"GAJA MADA" ORANG SABU ATAU JAWA?

725 views
Skip to first unread message

wyn...@gmail.com

unread,
Mar 6, 2008, 2:20:13 AM3/6/08
to do hawu
"GAJA MADA"
PERDEBATAN SEJARAH SABU DAN JAWA

Oleh:
Lay Abdi Wenyi, M.si

Kepulauan Sabu (Sawu) terletak di antara Pulau Sumba dan Rote,
terdiri dari 3 buah pulau: Pulau Sabu, Raijua, dan Dana. Pulau Sabu-
Dana dapat dikatakan pulau paling selatan Indonesia, berhadapan
dengan Samudera Indonesia. Jumlah penduduknya saat ini sekitar 65.000
jiwa yang tersebar dalam 3 kecamatan. Pada waktu kepulauan Sabu berada
di bawah pengaruh Majapahit, Pulau Dana masih berpenduduk. Konon
katanya seorang pangeran dari Majapahit yang beristrikan seorang
wanita dari Pulau Raijua pernah bermukim di pulau itu, dan bekas
rumahnya masih ada sampai sekarang ini. Umumnya orang sabu menamakan
dirinya `Do Hawu'. Pulau Sabu mereka sebut `Rai Hawu'. Do/dou artinya
orang atau manusia, dan rai artinya tanah atau negeri. Segala apa
yang dipandang sebagai `yang asli' atau berasal dari Sabu selalu
dikenakan kata sandang `Hawu'. Sedang yang berasal dari luar atau
bukan asli Sabu dikenakan kata sandang jawa, misalnya terae `jawa
(jagung), ki'i `jawa, (domba), hi'ji/hi'gi `jawa (kain batik), dan
emmu `jawa (rumah berbentuk bukan asli Sabu). Kata sandang hawu sudah
dipergunakan sejak generasi ke-8 orang Sabu yang bernama Hawu Miha.
Ketika bangsa Portugis dan Belanda tiba di Sabu,kata Hawu mengalami
perubahan dalam pelafalannya menjadi `Savu';penduduknya disebut Sabos
atau Savoenese. Padahal dalam Li Hawu (bahasa Sabu) tidak dikenal kata
berhuruf s, f, dan v.
Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman generasi ke-7 ada
seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara. Beliau mempunyai 5
orang anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu),Huba Miha (orang
Sumba),Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende), dan Jawa Miha
(orang Jawa). Orang Sabu mengetahui kira-kira pada abad pertama
Masehi,`Jawa Miha meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di kemudian
hari kontak antar keturunan dan keluarga tidak lagi terpelihara.
Pengetahuan tentang adanya relasi ini diperoleh melalui syair-syair
dan cerita para tetua dan pemangku adat di Sabu.
Migrasi dari Asia Tenggara diakui telah berlangsung sekitar 500 tahun
SM, dan kira-kira 200 tahun SM terjadi lagi migrasi dari India
Selatan. Migrasi ini juga sampai ke Sabu. Pada gelombang ketiga
disebutkan, ketika kaum pendatang yang jumlahnya lebih sedikit (di
Pulau Jawa) mulai diperangi oleh penduduk asli, sehingga posisinya
terdesak. Untuk itu mereka meminta bantuan kepada kerabatnya yang
telah menetap di `timur' untuk membantu mereka. Kala itu yang berkuasa
di Sabu adalah Miha Ngara, dan mengutus kedua anaknya Hawu Miha dan
Jawa Miha untuk membantu kerabatnya kaum pendatang di Jawa. Keduanya
mendarat di pantai selatan Jawa Barat di suatu tempat berbukit karang,
lalu diberi nama `Karang Hawu',letaknya kira-kira 1 km dari sebelah
barat pantai Pelabuhan Ratu.
Setelah peperangan berhasil dimenangkan, kedua kakak-beradik itu
berpamitan untuk kembali ke Sabu. Kerabat di Jawa meminta agar salah
seorang dari mereka untuk tinggal menetap di Jawa. Permintaan itu
ditampung namun harus dilaporkan dan diputuskan oleh ayahnya di Sabu.
Akhirnya diputuskan bila Jawa Miha yang berangkat ke Jawa sedangkan
Hawu Miha tetap tinggal di Sabu. Ketika keberangkatan, didirikan
sebuah batu peringatan yang diberi nama `Wowadu `Jawa Miha' di Namata.
Pada waktu `Jawa Miha berangkat ke Jawa ia diberi bibit beberapa jenis
tanaman untuk ditanam di sana yaitu cengkeh, wilahege, jahe, pala,
pohon pandan; dengan pesan bahwa sejak saat itu jenis tanaman tersebut
tidak boleh ditanam oleh Hawu Miha dan keturunannya
di Sabu. Setelah menetap di Jawa, Jawa Miha berganti nama menjadi
`AjiSaka'.Dalam perkembangan selanjutnya mereka memperluas wilayahnya
mulai dari Jawa Barat sampai ke Jawa Timur.
Pada zaman kerajaan Majapahit, Kepulauan Sabu berada dalam pengaruh
Majapahit, dan hubungan lama antara orang Jawa dan orang Sabu kembali
mendapat angin segar. Pulau Raijua dan Solor pernah menjadi pangkalan
armada kerajaan Majapahit; perahu dan armada Majapahit sering
menyambangi tempat ini. Terdapat banyak hikayat yang menghubungkan
faktor sejarah ini, seperti di antaranya salah seorang permaisuri raja
Majapahit bernama `Benni Kedo' berasal dari Raijua, bahkan memiliki
rumah di Pulau Dana. Pulau Raijua disebut `negeri Maja' dan pemimpin
masyarakat Raijua disebut `Niki Maja' dst.
Beberapa penulis menyebutkan keyakinan bila Gajah Mada berasal dari
Raijua dengan beberapa alasan. Misalnya nama Gajah Mada
bukanlah nama yang lazim disandang orang Jawa, karena orang Jawa akan
mengucapkan nama itu Gajah Mendo. Hanya di Sabu dan Raijua saja orang
menyandang nama-nama seperti Gaja, Mada, Me'do, Mo'jo, Jaka, Raja,
Ratu,Laki, dst. Juga di Nusa Tenggara tidak mengenal nama-nama seperti
itu. Warna`merah-putih' yang diagungkan Gajah Mada dan Majapahit
adalah warna `gula-kelapa' dan `air ketuban' yang menjadi
lambang orang Sabu sejak zaman dahulu kala.



REFERENSI:
Fox, James J, Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern
Indonesia, Cambridge, Mass: Harvard University Press, 1977.
...,The Sawunese, in F. Lebar (ed.)"Ethnic Groups of Insular
Southeast Asia", 1:77-80. New Haven, Connecticut: Human Relations Area
Files Press 1972.
Kana, Nico L, Dunia orang Sawu, Penerbit: Sinar Harapan, 1983)

Opa Yat

unread,
Jan 5, 2019, 2:49:12 AM1/5/19
to do hawu
Tulisan ini (GAJA MADA" ORANG SABU ATAU JAWA) perlu diteliti lebih jauh. Saya sependapat dengan Anda bahwa Gajah Mada adalah orang Sabu dan bukan orang Jawa. Hanya saja legenda yang Anda angkat tidak sesuai dengan Legenda yang ada di Pulau Raijua. Legenda tentang Tokoh Maja dan Banni Kedho menurut hemat saya lebih berkaitan dengan Gajah Mada. Mulai dari ciri-ciri fisik Maja sampai pada barang peninggalannya yang masih tersimpan di pulau Raijua. Kepergian dan Kepulangan Tokoh Maja ke pulau Jawa masih terekam dalam ingatan kolektif masyarakat Raijua, apalagi Udu Ketita sebagai asal muasal tokoh ini.

Opa Yat

unread,
Jan 5, 2019, 2:56:02 AM1/5/19
to do hawu
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah pencantuman referensi. Dari tiga referensi yang Anda acu di atas, tidak satupun yang berbicara tentang Gajah Mada atau tentang Gajah Mada bukan orang Jawa. Saya punya bukunya Nico L. Kana dan bukunya James J. Fox baik dalam bahasa Inggris maupun terjemahannya dalam bahasa Indonesia. 
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages