.

SWR30 telah memenuhi standar IP68. Karena itu, penulis sengaja tetap memakainya saat mandi, mencuci tangan, maupun menerjang hujan. Penulis tidak menguji kemampuannya di kolam renang. Bukan takut rusak, melainkan lantaran penulis tak bisa berenang. Seorang teman mengaku rutin mengajak SWR30-nya berenang. Hasilnya, sampai sekarang gelang pintar tersebut masih berfungsi normal.

Kesimpulan singkat versi penulis, SWR30 adalah produk gelang pintar yang multifungsi dan menarik dilirik. Fiturnya nyaris aluguda. Apa yang lu mau, gua ada. Kekurangannya praktis hanya di layar yang tanpa backlight sehingga amat susah dilihat di tempat gelap.

Lebih layak beli mana dibandingkan Huawei TalkBand B1 dan Acer Liquid Leap? Kalau diadu dengan TalkBand B1 yang dibanderol Rp 1,499 juta, menurut penulis, SWR30 lebih unggul di berbagai sisi. Sedangkan bila dikomparasikan dengan Liquid Leap, dua peranti itu sebenarnya bukan lawan seimbang. Lha harga keduanya berbeda signifikan, yaitu Rp 999 ribu versus Rp 1,399 juta. Betapa pun, Liquid Leap pantas dilirik oleh calon pengguna yang tak membutuhkan fungsi telepon.

Sedikit info tambahan, seluruh foto yang saya tampilkan di atas dijepret memakai LG G4 purwarupa alias prototipe versi awal. Mengacu kepada pengalaman selama ini, versi final atau komersial biasanya memiliki kinerja lebih bagus.

 

Salam,

 

Herry SW

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages