Francis Pakes does not work for, consult, own shares in or receive funding from any company or organisation that would benefit from this article, and has disclosed no relevant affiliations beyond their academic appointment.
Islandia adalah negara kecil yang terletak di tepi benua Eropa. Negara kecil tersebut hanya memiliki populasi 340.000 orang. Penjara Islandia juga kecil. Di negara tersebut hanya ada lima penjara, yang semuanya menampung kurang dari 200 narapidana. Dari kelima penjara tersebut, dua di antaranya adalah penjara terbuka. Saya pernah mengunjungi kedua tempat itu sebelumnya, dan saya jadi ingin mengenal mereka lebih baik.
Ketika saya bertanya kepada otoritas penjara di Islandia apakah saya dapat menghabiskan seminggu di kedua penjara tersebut, mereka ternyata memberi izin. Bahkan saya mendapat kesan bahwa mereka sangat menyukai ide tersebut: seorang akademisi asing yang ingin mendalami penjara-penjara ini dengan mengambil peran sebagai seorang tahanan. Mereka berjanji akan menyediakan kamar gratis. Saya merasa bersyukur dan juga bersemangat untuk bisa melihat kedua penjara tersebut dari dalam. Meskipun saya tahu tempat-tempat tersebut cukup tenang dan aman, mereka juga menahan orang-orang yang telah divonis untuk tindak pidana kekerasan dan seksual yang cukup serius. Bagaimana sebenarnya penjara tanpa tembok atau pagar berfungsi?
Penjara terbuka Islandia benar-benar sangat terbuka. Ketiadaan fitur keamanan adalah satu hal yang mencolok dari tempat tersebut. Di penjara pertama yang saya tempati, penjara Kvabryggja di bagian barat negara tersebut, hanya memiliki sedikit pengamanan, walaupun memang ada tanda yang melarang orang-orang untuk masuk, terutama wisatawan.
Saya bisa dengan mudah berkendara dan parkir ke gedung kecil satu lantai tersebut. Saya masuk (ya, pintunya memang terbuka) dan menyapa para pegawainya. Saya langsung disajikan makan malam oleh salah satu narapidana di sana yang mengenali saya dari kunjungan sebelumnya. Saya menghabiskan minggu itu menjalani kehidupan sehari-hari sebagai seorang tahanan.
Sudah jelas dari awal bahwa para tahanan dan staf melakukan berbagai hal bersama. Makanan adalah hal yang sangat penting di penjara. Di Kvabryggja ruang makan komunal adalah ruang utama. Para tahanan sarapan, makan siang dan makan malam di sana bersama dengan para petugas. Mereka memasak dan membeli bahan-bahan setiap minggu bersama seorang petugas ke desa terdekat. Makanan lezat berlimpah. Jika seseorang tidak mengucapkan terima kasih kepada para koki tahanan makan akan dianggap tidak sopan. Dan Anda harus membersihkan peralatan makan Anda sendiri.
Meskipun hidup secara komunal ditekankan, kamar tahanan adalah ruang pribadi. Dengan jaringan internet (tentunya dengan beberapa pembatasan) dan telepon genggam, beberapa narapidana, layaknya remaja, menghabiskan banyak waktu mereka di dalam kamar. Meskipun setiap tahanan memiliki kunci kamar mereka sendiri, mereka lebih sering tidak mengunci pintu. Kebiasaan ini merupakan simbol yang kuat bahwa hidup di Kvabryggja didasarkan atas kepercayaan. Awalnya saya sulit menerima hal tersebut karena saya menyimpan paspor, kunci mobil sewaan dan catatan penelitian di dalam kamar. Pada akhirnya saya melakukan apa yang dilakukan oleh semua narapidana di sana dan bahkan tidur dengan pintu tidak terkunci. Saya tidur seperti bayi dan bangun setiap pagi dengan pemandangan domba, rumput dan puncak-puncak gunung bersalju.
Ruang di luar penjara Islandia juga sangat penting. Gunung Kirkjufell yang ikonik menjulang tinggi di timur dan saya berada di dekat laut dengan pantai yang indah serta banyak padang rumput. Hal ini memungkinkan para narapidana untuk merasa seakan-akan mereka berada di tempat lain meskipun mereka tidak pernah meninggalkan wilayah penjara. Saya mendengar bagaimana para tahanan suka berjalan ke gerbang di mana satu-satunya penghalang di antara mereka dan dunia luar adalah pagar ternak. Kesan yang dihasilkan adalah suatu perasaan aneh karena kebebasan hanya sejauh satu langkah.
Yang paling mengejutkan bagi saya adalah interaksi informal yang tercipta di dalamnya. Kita semua menonton sepak bola bersama. Saya lihat pelaku kejahatan seksual tidak malu-malu atau menghindar dari yang lain, dan dengan bersemangat berteriak mendukung Islandia ketika menonton kesebelasan nasional bertanding. Tahanan yang lemah justru bersenda gurau dengan para pengedar narkoba. Saya melihat pengguna narkoba mengobrol dan tertawa bersama staf penjara. Saya juga merasa diterima, baik sebagai seorang peneliti maupun sebagai pribadi. Meskipun terkadang saya memang suka diledek sebagai peneliti penjara, tapi para tahanan juga suka berbagi gosip. Baik para narapidana maupun staf bahkan menceritakan kisah-kisah pribadi serta kisah intim dan personal mereka. Saat Ptur dibebaskan dan ayahnya datang untuk menjemputnya, ia memeluk banyak tahanan dan staf yang lain, termasuk saya dan kami semua merasa emosional.
Tentu saja Kvabryggja masih sebuah penjara. Banyak narapidana merasa frustrasi, marah dan gelisah. Mereka bergumul dengan kesehatan dan mencemaskan masa depan. Tapi lingkungannya aman dan makanannya nikmat. Para narapidana tetap mendapatkan kontak dengan dunia luar, pengaturan kunjungan yang fleksibel dan ada orang yang mendengarkan keluh kesah mereka. Dalam suatu penjara, hal-hal tersebut sangat berarti.
Penjara terpencil ini, dengan populasi tidak lebih dari 20 tahanan dan paling banyak tiga staf dalam satu waktu, adalah suatu komunitas kecil. Para narapidana dan staf merokok bersama di ruang merokok yang sempit tapi selalu ramai. Mereka harus bisa bergaul bersama.
Hidup didefinisikan oleh interaksi-interaksi informal seperti itu. Memang tidak selalu mudah. Populasi penjara tersebut sangat beragam. Ada tahanan perempuan, warga negara asing dan tahanan yang sudah memasuki usia pensiun atau memiliki disabilitas.
Pentingnya membangun lingkungan sosial yang akur dalam lingkungan penjara adalah pelajaran yang bisa diambil. Membangun lingkungan yang demikian lebih sulit dalam lembaga penjara yang besar dan ramai karena tahanan baru datang dan pergi setiap hari. Keamanan lingkungan bisa efektif hanya jika terdapat interaksi publik yang ramah. Begitu juga dengan penjara. Suatu penjara bisa menjadi tempat yang positif apabila sebagian besar interaksi yang terjadi ramah dan hangat. Ketika para narapidana dan staf bisa berbagi ruang, cerita dan membangun kebersamaan, peluang para tahanan untuk berubah menjadi lebih baik akan meningkat.
Penjara terbuka Islandia, pada suatu level tertentu, bisa dikatakan unik. Mungkin hal tersebut disebabkan ukuran, populasi penghuni, atau rezim yang santai. Mungkin penjara-penjara tersebut melambangkan Islandia, suatu negara di mana secara historis mereka harus bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup di kondisi iklim Atlantik Utara yang keras. Apa pun itu, hidup bersama, di penjara yang tenang, terpencil dan kecil ini, dengan cara yang aneh, justru masuk akal.
Siapa sebenarnya sosok Tan Malaka ini? Agar seluruh orang tahu siapa dirinya, Tan Malaka pun menulis sebuah autobiografi yang telah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Dari Penjara ke Penjara. Seperti apa buku ini? Simak reviewnya berikut ini, ya!
Orang tua Tan Malaka adalah seorang bangsawan yang bekerja sebagai seorang pegawai pertanian untuk Hindia Belanda. Kedua orang tua Tan Malaka memang selangkah lebih maju dibandingkan para penduduk lainnya. Akan tetapi dalam kepemilikan serta kependudukannya, mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk desa lainnya.
Tan Malaka sempat mengenyam pendidikan sekolah rendah dan meneruskan pendidikan ke sekolah guru pribumi atau Inlandsche Kweekscholl Voor Onderwijzers yang ada di Bukit Tinggi Sumatera Barat pada tahun 1908 hingga 1913.
GH Horensma adalah guru Tan Malaka di sekolah guru yang kemudian memberikan rekomendasi pada Tan Malaka untuk melanjutkan studinya ke Belanda dengan menggunakan sumbangan dari para Engku sebanyak 50 rupiah setiap bulannya. Atas rekomendasi tersebut, Tan Malaka pun akhirnya ke Belanda di usianya yang ke-17 tahun untuk belajar di Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah atau Rijks Kweekschool yang ada di Harlem.
Selama masa kuliahnya, pengetahuan Tan Malaka mengenai revolusi mulai muncul serta semakin meningkat, usai membaca buku de Fransche Revolutie. Usai Revolusi Rusia di Oktober 1917, Tan Malaka pun mulai tertarik untuk mempelajari mengenai Sosialisme serta Komunisme.
Kemudian, Tan Malaka mulai sering membaca buku karya Friedrich Engels, Karls Max, juga Vladimir Lenin yang kebanyakan membahas mengenai Komunisme serta Sosialisme. Sejak saat itulah, Tan Malaka pun mulai membenci budaya Belanda serta terkesima dengan masyarakat Jerman dan Amerika.
Pada tahun 1919 usai Perang Dunia I selesai, Tan Malaka kemudian kembali pulang ke Indonesia untuk menjadi guru bagi anak-anak kuli kontrak yang bekerja di perkebunan tembakau yang ada di Deli Sumatera Utara.
Ia kemudian mendapatkan gaji setara dengan guru Belanda. Para rekan Belandanya pun menjadi tidak menyukai serta memandang rendah Tan Malaka. Akan tetapi, Tan Malaka adalah sosok yang penuh semangat untuk mendalami politik serta mengaplikasikan ilmu-ilmu serta pengalamannya yang ia peroleh di Belanda dengan baik. Sehingga, hal tersebut pun tidak mengganggu Tan Malaka.
Pemikiran Tan Malaka pun semakin radikal dengan menggunakan ideologi kiri. Aksi pertama Tan Malaka ialah keterlibatannya terhadap pemogokan buruh-buruh di Sumatera. Pada tahun 1921, Tan kemudian diangkat menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena aktivitas politiknya tersebut, setahun kemudian Tan Malaka pun diusir dari Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1922, Tan Malaka pun sempat menjadi perwakilan Indonesia dalam Kongres Keempat Komite atau Komunis Internasional. Di kongres tersebut, Tan kemudian ditunjuk sebagai agen komitmen untuk Asia Tenggara serta Australia.
Kemudian pada tahun 1926, Tan Malaka pun melakukan penentangan terhadap pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI, Tan kemudian disalahkan oleh para pendukungnya atas kegagalan dari pemberontakan tersebut.
b37509886e