Dikutip dari buku Historiografi Islam (2018), historiografi tradisional adalah karya tulis sejarah yang dibuat oleh para pujangga dari suatu kerajaan, baik itu kerajaan bercorak Hindu atau Buddha, hingga kerajaan kesultanan bercorak Islam tempo dulu yang pernah berdiri di Indonesia.
Historiografi tradisional adalah penulisan atau karya sejarah pada masa Hindu-Budha sampai perkembangan Islam. Historiografi pada masa tradisional ini memiliki ciri-ciri tersendiri yang umumnya memberi gambaran ke kita bagaimana Indonesia di masa kerajaan.
Historiografi adalah sebuah tahapan terakhir dalam sebuah metodologi penelitian sejarah yang dilakukan oleh seorang sejarawan. Hasil penelitiannya menghasilkan sebuah karya sejarah dapat berupa buku, film, diorama, dan lainnya.
Perkembangan historiografi di Indonesia diawali dari masa aksara, yakni ketika Indonesia telah mengenal tulisan. Karya-karya awal historiografi Indonesia berupa prasasti. Historiografi Indonesia dalam bentuk tulisan dimulai oleh Mpu Prapanca yang menulis kitab Negarakertagama.
Historiografi tradisional dianggap berakhir dengan hadirnya buku yang berjudul Critische beschouwing van de sedjarah Banten: bijdraget kenschetsing van de Javaansche Geschiedschrijving (Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten: Sumbangan untuk Mengenal Karakteristik Historiografi Jawa).
Buku ini disusun sejarawan asal Banten, Hoesein Djajadiningrat sebagai disertasi doktor dalam bidang Bahasa dan Sastra Nusantara pada Universitas Leiden tahun 1913. Hoesein Djajadiningrat kemudian dikenal sebagai Bapak Metodologi Penelitian Sejarah Indonesia.
Sejumlah pakar sejarah sepakat penulisan sejarah masa tradisional lebih merupakan ekspresi budaya daripada usaha untuk merekam sejarah. Artinya, penulisan sejarah pada masa ini tidak ditujukan untuk mendapatkan kebenaran sejarah melalui pembuktian fakta-fakta, melainkan diperoleh melalui pengakuan dan untuk diabadikan kepada penguasa. Oleh karena itu, historiografi tradisional tercipta unsur-unsur sastra yang menghasilkan karya mitologi dan imajinatif.
Historiografi tradisional sendiri juga memiliki ciri yang akan diuraikan berikut ini, bersumber dari buku Modul Pembelajaran Sejarah SMA karya Hasnawati dari SMA Negeri 3 Takalar dan artikel berjudul Penulisan Sejarah (Historiografi): Mewujudkan Nilai-Nilai Kearifan Budaya Lokal Menuju Abad 21 oleh Nurhayati dari Universitas Muhammadiyah Palembang tahun 2016.
Ciri istana sentris ini berarti penulisan karya sejarah hanya difokuskan pada kehidupan masa kerajaan yaitu kehidupan raja dan keluarganya saat itu. Maka ciri ini juga bisa disebut bersifat feodalistis-aristokratis, yang artinya hanya fokus pada kehidupan penguasa.
Sifat ini yang dibicarakan hanyalah kehidupan kaum bangsawan feodal, tidak ada sifat kerakyatannya dan tidak memuat riwayat kehidupan rakyat, tidak membicarakan segi sosial dan ekonomi dari kehidupan rakyat
Ciri ini merupakan karakteristik historiografi tradisional yang dalam penulisannya masih mengaitkan dengan hal-hal gaib atau magis. Dalam hal ini rakyat masa itu menganggap raja adalah penjelmaan Tuhan yang harus disembah, dengan maksud agar rakyat patuh.
Ciri ini artinya historiografi tradisional banyak menekankan pada budaya dan suku bangsa di kerajaan saja dan tidak peduli dengan budaya dari rakyat biasa. Sehingga fokus isi karya tulisnya benar - benar hanya fokus lingkup kehidupan para bangsawan atau raja.
Dikarenakan masih bersifat tradisional, seringkali ditemukan kesalahan. Misalnya berkaitan waktu dan kaitannya dengan fakta sejarah, penggunaan kosa kata penggunaan nama dll. Sebab, kosakata yang digunakan masih bersifat sederhana dan berbeda dengan zaman sekarang.
Hikayat Banjar adalah teks Melayu Banjar yang paling populer di Kalimantan sebab teks tersebut dipakai sebagai historiografi penulisan sejarah Banjar dan Kotawaringin. Popularitas teks tersebut dibuktikan dengan banyaknya eksemplar naskah Hikayat Banjar yang tersebar baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Hikayat Aceh itu menceritakan kehidupan Sultan Iskandar Muda sejak dia usia kanak-kanak hingga menjadi sultan di Kerajaan Aceh Darussalam. Bukan hanya tentang sultan, hikayat tersebut juga menceritakan kondisi sosial, budaya, politik, agama, dan tentang Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda periode 1606-1636.
Babad Tanah Jawi adalah karya ensiklopedik yang dimulai dari Adam maupun Dewa-Dewa Hindu, menceritakan masa pra-Islam yang legendaris dalam sejarah Jawa, dan mencapai puncaknya pada abad XVII atau XVIII.
Kitab ini sangat terkenal bagi masyarakat Indonesia. Kitab ini mengisahkan tentang cerita kepahlawanan Rama yang menyelamatkan Sinta dari penculikan. Kita ini juga berkembang di India dengan versinya tersendiri.
Historiografi Tradisional adalah penulisan sejarah tradisional yang dimulai dari zaman Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.[1] Penulisan sejarah masa kerajaan tradisional berfungsi untuk merekam dan mewariskan kehidupan dinasti yang berkuasa kepada generasi berikutnya. Penulisan sejarah ini mengedepankan unsur keturunan (geneologi), tetapi mempunyai kelemahan dalam struktur kronologi dan unsur biografi. Penulisan sejarah tradisional umumnya tentang kerajaan, kehidupan raja, dan sifat-sifat yang melebih-lebihkan raja dan para pengikutnya. Historiografi ini berkembang pada masa Hindu-Budha dan Islam.[2]
Tradisi tulis pada masa Hindu-Buddha berkembang dengan pesat sehingga tecipta 1000 buah naskah di seluruh nusantara. Berdasarkan isinya, bentuk-bentuk kesustraan pada masa Hindu-Buddha tersebut terdiri atas tutur, (kitab keagamaan), castra (kitab hukum), wiracarita (cerita kepahlawanan), dan kitab-kitab cerita yang berisi ajaran keagamaan, sejarah dan moral. Sampai dengan zaman Majapahit bahasa yang dipakai dalam naskah sejarah adalah bahasa Jawa kuno. Sesudah dalam naskah sejarah adalah bahasa Jawa tengahan. Berdasarkan bentuknya naskah sejarah zaman Hindu-Buddha terdiri atas gancaran (prosa), dan tembang (puisi). Tembang pada masa Jawa kuno disebut kakawin dan tembang pada masa Jawa tengahan disebut kidung.[2]
Setelah bangsa Indonesia mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta pertumbuhan dan perkembangan bahasa tulisan serta seni sastra berlangsung dengan cepat. Dengan dikenalnya aksara Pallawa atau sering juga disebut dengan huruf Pascapallawa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam kehidupannya.[2]
Terbitnya prasasti-prasasti dari kerajaan-kerajaan kuno, penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya adalah berkat dikenalnya aksara Pallawa. Bahkan aksara Pallawa itu kemudian diubah oleh berbagai etnis Indonesia menjadi aksara Jawa kuno, Bali kuno, Sunda kuno, Lampung, Batak, dan Bugis Walaupun bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa berpengaruh terhadap perkembangan bahasa, tulisan, dan seni sastra di Indonesia ,namun bahasa Sansekerta tidak pernah digunakan sebagai bahasa komunikasi antar kelompok masyarakat di Indonesia karena bahasa Sansekerta hanya digunakan para Brahmana dalam upacara keagamaan atau di lingkungan istana. Oleh karena itu, sebagai sarana komunikasi digunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi antar kelompok masyarakat di Indonesia. penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi antar kelompok masyarakat di Indonesia diperkirakan dimulai sejak zaman kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.[2]
Selain pada batu prasasti, media yang digunakan untuk menulis adalah daun lontar (kropak), lempengan perunggu, lempengan emas, lempengan perak, nipah, bambu, kulit pohon, kayu, kain dan kertas. Selanjutnya tradisi tulis berkembang di luar istana dan di dalam istana.[2]
Pada masa kerajaan Kediri terjadi perkembangan di bidang penulisan sejarah. Pada masa itu, telah dihasilkan karya sastra dengan judul Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Empu Kanwa pada tahun 1035. Kitab Arjuna Wihaha berisi kisah kehidupan Raja Airlangga yang dianggap sebagai tokoh Arjuna. Pada masa pemerintahan Jayabaya, Jayabaya pernah memerintahkan kepada Empu Sedah untuk mengubah kitab Bharatayudha ke dalam bahasa Jawa kuno. Karena tidak mampu menyelesaikannya maka penulisan kitab Bharatayudha tersebut dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Dalam kitab tersebut Jayabaya disebut beberapa kali sebagai sanjungan kepada raja. Kitab Bharatayuda bertuliskan tahun candrasangkala yang berbunyi sangakuda suddha candrama atau tahun 1079 Saka (tahun 1157).[2]
Pada masa Islam, tradisi penulisan sejarah terus berlanjut. Tema-temanya sebagian ada yang disesuaikan dengan kebudayaan Islam, dan sebagian lainnya merupakan hasil ciptaan yang baru. Namun isinya menunjukan tradisi tulis yang menjadi dasar dimulainya tradisi sejarah. Tradisi tulis tersebut terkait dengan kebudayaan Hindu-Buddha, Islam atau sintesis dari kebudayaan tersebut. Hasil-hasil kesustraan Islam yang berkembang di daerah Jawa, sebagian besar merupakan perkembangan dari kesutraan zaman Hindu-Buddha yang disesuaikan dengan budaya Islam. Adapun jenis-jenis penulisan sejarah zaman Islam meliputi hikayat dan babad.[2]
Hikayat merupakan bentuk karya sastra yang isinya berupa cerita atau dongeng yang sering kali dikaitkan dengan tokoh sejarah. Hikayat-hikayat peninggalan kerajaan Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, Persia, India dan lain-lain.[3]
Selain kedua bentuk karya sastra tersebut masih terdapat beberapa jenis karya sejarah pada masa Islam yang tidak dapat digolongkan ke dalam jenis babad dan hikayat. Karya sejarah tersebut mengisahkan riwayat nabi atau para dewa. Misalnya Kitab Manikmaya yang menceritakan penciptaan alam semesta oleh Tuhan. kisah nabi Adam. nabi Ibrahim. dan nabi Ismail. Selain itu terdapat karya sastra berisi ajaran moral dan tuntunan hidup sesuai dengan agama dan adat. Misalnya Bustanussalatin (Taman Raja-Raja) dan Tajussalatin (Mahkota Semua Raja-Raja). Kitab Tajussalatin ditulis oleh Bukhari al Jauhari pada tahun 1630 di Aceh. Tajussalatin ditulis oleh Nuruddin Ar-Raniri atas perintah Sultan Iskandar II dari Aceh pada tahun 1638. Bustanussalatin mengisahkan riwayat para nabi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad, riwayat nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, sejarah bangsa Arab, masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah, sejarah raja-raja di Malaka dan Pahang serta raja-raja Aceh.[2]
c80f0f1006