Apakah Blackberry Masih Ada

0 views
Skip to first unread message

Gaja Starks

unread,
Aug 4, 2024, 10:47:24 PM8/4/24
to fronmembgipet
Filmdokudrama BlackBerry merekam naik turunnya ponsel tersebut dan perusahaan di belakangnya, tetapi apakah ponsel BlackBerry masih ada setelah sekian lama? Disutradarai oleh Matt Johnson dari sebuah skenario yang ia tulis bersama dengan Matthew Miller, BlackBerry bergabung dengan daftar drama biografi yang berkembang tentang kisah sukses perusahaan, termasuk The Social Network dan, baru-baru ini, Ben Affleck's Air.

Berakhirnya BlackBerry meninggalkan pasar pada tahun 2008, satu dekade atau lebih setelah dimulainya kemitraan Mike Lazaridis dan Doug Fregin dengan Jim Balsillie. Mike Lazaridis sekarang menjadi CEO Research in Motion, dengan co-CEO Jim Balsillie telah dikeluarkan dari dewan direksi setelah penyelidikan SEC, dan BlackBerry Storm akan segera dikirim ke toko. Meskipun film ini menegaskan bahwa BlackBerry tidak lagi memiliki saham di pasar ponsel, butuh beberapa saat untuk itu terjadi, dan ponsel BlackBerry masih digunakan selama beberapa tahun setelah film berakhir. Sampai hari ini, bagaimanapun, kisah perusahaan tersebut sangat berbeda dari awal mulanya.


Ponsel terakhir yang dirancang secara internal oleh BlackBerry adalah pada tahun 2017, dengan BlackBerry KeyOne. BlackBerry menuju ke arah yang berbeda sebelum sepenuhnya berputar ke sesuatu yang lain. Penonaktifan layanan perusahaan merupakan langkah besar ke arah yang berbeda, karena BlackBerry melepas masa lalunya dan berjalan ke masa depan dengan tujuan baru dan berbagai layanan baru, serta kepemimpinan baru, sementara tidak menyimpang terlalu jauh dari landasan yang diletakkan pendirinya.


Meskipun pengaruh BlackBerry memudar di tahun-tahun setelah pengenalan Android dan iPhone, dan setelah menghentikan desain internal BlackBerry, ponsel masih dilisensikan ke pasar lain, termasuk sebuah perusahaan Indonesia, yang mendirikan usaha patungan yang akan membuat, mendistribusikan, dan memasarkan ponsel BlackBerry. Usaha ini berlanjut hingga 2018, dan menghasilkan BB Merah Putih. Ponsel BlackBerry juga dilisensikan ke pasar Asia Selatan dan pasar internasional lainnya. Lisensi ponsel datang setelah Research in Motion menjadi kurang dominan di pasar ponsel, yang diambil alih oleh Apple dan sistem operasi Android.


Pada 2016, perusahaan telah kehilangan jutaan pelanggan, dari 85 juta menjadi 23 juta. Pada saat yang sama ponsel BlackBerry dilisensikan ke perusahaan internasional, BlackBerry Limited mulai mengembangkan perangkat lunak kendaraan dengan perusahaan mobil seperti Ford Motor Company dan Jaguar Land Rover. Saat ini, BlackBerry berfokus pada keamanan siber dan layanan berbasis enkripsi untuk berbagai industri, termasuk industri medis dan otomotif. Perusahaan telah melenceng jauh dari hari-hari awal didirikan.


Beberapa tahun yang lampau, BlackBerry Messenger merupakan layanan messaging favorit, bahkan sampai saat WhatsApp muncul pun masih banyak digunakan. Akan tetapi lambat laun, keperkasaan WhatsApp membuat BBM tutup permanen. Akankah sejarah berulang di mana WhatsApp nanti mengalami nasib serupa?


BBM berhenti beroperasi di 31 Mei 2019 karena sudah ditinggalkan penggunanya. Dalam sejarahnya, BBM pernah jadi layanan messaging idola, salah satu tulang punggung ponsel BlackBerry di masa kejayaannya.


Waktu itu dan beberapa tahun setelahnya, belum ramai layanan messaging yang sama bagus. Maka BBM jadi favorit meski hanya dapat dipakai di ponsel BlackBerry. Fitur khasnya sebut saja PIN untuk tambah kontak, sampai suara ping buat menyapa teman atau kalau pesan tak juga dibalas.


Kemampuannya pun makin canggih. BlackBerry Messenger kemudian tak hanya buat berkirim pesan, bisa pula mengirim foto, voice note, lokasi, sampai voice call. Bisa dibilang, BBM adalah pionir layanan messaging modern.


Saat ini, WhatsApp adalah aplikasi messaging terpopuler di dunia, dengan 2 miliar pengguna aktif, masih sangat jauh di atas pesaing semacam Telegram atau Signal. Induknya pun amat kuat, yaitu Facebook. Beberapa pakar pun coba menganalisa apakah WhatsApp nantinya bisa tersalip atau memudar popularitasnya layaknya BlackBerry Messenger.


Tanggal 30 Januari 2013 lalu mungkin akan dikenang sebagai salah satu babakan sejarah penting dalam perjalanan Blackberry. Tanggal itu, seri produk paling baru mereka resmi dirilis : Blackberry 10, dengan dua tipe Q10 dan Z10.


Setelah terluka parah lantaran digempur iPhone dan Samsung Android dalam perang smartphone global yang teramat keras, peluncuran BB10 adalah sebuah pertaruhan paling menentukan. Blackberry belum mau menyerah kalah. Blackberry masih ingin terus bertempur, terus bertahan meski dengan nafas inovasi yang kian tersengal.


Secara global, Blackberry memang babak belur. Penjualan mereka merosot lebih dari 50%. Jleb. Di pasar USA, pasar paling penting bagi produk smartphone, produk mereka jadi renik masa lalu ketika berhadapan dengan iPhone dan Samsung Android.


Dilatari oleh sembilu kepedihan itulah, maka peluncuran Blackberry 10 menjadi amat krusial. Disini ada dua tipe produk mereka yang dirilis (seperti terlihat dalam gambar diatas) : Z10 dengan full and touch screen; serta tipe Q10 yang tetap mengandalkan keyboard fisik, andalan lama BB.


Ada satu cacatan penting yang layak disimak disini. Sebuah note yang mungkin bisa di-ringkus menjadi bahan pemikiran tentang business inovation: yakni tentang desain. Sebuah keyakinan bahwa PRODUCT DESIGN is everthing in business.


Revolusi desain full screen smartphone dilakukan iPhone di tahun 2007 dan seketika menghentak dunia (apalagi disertai dengan fitur AppStore yang begitu memukau). Desain full screen juga segera diikuti oleh Samsung dengan seri Galaxy-nya. Dan kemudian juga oleh Nokia Lumia Series. Publik dunia dan terutama Amerika langsung jatuh hati dengan desain full screen ini.


Disinilah, Blackberry menemui sindrom Innovator Dilemma : apakah desainnya harus segera dirombak secara radikal menjadi full creen; atau tetap bertahan dengan keyboard fisik yang selama ini menjadi andalannya?


Rilis dua produk baru ini dengan jelas mencoba mengambil jalan tengah dari dilema itu : memperkenalkan produk full screen, namun juga tetap mengenalkan produk standar (dengan keyboard fisik) untuk memenuhi pelanggan loyalnya. Sebuah pilihan yang bijak.


Jangankan Whatsapps dan Line, ada banyak Instant messenger yg lebih bagus dari itu, tetapi orang Indonesia lebih memilih BBM sebagai pencetus pertama layanan pesan yg bisa melakukan group chat dengan sending picture/data just one click, bisa berbisnis menghasilkan uang pula di BBM! Itu hebatnya!!!!


meski saya bukan pengguna BB, tapi saya punya pendapat kalau setiap produk (HP atau smartphone) selalu punya kekurangan dan kelebihan. tak ada yang sempurna di dunia. setahu saya, BB lebih cocok untuk kalangan pebisnis, ini pendapat dari teman dan saudara2 saya. bukankah begitu Pak Yodhia?


Jadi menurut saya kita tunggu saja kedatangan produk BB terbaru tersebut di indonesia dan lihat adakah antusias konsumtif masyarakat kita akan sama besarnya, saat BB pertama kali dikenalkan di indonesia.

thanks


Saya bahkan tidak perlu bertanya apa2 pada adek saya kl saya mau sms,chat,main,foto,bluetooth,wifi,pengaturan dll. Semuanya tersedia sangaaaattt user friendly. Sehingga saya akhirnya juga ikutan beli krn terlanjur addicted.


Berbeda dg BB. Meski sudah sering minjem dan utak atik ttp aja asing ditangan. Entah mungkin ini kutukan touchscreen? LOL, setelah ketemu touchscreen, jari2 saya selanjutnya merasa awkward sama keypad. wkwkwwk.


Akan sangat annoying bagi saya yg suka multitasking, kepo,cerewet di media sosial dan ga sabaran. Di andro, sambil donlot n instal aplikasi, saya msih bisa watsapan, twitteran, browsingan, smsan, save2 foto n streaming scr bersamaan tanpa kuatir akan hang.


setiap perusahaan memeang harus selalu membuat perubahan dan improvement. Di dalam industri elektronik perubahan teknologi sangat cepat, jika telat beradaptasi maka bisa dipastkan industri ini akan cepat tutup


Wow ngeri juga gan tulisanya asi bgt, memenag sebuah inovasi menentukan produk yg akan di jual, sy kr BB harus memiliki sesuatu yg wow seperti yg ms yodha sampaikan, ap bila tdk ad maka kina sgera menantikan kehancuran BB


pasar blackberry di Indonesia menurut saya masih cukup kuat. salah satu contohnya Temen saya ada yang masih setia sama bb torch nya dibanding dengan samsung S4 nya. dan di salah satu sentra penjualan ponsel di jakarta timur, counter khusus blackberry masih banyak yang buka dan masih ada pengunjungnya.

Manurut saya, fitur BBM lah yang menyelamatkan loyalitas para pengguna BB.


TEMPO.CO, Jakarta - Gempuran para vendor di dunia gadget, seperti Samsung dan Apple, membuat posisi BlackBerry semakin tersudut. Nyatanya, analis menilai bahwa BlackBerry belum mampu menghasilkan perangkat yang benar-benar spektakuler tahun ini, atau paling tidak yang mampu mendongkrak pasar.


Sebenarnya, vendor asal Kanada itu meluncurkan beberapa perangkat BlackBerry seri 10 tahun ini yang diawali dengan Z10. Sebulan kemudian, perusahaan merilis Q10, lalu disusul oleh Q5. Terakhir, phablet Z30 pun diluncurkan menjelang akhir tahun. Semua produk itu didukung sistem operasi BB 10, bahkan sebuah produk terbaru kabarnya akan diluncurkan bulan Januari tahun depan.


Namun, pada kuartal sebelumnya, BlackBerry harus menderita kerugian sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 11 triliun karena banyak stok yang tak terjual. Kerugian yang cukup besar itu membuat orang-orang bertanya, apakah BlackBerry masih sanggup bertahan?


Situs Ubergizmo menulis, seorang analis dari Citigroup, Ehud Gelblum, berpendapat bahwa mungkin posisi BlakcBerry sedang di ujung tanduk, tapi bukan berarti menutup perusahaan akan jadi hal yang mudah. Jika BlackBerry memutuskan menutup divisi hardware, misalnya, mereka harus mengeluarkan dana sekitar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 5 triliun.


Sementara, jika opsi lain adalah memisahkan diri dari perusahaan yang berhubungan dengan hardware, perusahaan harus menyiapkan dana sebesar USD$ 1,5 miliar atau setara Rp 17 triliun. Belum lagi urusan biaya modal dan network operation center yang mungkin akan menambah biaya sekitar USD$ 1 miliar atau kira-kira Rp 1 triliun

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages