Pesan Makrifat Nabi Khidir as kepada Nabi Musa as

944 views
Skip to first unread message

tigermalaya69

unread,
Apr 14, 2011, 10:10:33 PM4/14/11
to GABUNGAN
Pesan yang Pertama.

Ketika Nabi Khidir hendak berpisah dengan Nabi Musa, dia (Musa)
berkata, “Berilah aku wasiat”. Jawab Khidir :

Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain.
Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan
kecemasan diantara mereka sehingga kamu dibenci mereka.
Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan
janganlah sampai mengerutkan dahimu kepada mereka.
Janganlah kamu keras kepala atau bekerja tanpa tujuan.
5. Apabila kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja,
kemudian tangisi dosa-dosamu, wahai Ibnu Imron! (Al Bidayah Wan
Nihayah juz I hal. 329 dan Ihya’ Ulumuddin juz IV hal. 56).

1. “Wahai Musa”, jadilah kamu seorang yang berguna bagi orang lain.

Sebaik-baiknya manusia yang berguna bagi orang lain karena
keberadaannya dibutuhkan dan andaikata dia pergi, mereka merasa
kehilangan sehingga yang akan dijadikan panutan tidak ada, dan sebagai
penggantinya yang setaraf pun tidak ada.

2. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan
kecemasan diantara mereka sehingga kamu dibenci mereka.

Kerukunan dan ketentraman lingkungan didambakan disetiap warga. Dan
apabila ada seseorang yang membuat resah masyarakat yang menimbulkan
kecemasan mereka, kepergiannya tidak akan dinantikan kedatangannya
lagi. Dengan kepergiannya, masyarakat merasa tentram, keberadaannya
disetiap yang ditempati selalu dibenci dan bahkan diusir.

3. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan
janganlah sampai mengerutkan dahimu kepada mereka.

Muka cemberut dan kusam menunjukkan wajah atau hati sedih dan kurang
senang pada keadaan. Terimalah apa adanya dengan senang hati, jalani
saja kehidupan ini dengan ketabahan dan sabar, walaupun pahit dirasa.
Kejadian apapun yang kita alami, pasti Allah akan memberikan hikmah
dan pelajaran dibaliknya. Dengan demikian kesedihan pun sirna dengan
sendirinya, dan wajah kelihatan berseri-seri tampaklah muka ceria.

4. Janganlah kamu keras kepala, atau bekerja tanpa tujuan.

Keras kepala adalah sifat yang harus disingkirkan jauh-jauh, karena
bisa mengalahkan sifat-sifat baik lainnya, kalau sifat keras kepala
masih mendominasi pada diri yang akibatnya dapat merugikan diri
sendiri bekerja pun tak terarah dan sia-sia.

5. Apabila kamu mencela seseorang, hanya karena kekeliruannya saja.
Kemudian tangisi dosa-dosamu.

Menyalahkan orang lain atau mencela tidak diperbolehkan oleh Nabi
Khidir karena beliau berlandaskan firman Allah dalam surat Al Insyiqaq
ayat 19 :

“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kejadiannya)”.

Manusia diciptakan oleh Allah tingkat demi tingkat, salah satunya
tingkat pemahaman belum berubah atau berbeda sebab yang dicela tingkat
pemahamannya dibawah yang mencela, logislah yang mencela atau
menyalahkan tidak dibenarkan. Orang kelas 3 kok disalahkan oleh orang
kelas 5. Seharusnya kelas 5 yang mengalah, dan harus tahu bahwa
perbuatan itu kurang benar, segeralah mohon ampun kepada Allah dan
jangan diulangi lagi.

Pesan ke Dua.

Diriwayatkan bahwa setelah Khidir mau meninggalkan Nabi Musa, dia
(Khidir) berpesan kepadanya :

Wahai Musa, pelajarilah ilmu-ilmu kebenaran agar kamu dapat mengerti
apa yang belum kamu fahami, tetapi janganlah sampai kamu jadikan ilmu-
ilmu hanya sebagai bahan omongan. (Riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu
Asakir).

Faham sesuatu ilmu bukan untuk modal berdebat, menonjolkan sesuatu
faham yang berseberangan dan faham yang baru selesai dipelajarinya itu
adalah yang paling benar sehingga bangga atas golongannya itu dan
mengajak adu argument bahwa dialah yang paling benar sendiri, ini
tidak dibenarkan sebab berdebat itu tidak diperbolehkan sebagaimana
surat Al Baqarah ayat 139 :

“Katakanlah, apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah,
padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami,
bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada Nya kami mengikhlaskan hati”.

Berseberangan faham yang sudah diyakini tidaklah perlu diusik satu
sama lain karena masing-masing sudah kokoh dalam keyakinannya hanya
saja ajakan orang-orang yang masih ngambang atau yang belum iman.

Pesan ke tiga.

1. Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu
tidak pernah merasa jemu seperti kejemuan orang-orang yang
mendengarkan.

Memberi nasehat kepada orang lain janganlah mengharapkan sesuatu
imbalan apapun kecuali ridha Allah dan tugas menyampaikan. Tugas
menyampaikan dan mensyiarkan agama Allah adalah tugas setiap umat
muslim, firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 32 mengatakan :

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-
syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”.

Dan kita sendiri jangan merasa bosan-bosan untuk menengarkan para
penceramah itu termasuk tholabul ilmi yang diwajibkan pada setiap
muslim, walaupun ilmunya banyak.

2. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu.

Berilah nasehat singkat, padat, berisi dan yang penting tidak
membosankan.

3. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus
kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang bisa memecahkannya.

Iman didalam hati belum tentu sudah kokoh tanpa djaga dan dirawat dan
dipelihara karena lapisan luar hati masih dipenuhi oleh hawa nafsu
yang selalu mengajak ke arah perbuatan yang kurang baik. Maka dari itu
waspadalah dalam menjaga hati jangan sampai hati terpengaruh dari
hasutan syaitan yang cara penyusupan penyerangannya lewat hawa nafsu.
Begitu hati sudah terkena pengaruh hawa nafsu pecahlah hati ini. Dan
hati-hatilah dalam menjaganya.

4. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh
dibelakangmu, karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati
selamanya.

Dunia yang kita tempati ini tidaklah selamanya kita tempati dan
setelah selesai hidup kitapun pindah di alam lain, maka kumpulkan amal
kebajikan untuk modal menuai di akhirat nanti. Jangan buang-buang
tempo, tanamlah amalmu untuk menggapai kebahagiaan di alam akhirat,
apabila tidak ditanami amal kebajikan apa yang diambil disana kita
akan rugi di dunia dan di akhirat. Waktu kita di dunia hanya sebentar,
tidaklah lama sebagaimana keterangan surat An Naziyat ayat 46 :

“Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-
akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) diwaktu sore
atau di pagi hari”.

5. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat
nanti.

Semua makhluk yang bernama manusia beramar ma’ruf nahi munkar.
Mengerjakan amal yang baik untuk bekal di akhirat serta mencegah hal
yang munkar untuk diri sendiri dan dilanjutkan kepada orang lain yang
menjalani hal yang munkar yang dilarang.

6. Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang
dilakukan kaummu.

Sabar dalam menghadapi kemaksiatan dilingkungannya, ini bukan berarti
diam tetapi sabar dalam bentuk berusaha mencegah dan menggantikan
dengan perbuatan yang baik. Apabila mengalami kesulitan, bersabarlah,
mencari solusinya dan jalan keluar yang baik.

7. Hai Musa, tumpahkanlah seluruh pengetahuan (ilmu) mu, karena tempat
yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain.

Kewajiban manusia yang berilmu untuk membagi ilmunya kepada orang lain
yang membutuhkan, bukan ilmu yang diberikan kepada orang lain itu
habis tetapi malah sebaliknya justru bertambah banyak. Apa sebabnya?.
Karena, ilmu yang kita berikan kepada orang lain dengan ikhlas dan
ridha, Allah pun ridha menambah ilmu Nya kepada orang tersebut.

8. Janganlah kamu banyak mengomongkan ilmumu itu, karena akan
dipisahkan oleh kaum ulama’.

Membicarakan ilmu yang sudah dicapai dengan predikat ilmu mukasyafah
dengan orang yang diluar kelompoknya yang masih dibawah jauh dari ilmu
yang dicapai, maka akan terjadi kurang baik bagi dirinya juga bagi
orang lain. Pendapat mengenai hal ini, Imam Al Ghozali mengatakan,
Pengetahuan-pengetahuan yang begini yang hanya boleh dikemukakan
melalui isyarat, tidak diperkenankan untuk diketahui setiap manusia.
Begitulah halnya dengan orang yang berpengetahuan tersebut tersingkap
padanya, dia tidak boleh mengungkapkannya kepada orang yang
pengetahuan tersebut tidak tersingkap atasnya. (Sufi dari Z.Z. hal.
181).

9. Maka bersikaplah sederhana saja, sebab sederhana itu akan
menghalangi aibmu dan akan membukakan taufiq hidayah Allah untukmu.

Menjalani kehidupan dengan kesederhanaan ini berartisudah meninggalkan
kehidupan keterikatan dengan keduniawian. Banyak tokoh-tokoh Sufi yang
tadinya hidup dalam kemewahan ditinggalkannya untuk hidup dalam
kesederhanaan. Dengan hidup sederhana hatinya tidak disibukkan dengan
harta. Ibadah kepada Allah lebih tenang dan khusu’, dalam
pendekatannya kepada Allah serasa tak mengalami kesulitan.

10. Berantaslah kejahilanmu dengan cara membuang sikap masa bodohmu
(ketidak pedulian) yang selama ini menyelimutimu.

Menahan dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang baik bukan main
susahnya kalau tidak dilandasi dengan dzikir kalbu, sebab dzikir kalbu
dapat mengikis sifat-sifat yang kurang baik yang sekian lama
membelenggu diri. Dengan dzikrullah yang dikerjakan di kalbu,
disamping menghilangkan sifat-sifat yang kurang baik, sifat-sifat yang
baik pun menguasai diri dan menambah ketenangan dan ketentraman hati.

11. Itulah sifat orang-orang arif dan bijaksana, menjadi rahmat bagi
semua.

Orang-orang arif identik dengan orang-orang Sufi, orang-orang Sufi
kebanyakan adalah para wali Allah yang menjadi rahmat bagi semua
orang.

12. Apabila orang bodoh datang kepadamu dan mencacimu, redamlah ia
dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu.

Meredam kemarahan orang yang memarahi di awali melatih penahanan hawa
nafsu dan meredam keinginan hawa nafsu yang ingin bergolak. Setelah
mampu meredam hawa nafsu, meredam amarah orang lain dengan kelembutan
sifat dan keteguhan hati.

13. Hai putra Imron, kamu sadari bahwa ilmu Allah yang kamu miliki
hanya sedikit.

Ilmu yang dipunyai manusia itu hanya sedikit, itupun Allah lah yang
memberinya sedangkan ilmu yang Allah miliki tak terhingga sebagaimana
di surat Luqman 27:

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

14. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau
bersikap sewenang-wenang adalah menyiksa diri sendiri.

Menutupi kekurangan diri sendiri juga sama dengan menutup diri yang
tidak mau menerima dari luar diri. Akhirnya kebodohan yang didapatkan
sebaiknya sifat terbuka atau keterbukaan dari segala hal akan
terbukalah hal-hal yang tersembunyi. Termasuk dapat terbukanya ilmu
Allah maka jangan tutupi dirimu, terbukalah.

15. Janganlah kamu buka ilmu ini jika kamu tidak bisa menguncinya.
Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika tidak tahu bagaimana
membukanya, hai putra Imron.

Membuka ilmu adalah tugas seoranng guru, mursyid, atau pembimbing.
Jadi beliau sudah mampu membuka dan menutup ilmu. Kenapa ilmu yang
sudah dijalani oleh seorang murid ditutup?, disebabkan si murid ada
kesalahan besar yang sudah tidak dapat diajak memperbaiki untuk
meluruskan pelajaran ilmunya. Makanya harus ditutup, supaya dibelakang
hari tidak ada permasalahan yang lebih besar lagi. Kalau tidak tahu
cara menutup ilmu, jangan sekali-kali membukanya walau tahu cara
membuka ilmu tersebut, sebab kalau nanti ada konflik dikemudian hari
tidak akan merepotkan. Bisa saja ilmu yang baik ini diselewengkan.

16. Barang siapa yang menepuk-nepuk harta benda, dia sendiri bakal
mati tertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kerakusannya
itu.

Sebagaimana kisah kerakusannya si Korun, dia seorang yang tamak
terhadap harta tidak dipergunakan untuk perjuangan agama Allah,
sehingga dia tertimbun hartanya.

17. Namun, semua hamba yang selalu mensyukuri karunia Allah serta
memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuan Nya, dialah hamba yang
zuhud dan patut diteladani.

Orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah dan jangan dlolim atas
nikmat pemberian Nya. Andai kata kita tidak mau mensyukuri nikmat atas
pemberian dari Nya, Allah pun murka sebagaimana diterangkan dalam
surat Ibrahim ayat 34 :

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluan) dari segala apa yang
kamu pohonkan kepada Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah,
tidaklah kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim
dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.

Juga sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim mengatakan :

“Dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan ra. berkata : Bersabda Rasulullah
saw. sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin sebab segala keadaannya
untuk ia sangat baik dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi
seorang mukmin, jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu
lebih baik baginya dan bila menderita kesusahan ia bersabar, maka
sabar itu lebih baik baginya”.

Dengan meninggikan sifat sabar serta mau menerima ketentuan-ketentuan
yang baik bersyukur atas nikmat dari Nya, dan menerima ketentuan yang
jelek diterimanya dengan ikhlas yang didasari dengan kesabaran, dan
mohon pertolongan Nya.

18. Bukankah orang yang seperti itu mampu mengalahkan nafsu syahwatnya
dan dapat memerangi bujuk rayu syaitan?

Syaitan membujuk manusia sejak Nabi Adam as. diciptakan di surga, dia
iri dengan Nabi Adam karena Nabi Adam diciptakan lebih sempurna dari
dia, bahkan dia (iblis) disuruh bersujud kepada Nabi Adam tidak mau
sebab menurut dia, dia lebih dahulu dan lebih tinggi dari Nabi Adam
sa. karena dia tercipta dari api. Dengan tidak maunya iblis bersujud
kepada Nabi Adam, diusirlah dia oleh Allah dari surga, dan disuruh
menempati neraka selamanya. Iblis mau menerima itu tapi dia masih
meminta tangguh dan dalam penangguhan itu meminta lagi untuk menggoda
anak cucu Nabi Adam as. Dan hanya yang ikhlaslah iblis tidak dapat
menggoda, sebagaimana firman Allah di surat Al Hijr ayat 30 – 42 :

30. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.

31. Kecuali iblis, ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang
bersujud itu.

32. Allah berfirman : Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut
bersujud) bersama-sama mereka yang bersujud itu?

33. Berkata iblis : Aku sekali-kali akan sujud kepada manusia yang
Engkau telah menciptaka dari tanah liat kering (yang berasal) dari
Lumpur hitam yang diberi bentuk.

34. Allah berfirman : Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu
terkutuk.

35. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.

36. Berkata iblis : Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah
kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.

37. Allah berfirman : (kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang diberi tangguh.

38. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.

39. Iblis berkata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan
bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik
(perbuatan maksiat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka.

40. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.

41. Allah berfirman : Inilah jalan yang lurus, kewajiban Aku lah
(menjaganya).

42. Sesungguhnya hamba-hamba Ku tidak ada kuasa kekuasaan bagimu
terhadap mereka kecuali orang-orang yang mengikuti kamu yaitu orang-
orang yang sesat.

19. Dan Dia pula orang yang mengetam buah dari ilmu yang selama ini
dicarinya.

Sabda Rasulullah saw. dari Abu Darda ra. mengatakan :

Barang siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga. Dan para malaikat selalu meletakkan
sayapnya untuk menaungi orang-orang yang menuntut ilmu, karena senang
dengan apa yang mereka lakukan. Dan bagi orang-orang yang alim,
dimintakan ampun untuknya oleh penduduk langit dan bumi serta oleh
ikan-ikan yang ada di air. Dan keutamaan orang alim terhadap
ahliibadah (yang tidak memiliki ilmu) adalah bagaikan kelebihan sinar
bulan atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya ulama’ adalah
pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar
dan dirham (kekayaan dunia), akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka
barang siapa yang mengambil ilmu itu, berarti ia telah mengambil
bagian yang sempurna. (HR. Dawud Tirmidzi). (Pesan-Pesan Rasulullah
hal. 167- 168).

20. Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahala di akhirat.

Sekecil apapun amal kebajikan yang kita kerjakan di dunia, Allah akan
membalasnya karena di dunia ini kita diwajibkan menanam amal sebanyak-
banyaknya, surat Az Zalzalah ayat 7 menerangkan :

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya
dia akan melihat (balasan) nya”.

21. Sedangkan kehidupan dunianya akan tentram ditengah-tengah
masyarakar yang merasakan jasanya.

Jasa seorang pahlawan dikenang sepanjang masa oleh takyat. Jasa apa
yang diberikan oleh rakyatnya pada pahlawan R.A. Kartini tiada lain
hanya cita-cita luhurnya yaitu memerangi kebodohan kaum wanita dan hak
kesamaan derajat dengan laki-laki. Dan cita-citanya masih berwujud
tulisan-tulisan yang belum tersalurkan dan yang meneruskan generasi
penerusnya. Sekarang apa yamh kita berikan kepada masyarakat dalam
masa kita hidup ini supaya berguna, walau hanya secoret kalimat untuk
merubah kalbu agar berdzikir kepada Allah.

22.Hai Musa, pelajarilah olehmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat
mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya masalah-masalah
yang tidak bisa diomongkan atau dijadikan bahan pembicaraan saja.

Ilmu yang tidak bisa diomongkan itu ada beberapa macam antara lain
penyampaiannya memakai bahasa isyarat, bahasa gerak, bahasa
perlambang, bahasa kias, dan bahasa simbolis. Ada juga yang memakai
bahasa kalbu, ada lagi cara penyampaiannya lewat mimpi dan yang
setengah sadar. Menerima pelajaran seperti itu semua memang tidak bisa
diomongkan kepada orang yang belum bisa memahaminya. Mempelajari ilmu
yang seperti itu dimulai dengan dzikir kalbu dan menghidupkan perasaan
antara lain, perasaan lahiriyah / fisik, perasaan akal / otak,
perasaan kalbu / hati, serta menghidupkan perasaan indra-indra
dhohiriyah maupun indra-indra batiniyah.

23. Itulah penuntun jalanmu dan orang-orang akan disejukkan oleh
hatimu.

Menjadi seorang penuntun yang diawali dari dituntun oleh seorang yang
sudah ahlinya. Karena kita ini ditunggu oleh mereka maka persiapkan
dirimu untuk mereka. Sebab keberadaan sang penuntun ditengah-tengah
mereka hatinya merasa tentram.

24. Hai Musa putra Imron, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir
dan fakir serta perbanyaklah amal kebajikan.

Pakaian taqwa adalah yang paling baik untuk dipakai, dzikir adalah
sarana pokok dalam kekokohan taqwa, buahnya dzikir itu bertafakkur.
Ketafakkuran menghasilkan perenungan yang di amalkan dalam keseharian
berbakti kepada Allah swt.

25. Suatu hari kamu tidak dapat mengelak dari kesalahan, maka pintalah
ridha Allah dengan berbuat kebajikan, karena pada saat-saat tertentu
akalmu pasti melanggar larangan Nya.

Ketentuan Allah apapun adanya manusia tidak dapat mengelak apakah
benar atau pun salah, walau anggapan kita benar tetapi ketentuan Nya
lah yang paling benar. Sebagaimana misal Nabi Adam as. sudah
diperingatkan oleh Allah bahwa dia berdua dilarang mendekati pohon
khuldi. Tetapi apa yang terjadi? Nabi Adam dan istrinya memakan buah
khuldi atas bujuk rayu iblis yang pada akhirnya Nabi Adam dan istrinya
menjalankan kesalahan karena melanggar larangan Allah. Maka pintalah
ridha kepada Nya dengan berbuat kebajikan untuk menebus kesalahan yang
dilanggarnya. Dengan demikian Allah akan mengampuni segala dosa yang
diperbuat dan diberi petunjuk untuk langkah berikutnya. Kenapa Nabi
Khidir memperingatkan dengan nada kontra versi, disisi lain disuruh
menjalankan kebaikan suatu sisi memvonis kesalahan harus terjadi,
ironisnya akal masih melanggar larangan Nya. Sampai kapanpun akal
manusia tak akan mampu mencapai kehendak Allah. Akal manusia kalau
sudah di tahapan ini jangan digunakan, yang dipakai adalah akal kalbu,
bahkan kalau masih sulit diredam saja sehingga yang muncul adalah
kehendak Nya sesuai dengan Nabi Khidir, apa yang diperbuat bukanlah
keinginannya tetapi sudah menjadi kehendak Allah. Sebab apabila masih
dalam pemikiran akal / otak manusia, sesuatu yang menjadi rahasia Nya
tidak akan ditampakkan. Tampaknya rahasia Allah atas tersingkapnya
hijab-hijab yang selalu menyelimuti dalam penglihatan kalbu.

26. Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan
kepadamu.

27. Omonganku ini tidak akan sia-sia apabila kamu mau menurutinya.

Setelah itu Khidir meninggalkan Nabi Musa yang duduk termenung dalam
tangis kesedihan. (Dikutib dari buku Kisah Khidir dan 9 Tokoh Sufi
oleh ABU KHALID MA. Pustaka Agung Surabaya).

Andaikata kita baca sekali lagi pesan-pesan Nabi Khidir, tapi
ditujukan kepada diri kita sendiri apa yang kita rasakan dan apa yang
kita lakukan terhadap pesan-pesan itu. sengaja pesan-pesan itu diberi
nomor dari kalimat per kalimat supaya mudah untuk menjelaskan dari
pesan-pesan itu.

Untuk dapat melaksanakan pesan-pesan Nabi Khidir as. ini membutuhkan
waktu dan penelaahan yang serius serta memakai kaca mata batin yang
paling dalam, pemahaman tersendiri.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages