Download Kitab Fathul Majid Makna Pesantren

1 view
Skip to first unread message

Jennifer Downey

unread,
Aug 3, 2024, 3:23:56 PM8/3/24
to fullputnacour

Jika mendengar kata kitab kuning, pasti pikiran kita tertuju pada buku yang ada di pesantren. Sering juga suatu lembaga tidak dapat dikatakan sebagai pesantren apabila tidak mengkaji kitab kuning. Kitab kuning dibuat oleh ulama-ulama klasik yang berasal dari Jazirah Arab yang ditulis dengan gundul atau tanpa harakat (tanda baca dalam bahasa Arab), sehingga membutuhkan ilmu dan pemahaman yang tinggi.

Mengutip buku berjudul Kitab Kuning dan Dinamika Studi Keislaman karangan Dr. Mohammad Thoha, M.Pd.I. (2018: 5) disebut kitab kuning karena referensi buku-buku klasik bahasa Arab yang memuat kajian-kajian ilmu islam dengan kertas berwarna kekuningan. Kitab ini memuat khasanah keagamaan, tata cara peribadatan, pergaulan, etik dan cara pandang kehidupan.

Kitab ilmu nahwu (ilmu tentang anatomi dan bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab) yang dikarang oleh Syekh Sonhaji. Kitab ini diperuntukkan untuk para santri yang baru belajar kitab kuning, karena kitab ini disusun secara sistematis dan diolah dengan bahasa yang mudah dipahami. Kitab ini merupakan pedoman level terendah dalam ilmu nahwu.

Di kalangan pesantren tradisional, Kitab Matan al-Ajurrumiyyah merupakan textbook tentang ilmu nahwu (gramatika Bahasa Arab) yang sangat terkenal. Hampir setiap santri yang menimba ilmu di pesantren tradisional mengawali pelajaran tentang bahasa Arab melalui kitab ini. Kitab ini merupakan kitab standar yang merupakan dasar dari pelajaran bahasa Arab. Dalam praktiknya di dunia pesantren, kitab tersebut sering disebut dengan nama Jurrumiyyah.

Kitab ini dikarang oleh dua pengarang yaitu Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaludin As-Sayuti yang dikarang pada rentang tahun 1459 hingga 1505. Kitab tafsir ini cukup mudah untuk dipahami sehingga kitab ini sering diberikan kepada santri-santri yang baru belajar kitab kuning.

Inilah kitab tafsir Jalalain, yang ditulis dua ulama terkenal yaitu Imam Jalaluddin Muhammad dan Imam Jalaluddin Abul Fadhl Abdurrahman. Ditulis oleh dua ulama yang memiliki nama depan Jalaluddin, itulah kenapa disebut kitab tafsir Jalalain atau Al-Jalalain, karena artinya dua Jalal. Kedua penulis kitab tafsir Jalalain tersebut, lebih dikenal dengan nama Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi.

Awalnya kitab tafsir Jalalain ditulis Jalaluddin Al-Mahalli mulai dari surah Al-Kahfi sampai surah An-Naas.
Namun ketika menyelesaikan tafsir surah Al-Fatihah, beliau wafat dan dilanjutkan Jalaluddin As-Suyuthi yang menulis dari tafsir surah Al-Baqarah hingga surah Al-Isra.

Sistem penulisan yang digunakan adalah hanya mencantumkan matan inti serta meringkas jalur periwayatan. Sebagaimana diungkap oleh al-Suyuti, al-Nawawi al-Bantani mengatakan kitab ini memuat hadis-hadis Nabi Saw. dan perkataan para sahabat yang diriwayatkan secara benar dan terpercaya. Untuk lebih meringkas kitab, al-Nawai al-Bantani membuang beberapa sanadnya.

Di kalangan santri, kitab ini menjadi salah satu sorogan favorit dan ilmu alat (tata bahasa Arab) lanjutan. Umumnya diberikan setelah tahapan Kitab Ajurumiyah dapat terhapal dan terpahami dengan baik.

Karena berupa nazam (syair), kitab ini biasanya dibahas dengan cara dihafalkan oleh setiap santri. Dengan cara menghafal syair-syair itu, santri akan mudah mengingat setiap perubahan dan kedudukan kalimat yang akan dibahas di dalam kitab kuning.

Kalam itu adalah lafaz yang memberi faedah (manfaat) bersambung. Dan, kalimat adalah lafaz mufrad (sendiri) yang memberi faedah (makna). Kalam itu terbagi tiga, yaitu isim, fiil dan huruf, itulah pembagiannya. Dan, ketiga pembagian itulah yang disebutkan dengan kalam.

Penjelasan atau definisi kalam ini, sama dengan yang diterangkan oleh pengarang Matan Ajurumiyah, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Dawud al-Shanhaji (Ibn Ajurum). Dalam matan Ajurumiyah, kalam adalah lafaz yang tersusun dan memberi faedah dengan menggunakan bahasa Arab. Dan (kalam itu), terbagi tiga, yaitu isim, fiil, dan huruf.

Perlu diketahui, dalam tata bahasa Arab, yang disebut kalam adalah kalimat dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, kalimat dalam bahasa Arab adalah kata di dalam bahasa Indonesia. Kalam adalah bentuk jamak dari kalimat.

Zikir dan doa adalah ibadah yang paling substansial bagi setiap muslim, sehingga kedua komponen ini merupakan ruh sekaligus menjadi nilai inti dari segala rutinitas ibadah. Dalam hari-hari yang sangat terbatas di dunia ini, sejak bangun tidur hingga kembali lagi ke pembaringan, sudah sepatutnya bagi hamba Allah Swt untuk senantiasa diisi dengan zikir dan doa agar semua aktivitas duniawi memiliki nilai ibadah kepada Yang Maha Kuasa.

Kitab Al-Adzkar yang bertajuk lengkap Al-Adzkar Al-Muntakhobah min Kalam Sayyid Al-Abror (Zikir-zikir pilihan dari Sayyid Al-Abror, Nabi Muhammad Saw) merupakan kitab karangan seorang ulama besar di bidang fikih dan hadis, Al-Imam Al-Alamah Al-Hafidz Abu Zakariya Yahya Muhyi Ad-din ibni Syarif An-Nawawi Ad-Dimasyqi atau lebih dikenal dengan Imam Nawawi.

Beliau lahir pada Muharam tahun 631 H di Desa Nawa, Damaskus (sekarang Ibukota Negara Suriah). Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama beliau, yaitu An-Nawawi dan Ad-Dimasyqi. Imam Nawawi wafat pada umur 45 tahun di desa kelahirannya, Nawa pada 24 Rajab 676 H.

Seperti namanya, kitab Al-Adzkar memuat berbagai macam zikir dan doa yang difokuskan bersumber dari Hadis Nabi Saw. Terbagi sesuai pokok-pokok utama berupa kitab, kemudian fasal, dan beberapa diperinci lagi dengan bab.

Menurut pengarang, memang pada kala itu, telah banyak ulama yang mengarang kitab dengan pembahasan utama yang serupa, yaitu tentang zikir dan doa, namun disertai dengan sanad yang panjang juga seringnya pengulangan hadis yang sama. Hal itu menurunkan himah atau semangat para pengembara ilmu. Atas latar belakang inilah, pengarang membuat kitab ensiklopedia zikir dan doa.

Pada awal pembahasan, pengarang akan memberikan pengantar singkat tentang hal yang akan dibahas. Kemudian baru menyebutkan hadis-hadis terkait. Di sela-sela itu, mengingat pegarang juga merupakan seorang ulama fikih, menjadi kelebihan tersendiri dari kitab ini adalah pengarang menambahkan hukum suatu perkara menurut beberapa ulama mazhab yang berhubungan dengan hal yang sedang dibahas. Sehingga pembahasan dalam kitab ini lebih rinci tanpa mengesampingkan isi utamanya, yaitu zikir dan doa.[]

Sesuai dengan arti namanya, Bidayatul Hidayah, kitab ini semacam panduan hidup dari permulaan (Bidayah) dan akan berakhir pada Hidayah (petunjuk).dalam kitab ini Imam Al-Ghazali menggariskan amalan-amalan harian yang mesti kita lakukan setiap hari dan adab-adab untuk melaksanakan amal ibadah, supaya ibadah tersebut dapat dilakukan dengan baik, penuh arti dan memberikan kesan yang mendalam.

Karena itulah, kitab ini berisi pada tiga bagian, yaitu adab tentang taat kepada Alloh, taat meninggalkan maksiat, dan bagian yang terakhir adalah tentang muamalat atau pembahasan tentang adab pergaulan manusia dengan tuhannya dan manusia dengan sesamanya.

Rincian dari tiga bagian itu adalah pembahasan tentang taat, yang diantaranya adalah berisi tentang adab manusia sebagai hamba dalam kehidupan sehari-hari. Pada bagian ini Imam Ghazali memulai pembahasan dengan pasal adab ketika bangun tidur yang mungkin sering dilalaikan oleh manusia.

Dan selain itu Imam Ghazali juga membahas tentang adab masuk kamar mandi, adab wudhu, mandi dan tayammum, adab menuju ke masjid, adab dalam pekerjaan setelah mahrib sampai sore, adab membaca sholawat, adab tidur, adab sholat, adab pada hari jumat dan yang terakhir adalah adab puasa. Mungkin pembahsan dalam bagian pertama jarang ada yang mengamalkannya atau menganggap sepele. Namun, pembahsan ini penting untuk manusia dan Imam Ghazali pun menerangan pada bagian ini adab mulai kita bangun tidur sampai tidur kembali.

Ilmu tauhid merupakan salah satu pelajaran wajib di lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren-pesantren di Indonesia. Mengapa? Karena ia menyangkut hal paling fundamental dalam Islam, yakni iman. Ilmu ini biasa juga disebut ilmu aqidah.

Imam an-Nawawi memasukkan perihal sehatnya keyakinan ke dalam 4 pilar dalam agama Islam yang terkumpul dalam satu bait:
أمورلدين صدق قصد وفا العهد # وترك المنهي كذا صحة العقد

Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Jufri atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari (194-256 H) adalah seorang ahli hadis yang sangat populer di dunia Islam. Namanya melekat erat dengan hadis-hadis sahih Rasulullah SAW. Karena keahlian dan kepakarannya dalam bidang hadis, tak heran bila Imam Bukhari ditempatkan sebagai panglima hadis Rasulullah SAW.

Karangannya yang memuat ribuan hadis sahih telah menarik minat para ulama hadis untuk meneliti lebih dalam tentang metodologi Imam Bukhari dalam menempatkan hadis yang sesungguhnya bersumber dari Rasulullah SAW. Imam Bukhari tak mau memasukkan hadis-hadis Rasulullah yang periwayatannya berasal dari orang-orang yang kurang dhabit (tidak kuat hafalannya), tidak tsiqah, dan tidak adil.

Karena itu pula, kitab Shahih Bukhari begitu banyak diminati para ulama dalam mempelajari hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah seorang alim yang turut mempelajari dan memberikan komentar (syarah) atas kitab Imam Bukhari adalah Syekh Musthafa Muhammad Imarah al-Mishri dengan karyanya Jawahir al-Bukhari (Permata-permata Bukhari).

Tafsir al-Jalalain adalah salah satu tafsir yang paling terkenal di seluruh dunia, ia telah tercetak dan terdistribusikan jutaan eksemplar. Tafsir ini sangat singkat dan padat, bahkan oleh para ulama sempat dihitung hurufnnya yang dikatakan sama dengan surah al-Fatihah sampai surah al-Muzammil.

Keringkasan tafsir yang luar biasa inilah yang mendorong keinginan para ulama untuk memberi penjelasan, komentar dan tambahan-tambahan informasi, sehingga lahirlah banyak Hasyiah atas tafsir al-Jalalain ini.

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages