Terima kasih pak Manneke, sepertinya para ilmuwan di luar negeri banyak sekali yg berprestasi dan sebagian diantaranya muncul di acara "Kick Andy" Metro TV minggu kemarin. Kalau yg ketinggalan bisa cari di youtube.
adhi
----- Original Message -----
From: "manneke budiman" <manneke...@gmail.com>
To: forum-int-indo...@googlegroups.com
Sent: Tuesday, January 18, 2011 8:51:09 PM
Subject: Re: [Forum-Int-Indonesia-Vancouver] Sumbang saranSambil nunggu perkembangan, ini saya kasih bacaan. Proyeknya kurang lebih sama kaya kita, tapi cakupannya lebih internasional.
manneke
--------------------------
Oleh Ninuk Mardiana Pambudy
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/10/03253950/mimpi.kejayaan.indonesia
Di balik pertemuan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional di Jakarta, pertengahan Desember 2010, adalah seorang anak muda dengan cita-cita besar tentang kejayaan Indonesia di antara bangsa-bangsa dunia. Dia adalah Achmad Adhitya (31), kelahiran Tanjung Karang, Lampung, dan kandidat doktor bidang kelautan di Universitas Leiden, Belanda.
Pertemuan yang dibuka Wakil Presiden Boediono tersebut dihadiri 61 ilmuwan Indonesia yang bekerja di berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri di luar negeri. Mereka berkumpul untuk berkomunikasi dengan rekan-rekannya di Tanah Air, menemukan apa yang bisa mereka berikan untuk ikut memajukan Indonesia.
Dalam pertemuan tiga hari itu, disepakati 11 kelompok berbagai bidang ilmu akan dikembangkan bersama, yaitu percepatan pembangunan ekonomi, informatika dan elektroteknik, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, kedokteran dan bioteknologi, ilmu sosial, pendidikan, energi, pengembangan wilayah dan lingkungan, humaniora dan ilmu kemanusiaan, rekayasa industri dan robotika, serta teknologi dan ketahanan pangan.
Tidak mudah mengumpulkan para ilmuwan Indonesia yang tersebar di lima benua itu. Ada kerja panjang dan konsisten harus dilakukan sebelumnya. Pertama-tama, mencari tahu berapa banyak ilmuwan Indonesia di luar negeri, siapa mengerjakan apa, dan di mana alamat mereka. Setelah itu menghubungi satu per satu, membujuk, dan meyakinkan mereka tentang ide Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) agar memberi komitmen.
Itulah yang dikerjakan Adhitya dan teman-temannya sejak 2008. "Awalnya obrolan ringan beberapa rekan pelajar Indonesia di Jerman tentang kehebatan potensi sumber daya manusia Indonesia di luar negeri. Ada rasa bangga, tetapi juga janggal," kata penerima beasiswa dari Royal Academy of Science, Belanda, untuk pendidikan S-3 ini.
Bangga, karena banyak orang Indonesia di luar negeri mampu memainkan peran penting, tetapi juga janggal karena informasi mengenai mereka di Tanah Air kurang.
Adhitya yang saat itu masih studi S-2 di Universitas Kiel, Jerman, lalu memotori pelacakan dari internet, bertanya dari mulut ke mulut, mendatangi satu per satu para ilmuwan tersebut secara fisik. Dia dibantu teman-temannya yang tertular antusiasmenya, termasuk dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai negara.
Mewujud
Dari sesuatu yang terlihat naif—tak punya dana, tidak kenal satu pun ilmuwan—gerakan ini mulai mendapat bentuknya. Sejumlah ilmuwan bersedia bergabung dan bertemu. Meskipun saat ini terdaftar 800-an ilmuwan dalam basis data I-4, Adhitya sepakat yang lebih penting adalah komitmen berbuat konkret.
Pertemuan pertama, November 2008 di Berlin, dihadiri tiga ilmuwan. Pertemuan kedua berupa simposium internasional sekaligus deklarasi berdirinya I-4 berlangsung pada 3-5 Juli di Den Haag, Belanda, dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui telekonferensi. Oktober 2009 diadakan rapat pengurus pertama di Jakarta, dan Adhitya dipilih menjadi Sekretaris Jenderal I-4. Desember 2010 berlangsung pertemuan di Jakarta.
Meskipun mendapat bantuan pendanaan melalui Kemendiknas dan Dirjen Dikti (waktu itu) Fasli Djalal sempat hadir di Den Haag, tetapi sebagian besar kerja perintisan I-4 dilakukan secara swadana.
"Kami tidak mungkin menggantungkan sepenuhnya kepada Kemendiknas. Dalam 14 bulan awal kerja I-4 dana praktis berasal dari kami sendiri, untuk membiayai perjalanan sosialisasi I-4 ke berbagai negara. Ada Dr Andreas Raharso dari Haygroup di Singapura; Dr Muhamad Reza di ABB, Swiss; Dr Khoirul Anwar di JAIST, Jepang; Dr Ing Subendra di BAM, Jerman; dan Dr Andrea Peresthu, pengajar di TU Delft, Belanda," tutur Adhitya.
Adhitya yang bertubuh tinggi ramping dan terkesan pendiam, tetapi meluap-luap saat menceritakan kehebatan ilmuwan Indonesia di luar negeri, menuturkan bagaimana "perburuan" meyakinkan Dr Ken Soetanto, dekan non-Jepang pertama di Universitas Waseda, universitas swasta terbesar di Jepang.
"Kami mengejar Prof Ken sampai dua tahun. Awalnya, dia enggak tertarik. Saya coba telepon, tidak mau terima. Saya lalu minta tolong teman yang kuliah di Jepang untuk tidak beranjak dari depan pintu kamarnya sampai Prof Ken mau menemui," kenang Adhitya yang ditemui di Jakarta. Prof Dr Ken Soetanto, doktor dalam rekayasa elektronika, farmasi, kedokteran, dan ilmu pendidikan, kini menjadi salah satu penasihat I-4.
Berani bermimpi
Bermimpi besar dan bertindak adalah modal dasar Adhitya. Pemicunya pertemuan 12 cabang PPI se-Eropa tahun 2006 di Den Haag. Adhitya hadir sebagai Ketua PPI Jerman. Di situ dia melihat beberapa orang Indonesia menjadi dosen di berbagai universitas, manajer, bahkan mengerjakan proyek penting di luar negeri. "Pertanyaan dalam diri saya saat itu, mengapa orang-orang hebat itu belum banyak terdengar sepak terjangnya," papar Adhitya.
Dengan ide dari Den Haag itu, dia dan beberapa teman di Jerman mulai menyusun strategi, mengumpulkan basis data jumlah ilmuwan Indonesia di luar negeri. Dalam semalam, terkumpul lebih dari 100 nama dosen dan manajer. "Malam itu juga kami sadar, ada tugas besar untuk membangun jejaring ilmuwan Indonesia di luar negeri," tambah dia.
Secara rendah hati, Adhitya mengatakan, terbentuknya I-4 adalah hasil kerja bersama pelajar Indonesia di dalam dan luar negeri. Dia menyebut nama antara lain Willy Sakareza (penghubung di Indonesia), Mahir Bayasut, Teuku Reiza Yuanda alias Ipon, Victoria Sabon, dan Abdullah Abbas.
"Kami rapat, telekonferensi, melalui dunia maya; chat, surat elektronik, atau telepon, dengan beda waktu masing-masing. Mahasiswa S-1 sampai S-3 menjadi perekat I-4, tidak dibayar. Yang menyatukan, harapan dan kebanggaan kepada Indonesia," ujar Adhitya.
Setelah pertemuan di Jakarta, Desember lalu, langkah berikut adalah merapikan basis data dan mengintensifkan kerja jaringan 11 kelompok bidang ilmu yang sudah terbentuk. "Bila basis data itu terbentuk mantap, akan terjadi efek bola salju mulai dari ide hingga wujud konkret melalui kerja sama dengan beragam lembaga di dalam dan luar negeri. Bayangkan apa yang akan terjadi," kata Adhitya tentang mimpi berikutnya.
***
Achmad Adhitya
• Tempat, tgl lahir: Tanjung Karang, Lampung, 13 Oktober 1979
• Orangtua: Ir H Maramis Syukri MH (pensiunan PNS) dan Hj Yusnani Hasyimzoem SH MH (dosen Universitas Lampung)
• Pendidikan: SD, SMP, SMA di Lampung; S-1 di Universitas Brawijaya, Malang; S-2 Universitas Kiel, Jerman, bidang geologi kelautan; sedang studi S-3 di Universitas Leiden, Belanda, bidang kelautan dengan beasiswa dari Royal Academiy of Science.
• Aktivitas: Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman (2006); ketua panitia pertemuan I-4 di Den Haag, Belanda (Juli 2009), dan Jakarta (Desember 2010); Sekjen Ikatan Indonesia Internasional (I-4, 2009-2011)
2011/1/18 manneke budiman < manneke...@gmail.com >
Bung Toha,
Makasih banyak sekali untuk masukannya yang dalam dan rinci.
Saya rasa I-THINK adalah usulan jenius dan amat kreatif untuk nama organisasi kita. Saya dukung sepenuhnya! Bunyinya juga tidak terkesan terlalu formal. Gagasan yang jitu!
Untuk rumusan MISI, ini revisi saya sesuai masukan Anda:
- Memfasilitasi dan mewadahi pertukaran pikiran dan dialog cerdik pandai Indonesia
- Membina kerjasama strategis yang menguntungkan dengan pelbagai lembaga dan organisasi lokal
- Menyumbangkan pelbagai gagasan positif kepada peningkatan kualitas kehidupan di semua sektor
Untuk rumusan VISI sudah okekah? Kalo iya, maka dalam rumusan MISI tidak perlu lagi dicantumkan "demi kemajuan Indonesia" sebab itu sudah tercantum dalam VISI yang memayungi semua MISI.
Terima kasih sekali lagi, Bung Toha, untuk masukan-masukannya. Semoga dalam beberapa hari ke depan masih akan ada lagi pandangan-pandangan dari kawan-kawan lain.
salam,
manneke
2011/1/17 Mohamad Toha < mohama...@gmail.com >
Dear All,
Ha..ha.rupanya feeling saya terkonfirmasi. Pada waktu saya meng-"acc" pak Adhi, sebenarnya ada sedikit yang 'ngganjal' karena kata "INTI" itu lamat2 (sayup2) sepertinya pernah saya memang pernah mendengar tapi tidak begitu jelas itu organisasi apa tapi seingat saya memang ada something Tionghoa-nya. Kini dengan penjelasan Pak Manneke jadi jelas. Setuju. Itu bisa menimbulkan salah persepsi terutama bagi masyarakat yang sudah pernah mendengar/tahu INTI yang dimaksud Pak Manneke; satu lagi kalau gak salah itu juga bisa saja diasosiasikan dengan INTI Telkom (?). Telkom punya INTI kan? Ini juga sayup2 saya pernah dengar tapi seingat saya itu anak perusahaan. He..he..maklum agak sdkt berumur jadi agak 'lamur' dan 'lamat2'.., alias pandangan agak buram dan pendengaran sayup2..:-)
Kata Masindo bagus tapi barusan iseng2 saya google, ternyata itu juga sudah digunakan dan salah dua-nya adalah perusaan jasa tour dan perusahaan rotan. Saya tidak tahu, apakah akronim untuk forum kita itu kudu sperti ABRI dimana tiap huruf mewakili kata/makna. Terpikir oleh saya untuk nama "I-THINK' atau 'I-Think' yang bisa kita maknai 'independent thinker' atau 'Indonesian thinker'...
Sorry.. mengingat ini... masih ada tugas kuliah. Sementara itu dulu masukan untuk #1. Untuk 2,3,4. Sementara setuju. Moga2 nanti ada kesempatan baca ulang ... :-)
O ya, mengenai misi sedikit tanggapan: untuk yang 'menggalangkan ...' (butir 1), dan 'menggalakkan...' (butir 2) sepertinya agak sama dan agak tidak berhenti di tingkat menggalang/menggalakan mungkin perlu ditambahi kata untuk...something, misal "untuk kemajuan Indonesia".
Sekedar, masukan juga, kata "menggalang kekuatan"... ada sense 'movement' yang memberikan kesan progresif/radikal, sedangkan "menggalakkan.." ada juga sense 'menggigit.'.(he..he...asosiasi saya kok ke 'anjing galak', tapi kalau 'istri/wanita galak' konon ada ya suami/laki2 yang suka ya :-) ); so..terlintas oleh saya kata yang mungkin agak lebih soft tapi tidak mengurangi esensinya meskipun kedengaran agak klise di dunia birokrasi seperti (tapi kalau masalah memaknai kata itu 'kan tergantung orang-nya ya). Kata yang saya maksud adalah "mefasilitasi dan mengakomodasikan". So alternatif konkritnya adalah, butir 1 dan 2 yang di misi digabung menjadi satu sehingga bunyinya more or less adalah:
"Memfasilitasi (secara aktif) (dan mengomodasikan) pertukaran pikiran dan dialog di kalangan para cerdik-pandai Indonesia di Vancouver untuk berkontribusi pada kemajuan Indonesia (yang lebih baik)"
* kata dalam kurung itu optional,
Salam,
Toha
2011/1/17 manneke budiman < manneke...@gmail.com >
Halo kawan-kawan,
Saya sudah melihat semua sumbangsih pemikiran dan ide yang sejauh ini sudah dicurahkan, mulai dari usulan nama hingga rumusan visi dan misi.
Pandangan saya adalah sebagai berikut:
Pertama, tentang nama INTI: Di Indonesia, nama ini sudah kadung diasosiasikan dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa, yang memakai singkatan resmi INTI sebagai brand-name mereka. Saya cuma khawatir bahwa jika nama ini kita pakai, kesan pertama orang yang membaca atau mendengarnya adalah seakan-akan ini cabangnya INTI di Vancouver. Saya pikir apakah tak sebaiknya kita cari nama yanag memang tidak tumpang tindih dengan nama organisasi lain yang sudah duluan ada?
Misalnya, saya usul, bisa saja kita pakai nama MASINDO (Masyarakat Intelektual Indonesia) Vancouver. Setahu saya, nama ini belum diklaim oleh organisasi lain di tanah air.
Kedua, saya sangat setuju bahwaa batasan "intelektual" tidaklah hanya khusus buat orang "sekolahan" saja seperti kita-kita ini, melainkan terbuka luas untuk seluruh komponen masyarakat Indonesia di Vancouver. Nantinya, semua kegiatan yang diselenggarakan organisasi ini bahkan harus terbuka untuk seluruh lapisan. Namun, pada tahap perumusan dan pembentukan ini, sebaiknya cukup kita-kita sajalah dulu yang terlibat. Kelompok ini kan memang sudah sejak awal sekali turut terlibat, jadi biarkan saja kelompok kecil ini dulu yang merumuskan visi-misi organisasi. Orang-orang lain seperti Mas Dirjo, Mas Harry, Mas Dwi, dll itu akan sangat besar sumbangsihnya pada saat organisasi sudah terbentuk dan berjalan. Tapi tim perumus dan pendiri awal sebaiknya kecil saja dan jangan terlalu banyak orang/nama.
Ketiga, untuk acara kita nanti, kita fokus saja pada hal-hal yang realistis: merumuskan dan menyepakati nama, serta visi dan misi. Lalu kita bentuk kepengurusan pertama. Mengenai apa persisnya jenis dan bentuk kegiatannya, itu selayaknya kita serahkan saja kepada pengurus pertama, sebab mereka lho nanti yang kebagian kerja untuk melaksanakannya. Dan merekalah yang paling tahu kekuatan mereka pada awal ini seberapa besar, dan keterbatasan mereka apa saja.
Keempat, tentang visi dan misi. Visi dan misi organisasi tentulah harus mencerminkan karakter utama organisasi, yaitu intelektualitas. Kekuatan utama kita terletak di situ. Maka itu saya tetap berpikir bahwa karya utama kita itu akan berbentuk sumbangan gagasan dan pemikiran. Jadi, bukan kegiatan bazaar, penjemputan mahasiswa baru di bandara, pencarian tempat kos, dll. Ini semua sudah jadi porsi tugasnya organisasi-organisasi lain yang sudah ada seperti Permai, Gisau-UBC, IA-SFU, dll. jangan sampai kita repot-repot membuat organisasi baru tetapi yang ruang lingkupnya ternyata menduplikasi organisasi lain yang sudah ada.
Oleh karena itu, kelima, saya sarankan rumusan visi dan misi kita adalah sebagai berikut:
VISI: "Menjadi pencetus dan pengolah pelbagai gagasan baru yang berguna bagi kemajuan Indonesia"
MISI:
- Menggalang kekuatan pemikiran yang dimiliki para cerdik-pandai Indonesia yang bermukim di Vancouver
- Menggalakkan pertukaran pikiran dan dialog di kalangan para cerdik-pandai Indonesia di Vancouver
- Membina kerjasama strategis dengan pelbagai lembaga dan organisasi setempat yang menguntungkan bagi kemajuan Indonesia
- Menyumbangkan pelbagai gagasan positif kepada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia di semua sektor
Demikian beberapa pemikiran saya untuk meramaikan kancah urun rembug ini. Tanggapan dan kritik kawan-kawan sangat dibutuhkan dan dihargai.
salam,
manneke
2011/1/16 Habib r < habi...@gmail.com >
Dear teman2 di Kanada,
Menyambung dari saran Pak Toha, menurut saya bisa aja ada nama Vancouver, karena memang di bentuk di Vancouver. kalaupun mau menjadi lebih besar nanti siap2 ganti nama. sifatnya seperti Snow Ball, bergulir dari kecil menjadi lebih besar. Nah saat menjadi besar penyebutan nama Vancouver bisa diganti untuk mengakomodasi berbagai pihak dalam skop yang lebih besar. Itu satu kemungkinan. Kemungkinan yang lain adalah langsung memberikan label Kanada. Kalau ada label Kanada,maka konsekuensinya harus menghubungi teman2 yang ada di negara bagian yang lain. Namun, rasanya hal ini mungkin tidak akan bisa dilakukan dengan cepat. Melihat kondisi ini saya setuju dengan Pak Toha. Nantinya ketika bentuk organisasi atau lingkup aktivitasnya sudah menemukan format yang bagus,maka kita bisa berharap nantinya bisa menggelinding menjadi lebih besar.
Hal lain yang menurut saya tidak kalah pentingnya adalah mengajak peran serta WNI yang telah menjadi Permanent Resident dalam kegiatan diskusi. Diharapkan kegiatan diskusi tidak hanya diisi dengan materi yang "berat" tetapi perlu juga diseimbangkan dengan materi2 yang "ringan". Mungkin kalau materi berat bisa dilakukan di Kampus atau di Konjen. Kalau materi sedang maupun ringan bisa di Konjen atau di rumah para PR yang ada di sekitar Vancouver.
Penggunaan kata intelektual bisa saja menimbulkan image hanya untuk orang "sekolahan yang tinggi". Nah menurut saya, image ini kurang baik bagi pengembangan organisasi ke depan. Kata intelektual memang kata yang bagus, namun perlu juga mempertimbangkan rasa tawadhu' dari umumnya orang Indonesia yang biasanya merasa tidak enak hati disebut intelektual atau orang pinter. Usul saya, mengingat kata Intelektual cukup bagus dalam penamaan organisasi ini,maka yang mungkin perlu dilakukan adalah mengkampanyekan bahwa intelektual adalah siapa saja yang memikirkan perbaikan negara itulah intelektua. Hemat saya,perlu ada tagline misalnya "sekecil apapun kontribusi intelektual anda terhadap perbaikan bangsa dan negara sangat dinantikan" atau "bagi seorang intelektual memperbaiki keadaan bisa dimulai dari hal-hal yang kecil" atau tagline2 lain yang intinya menjadikan kata intelektual menjadi kata milik orang kebanyakan.
semoga bermanfaat
Habib-Unair
2011/1/16 Mohamad Toha < mohama...@gmail.com >
Dear Pak Agung,
Sepertinya masukan pak Adhi ini sudah mantaf dan tajem juga concise. Setuju dengan nama Forum Inti dengan note itu singkatan independent thinker instead of intelektual Indonesia agar nama mewadahi isi (benar2 independent thinker kalau bisa..:-)) dan menghindari kesan exclusive dengan dari kata 'intelektual' seperti yang kita diskusikan pada pertemuan yang lalu. Hanya saja karena ini sifatnya baru 'lokal', I don't know, apa tidak perlu ditambahkan kata2 Vancouver so...."Forum Inti Vancouver" (?) karena memang insyallah lahirnya disini. Bahwa itu kemudian seandainya bisa melebar ke BC atau Kanada probably it would be another 'business'. Visi misi menurut saya juga sudah pas jika itu dianggap sebagai payung. Di visi tadinya saya berpikir aspirasi pelajar-mahasiswa tapi mungkin lebih pas mahasiswa. Bahwa dalam praktek nanti itu anggotanya diperluas ke pelajar atau non-mahasiswa toh terwadahi juga di misi dengan isitilah 'masyarakat intelektual' seperti di masukan ini.
BTW, waktu kami diundang Pak Dwiflandika S Saulus (Pak Dwi yang di Surrey) ternyata beliau adalah ketua Permapi dan tanggapannya positif dengan inisiatif KJRI ini. So, disini saya mengusulkan probably bagus sekali apabila beliau diundang karena beliau juga OK2 saja kok. Malah beberapa hari yang lalu seluruh berkas2 arsip/dokumen lengkap Permapi dititipkan ke ke Bu Titi dengan harapan kita gunakan sebagai input. "Jasmerah"..he..he..jangan meninggalkan sejarah.. begitu ya konon kata Bung Karno dulu....?.
Mungkin untuk sementara itu dulu dari saya dan untuk Pak Adhi, thanks atas masukannya yang mantaf dan tajem spt kata Pak Agung itu...
-t-
2010/12/18 agung cahaya sumirat < agu...@gmail.com >
Waaaa...manteb nie Pak Adhi inputnya. Thanks yaa...
Ayo kawan lain...kasi masukan juga dong....biar semangkin hari semangkin tajem konsepnya yaa...
Salam,
agungcs
------------------
2010/12/18 Adhi Susilo < asu...@sfu.ca >
Kepada Yth.
Anggota Forum INTI
Bersama ini saya sampaikan beberapa masukan dari saya.
Nama Forum : FORUM INTI (INDEPENDENT THINKER OR INTELECTUAL INDONESIA)
a. Visi : Memperjuangkan aspirasi mahasiswa Indonesia di Vancouver demi Indonesia Baru
b. Misi : - Menyuarakan aspirasi masyarakat intelektual di Vancouver
• Membina hubungan yang responsif dengan pemerintah Indonesia maupun pemerintah Canada
• Menjembatani hubungan antara universitas di Canada dan di Indonesia
• Menjembatani hubungan antara universitas di Canada dan Pemerintah Indonesia
• Menjembatani hubungan antara pemerintah Canada dan universitas di Indonesia
c. Pembentukan organisasi (nama) : FORUM INTI
d. Bentuk-bentuk aktivitas: sarasehan, workshop, seminar, focused group discussion
e. Jadwal acara (organisasi) :
f. Lokasi fisik : Rumah salah seorang sesepuh di Vancouver (permanent resident)
g. Jadwal kuliah masing-masing : Rabu 4.30 – 9.20 dan Sabtu 10.30 – 3.20
h. Pemberitahuan presentasi
i. Isi website: Profile anggota, jadwal kegiatan, pusat dialog, artikel bulanan. Rekomendasi/problem solving
Terima kasih atas perhatiannya.
adhi susilo
100% acc pak manneke yang budiman…J. sekedar reminder, pak dwi sf diundang ‘kan..(?)… -t-
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!