Format Sensus Pokok Kelapa Sawit

0 views
Skip to first unread message

Gene Cryder

unread,
Aug 5, 2024, 2:24:41 AM8/5/24
to dimastade
Perkebunankelapa sawit dikategorikan sebagai industri perkebunan besar karena luas lahan perkebunan ini bisa mencapai ribuan hektar. Semakin luas lahannya, maka tingkat produksinya pun akan semakin tinggi. Untuk membantu perhitungan produksi yang tinggi ini, perlu dilakukan kegiatan perhitungan produksi yang dinamakan sensus produksi kelapa sawit.

Menurut modul Standar Operasional Prosedur Sensus Pokok dan Produksi nomor SOP AGRO-07/05 yang diterbitkan oleh Serikat Petani Kelapa Sawit, ada dua jenis sensus terkait dengan perkebunan kelapa sawit yaitu sensus pokok dan sensus produksi.


Sensus pokok adalah kegiatan penghitungan seluruh jumlah pokok kelapa sawit (produktif dan non produktif), sedangkan sensus produksi adalah kegiatan penghitungan produksi berdasarkan pokok sampel atau contoh yang telah ditetapkan.


Kegiatan perhitungan dalam sensus produksi menurut modul SOP tersebut meliputi jumlah bunga atau buah kelapa sawit dan berat janjang yang dilakukan secara serentak. Sensus ini bersifat menyeluruh, artinya dilakukan di seluruh areal kebun kelapa sawit yang sudah layak panen.


Sensus merupakan salah satu kegiatan penting yang perlu dilakukan dalam perkebunan kelapa sawit, terutama kaitannya dengan produksi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menghitung estimasi produksi kelapa sawit. Data yang telah didapatkan dari perhitungan sensus bisa dimanfaatkan untuk membantu kegiatan operasional kebun. Berikut ini beberapa manfaatnya:


Dilansir dari situs Info Sawit, ada beberapa jenis sensus yang perlu Anda ketahui terkait dengan produksi kelapa sawit. Jenis-jenis sensus ini dilakukan tergantung pada tujuan dan kebutuhan masing-masing perkebunan. Berikut ini jenis-jenisnya beserta penjelasan lengkapnya.


Sesuai dengan namanya, sensus produksi harian atau disebut juga dengan taksasi harian adalah sensus yang dilakukan setiap hari. Tujuan dari sensus ini adalah untuk menaksir jumlah produksi kelapa sawit pada kegiatan panen yang akan dilakukan esok hari.


Hasil dari sensus ini dapat membantu untuk menentukan jumlah pemanen dan kebutuhan transportasi atau angkutan. Buah kelapa sawit yang dihitung dalam sensus ini merupakan semua buah yang sudah membrondol.


Merupakan salah satu jenis sensus produksi yang dilakukan setiap akhir bulan. Sensus ini biasanya dilakukan pada beberapa blok yang dijadikan perwakilan tahun tanam pada masing-masing divisi atau afdeling.


Empat bulanan artinya sensus produksi ini dilakukan setiap empat bulan sekali pada semua blok-blok panen di kebun. Tujuan sensus ini adalah untuk mengetahui perkembangan produksi, memantau kesehatan semua tanaman kelapa sawit di kebun, dan juga mengidentifikasi masalah yang mungkin terjadi seperti hama dan penyakit.


Jenis sensus produksi yang satu ini dilakukan setiap enam bulan atau setiap semester untuk menghitung semua bunga betina (mulai dari reseptif) dan buah kelapa sawit yang ada pada pokok sampel. Tujuan dari sensus ini adalah untuk memperkirakan seberapa besar peluang tercapainya budget produksi tahunan.


Data yang didapatkan dari kegiatan sensus pada perkebunan kelapa sawit perlu dikelola dengan baik agar dapat membantu para pemilik kebun untuk membuat keputusan. Jika Anda salah satu pengusaha budidaya kelapa sawit yang telah melakukan sensus, Anda perlu mencoba E-Plantation Arvis.


E-Plantation mempunyai beberapa modul yang bisa Anda gunakan untuk mengelola beberapa data terkait dengan operasional kebun kelapa sawit, termasuk data sensus. Anda bisa menggunakan E-Plantation untuk menambahkan data sensus, mencari data sensus, melihat detail sensus, mengubah sensus, dan juga mengekspor sensus.


Segera hubungi tim Arvis lewat nomor WhatsApp ini atau isi formulir penjadwalan demo di sini untuk mencoba menggunakan E-Plantation dalam memudahkan pengelolaan data sensus di perkebunan kelapa sawit Anda.


Serta berat Janjang Rata-rata (BJR), didapatkan dari total berat janjang dibagi jumlah janjang, misalnya total berat janjang 4.000 kg dengan jumlah janjang 200 janjang maka BJR nya adalah 20 kg. Dalam perhitungan estimasi bulan berikutnya menggunakan BJR bulan sebelumnya.


Dilakukan setiap hari untuk menaksir jumlah produksi kelapa sawit pada panen besok. Dilakukan sehari sebelum panen. Bertujuan untuk menentukan jumlah pemanen dan kebutuhan transportasi buah. Buah yang dihitung adalah semua buah yang sudah membrondol.


Dilakukan setiap akhir bulan pada blok-blok perwakilan tahun tanam pada masing-masing Divisi atau Afdeling. Dibutuhkan untuk menyusun Rencana Kerja Bulan depan (RKB). Buah yang dihitung adalah semua buah merah atau mengkal


Yakni mengitung semua bunga betina (mulai dari reseptif) dan buah yang ada pada pokok sampel. Biasanya digunakan untuk melihat peluang tercapainya budget produksi kelapa sawi tahunan. Penting untuk tetap menjadi pedoman jika sensus per semester memperlihatkan budget produksi akan tercapai (sekitar sekian persen di atas budget) maka dari sekarang harus siapkan faktor pendukung agar tercapai. Jika angka memperlihatkan bahwa budget produksi sulit dicapai maka jangan pesimis masih banyak faktor lain yang bisa memperlihatkan kinerja, misalnya kualitas dan efisiensi biaya. (*)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Sensus tanaman Kelapa sawit yaitu Sensus pokok kelapa sawit adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan sawit yang sebenarnya dalam areal atau dalam perkebunan sering di sebut dengan istilah blok.


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selisih dan pengaruh akurasi e-sensus dalam taksasi produksi pada kebun kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di perkebuanan kelapa sawit PT. Suryamas Cipta Perkasa 1, Desa Peduran, Kecematan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Agustus sampai bulan Oktober tahun 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yaitu dengan pengumpulan data sekunder dan data primer. Sampel e-sensus dalam satu tahun diambil 4 bulan sekali, terdiri dari 22 blok di bulan Desember 2021, 49 blok di bulan April 2022 dan 73 blok di bulan Agustus 2022. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji t pada jenjang nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi e-sensus dalam taksasi terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tandan buah segar e-sensus dan hasil tandan buah segar realisasi produksi yang dinyatakan dalam selisih tandan buah segar dan persentasi kesalahan. Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan e-sensus dalam taksasi produksi kelapa sawit memberikan hasil yang belum akurat dalam realisasi produksi dengan meninjau kembali faktor-faktor yang menyebabkan target produksi menurun.


Madusari, S. Sibatuara, W. & Purwandi, H. (2014). Perbandingan Metode Sensus Pokok Tanaman Kelapa Sawit Menggunakan Staplecard Dan Gps Pada Tanaman Menghasilkan Pertama. (Studi Kasus Di Pt Citra Sawit Lestari, Kalimantan Utara).


Salah satu keberhasilan pengendalian hama dan penyakit di perkebunan kelapa sawit adalah penerapan sistem monitoring atau sensus hama dan penyakit. Sistem yang selama ini dikembangkan yaitu berdasarkan pengamatan dan pencatatan manual oleh petugas hama. Sistem baru yang dikembangkan yaitu menggunakan sistem teknologi informasi berbasis smartphone android. Aplikasi android yang dikembangkan untuk pencatatan sistem monitoring ini bernama Monitoring HPT Sawit yang dapat di download di Google Playstore. Sistem baru monitoring hama dan penyakit ini diharapkan dapat memutus rantai pelaporan hasil monitoring sehingga penyusunan strategi pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.


Kebun kelapa sawit yang monokultur berdampak pada hilangnya habitat alami, dengan jenis tanaman yang homogen menjadikan nilai habitat rendah; hilangnya berbagai jenis serangga berguna akibat hilangnya tanaman liar sebagai sumber makanan, juga akibat penggunaan kimia sintetis dalam pengelolaan kebun; penyempitan flora dan fauna.


Kerugian akibat hama dan penyakit adalah pertumbuhan tanaman terhambat, kematian tanaman, penundaan panen perdana seperti serangan Oryctes berat menunda panen 6-12 bulan, penurunan produksi seperti defoliasi 50% produksi turun 30-40% sedang defoliasi 100% produksi turun 30-76%.


Pengendalian OPT saat ini menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu dengan menjaga tingkat populasi hama dibawah ambang ekonomis; menanam tanaman berfaedah (benefecial plant), identifikasi musuh alami dan monitor ; monitoring populasi hama (secara teratur dan cermat), memilih pestisida dengan efek samping seminimal mungkin terhadap organisme bermanfaat, manusia dan lingkungan.


Tahap awal pengendalian dengan sensus dan monitoring. Setelah itu bila dilakukan pengendalian harus 4 tepat yaitu waktu (fase dan ukuran), sasaran (organisme penganggu tanaman), dosis (jumlah bahan aktif per ha), cara (semprot, fogging, absorpsi akar dan trunk injection).


Sedang pada tanaman dewasa/tua digunakan cara pengasapan (fooging) baik untuk Bacillus maupun goloan pyrethroid dengan dosis 300-400 ml/ha. Cara ini juga kurang aman karena dapat membunuh musuh alami dan kumbang penyerbuk.


Oryctes rhinocheros menyerang TBM maupun TM dengan menggerek bagian pangkal pelepah muda tanaman. Menyebabkan kerusakan sampai 69% pada serangan pertama dan kematian tanaman mencapai 25%. Pengendalian dilakukan secara manual dengan mengutip kumbang, pada areal ex chipping setiap 4 bulan sekali (dimulai setelah 4 bulan chipingan), eks ganoderma setiap 6 bulan. Pengendalian secara mekanis dengan menchipping batang tanaman yang direplanting.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages