Dear All,
Hendak berbagi kisah inspiratif yang saya dapat disiang ini, mohon ijinnya dan semoga tidak repost
===================================================================================
Siapa yang tidak kenal dengan Mustafa Al-'Aqqad? Ia adalah seniman dan
sutradara asal Suriah. Dialah sutradara Muslim terbesar abad ini.
Melalui filmnya yang kesohor dan ditonton puluhan juta dan mungkin
ratusan juta manusia "Arrisalah / The Messeage". Namanya menyaingi dan
bahkan melebihi seniman dan sutradara film-film Hollywood sekalipun.
Inilah yang beliau kisahkan sebelum meninggal dalam kecelakaan pesawat
pribadinya beberapa tahun lalu.
Beliau mengisahkan: Ibuku tak
selalu mengatakan yang sebenarnya. Ibuku berbohong padaku 8 kali.
Kisahnya bermula sejak kelahiranku. Aku adalah anak tunggal yang
dilahirkan dalam keluarga yang amat miskin. Saking miskinnya, seringkali
keluargaku tidak makan. Bila keluargaku dapat membeli beras sesekali,
ibuku selau memberikan jatahnya untukku. Ia selalu bilang padaku,
"Makanlah nak... Ibu tidak lapar." Inilah kebohongan ibuku yang pertama
yang aku catat.
Saat aku mulai beranjak besar, aku ingat kami
jarang sekali makan ikan. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ibuku
selalu pergi ke sungai kecil di belakang rumah kami dan memancing di
sana. Tak lain harapannya ialah agar aku bisa makan ikan supaya aku
mendapatkan gizi dan bisa tumbuh dengan sehat.
Suatu hari,
berkat karunia Allah, ibuku mendapat dua ekor ikan. Setelah ia
memasaknya, ia menyajikan kedua ikan yang tak terlalu besar itu padaku.
Lalu aku sodorkan satu ikan itu pada ibuku dan dia berkata, "Silahkan
kamu makan nak, ibu tidak suka ikan." Inilah kebohongan ibuku yang
kedua.
Aku sangat shock karena setelah aku makan ikan yang
pertama, ibuku mengambil sisa-sisa daging yang menempel ditulang ikan
itu dan memakannya. Namun aku diam, tak bisa bicara sepatah katapun.
Setalah memasuki usia sekolah, aku ingin sekali bersekolah, namun
keluargaku tidak punya uang untuk membayar biaya sekolahku. Lalu ibuku
pergi ke pasar menjadi sales keliling salah satu toko pakaian wanita
untuk menawarkan berbagai pakaian door to door alias dari rumah ke rumah
di kampung kami.
Pada suatu malam hujan dan cuaca dingin
sekali, ibuku belum juga pulang. Aku mencoba mencarinya ke jalan yang
tidak jauh dari kampung kami. Tiba-tiba aku melihatnya sedang mengetuk
pintu rumah salah seorang penduduk untuk menawarkan baju-baju yang
dibawanya. Aku mamanggil ibuku sambil berkata, "Sudahlah bu... mari kita
pulang, sudah terlalu malam dan cuaca dingin sekali, ibu bisa lanjutkan
besok lagi." Lalu ia menjawab dengan senyum, "Wahai anakku, aku belum
capek." Inilah kebohongan ibuku yang ketiga padaku.
Pada suatu
hari waktu aku ujian di sekolah, ibuku memaksakan diri untuk pergi
menemaniku di sekolah selama aku mengikuti ujian. Akupun masuk kelas dan
ibuku menunggu di luar. Saat lonceng istirahat berbunyi, aku lihat ibu
berdiri di lapangan di mana panas matahari begitu teriknya. Lalu aku
menghampirinya dan ibuku langsung memeluk dan mendekapku dengan sangat
erat penuh kasih sayang. Ia memberikan kabar gembira padaku, berkat
taufik Allah jua ia mendapat satu gelas minuman kesukaanku yang sudah ia
beli sebelumnya agar aku bisa meminumnya saat istirahat ujian. Akupun
meminumnya dengan begitu semangat karena aku sangat haus waktu itu.
Kendati ia mendekapku erat-erat, namun aku merasakan begitu dingin dan
nyamannya suasana saat itu. Lalu aku menatap wajah ibuku. Aku melihat
dari wajahnya keringat mengucur keluar. Segera aku berikan gelas itu
kepadanya sambil berkata, "Minumlah wahai ibu." Lalu ia menjawab, "Wahai
anakku, minumlah semuanya, aku tidak hau." Inilah kebohongan ibuku yang
keempat.
Setelah ayahku wafat, ibuku hidup menjanda. Maka
semua tanggung jawab rumah tangga menjadi kewajibannya sendiri. Ia
berkewajiban memenuhi semua kebutuhan rumah. Dengan demikian, hidup
terasa semakin kompleks. Pamanku adalah orang yang sangat baik dan
sering mengirimkan makanan pada kami. Ketika ibu-ibu tetangga melihat
kondisi kehidupan kami semakin memburuk, mereka menyarankan ibuku untuk
menikah lagi agar ada yang menanggung beban kehidupan, apalagi ibuku
masih sangat muda. Lalu ibuku menolaknya sambil berkata, "Saya tidak
butuh cinta." Ini adalah kebohongan ibuku yang kelima.
Setelah
aku selesai kuliah, aku langsung mendapat pekerjaan yang cukup baik dan
aku yakin inilah saatnya aku membahagiakan ibuku agar ia istirahat dan
biarlah aku yang menanggung semua kewajiban dan tanggung jawab rumah
kami. Waktu itu, kesehatannya sudah jauh berkurang sehingga tidak
mungkin lagi menjadi penjual keliling seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia
malah membuka lapak dengan menggelar sebuah tikar di pasar sambil
berjualan sayuran. Ketika aku gagal membujuknya untuk meninggalkan
pekerjaan itu, aku menyisihkan sebahagian gajiku untuknya. Namun dia
menolaknya sambil berkata, "Wahai anakku, simpanlah uang itu untuk masa
depanmu, aku masih ada uang cukup untuk kehidupanku." Inilah kebohongan
ibuku yang keenam.
Sambil bekerja, aku meneruskan kuliahku
tingkat master (S2). Alhamdulillah akupun berhasil lulus dengan baik.
Gajikupun naik bahkan perusahaan Jerman tempat aku bekerja memberikan
kesempatan padaku untuk bekerja di kantor cabang utamanya di Jerman.
Saat itu aku sangat bahagia sekali. Aku mulai memimpikan permulaan baru
dan kehidupan baru. Setelah aku pindah ke Jerman dan menyiapkan segala
sesuatu, aku menghubungi ibuku agar ia mau hijrah ke Jerman bersamaku.
Namun jawabannya mengecewakanku dan beliau tidak mau tinggal bersamaku
di Jerman dengan alasan tidak mau menyulitkanku sambil bekata, "Wahai
anakku, aku tidak terbiasa hidup mewah." Inilah kebohongan ketujuh
ibuku.
Ibukupun tua, sampai usia renta. Ia mendapat cobaan
penyakit kanker dan mengenai matanya. Seharusnya, di sampingnya ada
orang yang ia cintai merawatnya. Namun apa hendak di kata, aku dengannya
hidup dengan jarak yang dibatasi beberapa negara. Aku tinggalkan semua
yang ada di Jerman dan aku pulang menemaninya. Aku temukan ibuku sedang
terbaring di atas dipan setelah menjalankan operasi. Saat ia melihatku,
ia mencoba tersenyum padaku. Namun, hatiku terkoyak menyaksikan ibuku
bukan seperti dulu lagi. Fisiknya sudah kurus kering dan sangat lemah.
Ia bukan lagi seperti ibuku yang ku kenal sebelumnya. Airmataku mengalir
membasahi pipiku dan aku tidak bisa menahan perasaan sedihku. Namun ia
mencoba menenangkan perasaanku sambil berkata, "Jangan menangis anakku,
aku tidak merasakan sakit apa-apa." Sesaat setelah ucapannya itu, ia
menghembuskan nafasnya yang terakhir dan akupun menutupkan matanya yang
tidak akan pernah terbuka lagi di dunia.
Kepada semua saudaraku
yang masih diberi nikmat ibu yang masih hidup. Jagalah nikmat itu
baik-baik sebelum anda bersedih atas kehilangannya. Kepada saudaraku
yang ibu tercintanya sudah tiada, ingat selalu betapa capek dan besarnya
pengorbanan yang ia berikan kepada kita. Jangan lupa doakan agar
ia/mereka berlimpahkan rahmat dan ampunan Allah di alam barzakh.
Aku cinta padamu ibu...
Sumber :
http://www.eramuslim.com/oase-iman/fathuddin-jafar-ibu-teladan-yang-melahirkan-orang-besar.htmBR//Hari W