Teka Teki Terakhir Pdf

1 view
Skip to first unread message

Terpsícore Deckelman

unread,
Aug 4, 2024, 11:51:27 PM8/4/24
to dustjabbobswild
Gosipnyasuami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut. Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu. Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya.

Annisa Ihsani memiliki ketertarikan terhadap teka-teki logika sejak tahun pertamanya sebagai mahasiswi jurusan ilmu komputer. Setelah mendapatkan gelar master dari University of Groningen, ia mulai menulis novel Teka-Teki Terakhir yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2014)


Di kota tempat Laura tinggal berembus gosip bahwa pasangan Maxwell merupakan ahli kimia gila, beberapa orang lainnya mengatakan mereka ahli botani yang meneliti tanaman langka. Laura dan kakaknya, Jack, malah semasa kecil percaya bahwa keduanya adalah penyihir.


Sejak kejadian bertemu Tuan Maxwell untuk pertama kali, Laura akhirnya memberanikan diri berkunjung ke rumah keluarga Maxwell. Ia berkenalan dengan Eliza, yang dipanggilnya Nyonya Maxwell, dan dari kunjungan itu ia mengetahui bahwa suami istri Maxwell adalah sepasang Profesor Ahli Matematika.


Dari kunjungan-kunjungan selanjutnya, Laura mendapatkan banyak pengetahuan tentang matematika. Ia yang semula mendapatkan nilai nol di sebuah kuis, akhirnya bisa memperoleh nilai 81 di kuis dadakan matematika berikutnya.


Sampai suatu hari pasangan Maxwell mendapat kabar bahwa ahli matematika lain telah membuktikan Teorema Terakhir Fermat. Dan berita itu kemudian mengubah kehidupan pasangan Maxwell dan juga kehidupan Laura.


Ini pertama kalinya saya membaca novel yang tema utamanya adalah matematika. Banyak informasi tentang matematika yang disampaikan, semacam: Hipotesis Riemann, Konjektur Goldbach, Teorema Incompleteness, dan juga para ahli logika dan ahli matematika, seperti: Gottlob Frege, Bertrand Russell, Alfred Whitehad, dan masih banyak lagi.


Membaca novel Teka-Teki Terakhir, saya seakan dibawa menyelami dunia matematika dengan cara yang begitu ringan dan menyenangkan. Sungguh sebuah novel yang memberikan pengetahuan dan kesenangan sekaligus.


Saya mau membuat pengakuan jujur. Walaupun saya amat sangat suka membaca, saya tidak suka membaca novel. Sedikiit sekali saya novel yang pernah saya baca, itu pun hanya yang best seller nasional atau internasional. Beberapa di antaranya seperti Laskar Pelangi, 5 cm, The Alchemist, salah satu buku Harry Potter, saking sedikitnya saya sampai tidak ingat yang lain, hahaha. Mengapa? Hmm, masalah preferensi saja. Saya jauh lebih suka membaca buku-buku non-fiksi.


Sampai pada akhirnya bulan lalu, sebuah judul novel baru mengusik perhatian saya. Teka Teki Terakhir, karya dari Annisa Ihsani. Ia adalah salah seorang teman dekat saya, kami satu SMA dan satu jurusan kuliah. Memang, rasanya akan sangat jahat untuk tidak membeli dan mengapresiasi karya pertama kali seorang teman dekat. Tapi bukan itu yang membuat saya akhirnya memutuskan membeli buku Teka Teki Terakhir ini.


Pertama, Nisa cerita, ini adalah pertama kalinya ia mengirim naskah novel ke penerbit, dan langsung diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama! Saya tahu bahwa ribuan naskah ditolak oleh penerbit tiap bulannya, maka novel ini pasti bukan novel kacangan.


Kedua, tema yang diangkat oleh Nisa di buku ini unik banget. Serius. Umumnya, saya cuma tahu kalau tema novel itu kalau nggak misteri, thriller atau detektif, science fiction, fantasy, atau tema sehari-hari seperti keluarga atau pendidikan. Tapi, Nisa memasukkan tema matematika! Dalam buku ini, bertebaran konsep-konsep matematika murni maupun nama-nama ahli matematika yang pasti 99% dari kita tidak pernah mendengarnya.


Saya dan Nisa dulu sama-sama kuliah Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Apa yang kami pelajari di sana, sebagiannya tertuang ada di buku ini. Nisa, yang bakat dan minatnya sangat kuat di bidang ini, pun menyelesaikan kuliah masternya pada jalur yang sama. Jadi saya bisa bilang ini bukan novel fiksi ilmiah atau fantasi, ini adalah novel ilmu pengetahuan ilmiah.


Tanpa sadar, setelah membaca novel ini kamu jadi ngerti tentang konsep-konsep logika matematika, teorema, aksioma, konjektur, pembuktian matematika, hipotesa, dan sebagainya. Seandainya saja Nisa menulis buku ini sebelum saya masuk kuliah, niscaya nilai saya pada mata kuliah matematika diskret di kampus tidak akan C! >_


Secara umum, novel Teka Teki Terakhir ini memiliki jalan cerita yang amat logis dan runtut, klimaks yang jleb, penggambaran karakter yang mendalam serta konflik yang masuk akal dari para tokoh-tokohnya. Novel ini juga menyajikan ilmu dan inspirasi besar yang bisa diambil tanpa menggurui, serta yang paling penting adalah emosi yang membawa kita masuk ke dalam dunia di novel ini. Semua aspek sukses di novel-novel best seller yang pernah saya baca, saya temukan juga saat menutup halaman terakhir Teka Teki Terakhir.


Mungkin teman-teman sama sekali tidak akan percaya kalau ini adalah novel pertama Nisa. Tapi saya sendiri akan percaya, karena saya tahu Nisa adalah seorang penggila novel dari dirinya kecil dahulu. Ditambah lagi kecintaannya yang luar biasa terhadap dunia ilmu matematika, ya hasilnya jadi Teka Teki Terakhir ini!


Terakhir, sebelum menutup catatan ini, saya mau mengutip satu percakapan dari Teka Teki Terakhir yang menurut saya merupakan pesan utama yang ingin Nisa sampaikan kepada pembaca. Sesuatu yang saya aminkan dan saya jadikan salah satu value saya dalam hidup ini.


Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.


Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.


Setelah mendengarkan buku Mencari Simetri karya Annisa Ihsani, saya jadi mencari buku lain dari penulis yang sama. Ternyata ada buku Teka-Teki Terakhir, dengan genre teenlit alias buku untuk anak remaja.


Kalau buku sebelumnya tokohnya tentang wanita usia 29 tahun, kali ini tokohnya Laura, seorang anak berusia 12 tahun. Buku ini cocoknya memang untuk anak usia tersebut, tetapi menarik kok buat disimak oleh orang dewasa juga, terutama kalau pembaca yang suka dengan teka-teki logika dan sekitar matematika.


Seperti biasa, daripada mengetik ulang, sinopsisnya saya ambil dari Goodreads. Cerita ini berlangsung di sekitar tahun 1992 yang dialami oleh Laura, gadis berusia 12 tahun yang sering ke rumah tetangganya pasangan Maxwell di Jalan Eddington, Littlewood.


Awalnya Laura selalu takut ketika harus melewati rumah tetangganya itu, banyak yang bilang yang menempati rumah itu adalah pasangan penyihir atau ilmuwan gila. Tetapi, ketika Laura mendapat nilai 0 di kertas kuis mateamatikanya, dia diajak ngobrol oleh tuan Maxwell yang kemudian meminjamkannya buku tentang angka 0 tersebut.


Walaupun awalnya takut dengan pasangan Maxwell dan rasa tidak suka dengan pelajaran matematika, ternyata setelah membaca buku yang dipinjamkan itu, Laura menemukan ketertarikan pada matematika. Apalagi ketika dia ingin mengembalikan buku tersebut, dia malah diijinkan memilih buku lain untuk diambil dari koleksi perpustakaan keluarga Maxwell.


Setelah mengetahui kalau anggapan orang-orang tentang keluarga itu tidak benar, Laura jadi sering mengunjungi pasangan Maxwell. Tujuan utama biasanya ingin mendapatkan buku bacaan, tetapi selain itu dia merasa obrolan yang didapatkan dari pasangan Maxwell membuatnya semakin menyukai matematika.


Membaca buku ini terasa semakin menarik karena seperti membaca sedikit artikel tentang kehidupan matematikawan dalam usahanya membuktikan berbagai teorema diantara cerita fiksi. Misalnya saja diceritakan berhasilnya ditemukan pembuktian dari Teorema Terakhir Fermat yang sudah menjadi misteri buat banyak matematikawan sejak tahun 1637 dan akhirnya berhasil dibuktikan di tahun 1994.


Ada cerita khas remaja di dalamnya, tentang bagaimana hubungan Laura sempat renggang dengan sahabatnya karena merasa diabaikan, juga ada bagian bagaimana Laura merasa perlu membela anggapan yang salah tentang tetangganya itu kepada teman-temannya.


Sekilas saya sempat berpikir kalau buku ini adalah buku karya penulis asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apalagi karena lokasi cerita ini bukan di Indonesia, berbeda dengan buku sebelumnya karya penulis yang sama.


Saya jadi mencari tahu, siapa sih Annisa Ihsani ini dan kenapa dia menulis cerita fiksi yang banyak ilmu matematikanya? Ternyata penuilsnya memang bukan penulis fiksi biasa. Annisa Ihsani ini dulu kuliahnya Ilmu Komputer UI, lanjut S2 di Malta dan juga kuliah lagi di Groningen untuk ilmu Linguistik. Buku Teka-Teki terakhir ini merupakan buku pertamanya.


Ada beberapa buku lain karya Annisa Ihsani selain yang sudah saya dengarkan, sayangnya baru ada 2 saja di Storytel. Mungkin kalau rajin, bisa juga sih baca buku lainnya yang siapa tau ada di Gramedia Digital atau iPusnas.


Hello there! We take your privacy seriously, and want to be as transparent as possible. So: We (and our partners) use cookies to collect some personal data from you. Some of these cookies we absolutely need in order to make things work, and others you can choose in order to optimize your experience while using our site and services. It's up to you!

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages