[6] Ibnu Athaillah berkata : “Dalam dirimu terdapat rasa cinta kepada kedudukan, jabatan, dan sebagainya. kemudian kau berkata,’Syekh tidak menarik hati kami.’ Alih-alih berkata begitu, katakanlah,’Aral bersumber dari diri kami.’ Sebab, jika kau telah siap pada hari pertama, tentu kau tidak perlu hadir pada majelis yang kedua. Namun, kau perlu untuk hadir kembali karena karat hatimu begitu kuat dan tebal sehingga setiap majelis diharapkan bisa membersihkannya.”
[7] Barang siapa yang ingin membersihkan jiwanya dengan menghadiri majelis guru maka ia harus mempersiapkan dirinya dengan cara melepaskan diri dari semua kecenderungan nafsu dan penyakit hati. Hanya dengan keadaan seperti itulah ia bisa mengambil manfaat dari guru atau mursyidnya. Hanya saja, karat hati teramat kuat akibat kecenderungan nafsu sehingga seorang murid perlu berkali-kali duduk dalam majelis sampai hatinya bersih sedikit demi sedikit.
[8] Ibnu Athaillah berkata : “Jika kau menghadiri majelis, lalu kembali melakukan pelanggaran dan kelalaian, jangan kemudian berujar,’Apa gunanya hadir?’ Namun, tetaplah hadir! Selama empat puluh tahun kau mengidap penyakit, lalu kau berpikir penyakitmu akan hilang dalam sekejap atau satu hari?! Keadaanmu seperti pasir yang dilemparkan ke satu tempat selama 40 tahun, mungkinkah ia lenyap dalam sesaat atau dalam sehari?! Orang yang melakukan maksiat lalu tenggelam dalam suatu yang haram, niscaya ia tidak akan bisa membersihkannya meskipun menyelam tujuh lautan jika belum bertaubat kepada Allah.”
[9] Jangan menjauhi majelis hikmah meskipun kau masih terus bermaksiat. Namun, teruslah mendekat dan menghadiri majelis. Kau harus tetap menghadiri majelis ilmu meskipun masih melakukan maksiat. Jika hari ini tidak mendapat manfaat, mungkin esok kau akan mendapatkannya. ketahuilah, satu kali duduk di majelis seorang ulama yang tulus dapat membuatmu berubah dari sosok pelaku maksiat menjadi hamba yang taat dan takut kepada Allah.
[10] Menghadiri majelis ilmu harus disertai sikap taubat dari dosa dan kelalaian agar hati menjadi bersih dan mendapat manfaat besar dari berbagai hakikat Islam yang ia dengar. Jika kelalaian masih bersarang dan hatimu masih berkarat serta terhijab oleh maksiat, bagaimana mungkin hatimu bisa memahami apa yang didengar. Ketahuilah, obat penyembuh ada di tanganmu. Lenyapkanlah hijab yang menutupi hatimu. Dengan begitu, kau akan mendapatkan manfaat besar dari kehadiranmu di majelis dan mendengarkan nasihat.[]
Hari ini adalah harinya. Aku harus
memulai.
Ya Rabb , dampingilah aku lekat-lekat.
Aku ingin Tahsin di Majelis ini....
Aamiin
Ismet Nurdin
Quality Assurance Department
PT. Panasonic Healthcare Indonesia
Kawasan Industri MM2100 Blok O-1
Cikarang Barat 17520 - Bekasi Indonesia
+62-21-898-0005 Ext 371/347
+62-881628-3613
+62-813-8271-7932
ismet....@id.panasonic.com
ismet....@mki.panasonic.co.id