Asik Bro Joe.
Karena kagak muncul fotonya di mail, saya langsung ke tekape ajah di
spekology.com ☺️
Regards,
Prio
www.priotography.com/blog
Sent from my iPhone
> On 03.01.2014, at 15:04, Johannes Wongkar <
won...@gmail.com> wrote:
>
> Akhirnya kesampean ... ngetik story buat update Travelogue di
>
http://spekology.com/travelogue
>
> Numpang share yak ... :D
>
> ---------------------------------------------------------------------------------------------
>
> Menyusuri jalanan Tehran
>
> [image: Inline image 1]
>
> Rasanya saya tidak salah inget. Wanita paruh baya yang duduk di baris
> tengah, empat kursi dari tempat saya duduk, saat take off dari Dubai masih
> berpenampilan yang cukup menor dengan make up tebal dan pakaian yang
> terlihat sangat fashinable dan tentu saja branded. Kini kurang dari 2 jam
> kemudian sesaat setelah pilot mengumumkan bahwa kita akan segera mendarat,
> penampilannya sungguh jauh berbeda dengan mengenakan kerudung berwarna
> gelap dan pakaian yang serba tertutup rapat. Nampaknya transformasi ini pun
> terjadi pada semua penumpang wanita di pesawat Boeing 777 yang membawa kami
> menuju Bandara Internasional Imam Khomeini, Tehran.
>
> Tidak punya waktu banyak untuk berlarut-larut dalam keheranan, saya
> sendiripun harus segera berberes barang-barang saya. Menjelang tengah malam
> waktu lokal, ucapan selamat datang dari wajah tanpa ekspresi petugas
> imigrasi Iran menyambut kedatangan saya di negeri para Shah, yang tidak
> pernah terbayangkan sebelumnya.
>
> Lepas dari imigrasi masih ada 1 pos yang harus saya lewati. Dengan barang
> bawaan seperti peralatan dan produk untuk pameran, bea cukai biasanya akan
> sangat tertarik untuk tau apa isi tas saya. 3 tas lolos dan saat bawaan
> terakhir saya berhasil melewati x-ray tanpa ada gelagat yang aneh perasaan
> saya cukup lega. Namun hanya bertahan beberapa detik, seorang petugas
> berjas memberikan isyarat untuk kotak tersebut dibawa ke deretan meja yang
> terpisah jauh dari mesin x-ray. Usaha saya untuk menjelaskan bahwa kami
> adalah delegasi Indonesia yang datang untuk pameran tidak membawa hasil.
> Bahkan surat keterangan dari kedubes RI untuk Iran pun tidak ditengok.
> Mungkin juga karena tidak mengerti bahasa Inggris. Selama pemerikasaan saya
> hanya mengerti dua kata yang diucapkan petugas tersebut. Okay dan thank you
> sebagai jawaban dari ucapan terima kasih saya setelah mendapat isyarat
> dengan jempol terangkat yang secara bebas saya terjemahkan sudah boleh
> packing kembali dan melanjutkan perjalanan. Tehran .. kami datang ..
>
> [image: airport_6D-2819-1080px]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2013/12/airport_6D-2819-1080px.jpg>
>
> Tak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menginjakkan kaki di Iran yang
> selama ini hanya saya baca di koran karena perang besar dengan tetangganya
> Irak dan embargo dunia karena program nuklir yang mereka rencanakan untuk
> dibangun. Dalam bayangan saya suasana kota yang suram dan hancur bekas
> perang tentu akan mendominasi pemandangan. "Welcome to Tehran, and we will
> be travelling with this bus for approximately 1 to 1.5 hour to reach your
> hotel. Hopefully the traffic is already okay", terdengar penjelasan dari
> Human yang akan menjadi tour guide kami sepanjang satu minggu mendatang.
> Yep ... namanya memang Human, bukan sekedar istilah karena saya tidak bisa
> mengeja namanya.
>
> [image: iran-road_6D-3365-1080px]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2013/12/iran-road_6D-3365-1080px.jpg>
>
> "Negara kaya ..", bathin saya saat bus sedang melaju di jalan bebas hambatn
> menuju Tehran. Lampu jalanan berjejer rapih setiap kurang lebih 20 meter,
> dengan empat lampu yang menyorot terang di pucuknya. Sungguh berbeda dengan
> kondisi jalanan di Indonesia bahkan di Jakarta yang penghematan
> besar-besaran harus dilakukan agar listrik bisa digunakan untuk kepentingan
> lain. "Penghasil minyak gitu loh ..". "Tapi kan kita juga penghasil minyak,
> kok masih kesulitan juga?", bergantian tanya jawab virtual ini berkecamuk
> sepanjang perjalanan, antara bisa dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa
> negara yang dalam pemikiran saya sangat terbelakang ini, mungkin malah
> lebih maju dari Indonesia.
>
> Pagi pertama di Tehran hal pertama yang saya lakukan setelah sarapan adalah
> stand by di luar lobby hotel sambil mengamati orang yang lalu lalang.
> Seharusnya bisa lebih pagi, tapi suhu yang 11 derajat walaupun bisa
> dikategorikan sejuk, tetap saja cukup dingin untuk menahan saya
> berlama-lama dibalik selimut. Hari minggu menurut kalender saya, namun di
> Iran sebagaimana negara-negara tetangganya memperlakukan hari minggu
> sebagai hari kerja biasa, dan libur akhir pekan di hari Jumat.
>
> [image: IMG_2906-1080px]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2013/11/IMG_2906-1080px.jpg>
>
> Dalam hal berpakaian ternyata masih cukup fashionable walaupun tentu saja
> jauh dari trend K-pop dan J-pop yang melanda Indonesia. Cenderung lebih
> seperti old-fashioned European style. Buat penduduk lokal berpakaian adalah
> pilihan pribadi. Ada yang suka dengan pakaian bergaya modern, ada juga yang
> suka dengan yang serba tertutup. Untuk wanita, kerudung adalah atribut yang
> wajib dikenakan baik oleh penduduk lokal maupun pendatang. Tidak dibatasi
> oleh satu jenis kerudung, apapun bentuknya mulai dari selendang yang hanya
> disampirkan menutupi kepala dan sebagian rambut sampai dengan cadar yang
> menutupi separuh wajah diperbolehkan untuk digunakan di tempat umum.
>
> [image: lady-crossing_6D-3150-1080px]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2013/12/lady-crossing_6D-3150-1080px.jpg>
>
> Sampai saat ini saya masih percaya bahwa traffic di Jakarta adalah salah
> satu yang terparah di seluruh dunia. Ada masanya Bangkok menjadi saingan
> utama Jakarta dalam urusan traffic jam, walaupun sekarang konon mereka
> sudah jauh lebih baik dari Jakarta. Di tengah kepadatan lalu lintas Tehran
> tiba-tiba saya merasa kemacetan di jalan tol dalam kota ternyata masih
> cukup lumayan untuk bisa dinikmati. Badan jalan yang sejatinya terbagi 4
> lajur sangat umum dipenuhi oleh 6 lajur kendaraan yang didominasi oleh merk
> lokal merk Eropa dan Korea. Tidak mengherankan, karena sejak embargo
> diberlakukan fasilitas assembly kendaraan ditinggalkan oleh pabrikan besar
> dalam kondisi ready for operation. Dengan minyak yang berkelimpahan, sumber
> daya manusia yang gigih, fasilitas siap digunakan, embargo tidaklah terasa
> untuk industri mobil di negara ini.
>
> [image: crowded-car_6D-2967-1080px]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2013/12/crowded-car_6D-2967-1080px.jpg>
>
> "Thats how they start dating", bisik Human yang melihat saya terheran-heran
> pada sekelompok anak muda yang terlihat baru saling kenal di pinggir jalan
> dan kemudian melanjutkan perjalanan bersama-sama layaknya sudah kenal lama.
> Jauh dari bayangan saya bahwa Iran menerapkan hukum agama yang cukup ketat
> dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Benar hukum dan aturan yang
> diberlakukan cukup ketat, namun pada pelaksanaannya kontrol yang kurang
> dari pemerintah menyebabkan diantara anggota masyarakatpun menjadi permisif
> terhadap pelanggaran yang dilakukan orang lain. "In Iran, everything is
> illegal that we are now used to be doing illegal things everyday", cetus
> Bahare, translator yang kami gunakan jasanya selama pameran berlangsung,
> sambil tertawa lepas dengan ironi yang muncul tersebut.
>
> Namun untuk saya, sikap permisif tersebut menjadikan mereka menjadi lebih
> mirip dengan budaya yang dianut di Indonesia. Setidaknya dalam hal
> pergaulan sehari-hari. Dingin dan kaku nya peraturan tidak akan membekukan
> kehangatan nilai-nilai hubungan antara manusia. Tiba-tiba tangan saya
> terasa dingin, dan buru-buru mencari hotspot untuk menelpon. How I love
> technology. Selisih 3.5 jam artinya pagi disini sama dengan subuh di su-atu
> tempat disana. Perfect timing ...
>
> [image: couple_6D-2894-1080px]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2013/12/couple_6D-2894-1080px.jpg>
>
> Satu minggu di Tehran berlalu dengan cepat dan sangat membuka mata.
> Pengalaman yang benar-benar baru baik dari bahasa, kebiasaan, makanan,
> sampai dengan pemandangan. Noraknya penduduk kepulauan tropis, tidak pernah
> melihat gunung beratapkan salju, apalagi posisinya dibelakang rumah. Dan
> ini pertama kali saya lihat di Iran, yang selama ini saya bayangkan
> kemana-mana ketemu gurun pasir.
>
> [image: alborz_6D-13396]<
http://spekology.com/wp-content/uploads/2014/01/alborz_6D-13396.jpg>
>
> Pastinya akan menyenangkan untuk kembali ke Iran. Masih banyak tempat yang
> perlu dikunjungi selain Tehran. Isfahan, Persepolis, Laut Caspia hanyalah
> beberapa tempat dari sekian banyak tempat yang konon akan jauh lebih
> menarik jika dikunjungi tidak sendirian. Dan mudah-mudahan bisa
> mengumpulkan beberapa foto yang layak untuk masuk 2 album khusus yang jadi
> target itu ...
>
> Ah .. really miss home now ...
>
> cheers,
> *J*oe *W*ongkar
> *wa:*
+6281906180500 - *t:* @joewongkar - *w:*
http://spekology.com
>
> --
> --
> ==================================================
>
ikastara-p...@googlegroups.com
> -Submit IPC WC di
http://ipc.ikastara.org/ipcwc/submit.php
> -Polling di
http://ipc.ikastara.org/ipcwc/polling.php
>
> ---
> You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Ikastara Photography" group.
> To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to
ikastara-photogr...@googlegroups.com.
> For more options, visit
https://groups.google.com/groups/opt_out.
> <IMG_3252-1080px.jpg>