Layar adalah film drama Indonesia tahun 2023 yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Film produksi Fourcolours Films serta KlikFilm Productions ini dibintangi oleh Siti Fauziah, Adi Marsono, dan Resti Praditaningtyas. Layar tayang perdana di KlikFilm pada tanggal 13 Januari 2023.[1]
Marni sudah bekerja 20 tahun di Bioskop Merapi ketika bioskop tutup karena pandemi. Karyawan dipangkas, layar harus diturunkan. Ani berusaha mempertahankan satu-satunya layar di bioskop tersebut dengan segala upayanya. Ia mengikat perjanjian dengan pemilik bioskop. Ia boleh menjalankan usaha bioskop tanpa dana dari pemilik yang sedang mencari pembeli gedung bioskop itu.
Saat ini, Anda hanya dapat menggunakan partner tertentu untuk memutar acara TV dan film di layar Nest atau TV menggunakan speaker atau layar. Namun, Anda dapat memutar video YouTube di TV menggunakan speaker atau layar Google Nest atau Home.
Catatan: Langkah-langkah berikut ini bersifat opsional jika Anda hanya ingin mengontrol TV dengan perangkat seluler atau tablet. Namun, jika Anda ingin mengontrol TV menggunakan perintah suara melalui speaker atau layar, ikuti langkah-langkah di bawah ini.
Lerryant Krisdy is an award-winning Indonesian filmmaker based in NYC. His work has enabled him to collaborate with the European Union, Vidio, iFlix, Viu, and many others. He founded The Layar Project to realize his passion in film education and AAPI representation in media.
Pria yang akrab disapa Faiz ini lebih banyak melibatkan peserta didiknya di SMK NU Slawi dalam proses penggarapan filmnya. Hal tersebut dimaksudkan agar murid-muridnya bisa memiliki tambahan bekal pengetahuan dan pengalaman pada proses pembuatan film yang tidak saja menuntut kreatifitas dan seni, tapi juga kerjasama yang baik sebagai sebuah tim kerja.
Ketertarikannya dalam pembuatan karya film ini berawal dari dunia seni teater yang ia lakoni selama duduk di bangku kuliah di Universitas Pancasakti (UPS) Tegal. Ia bahkan mendirikan komunitas teater di kampus tempatnya belajar yang ia beri nama Teater Akar untuk menuntaskan hasratnya sebagai pemain drama sekaligus penulis cerita.
Di usia remaja, Faiz sudah tertarik dengan dunia fotografi, termasuk saat aktif di dunia seni peran Teater Akar yang ia dirikan semasa kuliah. Kemampuannya menulis skenario film ia peroleh dari pengalamannya dalam membuat skenario pementasan teater.
Menurutnya, pembuatan naskah film tak ubahnya seperti penulisan naskah drama pada pementasan seni teater. Penulis naskah harus bisa menentukan dinamika yang akan diciptakan dalam setiap pembabakan dan kemudian bagaimana membangkitkan gairah atau kehidupan pada setiap plot tersebut dengan mendetailkan emosi agar bisa dirasakan penonton atau pemirsanya hingga membentuk satu rangkaian alur kisah yang utuh dan jelas.
Dan tahun 2010 menjadi debut awalnya membuat skenario film berjudul Aku Nyontek. Dari sini Faiz mulai tertarik dengan dunia sinematografi dan baru di tahun 2012, ia mulai menekuni dunia seni perfilman digital setelah menggarap film Cincin Cinta Amanah.
Berbeda dengan perannya sebagai pemain sekaligus penulis cerita di bidang seni teater, di sinematografi, Faiz lebih memilih berkarya dibalik layar sebagai penulis naskah sekaligus skrip film yang digarapnya.
Dari pengalamannya membuat dua judul film, di tahun 2014, berbekal peralatan kamera seadanya, Faizin mulai memberanikan diri terjun mengikuti Festival Film Tegal. Meskipun, keberuntungan saat itu belum berpihak kepadanya. Film yang ia garap tidak memenangkan satu pun nominasi yang dilombakan.
Berbekal saran masukan dan kritik dari dewan juri Festival Film Tegal serta belajar teknik perfilman dari berbagai sumber, Faiz terus berbenah, menyempurnakan karya filmnya agar layak masuk dalam ajang kompetisi perfilman.
Setahun kemudian, atau tepatnya pertengahan 2015, saat Pemerintah Kabupaten Tegal menyelenggarakan festival filmnya yang pertama, Faiz mengajukan tiga karya filmnya untuk dikompetisikan. Keberuntungan pun kali ini berpihak kepadanya, di mana salah satu film karyanya berjudul Gadis meraih penghargaan terbaik dengan memborong sejumlah nominasi yaitu sutradara terbaik, pemain terbaik, musik terbaik, dan editor terbaik.
Hanya berjalan enam bulan, Faiz kemudian merubah komunitas ini menjadi Skanu Film di awal 2015 karena setelah melalui proses penelusuran bakat dan minat, komunitas yang awalnya hanya beranggotakan 8 orang siswa ini lebih menyukai dunia seni peran dalam perfilman.
Sementara ini, lanjut Faiz, di SMK NU 1 Slawi sendiri belum memiliki jurusan yang secara khusus mendalami keahlian di bidang perfilman seperti teknik produksi dan penyiaran program pertelevisian atau broadcasting, multimedia, animasi maupun desain komunikasi visual.
Prestasinya menjuarai Festival Film Tegal di tahun 2015 bersama Skanu Film telah menjadi pelecut semangatnya berkarya lebih hebat dengan memproduksi sebanyak-banyaknya film, disamping untuk memberikan ruang aktualisasi dan pengalaman bagi peserta didiknya di SMK NU 1 Slawi menyelami dunia perfilman.
Rata-rata, setiap tahun Faiz dan Skanu Film mampu memproduksi sedikitnya empat judul film pendek. Dan sampai dengan hari ini, tercatat sudah lebih dari 45 karya film baik film pendek, film iklan layanan masyarakat maupun film dokumenter yang sudah dibuatnya, baik atas nama probadi maupun komunitas Skanu Film.
Ditanya soal film yang paling membuatnya terkesan, Faiz menuturkan jika film garapannya berjudul Gadis di tahun 2015 adalah karya yang memiliki kesan paling dalam. Menurutnya, film bergenre edukasi untuk mensosialisasikan bahaya AIDS yang dipesan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri di debut awalnya membuat film profesional.
Dari film Gadis ini pula untuk pertama kali karyanya mendapat penghargaan terbaik di Festival Film Tegal 2015 dan menjuarai sejumlah kompetisi film lainnya seperti juara satu festival film se-eks Karesidenan Pekalongan, juara satu festival film tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan Unnes, dan juara satu festival film tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan LP Maarif NU.
Di tahun 2016, Faiz pun mengikuti ajang kompetisi film tingkat nasional yang diselenggarakan PT Kantor Pos Indonesia di Bandung dengan mengikutsertakan karya filmnya berjudul Surat untuk Presiden. Pada festival film yang melibatkan Deddy Mizwar sebagai dewan jurinya ini, Faiz menyabet empat nominasi terbaik.
Faiz menuturkan, dengan teknik yang tepat, film tidak saja mampu menghibur penontonnya, tapi juga mengedukasi tanpa kesan menggurui. Sehingga di sini, sineas juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengangkat isu yang paling dekat dengannya, seperti soal keberagaman daerah, permasalahan sosial hingga pelayanan publik.
Meski demikian, menurutnya, potensi perfilman di Kabupaten Tegal tidak akan pernah surut hanya karena kendala biaya produksi. Adanya komunitas perfilman yang diisi sineas-sineas muda berbakat yang sedang mencari pengalaman, termasuk dari anak-anak sekolah menjadikan logika keekonomian film menjadi dikesampingkan.
This is evident in the growing number of Indonesian films screened at a many renowned film festivals around the world. It is an important achievement that is inspiring film communities and young filmmakers from across the archipelago to produce their own work and enter them in film festivals, both national and international.
The Film, Music and Media Directorate of the Ministry of Education, Culture, Research and Technology has embraced this enthusiasm among local film communities and filmmakers by launching its annual Short Film Production Competition in 2021.
Every year since, the competition has received over 300 entries. Of these, 10 entries are selected as the best films and win prizes that include funding for future productions and mentoring from national and even international filmmakers.
Aspiring filmmakers can also submit their film proposals for a chance at winning one of 25 spots on the NYFA Short Course. The top 10 participants of the Short Course will be given additional facilities and guidance to produce their films, including a film production workshop during which they will be mentored by professional filmmakers.
Malang, Ditjen Diksi - Setelah sukses merilis film Cita-Citaku Setinggi Balon (CCSB) pada Februari lalu, SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali memulai produksi film layar lebar terbaru berjudul Laundry Story: Cinta di Ujung Senja. Produksi film ini sekaligus membuktikan bahwa SMK tidak hanya bisa membuat film pendek, tetapi juga mampu membuat film layar lebar.
Ageism merupakan stereotip, prasangka, atau prilaku diskriminasi berdasarkan usia. Pada kehidupan sehari-hari kebanyakan ageism ditujukkan kepada lansia meskipun dapat juga terjadi pada anak muda. Seperti yang dikonstruksikan oleh film, dimana lansia digambarkan sebagai beban bagi sebagian masyarakat. Film merupakan media penyampaian pesan yang efektif dan mudah dipahami. Peneliti menggunakan Film Sweet 20 sebagai objek penelitian karena terdapat sebagian adegan yang merujuk pada realitas ageism. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana ageism direpresentasikan dalam film Sweet 20. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes. Melalui denotasi, konotasi dan mitos dalam teori Barthes, peneliti dapat memahami makna ageism dalam film tersebut. Hasil penelitian diperoleh terdapat bentuk-bentuk atau perilaku yang dimaknai sebagai tindakan ageism terhadap lansia dan anak muda.
Berangkat dari lagu populer, Mendung Tanpo Udan siap diangkat ke layar lebar dengan judul sama. Lagu ciptaan Kukuh Prasetya atau dikenal dengan nama panggung Kukuh Kudamai ini, sebelumnya juga telah diadaptasi menjadi sebuah novel yang ditulis oleh Fairuzul Mumtaz. Novel ini lantas dikembangkan bersama Gianluigi Christoikov yang didapuk menjadi penulis naskah.
Mengambil lokasi syuting di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul, Kris Budiman selaku sutradara menyampaikan hal ini dilakukan karena ia berkiblat pada latar belakang dalam novel. Selama 15 hari produksi, Kris berharap film yang ia garap ini dapat diterima masyarakat secara luas.
f448fe82f3