Selamat pagi, apa kabar semua
lagi iseng browsing2 , nemu artikel menarik ini dan siapa tau bisa di coba
Street Fashion di Catwalk Jalan Raya
Jakarta - Foto-foto bergenre street fashion belum begitu populer dibandingkan
street photography atau
human interest.
Namun di negara-negara empat musim, dengan baju yang bergonta-ganti
tiap tahunnya, memotret fashion yang digunakan model ataupun warga kota
sangat menyenangkan. Seakan-akan kejutan selalu hadir di hampir tiap
pengkolan jalan.
"Fashion adalah cermin dari gairah dan fantasi.
Saya merekamnya dengan sepenuh hati," kata legenda fotografer fashion
Bill Cunningham kepada
New York Times yang diunggah ke YouTube beberapa waktu lalu.
Untuk memulai foto-foto
street fashion, Anda bisa mendandani model atau
hunting para
fashionista
yang seliweran di ruas jalan. Dan bagi yang suka traveling, kesempatan
mengunjungi kota mode seperti London, Paris atau New York merupakan
momen menyenangkan terutama untuk mengeksplorasi street fashion sebanyak
mungkin. Bukan tidak mungkin, 5th Avenue dan Champ de Ellysee bisa
berubah menjadi
catwalk yang sangat glamour kalau mau jeli dan teliti.
Jika awam fashion, cobalah untuk selalu mengokang kamera pada posisi
standby sehingga dapat membidik
fashionista
yang bisa muncul tiba-tiba dari pengkolan jalan. Setelah beberapa
jepretan, mata fotografer bakal terbiasa memfilter dengan cepat siapa
yang menggunakan adibusana dengan serius atau hanya ala kadarnya.
Pilihan
pose ataukah candid bukan persoalan utama. Jauh lebih penting yakni
bagaimana foto-foto yang dihasilkan nantinya mampu menonjolkan baju
maupun aksesoris yang dikenakan. Hanya saja, terkadang gaya candid
membuat foto lebih dinamis, alamiah dan nyata alias bukan setingan.
Bagaimana
dengan pilihan lensa? Lensa zoom premium seperti 24-70mm menjadi
tawaran menarik. Pemotret tidak perlu gonta-ganti lensa saat model atau
fashionista bergerak cepat dan muncul serta-merta.
Selain itu, lensa fix 50mm bisa menjadi andalan. Tidak lain karena
kemampuannya memotret dari jarak 4 hingga 5 meter yang membuat subjek
tidak terasa terganggu. Kalaupun ada kesempatan lebih leluasa,
fotografer dapat mengganti ke lensa lebar seperti 35mm atau 28mm.
Apapun
pilihan lensanya, sebisa mungkin mampu mengekpos fashion secara utuh
seperti motif, detil dan tekstur baju. Termasuk asesoris yang dikenakan
seperti jam tangan, pewarna kuku hingga yang terkecil seperti cincin
atau giwang -- bila ada. Bagi foto-foto fashion, akurasi gambar tersebut
sangat berguna untuk referensi atau penilaian dalam dunia adi busana.
Untuk membuat
freez foto, mode kamera dapat disetel
TimePriority atau Speed Priority. Yakni dikunci pada speed 1/250, 1/500
atau lebih. Dalam beberapa momen, menggunakan continues shoot tak ada
ruginya. Targetnya mampu merekam fashionista dengan freezing dan mampu
menampilkan warna atau detil yang akurat.
Oh iya, ada
baiknya mengabaikan Mode Manual dalam street fashion. Sebab perbedaan
exposure di jalanan dengan momen yang begitu cepat melintas membuat mode
Manual kurang efektif.
Setelah selesai memotret, proses editing di komputer tidak terlalu rumit. Yakni sekadar
croping
menjadi portrait (memanjang ke bawah) seperti pada umumnya foto-foto
fashion. Selebihnya tinggal menyesuaikan kontras atau burning/dodging.
Olah digital yang berlebihan jarang dilakukan untuk menjaga akurasi data
fashion kecuali untuk kebutuhan tertentu.
Jika sudah mendapatkan
chemistry dan
passion, bukan tidak mungkin
hunting street fashion
menjadi ketagihan. Seperti yang dialami Bill Cunningham, yang memotret
sejak muda hingga usianya saat ini yang menginjak kepala 7 tetapi masih
rajin berburu
street fashion. Dari baju warga biasa,
fashionista ataupun gala dinner hingga gelaran prestisius New York Fashion Week.
Memang, artikel tsb lebih untuk CameraDigital, tetapi ide, tip&trik bisa untuk henpon kan :D