Misranto Wiyono
unread,Feb 11, 2015, 9:49:24 PM2/11/15Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to dkm-baiturra...@googlegroups.com, Anisa Dewi Fajrina, Anita Kristinasari, Anita Kusumawati, Asniyati Hariyono, Dahlia Ratna Sari, Desi Alisna, Desi Woro Pangastuti, Dewi Sulistyawati, Dian Ayu Rismawati, Diyah Retno Diyanti, Endah Rahayu Sunaryani, Fitri Herawati, GD Arti Kusumah, Hidayahtillah, Iin Maryanti Fistiawati, Ika Puspa Dewi, Ira Aktiffianti, Kristin Yulianti, Lilik Erna Widyawati, Neneng Nasratul Milah, Nia Kurniasih, Ninik Sri Suwarti, novi.k...@id.panasonic.com, Novita Andriani, Nur Hidayah, Poppy Marlinda, Pratiwi Heniawati, Refayuni, Rita Sri Haryani, Rosa Suprapti, Seri Mangunah, Shanty Erlyza Noor, Siti Jumaeni, Siti Rochani, Sri Handayani, Sri Suryaningsih, Suci Lestari, Sunarni Soen, Supiyem Raharja, Supri Hartini, Suwarti Warti, Terry Febrianingtyas, Titin Sumarni, Tri Suryati, Wini Widarti, Yuni Wulandari, Yunita Ichwan, Iseu Susanti, Inca Sinila, alfee...@yahoo.com, setiyaw...@rocketmail.com, titis_p...@yahoo.com
The Next G
KATEGORI : UMUM
Published on Wednesday, 11
June 2014 06:52
Oleh : Muhaimin Iqbal
Sekitar setahun lalu saya menulis
tentang Generation NEET, yaitu generasi pemuda yang menganggur total
Not in Employment, Not in Education Nor in Training.
Kini berkembang
lebih luas lagi penyakit pemuda itu - mereka bisa saja sedang sekolah atau
kuliah dan bahkan memiliki pekerjaan, tetapi mereka nyaris tidak memiliki
kemauan atau sekedar mengetahui apa yang hendak dia lakukan untuk masa
depannya. Mereka inilah yang disebut Generation TBD ( To Be Decided ),
apa bahayanya ?
Generasi muda yang tidak tahu
apa yang harus diperbuatnya untuk masa depan, atau yang dalam bahasa sunda
disebut dalam istilah kumaha engke wae – bagaimana nanti sajalah
– ini menatap masa depannya dengan pandangan yang kosong, mereka seperti
buih yang jumlahnya sangat banyak tetapi nyaris tidak memberikan kontribusi
yang berarti bagi keluarga, masyarakat, negara dan umat. Mereka menjadi
liability dan bukannya asset !
Jumlah yang sangat banyak –
rata-rata penduduk dunia 25 %-nya adalah usia pemuda (16-24 tahun), hanya
diperebutkan suaranya untuk pemilihan umum – tetapi setelah itu nyaris
tidak ada program khusus untuk mempersiapkan masa depan yang lebih jelas
bagi anak-anak muda ini.
Bagaimana generation TBD ini
bisa dicegah sebelum jumlahnya terus bertambah besar, atau diobati bila
sudah terlanjur menjadi penyakit masyarakat luas ?
Cara yang paling efektif adalah
menanamkan ke-imanan yang sampai merasuk di hati mereka, bukan sekedar
ilmu tentang apa itu iman, ilmu tentang rukun iman dan lain sebagainya.
Dengan keimanan yang kuat terhadap
Allah dan hari akhir misalnya, pemuda-pemudi akan sigap berbuat bukan hanya
untuk masa depannya di dunia – tetapi bahkan yang lebih penting adalah
masa depannya dalam kehidupannya yang abadi kelak.
Mereka adalah generasi yang
merespon ayat berikut : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 59:18)
Saya merasa beruntung sekali
bisa ikut menyaksikan lahirnya the
Next G, generasi berikutnya
yang insyaAllah akan berkwalitas sangat baik ini. Saya berinteraksi dengan
mereka hampir setiap hari, salaman dengan mereka hampir setiap kali selesai
sholat fardhu di Masjid. Mereka adalah anak-anak tetangga saya yang rame-rame
menjadi santri di Kuttab Al-Fatih.
Menghafal Dengan Ceria
Perhatikan photo di atas yang
saya ambil pada suatu hari selesai sholat dhuhur. Perhatikan keceriaan
wajah-wajah mereka, keceriaan anak-anak usia sekitar 10 tahun sebagaimana
anak-anak pada umumnya. Tetapi apa yang membedakan mereka dengan anak-anak
seusianya ?
Perhatikan posisi tangan anak
yang di tengah, snap shot photo yang tidak disengaja apalagi direkayasa
ini menunjukkan keseharian aktifitas mereka. Dalam kegembiraan anak-anak
yang sedang bercengkerama-pun mereka sambil muraja’ah hafalan Al-Qur’an
mereka. Lihat tangannya yang sedang menandai posisi halaman-halaman Al-Qur’an
yang sedang dia hafalkan. Anak-anak dalam foto tersebut memiliki rata-rata
hafalan 4-5 juz, beberapa teman santri nya bahkan sudah beberapa di atas
10 juz.
Bukan hanya hafalannya yang
membedakan mereka dengan anak-anak yang lain, sholat di Masjid dengan mereka
menjadi sangat hening karena meskipun di usia anak-anak mereka tidak ribut
ketika sholat.
Lebih dari itu, tanda-tanda
keimanan yang lain juga menyertai mereka. Ini pengakuan seorang mukhsinin
orang tua dari teman-teman anak-anak yang di photo tersebut. Suatu hari
dia melihat anaknya menangis tersedu-sedu menjelang tidur, ketika ditanya
oleh orang tuanya kenapa menangis ? jawabannya adalah karena dia takut
masuk neraka !
Dipeluklah anak ini oleh orang
tuanya, sambil didoakan dan dihibur : “Tidak nak, insyaAllah kamu tidak
akan masuk neraka…!”. Orang tua yang shaleh inipun menyadari dan
bersyukur sekali betapa iman terhadap hari akhir telah merasuk ke hati
putrinya yang masih sangat belia.
Mukhsinin yang juga agniya
inilah yang kemudian mewakafkan seluruh tanah dan bangunan berupa masjid,
asrama, kantor, kantin dan rumah-rumah kyai untuk Madrasah kami di Sentul.
InsyaAllah bila sudah siap, masjidnya bisa kita pakai i’tikaf rame-rame
di akhir Ramadhan nanti.
Dengan wakaf full facility
untuk madrasah inilah nantinya apa yang sudah dipelajari anak-anak di tingkat
Kuttab akan terus dilanjutkan. Di madrasah mereka insyaAllah akan menyelesaikan
hafalannya untuk 30 juz, hafal kitab hadits Bulughul Maram minimal dan
juga mandiri dalam kehidupannya.
Dua tahun terakhir dari 6 tahun
usia mereka di madrasah adalah untuk menyiapkan mereka mandiri secara ekonomi
di bidang-bidang pilhannya masing masing. Mulai dari pertanian, peternakan,
teknologi informasi, kesehatan, perdagangan dan berbagai mata pekerjaan
lainnya yang dibutuhkan saat itu.
Generation TBD insyaAllah
bisa dicegah, tetapi untuk ini memang memerlukan upaya kerja keras kita
semua. Perlu pengorbanan kita semua dari sisi waktu, tenaga dan tentu juga
biaya. Wakaf secara serius seperti yang dilakukan oleh mukhsinin tersebut
di atas insyaAllah akan menjadi solusi untuk berbagai problem masyarakat
lainnya.
Selamat datang generasi berikutnya,
the Next G yang inysaAllah lebih baik dari kita-kita. InsyaAllah.