JAKARTA - Wali Songo adalah sembilan tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa pada abad ke-14 hingga ke-18.Istilah Wali Songo berasal dari kata wali (bahasa Arab) yang artinya wakil dan sanga (bahasa Jawa) yang artinya sembilan. googletag.cmd.push(function() googletag.display("div-gpt-ad-1510661249458-0"); );Kesembilan tokoh tersebut dipanggil dengan sebutan sunan yang berasal dari kata susuhunan. Gelar sunan hanya diberikan untuk orang-orang yang diagungkan dan dihormati.Berikut kesembilan tokoh Wali Songo yang terkenal.1. Sunan GresikNama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim. Tahun lahirnya tidak diketahui, tetapi beliau wafat di tahun 1419.Sunan Gresik merupakan wali pertama dalam jajaran Wali Songo.Berdasarkan silsilahnya, Sunan Gresik merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad SAW. melalui Siti Fatimah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib.Sunan Gresik merupakan bapak dari Sunan Ampel. Selain itu, beliau juga merupakan kakek dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat.Nama Sunan Gresik dibuat karena beliau berdakwah paling lama di Gresik, Jawa Timur.Penyebaran ajaran Islam Sunan Gresik ini dengan cara berdagang sampai hal ini membuat beliau bertemu dengan Raja Majapahit.Beliau adalah pendiri masjid pertama kali di Desa Pasucinan, Manyar. Selain itu, beliau juga menjadi tokoh pertama yang membangun pesantren.2. Sunan Gunung JatiNama aslinya adalah Syarif Hidayatullah. Putra dari pasangan Syarif Abdullah Umadatuddin bin Ali Nurul Alam dan Nyi Mas Rara Santang ini lahir pada 1448.Nama Sunan Gunung Jati diberikan karena beliau dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon pada 19 September 1569.Berdasarkan silsilahnya, Sunan Gunung Jati merupakan keturunan ke-17 Rasulullah SAW. melalui Sayyid Husain dan cucu dari raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.Beliau berperan dalam penyebaran Islam di Cirebon, Jawa Barat.Cara penyebarannya menggunakan budaya Jawa, yaitu gamelan sebagai medianya. Masyarakat yang ingin menontonnya harus membayarnya dengan cara mengucapkan dua kalimat syahadat.3. Sunan AmpelNama aslinya adalah Raden Rahmat yang lahir di Kerajaan Champa, Vietnam. Beliau merupakan tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur.Sunan Ampel merupakan sunan pertama di Demak dan pemimpin asli Wali Songo.Berdasarkan silsilahnya, Sunan Ampel merupakan anak dari putri Raja Champa. Beliau juga merupakan keponakan Raja Majapahit, sepupu Raden Patah.Nama Sunan Ampel berasal saat beliau berdakwah pertama kalinya di Ampeldenta, Surabaya.Cara berdakwah Sunan Ampel sangat pintar. Mulai dari mengajarkan moh limo yang terdiri dari tidak berjudi, tidak mabuk, tidak mencuri, tidak mengisap obat-obatan, dan tidak berzina.Setelah itu, penggantian nama sungai Brantas menjadi sungai Kali Emas agar banyak orang yang berdatangan. Di saat itulah Sunan Ampel mengambil celah untuk menyebarkan ajaran Islam.Peninggalan beliau yang paling terkenal adalah Masjid Agung Demak yang didirikan bersama Raden Patah.
Semasa mudanya, Sunan Kalijaga merupakan berandalan yang sering melakukan kejahatan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes pemerintahan Tuban yang membiarkan rakyatnya kelaparan, tetapi malah menarik pajak dan upeti mereka.
Walisongo dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 15 dan 16. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo ini adalah sebuah dewan yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) pada tahun 1474. Saat itu dewan Walisongo beranggotakan Raden Hasan (Pangeran Bintara); Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, putra pertama dari Sunan Ampel); Qasim (Sunan Drajad, putra kedua dari Sunan Ampel); Usman Haji (Pangeran Ngudung, ayah dari Sunan Kudus); Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri, putra dari Maulana Ishaq); Syekh Suta Maharaja; Raden Hamzah (Pangeran Tumapel) dan Raden Mahmud.
Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
7fc3f7cf58