Siapa bilang cuma Gresik dan Sidoarjo yang populer dengan bandeng-nya?
Buktinya, kalau Anda naik pesawat atau kereta api dari Semarang, pasti
akan melihat banyak penumpang yang menenteng oleh-oleh bandeng presto
atau bandeng duri lunak. Bandeng adalah jenis ikan air payau yang
sangat gurih dan sebetulnya tidak perlu dimasak dengan bumbu-bumbu
yang macam-macam. Dibakar atau digoreng saja sudah mampu menampilkan
citarasa yang luar biasa. Tetapi, justru rasa gurih bandeng membuatnya
disajikan dalam berbagai cara memasak dan menghidangkan.
Sayangnya, dalam soal per-bandeng-an, kita tidak bersatu. Orang
Semarang tentulah akan mengatakan bahwa bandeng Semarang yang paling
enak. Orang Sidoarjo juga bersikap merendahkan bandeng Gresik. Coba
saja bertanya kepada para pengusaha bandeng asap Sidoarjo - salah satu
oleh-oleh populer bagi mereka yang pulang/pergi dari Surabaya. Para
produsen bandeng asap Sidoarjo tidak mau memakai bandeng Gresik
sebagai bahan baku. Kalau tidak ada pasokan bandeng Sidoarjo, lebih
baik mereka istirahat produksi. Kata mereka, bandeng Gresik bau tanah.
Orang Makassar yang sangat suka bolu (bandeng) bakar juga fanatik
dengan
bandeng dari daerah mereka.
Terus terang, semua itu sebenarnya adalah fanatisme sempit. Dari
manapun asalnya, bandeng berpotensi bau tanah bila tempat
pembudidayaannya tidak baik. Untuk menghilangkan bau tanah, biasanya
dilakukan proses purging atau pemurnian yaitu memindahkan bandeng yang
akan dipanen ke tangki-tangki yang airnya bersih dan membiarkannya
beberapa hari di dalam tangki itu tanpa memberi pakan.
Kalau Sidoarjo terutama terkenal karena bandeng asap-nya, dan Gresik
lebih diunggulkan otak-otak bandeng-nya, maka produk bandeng Semarang
yang paling diunggulkan adalah bandeng presto atau bandeng duri lunak.
Bandengnya dimasak dalam panci presto (pressurized cooker), sehingga
semua tulang dan durinya menjadi empuk dan dapat dimakan. Sajian ini
menyenangkan bagi orang-orang yang menyukai kegurihan bandeng tapi
benci dengan duri-durinya yang halus dan sangat banyak.
Salah satu toko bandeng presto di Semarang yang terkenal adalah
"Bandeng Juwana" toko milik Daniel Nugroho ini telah berdiri pada 3
Januari 1981, Daniel sendiri sembenarnya bukan pengusaha melainkan
seorang dokter kulit. Nama Juwana diambilkan dari asal Ida Nursanti,
istri Daniel. Kala itu, selama tiga bulan, Daniel bersama sang istri
selalu mencoba meracik bumbu untuk membuat bandeng duri lunak
tersebut. Alatnya sederhana yaitu sebuah pressure cooker kecil.
Masakan itu dibagikan kepada teman-temannya dengan harapan Daniel
mendapat kritikan dan masukan tentang masakannya. Bahan baku
bandengnya sendiri diambil dari Bulusan, Demak. Bahan baku bumbu pun
diracik menggunakan bumbu-bumbu alami Seperti bawang putih, garam dan
kunyit serta tanpa bahan pengawet, Setelah melalui proses panjang,
usaha yang didirikan Daniel terus mengalami perkembangan. Kini, setiap
hari rata-rata dia bisa menjual 400 kilogram. Dulu Daniel Cuma
memperkerjakan 1 orang sekarang sudah mempunyai karyawan lebih dari 40
orang.
Bandeng Juwana memiliki perbedaan dengan toko bandeng lainnya produk
yang dipasarkan tidak hanya bandeng saja melainkan oleh oleh khas
Semarang lainnya seperti lumpia, wingko babat dan lainnya. Bandeng
Juwana juga menyulap bandengnya menjadi aneka rasa seperti bandeng
asap dan bandeng teriyaki sekalipun memakai nama bandeng teriyaki,
tetapi bumbu yang dipakai ternyata tidak murni bumbu teriyaki. Hanya
mirip saja, dengan ciri rasa manis yang dominan - seperti pada bumbu
teriyaki yang asli atau Saus teriyaki yang n-Jawa-ni.
Terobosan baru yang dilakukan Daniel agar Bandeng Juwana tetep eksis
dan diserbu konsumen, sekarang ada restoran bandeng yang bertempat di
lantai 2. Menu yang ditawarkan apalagi kalau bukan terbuat dari ikan
bandeng yang jadi andalannya seperti tongseng bandeng, sate bandeng,
soto bandeng dan sebagainya. Bumbu-bumbu sama dengan bumbu saat
membuat tongseng atau sate, pakai sambal kecap. Tapi karena pakai
ikan, bumbu semakin meresap ke dalam daging ikan.
Konsumen Bandeng Juwana tidak hanya dalam daerah saja tetapi sudah
mencapai luar pulau bahkan hingga ke luar negeri. Untuk memuaskan
konsumen Bandeng Juwana menyediakan layanan pengantaran dan pengiriman
bandeng. Tetapi tunggu dulu yang jadi pertanyaan apakah bandeng itu
bisa tahan lama dan terjaga cita rasanya????. Umumnya bandeng bertahan
2-4 hari. Tapi khusus bandeng vacum bisa bertahan 3 bulan. Sebab
dikemas dalam kemasan tanpa udara. “Bandeng vacuum dibuat khusus untuk
konsumen yang ingin membawanya ke luar negeri. Cara pemesanannya pun
sangat mudah tinggal telepon atau sms maka bandeng segera dikirim
sampai depan rumah anda.
Sesuai berita Suara Merdeka.com Bandeng Juwana mengalami peningkatan
jumlah konsumen sejak H+2 Lebaran atau Minggu, baik yang berasal dari
dalam kota maupun dari luar Kota Semarang. Daniel Nugroho, pemilik
toko oleh-oleh Bandeng Presto Juwana mengatakan, sejak H+2 Lebaran
2010 hingga saat ini diperkirakan sudah ada sekitar 500 lebih pembeli
yang berbelanja oleh-oleh. Dia mengaku puluhan karyawannya sedikit
kewalahan dengan meningkatnya jumlah pembeli dan harus menambah
persediaan ikan bandeng presto yang menjadi oleh-oleh favorit pemudik.
“Puncak pembeli terjadi pada H+8 Lebaran atau Sabtu (18/9). Jumlah
pembeli mencapai 600-700 orang,” ujarnya.
Penjualan bandeng meningkat hingga 30 persen dibandingkan hari biasa.
Biasanya, bandeng hanya laku 200 kilogram per hari. Ketika masa libur
Lebaran bisa mencapai 270 kg per hari. Pada Lebaran kali ini, Daniel
tak menaikkan harga jual. Harga bandeng presto matang tetap Rp 52.500
per kilogram, ikan bandeng mentah Rp 23.000, sedangkan ikan bandeng
vakum yang dapat bertahan hingga tiga bulan dibandrol Rp 63.500. Meski
tidak menaikkan harga, namun penjualan per harinya bisa mencapai angka
sekitar Rp 14.175.000.
Sumber :
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/09/20/123919/Bandeng-Terjual-Rp-14-Juta-Per-Hari
http://www.korantempo.com/korantempo/cetak/2008/09/30/Berita_Utama-Jateng/krn.20080930.143790.id.html
http://onlytopan.wordpress.com/
http://alt.nntp2http.com/sci/tech/indonesian/2006/10/e6f0553ca9624e676ecc8221f05d13fa.html