kalau data yang ini ada yang detail perkabupaten/kota nya gak?
Salam,
-------------------------------------------
Syahmin Sukhairi
Database Associate
UNORC-IAS
Jl. Sudirman No. 15, Geuceu Kayee Jatoe
Banda Aceh, Indonesia
website: http://www.unorc.or.id
email: syahmin....@unorc.or.id
FORBES Damai Aceh <forbe...@gmail.com>
Sent by: forbe...@googlegroups.com 04/30/2009 02:15 PM
|
|
Hal ini menarik untuk di kaji.
1. Seberapa banyak anak Aceh yang merantau akibat konflik atau untuk merubah hidup di luar Aceh seperti di kota besar di Indonesia (medan, jakarta dll), kemudian mereka menikah mungkin juga beranak pinak. Aceh yang damai dapat menjadikian daya tarik untuk kembali ke Aceh baik dengan sendiri-sendiri maupun dengan membawa kelurganya.
2. Keberadaan BRR, LSM dan pekerja lain yang maksudnya mencarfi nafkah tidak menutup kemungkinan menetap dan pindah KTP dikarenakan pekerjaan tersebut atau menetap karena ikatan perkawinan.
3. Situasi yang aman telah menarik perhatian warga Aceh yang tinggal di Luar Negeri khususnya dari Malaysia untk kemabali ke Aceh. Pada awalnya masih ada 24.000 orang warga Aceh tinggal di Malysia. Namun dengan adanya aturan dari kerajaan Malaysia, mereka harus meniggalkan negara jiran tersebut, karena aturan yang berlku disana tidak lagi menampung pengungsu tsunami dan pengungsi karena alasan lain, maka mereka mulai mengurus kepulangan mereka secara bertahap tanpa termonitor oleh Pemerintah Daerah. Mereka pulang dimulai dari sejak perdamaian, diikuti dengan adanya beberpa kali puasa dan hari raya setelah tahun 2005. Sehingga sekarang jumlah yang tinggal di Malaysia semakin berkurang. Apa lagi kerajaan Malaysia sudah bersahabat dengan pendatang dari Aceh, bahkan banyak yang sudah dihukum dengan berbagai jenis hukuman walaupun kesalahan yang sangat kecil.
4. Sebenarnya angka penambahan bisa lebih besar bilamana rakyat Aceh keturunan Jawa atau pengungsi lokal asal transmigran yang saat ini berjujmlah 12.000 KK dapat kembali ke Aceh setelah perdamaian ini. Mereka ini mengungsi dan kembali ke Jawa karena terpaksa. Mereka meninggalkan tanah rumah, kebon, harta benda dan hewan piaraan di beberapa daerah Aceh.
Mereka sekarang tinggal di kebon-kebon kelapa saeit di Sumatera Utara, Riau dan Jambi selain kembali lagi ke Jawa.
Mereka ini adalah yang termasuk terlupakan dalam proses reintegrasi damai Aceh, dimana mereka juga harus mendapatkan hak hidup, hak ekonomi dan hak politik, hak sosial budaya dan hak asasi manusia sebagai korban konflik.
Masih banyak kerja yang selesai mungkin tidak pernah selesai dalam hal mengurus Aceh dan terus meningaktakan kesejahteraan masyarfakat, walau sudah ada yang santai dalam mengurus Aceh... karena ada kenikmatan --- On Thu, 4/30/09, husni arifin <husn...@yahoo.com> wrote: |
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Data dan analisa yang sangat menarik dari perkembangan signifikan penduduk Aceh. Secara logika quantitas merupakan hal tidak mungkin jika Aceh mengalami penambahan penduduk yang demikian cepat. memang ada banyak sekali penduduk Aceh asli yang eksodus selama konflik telah kembali, tetapi penambahan sebanyak itu juga patut menjadi pertanyaan. Namun saya tidak yakin ada cukup banyak yang kembali secara permanent, ada cukup banyak sudah kembali ketempat sebelumnya mereka berada, seperti Malaysia, Jakarta, dsb. Jadi jumlahnya mungkin tidak terlalu signifikan.
Tetapi ada beberapa aspek lain yang harus kita lihat.
1. berapa puluh ribu masyarakat di Aceh tercatat secara ganda bahkan tripe dalam catatan kependudukan, misalnya, orang yang berasal dari desa A di kabupaten B, lalu karena ingin mencari pekerjaan lalu pindah ke kabupaten/Kotamadya C, nah lalu dia juga tercatat dalam data kependudukan di kabupaten/kotamadya C.
2. dalam catatat saya, sejak tahun 1976 - 2004, terdapat sebanyak 42 ribu KK transmigrant (kalau rata-rata nasional maka hampir 200,000 jiwa) yang datang melalui program pemerintah, salah satunya adalah PELITA, dan program lanjutan setelah order baru, dan ketika konflik pada tahun 1998 - 2003, sekitar 21,000 KK transmigrant exodus (atau 50% dari jumlah keseluruhan transmigrant). Hingga tahun 2008 lalu, sekitar 10,000 KK transmigrant telah kembali (sekitar 5,000 KK hingga 2006, 3,500 KK tahun 2007, dan selebihnya tahun 2008). Jumlah itu tentunya belum masuk yang kembali sendiri tanpa masuk dalam catatan pihak transmigrasi, ditambah lagi yang datang dengan keluraga tambahan.
3. Para pendatang atau pekerja (baik skilled labor atau non skilled labor), jumlah nya mungkin cukup besar dengan konsentrasi daerah-daerah pertumbuhan ekonomi dan rekonstruksi, seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, dan pantai barat. sayangnya kita tidak ada jumlah pasti, tetapi yang pasti, ketika kontrak kerjanya selesai, mereka terus menetap.
Ada beberapa hal yang sekira bisa kita lakukan, tentu instansi terkait dengan kewenangannya. yang paling mendasar adalah, untuk beberapa tahun kedepan pertumbuhan banyak sektor ekonomi akan terus meningkat, yaitu pertambangan, perkebunan, perdagangan, dll. dan Aceh akan terus dibanjiri oleh pendatang dan sayangnya akan didominasi oleh unskilled labor. Harus ada upaya pencatatan yang lebih sistematis, kalau perlu perlu ada pencatatan atau perizinan yang ketat diperbatasan atau pintu masuk. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh pemerintah negara-negara bagian di Malaysia timur untuk mencegah membajirinya penduduk malaysia dari bagian peninsula.
bagi unskilled/skilled labor yang sudah ada di Aceh sekarang, mungkin perlu ada upaya administrasi yang ketat pula, dimana mereka harus membayar kewajiban pajak atau retribusi daerah dll, karena mereka itu juga menikmati fasilitas yang disediakan oleh Pemda. Hal ini hanya bisa dilakukan jika ada suatu data base, sistem pelaporan pendatang/pencari kerja di Aceh dari berbagai daerah lain di Indonesia.
Demikian
|
Ah … masih dalam ranah ekonomi modern …
Atawa bisa jadi pelaku ekonomi mang sengaja mengejar objektif upah-murah dari jumlah tenaga kerja yang berlimpah (tekanan pada sisi supply) è Keynes.
Dari Ibnu Khaldun è Jumlah tenaga kerja yang berlimpah menyediakan ruang bagi pembentukan spesialisasi kerja (division of labour).
J
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Yth. Boss Albiruny :
Seluruh rakyat Indonesia juga sudah tau, Bahwa Teh manis yang dalam gelas itu bukan hanya ditambah airnya saja tapi gulanya juga ditambah bahkan lebih banyak tambahan gulanya, sampai gula menjadi jenuh, yaitu sampai gulanya sudah tidak bisa hancur lagi di air dalam gelas tersebut.
Gula tersebut tersimpan di beberapa stoples yang menjadi perhatian orang banyak yaitu ada gula dalam stoples BRR dan sekarang BKRA, dalam stoples BRA, ada dalam stoples APBA yang sangat besar, juga ada guci yang berisi dana Otsus selama 20 tahun, dana NGO (CTZ, USAID, UN, WB, IOM,) dan donors serta banyaknya proyek sebagai pabrik pembuat gula.
Gula-gula itu menjadi rebutan semut-semut yang datang dari lubang batu dari berbagai daerah. Yang dikhawatirkan adalah yang .punya rumah tidak tau bahwa rumah tetangga sudah teriak-teriak karena hanya minum teh pahit karena tidak ada gula, seperti rumah tetangga Nusa tenggara Timur, di Madura, Lamongan, gersik, Sulawsi, serta rumah di jakarata yang beratapkan jalan tol. Dimana-mana pemulung cari makan dari pembungkus makanan. Nah sebenarnya karena adanya orang-orang pembawa modal /orang kaya untuk membantu membangun proyek di Aceh, maka orang berdatangan ke Aceh. Mereka datang selain ingin mencari pekerjaan, tapi yang punya proyekpun ingin mendatangkan pekerja untuk dibayar. (Kalau uang bayaran tersebut dibelikan gula atau syrup, wah.. Aceh bisa tenggelam dengan syrup tersebut).
Malaysia saja mendatangkan orang Indonesia untuk membuat Menara Kembar di KLC, sehingga bisa menjadikan towers KLC menjadi kembar dan menjadi tinggi. Karena orang Malaysia kebanyakan punya penyakit ketinggian He he he makanya Aceh pun sama lah kira-kira begitu, yang penting bagaimana meminij mereka menjdai bermanfaat dan dapat mensejahterakan masyarakat yang tinggal di seluruh Aceh.
We always tell and to do something to create add value and competitiveness of high value for Aceh.
Aku enggak tau juga apa artinya Boss, apa lagi untuk melaksanakannya, Kecuali Boss Albiruny yang dapat melakukan apa saja dengan semua fasilitas yang ada seperti memiliki 4M + 2P (Men, Money, Matrials and Methods + Power and Party) H e he he Ini gara-gara menambaha air dalam air gula dalan gelas jadi haus ingin minum air gula. --- On Sun, 5/3/09, Hanakaru Hokagata <albi...@gmail.com> wrote: |
Dear all,
Sepertinya diskusi tentang data statistika provinsi Aceh semakin menarik, dan tidak lagi memperdebatkan angka, tetapi sudah mengarah pada hal-hal yang lebih subtansial atau mendasar dan munculnya angka-angka tadi. saya juga ingin menyampaikan beberapa hal, semoga sasarannya tidak melenceng terlalu jauh.
Sebagaimana sering kita lihat dan mengalami sendiri tentang naik turunnya angka penduduk di Aceh selalu berkaitan dengan kondisi damai kacaunya politik yang tentunya memiliki korelasi langsung dengan maju mundurnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Jadi, jika alasan pertumbuhan yang cepat ditimpakan pada kurang berjalannya mekanisme population control adalah hal yang sangat bertolak belakang dengan rasio dan logika mengingat fluktuasi yang selalu berubah, dengan kata lain tidak ada suatu bukti kenaikan yang konstan.
Dalam kondisi normal seperti sekarang ini, khususnya untuk sector kependudukan, Aceh seperti highway yang tidak ada traffic role. Artinya, siapa saja dengan leluasa masuk dan tentunya dengan berbagai alasan ekonomi pula, dari yang hanya mencari kerja sebagai buruh bangunan, lalu dengan uang yang dikumpulkan kemudian menjadi pedagang keliling dan seterusnya, hingga investor yang datang untuk menanamkan modal dengan mengembangkan berbagai usaha produktif. Namun fakta-fakta yang ada menyuguhkan suatu trend dimana mereka yang datang sebagai buruh bangunan tinggal untuk waktu yang lama bahkan selamanya.
Situasi ini justru menjadi sangat bahaya, dimana berbagai upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka kemiskinan tentang penurunan angka kemiskinan semakin lambat. Keterbatasan lapangan kerja yang tersedia untuk masyarakat lokal menjadi lebih terbatas karena meningkatnya kompetisi dalam mendapatkan pekerjaan atau dengan kata lain, pasar tenaga di Aceh telah terkoreksi negative. Artinya, kalau polem-polem dari daerah X kabupaten Y pergi ke kotamadya Z untuk mencari pekerjaan sektor konstruksi, hal ini bukanlah sesuatu yang mudah dalam situasi kekinian di Aceh, karena ketika UMP di Aceh sekarang 1,2 juta, masyarakat lokal di Aceh tidak ingin bekerja jika dibayar dibawah itu, sedangkan pendatang akan bekerja walau hanya dengan bayaran 50% dari UMP ----------------------------------------
Kalau kita melihat bagaimanakan pola kemiskinan didunia, maka angka-angka yang ada menunjukkan bahwa 40% penduduk dunia menikmati 96% total GDP yang ada, berarti 60% penduduk dunia hanya bertarung hidup dengan hanya 4% dari total GDP, 2 miliar penduduk dunia hidup dengan 2 USD perhari, dan sekitar setengah penduduk dunia hidup dibahwa 1 USD perhari.
Dengan fenomena kemiskinan diatas, banyak negara memberlakukan berbagai pembatasan travel dari suatu negara yang ber GDP rendah ke negara ber GDP tinggi, dan ini merupakan sebuah trafic role agar labor market tidak terganggu, dan penduduk pribumi mendapatkan pekerjaan yang layak dengan income yang fair dari pekerjaannya. Nah, apakah pembatasan seperti itu dipandang sebagai langkah yang cruel? Saya justru melihat itu merupakan langkah yang masuk akal dalam melindungi country’s interest. Aceh juga bisa melakukan hal itu dalam upaya membatasi membajirinya migrasi Indonesian unskilled labor atas dasar regional interest, malah yang penting lagi, pembatasan ini juga perlu ditempatkan dalam konteks potential conflict prevention. Ingat, salah satu pemicu konflik di Aceh tahun 1976 adalah inequal access of employment dalam oil and gas industry antara penduduk lokal dan pendatang. ------------------------------------------------
Traffic role yang seperti apa harus diterapkan di Aceh bagi unskilled ‘migrant’ yang terus membajari pasar tenaga kerja disini.
|