Halo Guys, mungkin sebagian dari lo ada yang inget kalo tahun lalu gua sempet nulis artikel yang berisi list buku-buku rekomendasi yang gua jamin pasti keren. Nah, kalo di artikel sebelumnya gua bahas buku-buku bergenre popular-science dan literatur sastra Indonesia, kali ini (sebagaimana janji gua di artikel lama), gua akan melanjutkan list rekomendasi buku yang (menurut gue) PASTI KEREN dengan genre SASTRA KLASIK DUNIA.
Buat lo yang ngerasa lumayan sering baca buku, jangan heran kalo beberapa buku rekomendasi gua di bawah ini gak pernah lo denger judul atau nama pengarangnya, bahkan mungkin gak pernah lo lihat nongol di toko buku langganan lo. Apa boleh buat, emang toko buku populer di Indonesia rasanya agak jarang menampilkan buku-buku sastra legendaris dunia, mungkin karena memang minat baca buku sastra di Indonesia itu sedikit. Jadi apa boleh buat, buku-buku rekomendasi gua ini emang bisa dibilang cukup langka dan pastinya bukan kategori buku sembarangan yang bisa dengan mudah lo beli di toko buku terdekat.
Tapi, kalo lo bisa memilah buku sastra klasik yang bener-bener tepat, ada banyak banget ilmu yang lo bisa dapatkan dengan membaca sastra. Dengan membaca sastra klasik kita jadi bisa melihat banyak perspektif baru dari para penulis yang hidup puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu. Kita seperti menembus ruang dan waktu untuk memahami begitu banyak hal yang ingin diungkapkan penulis, bisa jadi sebuah gagasan, perspektif, ideologi, ungkapan kekecewaan, atau pemaknaan peristiwa sejarah besar dari sudut pandang lain di luar kajian akademis. Dengan membaca sastra, kita bisa belajar sejarah tidak hanya dari sudut pandang kumpulan fakta dan dokumentasi akademik saja, tapi juga mengerti bahkan seolah-olah ikut terlibat bersama dengan perasaan orang yang mengalaminya secara langsung. Membaca sastra juga akan membuat kita mempertanyakan kembali pandangan yang selama ini kita anggap benar, membuka sudut pandang baru, serta menumbuhkan kepekaan sosial.
Wah, emang apa istimewanya sih buku ini sampai-sampai begitu disambut positif oleh para pecinta buku sastra klasik di seluruh dunia? Bagi gue pribadi, jawabannya terletak pada bagaimana buku ini menghantam telak pada salah satu dari penyakit umat manusia yang paling kronis, yaitu kecenderungan untuk berprasangka buruk, bias subjektif dalam menilai seseorang, serta menghakimi orang lain berdasarkan warna kulit dan latar belakang sosial.
Hal ini mungkin kita anggap persoalan yang sepele dan sangat wajar terjadi dimana-mana. Tapi berapa banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa penyakit ini telah banyak menggerogoti rasa kemanusiaan kita dalam bermasyarakat. Sejauh mana kita menyadari bahwa pemikiran kolektif terhadap sekelompok manusia menjadi akar dari masalah rasisme, intoleransi antar kelompok masyarakat, bahkan golongan individu tertentu.
Harper Lee telah begitu jeli menggambarkan titik permasalahan ini di tahun 1960. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama seorang gadis kecil yang polos, Lee mengisahkan kehidupan sebuah keluarga dengan setting tahun 1930 di sebuah kota kecil di Alabama, Amerika Serikat. Dari kacamata gadis ini, kita diajak untuk melihat bagaimana nilai-nilai keadilan itu perlu ditegakkan dengan penuh perjuangan, terutama pada masa ketika isu rasialis pada orang berkulit hitam masih menghantui Amerika. Buku ini seolah-olah menggebrak dan membangunkan masyarakat di Amerika pada tahun 60an untuk sadar bahwa nilai-nilai keadilan dan kesetaraan harus diperjuangkan sampai tuntas.
Sampai saat ini, buku To Kill a Mockingbird selalu menjadi bacaan wajib bagi para pelajar di Amerika dan banyak belahan dunia yang lain. Gua sangat merekomendasikan buku ini buat lo semua yang ngakunya doyan baca buku, khususnya kalo selama ini lo belom pernah mencicip genre karya sastra klasik dunia.
Tapi bagi kaum muda masyarakat Perancis di akhir abad 18, romantisme dan gejolak revolusi itu bukan cuma dongeng. Bagi mereka, perjuangan revolusi itu nyata dan mereka jalani dengan penuh keberanian untuk meruntuhkan sistem pemerintahan monarki Perancis yang korup, dimana rakyat terus ditekan dengan bayaran pajak setinggi langit, sementara kaum berjois hidup sejahtera dan berfoya-foya. Sampai pada suatu keadaan dimana rakyat Perancis sudah tidak tahan lagi, mereka bangkit secara serentak dan melakukan revolusi, penjara Bastil yang digunakan sebagai simbol kekuasaan monarki diserbu rakyat sipil, para kaum bangsawan ditangkap, diadili, dan dieksekusi langsung oleh rakyatnya sendiri. Ini adalah sejarah revolusi yang betul-betul terjadi di akhir abad 18, sebuah perjuangan yang sangat dramatis, dan pastinya bukan cuma dongeng.
Kisah dalam buku ini mungkin gak menawarkan bacaan untuk hiburan, tapi gua pikir ada sebuah pesan dalam buku ini bisa jadi sangat berguna buat lo semua, terutama bagi para remaja yang lagi dimabuk cinta (yang gak sehat). Rasa cemburu berlebihan, posesif, patah hati yang berujung dendam, dan lain-lain adalah hal-hal yang bisa jadi membuat kehidupan seorang remaja hancur sia-sia, dari tindakan konyol untuk kabur dari rumah, putus sekolah, berantem, mau bunuh diri, dan drama-drama lainnya. Hal-hal seperti ini harusnya bisa dihindari, kalau saja bacaan para remaja yang lagi galau itu membantu mereka dalam menyelesaikan masalah.
Jadi, buat lo yang lagi bermasalah dengan cinta, daripada lo baca teenlit yang hanya akan membuat lo makin hanyut dalam masalah dan kegalauan. Gua tantang lo untuk menelan pil pahit dengan belajar tentang cinta dari buku sastra klasik yang sangat legendaris ini. Kisah cinta dalam buku ini bukan untuk ditiru, tapi justru sebagai peringatan bahwa cinta itu bisa jadi hal yang destruktif jika kita salah dalam menjalaninya. Nah, moga-moga rekomendasi gua untuk baca buku ini bisa memotivasi lo untuk berburu buku legendaris ini di toko-toko buku impor atau toko buku online.
Ngomong-ngomong emangnya selegendaris apa sih buku ini? Sebagai info aja, edisi pertama buku ini (terbitan 1847) sempat terjual tahun 2007 di rumah lelang Bohams Inggris dengan harga 114.000 atau +/- Rp 2,4 milyar! Sekarang lo bayangin aja sebuah karya sastra mampu membuat seseorang rela bayar 2,4 milyar rupiah untuk dapetin edisi pertamanya, pastinya bukan buku sembarangan dong. ?
Buku ini terinspirasi oleh pengalaman langsung dari sang penulis yang telah menjumpai titik nadir dalam kehidupannya yang berhadapan dengan ujung kematian. Pada 30 Desember 1935, Saint-Exupry (sang penulis buku) sekaligus juga pilot berpengalaman hendak memecahkan rekor penerbangan tercepat dari Paris menuju Saigon (sekarang dikenal sebagai Ho Chi Minh, ibukota Vietnam). Pada pukul 02:45 subuh, setelah hampir 20 jam di udara, pesawat berjenis monoplane jatuh di tengah-tengah gurun Sahara, dekat dengan delta Sungai Nil. Dalam kondisi yang tak terbayangkan, Sant-Exupry bersama dengan ko-pilot Andr Prvot berjuang untuk tetap hidup melawan dehidrasi parah sampai mengalami halusinasi. Untungnya di hari keempat pasca kecelakaan pesawat, mereka diselamatkan oleh serombongan suku pengembara yang sedang melintasi gurun dengan menunggangi unta.
Mungkin lo penasaran gimana sih isi dari buku yang isinya penuh metafora dan alegori tapi bisa laku keras di seluruh dunia? Well, buku ini emang dari bentuk luarnya terkesan seperti buku untuk anak-anak, tapi setelah gua baca, isinya jauh lebih tepat ditujukan untuk orang dewasa. Buku ini membawa kita menembus waktu dan kembali pada pemikiran anak kecil yang polos, yang terkadang bisa mengajarkan jauh lebih banyak kebijaksanaan dan perspektif baru dibandingkan sudut pandang orang dewasa yang sudah terkontaminasi oleh banyak kepentingan, seperti uang, kekuasaan, gengsi, popularitas, dan lain-lain.
Anyway, sebetulnya di tahun ini, the Little Prince sempat diangkat dalam bentuk film animasi. Berikut di bawah ini gua akan tampilkan salah satu trailernya. Terlepas dari itu, sebetulnya gua gak menyarankan lo untuk menonton film ini sebelum lo baca bukunya, karena kemungkinan sih lo akan banyak miss / gak ngerti makna film ini kalo gak baca bukunya dulu.
Nah, demikianlah 5 list bacaan sastra klasik dunia yang gua pikir perlu banget dibaca sama lo, terutama untuk mengisi liburan akhir tahun. Sebetulnya masih ada banyak banget buku sastra klasik yang keren-keren, tapi karena pertimbangan demografi pembaca, gua hanya mengulas buku-buku yang menurut gua cocok untuk para pelajar/mahasiswa. Terlepas dari itu, gua tetap akan memberikan beberapa list bacaan sastra klasik lain yang gak kalah keren dengan yang gua bahas di atas, berikut di antaranya:
Buku2 sastra klasik seperti ini sih seharusnya akan tetap terus diterbitkan ulang ya. Beberapa tahun yg lalu sempat lihat terjemahan bhs indonesia utk buku 1984, the little prince, to kill a mockingbird. Mungkin di toko buku populer sekarang masih ada sisa stock. Harusnya ke depannya juga toko2 buku populer harus tetap bisa mempopulerkan karya2 klasik dunia.
Wah, rekomendasinya keren2. Personally prefer Dostoevsky over Tolstoy karena buku2 Tolstoy itu puaanjang banget dan fokus ceritanya luas banget. Sherlock Holmes baru baca beberapa yg klasik aja seperti a Study in Scarlet & the Hound of Baskervilles.
Untuk nomor 2 & 3 gua belum pernah baca nih. Pengarang Jepang yg gua sempet baca karyanya cuma Murakami, Natsume Soseki, dan Koushun Takami.
Gua sih bacanya semua versi yang bahasa inggris ya, soalnya entah kenapa terjemahakan ke bahasa indonesia itu seringkali kurang enak. FYI: baca sastra yang bener itu emang sebaiknya menggunakan bahasa asal pengarangnya spy maknanya gak terkikis oleh terjemahan, tapi pada umumnya sih terjemahan ke bahasa inggris udah cukup bagus. (untuk karya klasik dari pengarangnya gak nulis pk bhs inggris)
Gue doyan baca, tapi masih sekitaran buku-buku Enid Blyton atau malah Meg Cabot. Bahkan ngga ada satupun karya dari penulis yang gue agung-agungkan ini masuk list lo yang keren abis. Wajar sih, latar belakang keduanya ngga seram-seram amat dan karya mereka jelas non-klasik.
Ternyata zona membaca gue masih sesempit ini. Pantesan kebanyakan galau ngga jelas. Ibaratnya membaca itu jendela dunia, maka gue banyak membaca tapi yang kurang tepat atau ya, kurang bermanfaat. Jadi dunia yang keliatan dari jendela gue juga ga seberapa keren.
c80f0f1006