You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to forum-qur...@googlegroups.com
Salam, sudah menjadi langganan bagi umat Nabi Muhammad mendapati perbedaan di dalam menentukan awal puasa Ramadhan. Meski tidak pernah menjadi masalah besar, tetap saja saya tergerak untuk mencari tahu, bagaimana sebenarnya puasa itu, apa yang bisa digali dari kitab Al Quran?
Saya melihat bahwa rangkaian ayat puasa beriringan dengan haji di dalam surah Al Baqarah ayat 2:183 hingga 2:203 Saya memfokuskan diri untuk meneliti ayat 2:203 yang dalam tafsiran Depag RI-nya berbunyi sebagai berikut :
2:203. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.
Ayat ini membuat saya bertanya-tanya...apa penjelasan lebih lanjut dari "cepat-cepat berangkat dari Mina" dalam dua hari. Saya coba mencari di beberapa buku tafsir Al Quran tapi sayangnya tidak ada penjelasan yang memuaskan.
Nampaknya tafsiran ini adalah ijtihad dari para ahli tafsir yang menghubungkan ayat ini dengan ritual haji.
Oleh karenanya, saya mencoba melihat kemungkinan lain.
Berikut saya kutipkan beberapa terjemahan ayat 2:203 diambil dari berbagai ahli terjemahan:
2:203 ABDLH.YUSUF ALI: Celebrate the praises of Allah during the Appointed Days. But if any one hastens to leave in two days, there is no blame on him, and if any one stays on, there is no blame on him, if his aim is to do right. Then fear Allah, and know that ye will surely be gathered unto Him.
MUHD M.W.PICKTHALL: Remember Allah through the appointed days. Then whoso hasteneth (his departure) by two days, it is no sin for him, and whoso delayeth, it is no sin for him; that is for him who wardeth off (evil). Be careful of your duty to Allah, and know that unto Him ye will be gathered.
M.H.SHAKIR: And laud Allah during the numbered days; then whoever hastens off in two days, there is no blame on him, and whoever remains behind, there is no blame on him, (this is) for him who guards (against evil), and be careful (of your duty) to Allah, and know that you shall be gathered together to Him.
Yusuf Ali, menempatkan kata-kata leave (berangkat) di dalam terjemahannya sebagai bagian dari ayat. Kita lihat Pickthall, menempatkan kata departure (berangkat) berada di dalam kurung. Ini berarti Picthall menempatkan kata berangkat sebagai tafsiran, karena berada di dalam kurung, dan bukan bagian dari ayat. Sementara Shakir, sama sekali tidak menempatkan kata leave maupun departure didalam terjemahannya.
Sekarang kita liat bagaimana jika ayat 2:203 diterjemahkan kata-per kata dari bahasa arab ke bahas indonesia, dari situs e-bacaan.com:
2:203. Dan ingatlah akan Allah selama hari-hari tertentu yang terhitung. Jika barang siapa bercepat-cepat dalam dua hari, itu tidaklah berdosa baginya; dan jika barang siapa melambatkannya, ia bukanlah satu dosa padanya, jika dia bertakwa. Dan kamu takutilah Allah, dan ketahuilah bahawa kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.
Mari kita perhatikan kalimat pertama dalam ayat tersebut, 2:203. Dan ingatlah akan Allah selama hari-hari tertentu yang terhitung. Fokusnya adalah hari-hari yang terhitung, yang dalam bahasa arab disebut ayyamin ma'dudatin.
Bandingkan dengan ayat berikut :
2:183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
2:184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Ayat 2:184 berada dalam konteks yang sama dengan 2:183, yakni berbicara mengenai puasa. Dan dapat kita lihat di awal ayat 2:184, bahwa penjelasan tentang waktu puasa menggunakan kata "beberapa hari yang tertentu" yang kalau dibaca dalam bahasa arab adalah juga ayyaman ma'dudatin . Kata yang sama yang digunakan oleh 2:203.
Melihat konsistensi penggunaan kata-kata di dalam Al Quran, saya meyakini bahwa 2:203 tidak sedang berbicara dalam konteks ritual haji, tetapi sedang menjelaskan sebuah toleransi di dalam menentukan awal puasa.
Mari kita lihat ayat berikut:
2:189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan haji;
Allah menetapkan bahwa bulan sabit (hilal) sebagai tanda bagi manusia, dimana ayat 2:189 ini merupakan rangkaian ayat yang berbicara mengenai puasa dan haji, sejak dari 2:183 hingga 2:203.
Sepertinya manusia dengan tingkatan teknologi mana pun, di zaman apa pun akan sering berselisih di dalam menetapkan munculnya hilal atau bulan sabit muda sebagai pertanda awal puasa.
Entah orang itu hidup di jaman nabi Muhammad hingga jaman sekarang ini, perbedaan itu tetap saja ada.
Allah memberikan toleransi percepatan melaksanakan puasa dalam 2 hari, ataupun untuk yang melambatkannya. Dan semuanya tidak menjadi masalah, sepanjang dia bertakwa kepada Allah. Dan memang benar, toleransi 2 hari sudah cukup untuk memastikan penampakan hilal.
Demikian pemahaman saya tentang perbedaan awal puasa.