Dr. Gina: Poligami itu Enak dan Perlu?

3 views
Skip to first unread message

edi.pr...@jict.co.id

unread,
Feb 8, 2010, 1:08:10 PM2/8/10
to finance...@googlegroups.com
Dr. Gina: Poligami itu Enak dan Perlu


Dr. Gina Puspita mencarikan sendiri madu (istri kedua sampai keempat)
untuk sang suami. Tapi tak mengaku tertindas. "Poligami itu enak dan
perlu, " katanya

Hidayatullah.com-- Beberapa hari ini, wacana poligami kembali diulas media
massa. Banyak yang setuju dan tak sedikit yang sinis. Di antara yang
sinis, tentu saja para aktivis perempuan dan para pengagum feminisme.
Koalisi Perempuan dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM, penganut
paham gender dan feminis pernah mengusulkan pelarangan praktik pernikahan
ini. Alasannya, poligami melanggar hak-hak perempuan terkait kekerasan
dalam rumah tangga. Benarkah?

Kali ini www.hidayatullah.com mewawancarai Dr. Ing. Gina Puspita, DEA.
Sebelum ramai pembicaraan tentang praktek poligami, istri pertama Dr.
Abdurahman Riesdam Efendi ini boleh jadi di antara sekian Muslimah yang
merasakan sendiri pengalaman "dimadu". Tak seperti tuduhan aktivis
penganut gender –yang boleh jadi tak merasakan sendiri--, Gina tak
mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia bahkan mencarikan sendiri
calon-calon pendamping sang suaminya untuk yang kedua sampai keempat.

Misalnya, tahun 1995, ia mencarikan sang suami, Abdurahman, calon istri
kedua. Sang suami kemudian menikah lagi dengan Basyiroh Cut Mutia. Enam
tahun kemudian, Gina mencarikan  istri ketiga sang suami, yakni Siti
Salwa asal Malaysia. Dan yang terakhir, menikah dengan Fatimah. Praktis
Abdurahman memiliki empat orang istri.

Jadi semua istri muda itu bukan pilihan sang suami, justru   pilihan
Gina alias sang istri pertama Abdurahman. Tak seperti dugaan aktivis
perempuan selama ini, di mana poligami dianggap begitu rendah dan rawan
konflik. Mereka berempat justru sangat rukun dan bahagia. Bahkan bekerja
di kantor yang sama dan tinggal seatap, di Taman Rempoa Indah, Ciputat,
Tangerang.

Tak seperti tuduhan kaum feminis yang mengatakan pelaku poligami karena
faktor ekonomi. Gina adalah seorang wanita terdidik. Bahkan lulusan
sekolah Eropa. Ia merupakan wanita Indonesia pertama yang lulus
kedirgantaraan di Ecole National Superieure de l'Aeronautique et de
l'Espace (Ensae), di Toulouse, Prancis. Wanita kelahiran Bogor 8 September
1963 ini bahkan pernah menjadi Kepala Departemen Structure Optimization
Divisi Riset & Development IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

''Kalau suami sedang dengan istri yang lain, kami bertiga ngobrol-ngobrol
di satu kamar,'' tutur Gina suatu hari. Bila berada di luar kota, mereka
bertukar pesan lewat SMS. Pokoknya, akrab. ''Poligami yang didasarkan pada
Allah SWT tidak akan menimbulkan masalah,'' ujarnya. "Bahkan enak dan
perlu," tambahnya.  Berikut wawancara dengan Dr Gina beberapa waktu lalu:

Apa kabar Anda dan keluarga?

Kami sekeluarga Alhamdulillah sehat. Semoga kesehatan yang dirahmati Allah.

Lama tak dengar kabarnya, apa kesibukan Anda terbaru?

Selama kurang lebih 2 tahun terkahir kami banyak berada di Malaysia.
Alhamdulillah perusahaan yang dipimpin oleh guru kami Abuya Ashaari
(pendiri Darul Arqam yang dilarang mantan PM Mahathir Mohammad) berkembang
pesat di sana. Kebetulan Tuhan rezekikan kepada kami untuk ikut serta
beraktivitas di sana selama 2 tahun. Setelah di sana terasa manfaatnya
untuk kalangan luas, dan perusahaan terus berkembang ke berbagai negara di
Asia, Eropa, dan Timur Tengah, maka mulai 2 bulan belakangan ini kami
mulai menguatkan kembali aktivitas perusahaan Rufaqa di Indonesia.

Saya dengar Anda juga punya proyek besar di Malaysia? Boleh tahu?

Di Malaysia bukan proyek saya, tapi perusahaan yang dipimpin oleh guru
saya, Abuya Ashaari Muhammad. Dari tahun 1997 beliau mendirikan perusahaan
Rufaqa namanya yang bergerak di berbagai bidang, seperti pendidikan,
ekonomi, sosial, kesehatan, kebudayaan, dan lain-lain.

Beberapa hari ini banyak orang sibuk mendiskusikan poligami, apa pendapat
Anda?

Segala kejadian Allah yang menentukan. Di antara sekian banyak hikmahnya,
Allah nampaknya mau menunjukkan keadaan masyarakat sekarang ini. Dan kita
bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan. Sebenarnya ada dua kejadian
yang terjadi secara serentak. Pertama tentang poligaminya Aa Gym. Kedua,
monogaminya anggota DPR-RI, tapi selingkuh.  Tapi yang diramaikan hanya
poligaminya. Bahkan poligami mau dilarang segala.  Hehehe.

Yang menarik, sikap masyarakat terbelah dua. Kasus monogami selingkuh
menjadi kasus cukup besar. Tapi poligami, pernikahan secara sah justru
yang dikatakan zalim. Padahal menurut saya, monogami selingkuh itu jauh
lebih menzalimi perempuan. Seperti wanita ini tak ada harganya.

Menurut Anda, mengapa masyarakat justru seperti itu?

Saya tak menyalahkan masyarakat. Itulah keadaan masyarakat yang kita perlu
rasakan sebagai peringatan Allah pada kita. Mungkin kita gagal membawa
kebaikan di tengah masyarakat ini. Saya juga maklum kenapa banyak
masyarakat awam begitu membenci poligami, karena memang susah mau mencari
poligami yang dapat dijadikan teladan di Indonesia sekarang ini. Yang
lebih menyedihkan, yang sekarang berlaku bukan sekedar diskusi, tapi
penafsiran-penafsiran terhadap Rasulullah yang sifatnya merendahkan
beliau. Jauh sekali dari mencari solusi. Lagi pula, mengapa banyak orang
sibuk membicarakan poligami atau bahkan terkesan begitu ketakutan. 
Padahal dalam Islam, poligami hanya sekedar satu dari sekian ribu syariat
dalam agama kita. Jadi dia bukan perkara yang wajib. Tapi kok bisa hal ini
menjadi masalah Negara. Padahal shalat yang berkali-kali Allah katakan
sebagai "tiang agama", Negara tak pernah peduli apakah   manusia
melakukannya?

Anda termasuk di antara pelaku, bisakah bercerita pengalaman poligami?

Islam itu adalah "cara hidup". Selain tentang Allah yang utama, di
dalamnya ada juga syariat yang beribu jenisnya, yang mengatur kehidupan
manusia di dunia ini. Seperti janji kita dalam setiap kali shalat, " inna
shalolati wa nusuki… (dst), "hidup mati kita untuk Allah,” maka
tentulah sebagai seorang Muslim kita perlu wujudkan janji kita dalam
kehidupan. Kita atur individu kita, ekonomi kita, pendidikan kita,
kebudayaan kita, rumah tangga kita, menurut Islam. Hal ini tidak dapat
kita wujudkan sendiri-sendiri. Misalnya untuk mewujudkan pendidikan Islam,
perlu guru dan murid. Kalau sendirian mana mungkin dapat terwujud. Itulah
yang kami lakukan melalui perusahaan Rufaqa ini. Sama halnya dengan
masalah  rumah tangga.

Setelah kami dididik oleh guru kami, kami (saya dan suami) merasakan bahwa
Allah mesti dijadikan segalanya. Syariat Islam mesti diperjuangkan. Dengan
melihat keluarga guru kami yang memiliki 4 istri dan 37 anak, 200 cucu,
namun semua justru menjadi pendukung perjuangan Islam. Maka kami melihat
(bukan sekedar membaca buku atau hanya mendengar) bahwa poligami juga
dapat kita laksanakan. Atas kesepakatan bersama itulah, saya dan suami
–tentu saja atas persetujuan guru kami-- maka kami tambahkan anggota
keluarga kami dengan mengambil salah seorang staf Rufaqa  sebagai istri
kedua untuk suami saya.

Siapa yang mencari dan melamarkannya?

Saya sendiri yang datang pertama kali dan menjelaskan pada orang tuanya
untuk menyampaikan hasrat kami.

Apa sih yang ada di perasaan Anda  saat mencarikan suami istri lagi?

Karena dari awal memang sama-sama berniat (saya, suami, dan   istri
kedua) untuk menguatkan keluarga, maka masalah-masalah dalam keluarga
dapat diatasi dengan baik. Bertambah terasa kehebatan Allah. Ternyata
belum lagi kita baik, baru niat mau baik, tapi Allah sangat memberikan
bantuan-Nya.

Apakah setelah poligami pernah cekcok? Atau cemburu?

Kalau beda pendapat sih dalam rumah tangga itu hal yang biasa. Jangankan
di keluarga yang praktik poligami, dalam rumah tangga monogami pun ada.
Tapi karena sama-sama  sudah dididik oleh guru yang sama, jadi setiap
kali ada masalah, masing-masing  berusaha untuk dapat menilai yang baik
di sisi Allah. Bila semua mempunyai tujuan yang sama, yaitu keridhaan
Allah, perkara apapun selalu jadi mudah. Kami berempat serumah. Kecuali
sekarang ini, dua orang sedang bertugas di Malaysia.

Menjadi istri "dimadu" apa tak membuat martabat Anda sebagai seorang
perempuan terhina?

Saya hendak mengingatkan kita bahwa dalam menilai sesuatu, karena zaman
ini sudah rusak, maka nilai-nilai   manusia/moral juga sudah sangat jauh
dari kehendak Allah. Contoh saja; para wanita mengatakan dirinya merasa
"dihina" dengan poligami. Padahal itu kan memang boleh menurut Islam. Tapi
ada wanita diminta buka aurat, ia menjadi tontonan. Tak satu pun
menganggap dirinya merasa terhina. Padahal itu adalah keadaan yang sangat
menghinakan. Wanita sudah hilang malunya karena ketiadaan iman.

Poligami itu, bila dijalankan dengan tujuan membesarkan Allah, kita akan
merasakan bahwa itu sangat baik untuk pendidikan hati kita. Kita akan tahu
bahwa kita belum sabar. Maka, kita akan belajar untuk bersabar. Kita bisa
tahu bahwa di hati kita ada hasad dan dengki. Cemburu itu  adalah hasad,
dan dengki adalah puncaknya. Lalu kita belajar untuk tidak hasad atau
dengki hingga timbul rasa membahagiakan orang lain.

Bukankan manusia normal tak menginginkan suaminya jadi rebutan wanita lain?

Jadi, bila dikatakan manusia normal tidak mau dipoligami gitu ? Manusia
normal itu seperti apa? Apakah istri-istri Rasulullah bukan wanita normal?
Menurut saya, manusia normal itu adalah manusia  yang tahu dirinya hamba
dan Allah sebagai Tuhannya. Tentu dia akan sangat mencintai  Tuhan Nya.
Dan dirinya akan merasakan  bahwa syariat Allah adalah yang terbaik.
Bahkan sekarang kadang saya merasa malu dengan Allah. Malu, mengapa "orang
jahat" seperti saya, tapi Allah masih memberi rasa kebaikan-kebaikan dalam
poligami. Kalau saya saja yang menganggap "masih jahat" dan masih diberi
banyak kebaikan oleh Allah,  bagaimana pula kehebatan keluarga
Rasulullah?

Anda tidak takut, rasa cinta suami Anda tak akan seperti di awal
pernikahan? Karena akan terbagi?

Tidak. Sebab suami dan kami punya cita-cita yang sama. Untuk mencintai
Allah. Dan mencintai Allah itulah  yang dapat menambah kuat ikatan di
antara kami semua. Perlu kita sadari, karena manusia sudah tidak
menganggap Tuhan segalanya, maka bila berumah tangga, dia menganggap 
suami adalah segala-galanya. Ya dengan kata lain, cinta suami. Padahal,
kalau kita membesarkan cinta pada Allah,  maka Allah sendirilah yang 
akan membagi kebahagiaan itu.

Bagaimana dengan kebutuhan finansial dan pembagian perhatian kepada
anak-anak Anda setelah suami menikah lagi?

Alhamdulillah Allah bukan saja mencukupkan, tapi menambah-nambah. Dan
alhamdulillah, anak-anak kami semua justru bersyukur dengan poligami. Anak
saya yang berumur 10 tahun diwawancara sebuah majalah. Dia mengatakan,
begitu senang memiliki ibu banyak. Banyak tapi  sayang. Dia pernah
melihat seorang aktifis perempuan begitu keras berkata tentang poligami.
Anak saya mengatakan, "Ini perempuan bercakap bukan dengan akal lagi, tapi
dengan nafsu. Sangat emosional. Padahal, kami (anak-anak saya maksudnya)
suka dengan itu. Tak ada penzaliman."

Apakah mungkin seorang suami bisa membagi perhatian kepada istri-istri dan
anak-anaknya?

Bisa. Bahkan hubungan anak-anak  semua sangat baik. Tak ada perbedaan dia
dari ibu yang mana. Suami saya baru memiliki 4 orang anak. Tiga dari saya
dan 1 dari istri kedua. Istri ketiga dan keempat belum dikaruniai anak.

Banyak aktivis perempuan mengkritik poligami, apa pandangan Anda
menghadapi kritikan itu?

Jangankan untuk hal poligami, gerakan kaum feminis hingga sekarang ini, 
belum mendapatkan kejayaan (kemenangan). Patutnya sekiranya jika mereka
melihat gagalnya perjuangan kaum feminis di Prancis yang menjadi sumber
awalnya. Saya pernah 11 tahun di Prancis, melihat sampai sekarang, di sana
gerakan tersebut boleh dikatakan tidak membuahkan hasil. Yang ada justru 
kesengsaraan bagi kaum wanitanya. Banyak orang berkonsultasi dengan saya.
Sebab banyak hal yang diperjuangkannya tidak sesuai dengan fitrah dia.
Jadi katakanlah dia mendapatkan apa yang dia mau, tapi ternyata bila sudah
mendapatkan, sesungguhnya dia begitu tersiksa.

Jadi apa hikmahnya bagi Anda dan kalangan Muslimah dengan berpoligami?

Saya pernah mengatakan di media massa,  "poligami itu indah dan memang
perlu." Perlu bagi wanita dan lelaki sebagai pendidikan hati kita untuk
dapat lebih mudah membesarkan asma Allah.

Karenanya, saya mengimbau pada semua, mari kita kembali pada Allah, Tuhan
kita. Dialah penyelesai segala masalah. Sekarang ini yang jadi masalah
sebenarnya bukanlah poligami. Jadi tak perlu sibuk memerangi poligami.
Sama halnya  sekarang, banyak orang shalat tapi masih korupsi. Lantas
apakah dengan begitu kita akan memerangi shalat? Banyak masalah lain yang
kita perlu selesaikan.

Pendidikan kita sedang bermasalah. Ekonomi kita bermasalah. Kebudayaan dan
semua aspek kehidupan kita sudah rusak, dan itu adalah masalah. Maka mari
kita kembali pada Allah. Jadikan Ia segalanya. Bila demikian akan
selesailah semua masalah. Mau monogami atau poligami, jika kembali pada
Allah, akan membawa kehidupan yang harmoni.

[Cholis Akbar/www.hidayatullah.com]


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages