Fwd: ParaKonTel : [OOT] Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM

2 views
Skip to first unread message

Maulana ALFauzi

unread,
Jun 23, 2011, 10:15:22 PM6/23/11
to doep...@googlegroups.com, sasa_...@yahoo.co.id, saifudd...@yahoo.co.id, rainyta, Rainyta, supeg...@yahoo.co.id
fyi

---------- Pesan terusan ----------
Dari: akhmad Rizky <akhmad...@gmail.com>
Tanggal: 22 Juni 2011 18:56
Subjek: Re: ParaKonTel : [OOT] Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM
Ke: parak...@googlegroups.com


Dear agan2...

MOHON DIBROADCAST DI MILIS2 ..

LAYANAN JENAZAH GRATIS BAGI KAUM DHUAFA
-------------------------------------

Untuk teman2 semua jika melihat kejadian keluarga tak mampu meninggal dan perlu ambulan seperti kasus menggendong anaknya dari RSCM Ke Bogor, silakan hubungi saya Adhiatmoko di
02195347986.

Kami punya 2 unit ambulance jenazah gratis dari memandikan, mengkafani hingga mengantar dari jadebotabek ke Lampung dan Jawa.

Setiap hari kami melayani jenazah dari keluarga tdk mampu.

Semoga info ini bermanfaat dan kejadian seperti ini bisa kita bantu bersama-sama.

Dengan memberi info saja sudah amat membantu mereka.

Jenis layanan ambulance gratis ini untuk:
1. Asal jenazah jadebotabek karena basecamp nya di Sawangan, depok.

2. Tujuan antar: lampung dan Jawa (karena kami baru mampu jangkau jarak itu)

3. Layanan: memandikan, memberi kain kafan, sampai kami antar ke kuburan.

Semoga info ini bermanfaat dan mengurangi beban bersalah kita sebagai insan.

Dikirim pake BlekBeri-ku® Bukan pake burung merpati dan bukan juga dari kantor pos, wartel, warnet, apalagi warteg!


From: Budiarto Sinaga <bsin...@gmail.com>
Date: Wed, 22 Jun 2011 13:45:49 +0700
Subject: Re: ParaKonTel : [OOT] Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM

Dear Om Dimas,

merujuk pada sumber : http://blog.kompasiana.com/2011/06/21/respon-atas-surat-klarifikasi-jenazah-an-hairunnisah/

Apakah Anda member Kompasiana ? kalau "ia"

tolong di update kan postingan ini,,, supaya rekan2 yang memabacanya tidak salah cerna alias salah kapra..

Salam hangat...

2011/6/21 Akhmad Rizky <akhmad...@gmail.com>

Sekedar sharing keabsahan cerita…

Percaya atau nggak, cerita itu emang beneran terjadi di decade 80-an, lupa tahun tepatnya tahun berapa.

Antara tahun 1984 sampai 1988 (kalo nggak salah ingat), kakak tertua saya termasuk pengurus majalah Sabili yang adalah majalah rohani kepengurusan mahasiswa2 UI. Kebetulan saat kejadian tersebut ada beberapa pengurus majalah tersebut yang salah satunya adalah kakak saya, turut menyaksikan. Sempat juga mereka menawarkan untuk singgah dulu ke kantor redaksi untuk diantar pulang oleh mereka namun sang bapak tidak mau karena takut nggak dapat kereta karena memang waktunya udah menjelang sore. Akhirnya mereka hanya bisa mengantarkan dengan bajaj, bukan jalan kaki dari RSCM ke Stasiun kereta seperti dalam cerita dibawah. Memang masyarakat sekitar juga turut membantu presis seperti cerita tersebut.

Akhirnya cerita tersebut pun ikut masuk dalam cerita majalah Sabili tersebut. Hingga beberapa bulan kemudian sang bapak hadir ke kantor redaksi untuk menyampaikan terima kasih nya.

Menurut cerita di edisi berikutnya, beliau sempat curhat juga kalo beliau udah cape dengan nasehat “sabar”, “turut prihatin”, dan sejenisnya karena, katanya, semua yang bilang gitu cuma bisa bilang dimulut tanpa ada bantuan apa2 seperti orang2 kecil yang pernah bantu dia dan jenasah putrinya.

 

Sampai sekarang cerita tersebut masih saya ingat karena emang sangat menyentuh. Padahal jaman itu saya masih SD…

Dan sayangnya jaman itu internet belum ada seperti sekarang jadi mohon maaf, nggak bisa kasih referensi resmi selain “dongeng bocah SD yang sentimental”… :D

 

 

 


From: parak...@googlegroups.com [mailto:parak...@googlegroups.com] On Behalf Of Fadil
Sent: Monday, June 20, 2011 9:30 PM
To: parak...@googlegroups.com
Subject: Re: ParaKonTel : [OOT] Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM

 

Cerita ini tahun 2009 udah di postkan oleh blog ini : http://classically.wordpress.com/2009/07/31/pemulung-naik-krl-untuk-mengubur-anaknya/

 

 

 

 

disini juga di poskan tahun 2005: http://countryjs.blogspot.com/2005_06_01_archive.html

 

Katanya sih berita di Warta Kota... tapi tak cari2 gak nemu source aslinya, cuma dari milis2 gitu... ada yang punya?

 

 

Saya tinggal di Tebet, tapi sekitaran tahun 2005 masih suka pp tebet - dayeuhkolot... sedih sih boleh saja, tapi kalau ceritanya gak bener ntar hanya menambah kebencian terhadap pemerintah dari cerita karangan.

 

CMIIW.

 

Pada 20 Juni 2011 19:55, dimas t.wrehaspati <dimast...@gmail.com> menulis:

Dear Rekans,

Maaf kl repost.

Source : http://m.kompasiana.com/post/regional/2011/06/18/tragis-menggendong-jenasah-anak-dari-rscm-sampai-bogor-karena-tak-mampu-bayar-ambulance/


Tragis, Menggendong Jenasah Anak Dari RSCM Sampai Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulance

Oleh: Johnwilli | 18 June 2011 | 19:17 WIB

Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan JakartaBogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong jenasah anak, khaerunisa (3 thn).

Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.

Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp.6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans.

Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.

Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik.

Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.

Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya.

Rgds

DTW,

--
=== PARAKONTEL ===
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Para Kontraktor Telecom" group.
To post to this group, send email to parak...@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/parakontel?hl=en
...
[LATEST NEWS]
Update your Membership Data at http://parakontel.net/in/?page_id=7
View DB of ParaKonTel at http://parakontel.net/in/?page_id=19
...
=== PARAKONTEL ===




Thanks & B'regards
Maulana AlFauzi
Transmission Engineer
PT Nokia Siemens Network
Handphone : 081212 10283
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages