Ilmu hadits dirâyah, meski tidak terlalu banyak dikaji sebagaimana halnya ilmu hadits riwâyah, sangat penting untuk menimbang apakah suatu hadits itu benar bersumber dari Rasulullah atau tidak, atau bisa saja ia hadits palsu, atau bahkan tidak bersumber sama sekali. Nah, ilmu hadits dirâyah inilah yang juga kita kenal dengan nama ilmu musthalah hadits.
Dr Mahmûd Thahhân menyebutkan, setelah Ia menelisik beberapa kitab klasik dalam ilmu hadits memang hampir serupa dengan kedua kitab di atas, Mukaddimah Ibn Shalah dan at-Taqrîb an-Nawawi, yakni pembahasannya tidak komprehensif mencakup ilmu hadits; sebagian lainnya tidak tersusun secara sistematis. Hal tersebut dapat dimaklumi, di antaranya karena pembahasan yang panjang itu sangat diperlukan pada masanya, dan penjelasan yang sangat pendek itu telah jelas sehingga tidak disajikan secara tuntas, atau karena faktor lain yang tidak diketahui.
Kitab Taisîr Mushthalah al-Hadîts disusun secara sistematis dan berurutan. Diawali dengan definisi secara bahasa dan istilah, penjelasan dari definisi, syarat dan hukumya, bagian-bagiannya, contoh-contohnya, dan kitab terkenal dalam topik itu. Susunan yang sistematis ini membuat para pelajar tidak jenuh dan ringan dalam memahami pemetaan ilmu musthalah hadits.
Kendati sangat sistematis dan rapi, kitab ini mungkin membosankan bagi sebagian orang yang lebih menyukai bentuk narasi-narasi deskriptif dibanding poin-poin intisari dari sebuah topik pembahasan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena kitab ini disusun untuk pelajar pemula, adapun yang sudah melewati masa permulaan, dapat membaca langsung ilmu musthalah hadits seperti Mukaddimah Ibnu Shalah atau at-Taqrîb an-Nawawi, yang pada keduanya ada sebagian topik yang tidak disinggung secara komprehensif di Taisîr Musthalah Hadits.
b9b4d2437c