Suara Hidayatullah :
http://www.hidayatullah.com
Berpacu Melawan Missionaris
Menjelajah pedalaman Kalimantan, membentengi ummat dari Kristenisasi.
Hasilnya, ummat Islam tertinggal jauh.
Gadis muda itu seperti tidak punya rasa lelah, keluar masuk hutan
pedalaman Kalimantan Timur. Bukan berburu binatang, tetapi ia adalah
seorang missionaris yang sedang menjalankan missinya. Mina (23), begitu
mahasiswi Sekolah Tinggi Teologia (STT) Tenggarong, Kalimantan Timur ini
biasa dipanggil, mendapat tugas "dakwah" di suku Blusuk, Bulungan.
Untuk menjalankan tugasnya, Mina harus menelusuri jalan setapak dan
menembus hutan belantara. "Di sana memang belum ada pendeta," katanya
kepada Sahid. Karena itulah, ia merasa bertanggung jawab untuk
"menggembala" orang-orang Dayak yang masih terasing itu.
"Berdakwah" sendirian, Mina ternyata cepat menyatu dengan masyarakat
setempat. Meski seumur-umur belum pernah makan sagu, ia pun ikut
manyantap makanan pokok orang-orang Blusuk itu. Bersama-sama masyarakat
setempat, ia juga turut menanam singkong, sebagai makanan tambahan.
"Dengan cara itu," kata Mina, "kami membimbing penduduk yang kebanyakan
masih menyembah burung dan animisme-dinamisme kepada ajaran Kristus."
Setiap bulan Mina mendapat subsidi Rp 100 sampai Rp 200 ribu dari
kampusnya ini.
Missionaris muda seperti Mina itu tidak hanya dua atau tiga orang
bilangannya, ada ratusan. Seperti dituturkan Mina, teman seangkatannya
ratusan jumlahnya dan mereka disebar di berbagai pedalaman Kalimantan.
Kegigihan para missionaris seperti Mina itulah yang mengundang rasa
"iri" KH Mastur Anwar Diniy (65). Tokoh yang cukup berpengaruh di
Balikpapan ini diam-diam "mengimpikan" da'i-da'i seperti para
missionaris itu. Militan dan siap ditugaskan di manapun. Kapan dan
bagaimana caranya agar "mimpi' itu bisa terwujud?
Sembilan tahun lalu, bersama-sama dr. Ali Zaini, Dahlan dan Muslim
Arsyad, Mastur mendirikan Yayasan Ar-Rahman. Yayasan yang berada di
Balikpapan ini, salah satu aktivitasnya adalah menggembleng calon-calon
da'i. Mereka inilah yang nantinya ditempatkan di berbagai daerah di
Kalimantan Timur, mengembangkan dakwah di sana.
Pengalaman di pedalaman
Kiai Mastur sendiri sudah kenyang makan asam garam berdakwah di pelbagai
daerah pedalaman. Lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 27 Desember
l934, sejak kecil Mastur memang tekun dan aktif memperdalam Islam. Waktu
bermainnya seakan habis untuk mendatangi pengajian yang satu ke
pengajian yang lain bersama neneknya.
Tamat dari tsanawiyah, semangat belajarnya justru semakin besar. Tapi
Mastur nampaknya bukan termasuk anak yang beruntung. Kedua orang tuanya
tergolong tidak mampu. Terpaksa keinginannya melanjutkan studi kandas.
Namun Mastur tidak menyerah. Bagaimana agar tetap memperoleh ilmu? Uang
jajan yang diterima dari orang tua dikumpulkan dan dibelikan buku-buku.
"Itu memang pesan orang tua," ujar anak dari ayah bernama Badar dan ibu
Jannah itu. Dari buku-buku itulah ia menyerap berbagai ilmu.
Rupanya ia memang berbakat menjadi da'i. Pada usia masih belasan tahun,
Mastur sudah sering diundang mengisi ceramah di pelbagai pengajian di
kampungnya dan di sekitarnya. Seiring bertambahnya umur, kegiatan
dakwahnya kian melebar ke daerah lain, yakni ke Pulau Laut, sebuah pulau
yang terletak arah Timur Tenggara kota Banjarmasin.
Tahun 1966, ia memutuskan hijrah ke Kalimantan Timur. Daerah yang
menjadi tujuannya ialah Samarinda. Di kota yang dihuni oleh banyak
pendatang dari Banjarmasin ini, Mastur melanjutkan aktivitas dakwahnya.
Sebagai ibu kota propinsi, Samarinda menjadi pintu gerbang para
pendatang. Dari sanalah informasi tentang masyarakat pedalaman
diperolehnya. Termasuk informasi para missionaris yang mulai gencar
menggarap daerah-daerah pedalaman Kalimantan.
Nah rupanya, kegiatan para missionaris itu membangkitkan ghirah Mastur.
Sebagai da'i muda ia merasa tertantang. Dengan semangat mudanya, ia
kemudian menjelajah ke pelbagai pedalaman menebarkan dakwah. Antara lain
ia pernah bertugas di Loa Kulu, Tenggarong, Muara Pahu, Kampung Damai
Selatan, Muara Kaman, Kota Bangun, Danau Jempang dan sebagainya.
Masalah paling berat adalah tranportasi. Berbeda dengan di Jawa yang
hampir semua jalannya lewat darat, di Kalimantan jalan utamanya lewat
air. Terkadang, jika medan sungainya berat, misalnya banyak bebatuan, ia
harus turun dan menyeret perahunya.
Di Danau Jempang, ia pernah punya pengalaman unik. Suatu ketika ia
mendapat undangan dakwah dari Desa Muara Uhung, sebuah desa di tepi
danau. Karena kemarau panjang, danau pun kering. Mastur yang berangkat
bersama 6 orang dari Departemen Agama harus nyemplung ke dalam danau.
Bukannya menaiki perahu, mendorong beramai-ramai. "Kaki kami begitu
banyak menginjak ikan, tapi kami tak menghiraukan," kata Mastur
mengenang. Danau Jempang selama ini memang menjadi pusat mata
pencaharian para nelayan desa seputar danau ini.
Eh, sampai di tempat, peserta pengajiannya cuma 7 orang. "Alhamdulillah,
kendati melelahkan, kami sangat berbahagia karena mereka nampak sangat
membutuhkan siraman-siraman ruhani seperti itu," katanya.
Masih di Danau Jempang, mendengar kedatangan Mastur dan rombongan,
sekelompok ummat Islam yang berpaham 'Tuhan itu Hijau' datang ke
mushala. Jumlah mereka ada 20 orang. Mereka ingin berdebat sekaligus
menguji kefasihan Mastur. Dalam faham mereka, Tuhan itu harus bisa
dilihat dan warna Tuhan sendiri adalah hijau. Mereka memakai sandaran
hadits Rasulullah saw yang berbunyi Awwaluddin ma'rifatullah, awal dari
agama adalah mengenal Allah. Kenal, kata mereka, kan mesti harus melihat
langsung. Debat yang berlangsung dari dari pukul 21.00 berakhir hingga
subuh dinihari. "Kami bersyukur, 20 orang beserta dua pimpinan dari
Bugis dan Banjar menyadari kekeliruannya," tandas Mastur yang kini
memiliki 6 anak dan 8 cucu ini.
Berbeda dengan berdakwah di kota-kota, sudah biasa da'inya dijemput
panitia pengajian dan pulangnya mendapat "amplop". Berdakwah di
pedalaman tidak begitu. Saat bertugas, ongkos transport dipikul sendiri..
Ini juga berbeda dengan para missionaris itu. Sumber dana yang begitu
kuat dan dukungan organisasi yang baik, membuat para missionaris dengan
leluasa menelusuri ke manapun daerah pedalaman yang diinginkan.
Bahkan untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, mereka naik pesawat
terbang. Apalagi di pedalaman Kalimantan tersebar tidak kurang 7
lapangan terbang perintis dan 57 lapangan kecil milik mereka. Berlawan
dengan Mastur, ketika akan tabligh tak jarang ia mesti mencari tumpangan
kapal dulu. "Ya karena tidak ada ongkos," ujarnya mengenang..
Sudah tantangan alamnya berat, lalu ditambah tidak ada dana dan dukungan
dari organisasi dakwah yang lain. Akhirnya Mastur cuma bertahan satu
tahun. Bukan berarti niat menjadi mujahid dakwah kemudian surut. Ia
kemudian berpikir perlu adanya lembaga pendidikan. Lembaga inilah yang
nantinya melahirkan mujahid-mujahid yang siap meneruskan tongkat dakwah,
di mana pun ummat membutuhkan.
Mastur pun hijrah ke kota Palu, Sulawesi Tengah. Di sini dia mendirikan
Pondok Pesantren Darul Istiqamah di desa Telawan Kecamatan Parigi.
Sebanyak 40 orang santri mondok di pondoknya.
Mengajar santri sendirian, ternyata membuat dirinya kewalahan. Upaya
menarik orang untuk membantunya mengajar, sebenarnya sudah diupayakan.
Akan tetapi, siapa yang mau mengajar dengan tidak dibayar? "Pesantren
tidak memiliki dukungan finansial yang cukup untuk menggaji mereka,"
kata Mastur menjelaskan.
Sebagain besar santri memang dibebaskan dari uang SPP, meskipun secara
insidentil ada orang tua yang menyumbang. Akhirnya, pesantren yang
dibanggakannya itupun harus tutup setelah menelurkan satu lulusan. "Saya
cukup prihatin, apalagi Darul Istiqamah merupakan pesantren pertama di
Sulteng," katanya kepada Sahid.
Atas rekomendasi Mohammad Natsir (alm), Mastur lantas berangkat ke Arab
Saudi, memperdalam Islam. Sayang, umurnya sudah kelewat 35 tahun,
sehingga ia gagal masuk ke perguruan tinggi. Tapi ia tidak putus asa,
toh mencari ilmu kan tidak harus di perguruan tinggi. Saat itu, di
Masjidil Haram dibuka perkuliahan terbuka, yang diasuh para syeikh
terkenal.. Mastur tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Masuk pada kelompok belajar Kulliyatul Tafsir Qur'an Halaqah, bersama
teman-temannya dari Malaysia dan Mesir, Mastur diajar oleh Syeikh Yahya.
Pelbagai kitab ditelaah, di antaranya kitab tafsir Jalalain dan
At-Tobari.
Setelah satu tahun menimba ilmu di Arab Saudi, Mastur kembali ke Tanah
Air, berkumpul dengan istri dan tiga orang anaknya di Palu.
Akan tetapi, sejauh-jauh burung terbang, akan kembali ke kandangnya
juga. Demikianlah yang terjadi. Delapan tahun Mastur tinggal di Palu,
agaknya ia tidak bisa melupakan kegigihan para missionaris itu.. Maka
Mastur memutuskan kembali ke kampung halamannya, melanjutkan dakwahnya
yang belum selesai.
Atw dan Bas
Benteng Ummat di Kaltim
Selain dikenal dengan kekayaan alamnya yang berlimpah, Kalimantan Timur
memang merupakan lahan dakwah yang menantang.. Ribuan transmigran yang
didatangkan dari pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara ke kawasan ini
membutuhkan ratusan tenaga da'i yang benar-benar ulet. Apalagi
kebanyakan penduduk terpencar pada lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.
Mereka berdiam di wilayah-wilayah pedalaman di Kabupaten Pasir, Kutai,
Bulungan, Berau, dan Tarakan. Transportasi darat sangat payah, sementara
bila melalui jalur air membutuhkan waktu berhari-hari. Nah, obyek dakwah
seperti itulah yang menjadi garapan para da'i dari Yayasan Ar Rahman.
Alhamdulillah, hingga sekarang sudah 75 da'i Ar Rahman bertugas di
berbagai daerah pedalaman. Di antaranya di kabupaten Berau, Kutai, dan
Pasir, di samping di Balikpapan sendiri.
Sebelum para da'i itu diterjunkan ke lapangan, mereka digembleng dulu di
Kulliytul Muballighin selama 9 bulan. "Markas" diklat itu ada di Jl.
Soekarno-Hatta, KM 8 Karang Joang, sebuah daerah berpenduduk mayoritas
muslim yang banyak dibangun gereja. Biaya hidup dan pendidikan selama
diklat ditanggung Ar Rahman. Setiap angkatan diikuti 15 orang, kini
sudah menelurkan VI angkatan.
Dari mana dananya? Menurut Tatang Suriadi, sekretarias Ar-Rahman, dana
diperoleh dari karyawan perusahaan minyak Pertamina, donatur dan
usaha-usaha yang dikelola oleh yayasan sendiri, seperti bimbingan ibadah
haji, dan perawatan jenazah. "Dalam satu bulan Ar-Rahman mendapat amanah
merawat jenazah tidak kurang 25 orang," kata Tatang. Selain itu
Ar-Rahman juga mendirikan BPR, BMT, Balai Pengobatan, sampai koperasi
yang menyediakan aneka kebutuhan pokok rumah tangga.
Dakwah bil hal
Selain menerjunkan mubaligh ke daerah-daerah yang rawan kristenisasi,
Ar-Rahman juga berdakwah melalui jalur ekonomi. Disadari betul,
sebagaimana hadits Nabi saw, kemiskinan merupakan titik rawan yang dapat
mengantar seseorang menjadi kufur. Para petani di pedesaan adalah mereka
yang sangat berdekatan dengan titik-titik rawan itu.
Ar-Rahman lantas membuka sistem usaha "bapak-angkat" untuk petani.
Hingga sekarang, ada 3 institusi yang bersedia menjadi "bapak-angkat",
yakni BDI (Badan Dakwah Islam ) Unocal, Korpri Unocal, dan para
pegawai/karyawan yang tinggal di Perumahan Bukit Damai Indah, Balikpapan
Baru.
Desa-desa binaan Ar-Rahman misalnya Desa Agrosari, Amborawang, dan
Samboja. Di sini terdapat 20 kelompok tani binaan Ar-Rahman yang
menggarap padi di atas lahan seluas 5 hektar. Sudah cukup lama daerah
ini dikenal sebagai lahan subur penyebaran kristenisasi. Daerah yang
sebagian besar dihuni pendatang dari Jawa, Bugis, dan Banjar ini bermata
pencaharian petani dan nelayan.
Alhamdulillah, sejak masuknya Ar-Rahman, sejumlah orang yang sudah
murtad berhasil di-islamkan kembali. Di antara mereka yang sudah
bertaubat itu, kini masuk menjadi anggota kelompok tani tersebut.
Sebanyak 28 orang di Samboja II juga telah kembali ke Islam.
Di Samboja III terdapat 26 kelompok tani yang mengelola lahan tidur
seluas 5 hektar dengan tanaman jagung. Sementara di Desa Semoi III dan
Karang Joang KM 42, terdapat kelompok tani masing-masing berjumlah 9 dan
42 orang. Mereka menggarap lahan seluas 9 hektar dan 42 hektar dengan
tanaman padi dan jagung.
Pengislaman paling banyak terjadi pada tahun 1993, sebanyak 55 KK. Itu
terjadi di desa Tanjung Soke. Desa-desa lain seperti Gerunggung, Lemper,
Deraya, dan Bongan, juga menjadi garapan Ar Rahman. "Bahkan, di Bongan,
insya Allah akan didirikan pondok pesantren," kata Tatang. Saat ini, di
Ar-Rahman Cabang Bongan sudah ada 52 anak yang tekun belajar agama.
Merekalah cikal-bakal santri. Kelak, mereka diharapkan dapat menjadi
ujung tombak dakwah di tempat tinggalnya. Insya Allah. (Atw)
http://groups.yahoo.com/group/mimbarbebas/message/16244
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!__._,_.___MARKETPLACE.![]()
__,_._,___
| Setuju Pak, kita punya potensi. Alhamdulillah BDI Chevron telah membangunkan sebuah Masjid yang cukup Bagus di desa temula Nyuatan Kutai Barat. Dan kini 2 orang Ustadz yang bertugas adalah alumni Kulliyatul Muballighin. pak Satibi, saya sangat mendukung sinergi dalam berdakwah sudah saatnya diwujudkan di Kalimantan Timur ini khususnya di Balikpapan, dulu kita punya FORBUMI. kini siapa yang punya konsepnya ya? salam husni hasibuan --- Pada Sel, 29/12/09, Muhammad Satibi <m.sa...@gmail.com> menulis: |
|