Ali and Nino adalah film bertema drama romansa tentang perang yang diproduksi Inggris pada tahun 2016. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Kurban Said dengan judul yang sama . Film ini ditulis oleh seorang produser bernama Christopher Hampton [3] dan disutradarai oleh Asif Kapadia .[4] Sebagian besar latar tempat di film tersebut mengambil gambar di negara Azerbaijan, Turki, Georgia, dan Rusia.[5] Para pemeran dalam film ini adalah pemain internasional dengan Maria Valverde [6] dan Adam Bakri sebagai pemain yang menjadi peran utama.[7] Film ini memiliki makna tentang pencarian kebenaran dan rekonsiliasi yang digambarkan melalui perbandingan beragam antara Islam dan Kristen, antara Timur dan Barat, antara golongan tua dan pemuda, dan antara pria dan wanita.
Selama era Kekaisaran Rusia, Ali dan Nino saling jatuh cinta. Ali merupakan seorang Muslim yang berasal dari Azerbaijan. Ia tinggal di kota Baku yang kaya minyak, di dalam sebuah istana milik keluarga Shirvanshir. Nino sendiri merupakan seorang pemeluk agama Kristen Ortodoks dari Georgia. Ia berasal dari keluarga Kipiani yang kaya raya dan juga tinggal di Baku. Teman Ali yang bernama Malik, setuju untuk membantu mereka agar keluarga aristokratnya mau menerima pernikahan ia dengan Nino. Sayangnya, Perang Dunia I kemudian pecah di Eropa.
Suatu hari, Malik dan Nino pergi bersama ke sebuah pertunjukkan opera. Di sisi lain, Ali dan Nino sendiri memiliki janji untuk bertemu secara diam-diam setelah selesai dari opera. Malik yang merupakan orang Armenia ternyata juga jatuh cinta kepada Nino. Malik kemudian menculiknya dan merencanakan pernikahan dengan Nino secara diam-diam. Ali kemudian datang menghadapi Malik dan membunuhnya dengan sebuah belati. Ali terluka selama pertempuran dengan Malik. Kemudian ia melarikan diri ke Dagestan untuk menyembuhkan lukanya dan bersembunyi dari keluarga Malik yakni keluarga Nachararyan yang berbahaya. Di tempat lain terjadi peristiwa Revolusi Rusia yang berhasil menggulingkan Tsar Nicholas II dari kekuasannya.
Ibu Nino yang bernama Tamar kemudian khawatir jika nantinya tidak ada seorang pun yang akan menikahi putrinya. Tamar kemudian berencana mengirim Nino ke Moskow. Yang terjadi kemudian adalah berbeda dari yang direncanakan. Mustafa kembali menyatukan Nino dan Ali di sebuah gunung. Setelah semalaman bercinta dan dengan hilangnya keperawanan Nino, Ali berteriak memanggil seorang Mullah. Mustafa kemudian meyakinkan pasangan tersebut bahwa tidak ada imam yang diperlukan karena dirinya dapat melakukan upacara pernikahan. Terlepas dari masa kanak-kanaknya yang aristokrat, kehidupan pedesaan yang sederhana sangat cocok dengan Ali dan Nino yang menjadi pengantin baru. Di tempat tersebut mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di saat yang sama Republik Demokratik Azerbaijan berhasil mendapatkan kemerdekaannya.
Ali kembali ke Baku. Kemudian ia diangkat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri. Dia mulai membesarkan keluarga mudanya di tanah air yang merdeka. Negara muda itu kemudian menandatangani perjanjian persahabatan dengan negara-negara tetangganya. Namun terdapat ketakutan pada kaum Bolshevik di Rusia. Mengetahui bahwa Rusia telah menyiapkan 30.000 tentara di perbatasan, pemerintah Azerbaijan kemudian melarikan diri dengan kereta api. Saat Nino dan putri mereka menuju Paris, Ali melompat dari kereta. Ali turun untuk meledakkan jembatan. Nino aman bersama putrinya di kereta, sayangnya Ali tertembak dan terbunuh. Ali meninggal saat berjuang membela negaranya.
Ali and Nino merupakan salah satu film yang diputar dalam Festival Film Europe on Screen tahun 2019. Film ini masuk ke dalam program festiveties yang menayangkan film-film cerita panjang. Adapun penayangnnya dilakukan sebanyak empat di Erasmus Huis Jakarta pada 19 April, Gran Aston Medan pada 23 April, IFI Surabaya pada 24 April, dan di Ke:kini pada 27 April.[8]
Mahershala Ali merupakan salah satu aktor Hollywood berbakat yang telah membintangi berbagai film. Laki-laki kelahiran 16 Februari 1974 ini awalnya lebih menyukai dan memilih bidang olahraga ketimbang akting.
Di sisi lain, Mahershala Ali juga memiliki cerita-cerita yang cukup melankolis tentang kehidupannya di masa lalu. Termasuk perjalanan Mahershala Ali dalam menemukan Islam. Mahershala Ali merupakan salah satu aktor Hollywood yang memutuskan untuk berpindah agama.
Di tengah pencariaan jati dirinya terhadap sebuah keyakinan, Mahershala Ali bertemu dengan seorang gadis muslim bernama Amatus Sami-Karim yang kini telah menjadi istrinya. Mereka bertemu di sekolah pascasarjana dan ia sedang belajar akting sebagai sarjana di NYU (New York University).
Keadaan keduanya saat itu sama, Amatus Sami-Karim merupakan anak seorang imam yang kala itu sedang mempertanyakan tentang imannya. Amatus sedang dalam kondisi tidak yakin apakah akan terus menjadi seorang muslim atau tidak. Namun, dalam ketidakyakinannya terhadap imannya, Amatus tetap memperkenalkan Islam pada Mahershala Ali.
Seketika itu juga Mahershala Ali merasa begitu tersentuh hingga meneteskan air matanya, meski ia tidak mengerti arti dari hal yang didengarnya tersebut. Sejak itulah ia merasakan kebangkitan spiritualnya dan berusaha untuk kembali mendatangi masjid. Ia kembali merasakan hal yang sama. Dan hari itu juga Mahershala Ali berjanji untuk masuk islam.
Ketika telah menjadi mualaf, Mahershala Ali merasa telah berada di tempat yang tepat. Namun, ia begitu sulit untuk berterus terang kepada ibunya mengenai jati dirinya yang telah menjadi seorang muslim, mengingat ibunya merupakan seorang pendeta.
Butuh waktu belasan tahun hingga akhirnya ia berterus terang kepada ibunya bahwa telah menjadi seorang muslim. Namun dengan dipenuhi rasa saling mengerti, cinta serta menerima ibunya pun akhirnya tidak menolak bahwa sang anak telah berpindah keyakinan.
tirto.id - Ali Shahab meninggal dunia pada Selasa, 25 Desember 2018. Sutradara yang memopulerkan Muhammad Sulaeman alias Mat Bolot sebagai komedian budek lewat Pepesan Kosong itu mengembuskan napas terakhir di usia 77.
Lahir di Jakarta pada 22 September 1941, Ali menyukai kesenian sejak duduk di bangku SMP. Mula-mula ia kursus melukis dan berhasil menyelesaikan kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta pada 1958-1963. Setelah lulus, ia aktif sebagai wartawan di sejumlah media massa, salah satunya sempat menjadi pemimpin redaksi Indonesia Jaya.
Dalam catatan Kompas, meski kisahnya cukup jelas, film ini disajikan lewat pendekatan periodisasi dan dieksekusi Ali Shahab secara kering dan skematis. Ini bisa ditafsirkan sebagai gambaran seorang sutradara yang tengah berproses pada fase awal kariernya.
Bagi sebagian kalangan, terutama yang bergelut di bidang sastra, sejumlah novel yang ditulisnya dianggap sebagai karya pop dan bertujuan murni komersial. Ini tidak ia sanggah. Ali Shahab bahkan menegaskan bahwa baginya komersial itu adalah sesuatu yang adil dalam dunia hiburan.
Lagi pula, imbuhnya, ia tak terlalu hirau dengan nilai kesenian atau nilai sastra dalam novel-novelnya yang banyak diadaptasi menjadi film. Ia hanya berusaha menulis baik dan karyanya ingin dibaca banyak orang.
Ia juga menekankan bahwa meski karya-karyanya ditujukan agar dibaca sebanyak mungkin orang, tapi tidak serta-merta membuatnya lalai dengan mengabaikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel tersebut.
Ia tidak berusaha menyajikan persoalan-persoalan rumit dalam karyanya. Ia ingin menghibur masyarakat tanpa abai terhadap kualitas karyanya. Agar filmnya laku di pasaran, Ali Shahab kerap menonton banyak film saat ia bepergian ke luar negeri. Selain itu, ia juga rajin berkomunikasi dengan para importir dan produser film untuk membicarakan kecenderungan film yang tengah digandrungi masyarakat.
Ketika hiburan di televisi mulai digemari masyarakat, Ali Shahab pun merintis kariernya di dunia baru itu. Pada 1980-an, ia melahirkan serial Rumah Masa Depan yang selalu ditunggu pemirsa TVRI. Ia juga membidani lahirnya sinetron Nyai Dasima dan Angkot Haji Imron.
Namun, bertahun-tahun kemudian, saat stasiun televisi telah begitu banyak, namanya perlahan mulai dilupakan. Ini karena ia tidak mau berkompromi dengan sejumlah stasiun televisi yang menurutnya terlalu mengejar rating dengan menggadaikan mutu program-program yang mereka tayangkan.
Ungkapannya itu seolah-olah menegaskan bahwa meski dari dulu ia menggarap karya-karya yang dianggap terlampau komersial, ia selalu sadar bahwa masyarakat yang menggandrungi karya-karyanya tidak boleh dianggap hanya sebagai pasar. Baginya, harus ada semacam tanggung jawab sosial di balik karya tiap penulis atau sutradara.
Mataram (ANTARA) - Menyusul presentasi film terbaru Marvel Studio mendatang seperti "Black Widow", "Feige", dan lainnya, ada kejutan besar dalam acara San Diego Comic-Con 2019 akhir pekan lalu.
Marvel Studio mengumumkan bahwa aktor muslim yang juga peraih Academy Award Mahershala Ali akan membintangi sekuel baru film Marvel "Blade", kisah jagoan pembasmi vampir yang film pertamanya dibintangi Wesley Snipes.
Dikutip dari biography.com, Selasa, Mahershala Ali dilahirkan di Oakland, California, pada 1974 dan kuliah berkat beasiswa basket sebelum menemukan kecintaannya pada dunia akting.
Ia muncul di serial reguler "Crossing Jordan" pada 2001, dan pada akhir dekade ini ia juga membintangi drama fiksi ilmiah "The 4400" dan "The Curious Case of Benjamin Botton".
Setelah mendapatkan peran di "House of Cards" pada 2013, Ali membintangi seri "Luke Cage" pada 2016. Pada tahun itu ia juga memberikan penampilan terbaiknya di film "Moonlight", menjadikan Ali sebagai aktor muslim pertama yang memenangi Academy Award pada 2017, dan kemudian berhasil meraih Oscar keduanya untuk "Green Book" yang dirilis 2018.
Meskipun dibesarkan dengan pengaruh Kristen yang kuat, --ibunya, bibi dan neneknya--, Mahershala Ali masuk Islam ketika ia di New York University. Dia juga bertemu dengan calon istrinya, Amatus Sami-Karim, selama periode itu. Mereka menikah pada 2013.