Cerita film ini disusun Boni Faisal yang diadaptasi dari novel dengan judul sama karya mendiang Atho Al Rahman. Selanjutnya, Kiki Nuriswan menginterpretasikannya dalam tata adegan selaku sutradara. Keseluruhan cerita mengenai tema poligami ini dikemas dalam sinema berdurasi 111 menit.
Film Dua Surga dalam Cintaku menyoroti tokoh bernama Arham dan Husna. Keduanya telah berteman dari masa anak-anak. Hubungan mereka tidak lantas berujung pada pertemanan saja, karena setelah besar memutuskan untuk menikah.
Arham dan Husna sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangga yang telah dibina. Sampai suatu hari, Arham hampir ditabrak oleh perempuan bernama Zilka. Zilka terlihat sedang dikejar oleh beberapa orang.
Zilka secara teratur mendekati Arham untuk mencuri perhatian. Husna yang mengetahui hal tersebut sontak menjadi cemburu. Rumah tangga Arham dan Husna menjadi sering berkonflik karena pertengkaran soal Zilka.
Di sisi lain, Zilka makin getol untuk mendekati Arham tanpa merasa canggung dengan keberadaan Husna. Hal ini membuat Arham menjadi serba salah. Hati Arham diam-diam juga menaruh rasa simpati pada Zilka.
Kini Arham berada dalam pilihan sulit. Jika ia menerima Zilka, rumah tangganya bersama Husna akan berantakan. Namun, jika Arham menolak Zilka, risikonya akan terus diganggu dan tidak tahu kapan akan berakhir.
Kunjungan tersebut diisi dengan rangkaian kegiatan seperti donasi buku, pelatihan keaksaraan fungsional, pelatihan kerajinan tangan, dan games-games yang melibatkan kekompakan ibu dan anak. Rumah Baca tersebut terletak di Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, yang berarti seluruh rombongan kunjungan ini harus menyeberangi muara Sungai Kakap yang cukup jauh dengan memakan waktu kurang lebih setengah jam, menggunakan kapal motor berukuran medium.
Kedatangan rombongan FISIP UNTAN disambut oleh para relawan dan pengelola dari taman baca tersebut beserta anak-anak masyarakat sekitar. Mengajari anak-anak untuk menulis merupakan rangkaian kegiatan paling pertama. Meskipun mereka masih berusia sangat muda, kemampuan membaca, menulis dan menghitung yang dimiliki tidak jauh berbeda dengan anak-anak perkotaan lainnya, namun ibu-ibu merekalah yang banyak tidak dapat membaca maupun menulis dasar.
Agenda berikutnya adalah membuat kerajinan tangan bunga mawar merah bersama dengan ibu-ibu Tanjung Saleh tersebut, antusiasme mereka ditunjukan dengan semakin ramainya ibu-ibu yang berdatangan, mawar merah tersebut setelah sukses dibuat, kemudian menjadi cinderamata yang dapat mereka bawa pulang ke rumah masing-masing. Ramainya jumlah peserta yang datang membuat agenda games tersebut harus dikurangi jumlah pesertanya, permainan menggunakan balon memerlukan kerjasama tim dan komunikasi yang baik antara ibu dan anak.
Kegiatan kunjungan bersama dengan para peserta berakhir pada tengah hari, seperti biasa dengan foto bersama dan diberikannya bingkisan berisi kue-kue dan hadiah kepada para peserta yaitu ibu-ibu dan anak-anak Tanjung Saleh. Namun bagi rombongan FISIP UNTAN kegiatan tersebut belum berakhir, karena rombongan diberikan jamuan makan siang yang disajikan oleh para relawan dan pengurus Rumah Baca Tanjung Saleh, dengan lauk-pauk lokal seperti udang dan ikan segar hasil tangkapan masyarakat sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan dan petani.
Cuaca hujan rintik-rintik menjadi salah satu ucapan selamat tinggal yang didapatkan oleh rombongan FISIP UNTAN ketiga menaiki kembali kapal air tersebut untuk kembali menyeberangi muara Sungai Kakap yang kini terdapat ombak yang cukup menegangkan.
Saling bertukar pengalaman, program kerjan, suasana organisasi, terutama saling bercerita mengenai isu mengenai keperempuanan yang sedang hangat di daerahnya masing-masing. Meski terkadang menemui masalah seperi sinyal yang kurang baik sehingga gambar dan suara terputus-putus, pertemuan tersebut tetap dapat berjalan dengan keseruannya tersendiri. Gelak tawa dan senyuman setelah mendengarkan cerita dan guyonan antara sesama memenuhi ruangan lantai satu Lokale Select Danau Sentarum yang tidak terlalu besar.
Seperti biasa kegiatan selalu diakhiri dengan melakukan dokumentasi, namun karena dilakukan melalui webinar, dokumentasi dilakukan dengan cara tangkapan layar. Namun tidak lengkap rasanya bila tidak ada sesi foto bersama secara langsung, sehingga kegiatan tetap di akhiri dengan foto bersama langsung di lokasi.
Meski sempat diguyur hujan deras sehingga kegiatan harus diundur selama tiga jam, tidak menurunkan antusiasme pengunjung, sempat terlihat sepi diawal pembukaan kegiatan, namun jumlah pengunjung membludak ketika pertengahan kegiatan yang sempat membuat panitia kewalahan karena kursi yang disediakan tidak cukup, sehingga banyak pengunjung yang terlihat berdiri-diri.
Antusiasme tersebut tidak terlepas dari persembahan tiga teatrikal yang dibawakan oleh Bengkel Seni FISIP UNTAN, dengan totalitasnya dalam berakting berhasil mengunci pandangan para pengunjung. Berbagai adegan kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan di lingkungan tempat kerja, lingkungan keluarga maupun di tempat umum, dilakukan secara realistik, ditambah lagi sound effect yang membuat adegan tersebut seakan-akan nyata.
Terdapat juga pameran lukisan dan ilustrasi yang dipersembahkan oleh komunitas seni Imagirupa, sebuah gerakan kesenian yang diprakarsai oleh mahasiswa FISIP UNTAN itu sendiri, tidak lupa juga terdapat pameran beragam pakaian-pakaian yang dikenakan oleh korban kekerasan seksual, terlihat ada seperti seragam sekolah, bahkan piyama anak-anak. Hal tersebut mengajarkan kita bahwa pakaian tidak serta-merta menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual yang biasa dituduhkan banyak orang.
Kegiatan pameran seni ditutup dengan kejutan kepada para pengunjung, dimana mereka diminta untuk mengecap tangan mereka dengan cat warna-warni di beberapa spanduk panjang berwarna putih. Diiringi dengan lagu let You Break My Heart Again yang dinyanyikan oleh Laufey, para pengunjung berduyun-duyun berbaris mengantre untuk mengecap tangan mereka sambil berswafoto ria, membuat konten kesukaan mereka masing-masing, lampu yang berubah menjadi warna biru semakin menambah suasana melancholy dan haru pada akhir acara pameran seni tersebut.
Pelatihan dipimpin langsung oleh Dr. Herkulana Mekarryani S, M.Si. selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Kalimantan Barat, yang hadir bersama beberapa jajaran DPPPA yang sudah berpengalaman dalam pertolongan terhadap korban kekerasan seksual di Kalimantan Barat.
Setelah sesi tanya jawab, kegiatan pelatihan ini seperti biasa diakhiri dengan foto bersama dan penyerahan sertifikat dari BEM KBM FISIP UNTAN kepada Dr. Herkulana Mekarryani S, M.Si. selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Kalimantan Barat yang sudah menyempatkan diri untuk memberikan pelatihannya kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan beserta jajaran BEM KBM FISIP UNTAN.
795a8134c1