Melihatjudulnya saja, kita tentu sudah langsung menilai bahwa buku ini akan berisi tentang perjalanan hidup Suharto dalam karir politiknya. R.E. Elson menulis dengan sangat apik Suharto dalam perspektif politiknya. Indonesia dan segenap perjalanan sejarahnya menuju keadaan yang "baru" ditulis Elson tidak hanya pujian tetapi juga kritikan.
Dalam buku ini, penulis dengan lugas menuliskan kritik terhadap Suharto dan kebijakannya yang membawa Indonesia dalam jalan buntu yang sangat berliku. Kebisuan & kemisteriusan, adalah 2 kata yang digunakan penulis untuk menggambarkan sang tokoh. Meskipun telah banyak penelitian dan tulisan yang mencoba menelaah Suharto dan pikiran politiknya, akan tetapi tidak ada diantara mereka yang mampu menghadirkan Suharto dengan sistematis.
Karirnya dalam menciptakan politik Indonesia "modern" bisa kita katakan dimulai pada masa revolusi kemerdekaan. Perannya dalam Serangan 6 jam di Yogyakarta mengangkat namanya di panggung politik Indonesia.
Ketika Agresi Militer Belanda II membuat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, Tentara Nasional Indonesia langsung menyusun strategi untuk memukul balik dan mengambil alih Indonesia dari Belanda. Pada pagi hari sekitar pukul 6, sirine dibunyikan dan serangan pun diluncurkan ke seluruh penjuru kota. Letkol Suharto dengan pistol Owen favoritnya memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Pasukan penyerang ini bercirikan janur kuning yang dikenakan di bahu. Dalam waktu 6 jam, Yogyakarta berhasil diambil alih. Dari peristiwa itu, Suharto dianggap sebagai salah satu pahlawan berjasa dalam menyelamatkan negeri ini dari percobaan perebutan kembali oleh Belanda.
This is a report on the state of democracy and democratization in Indonesia. It provides recently assembled, critical accounts on the achievements toward, as well as challenges to democratisation in the country.
Buku ini mengulas keadaan demokrasi dan demokratisasi di Indonesia, melalui pendekatan kritis terhadap pencapaian dan tantangan di Indonesia. Dalam ulasannya, buku ini menawarkan poin referensi invoviduals yang diposisikan untuk mengamankan transformasi Indonesia ke arah sistem politik demokratis yang sejati. Perspektif dua kelompok yang berkontribusi terhadap transformasi demokrasi, dirajut secara bersamaan, yaitu kelompok peneliti demokrasi yang berorientasi teoritis dan aktivis pro demokrasi yang berorientasi aksi. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa demokrasi tidak hanya bergerak tetapi juga menuju pada arah yang benar. Selain untuk memenuhi standar ilmiah yang ketat, kajian dalam buku ini untuk membekali para aktivis dan praktisi politik dengan instrumen supaya berkontribusi lebih efektif bagi demokrasi.
Museum memorial Jenderal Besar Soeharto diresmikan bertepatan dengan hari lahir beliau 08 Juni di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, DIY. Di atas lahan seluas 3.620 meter persegi, museum ini didirikan untuk mengenang jasa dan pengabdian beliau semasa hidupnya untuk bangsa Indonesia. Di museum ini juga memajang berbagai prestasi yang diraih beliau semasa menjabat Presiden RI ke-2.
Museum memorial Jenderal Besar Soeharto ini dibangun dan diresmikan oleh Bapak H. Probosutedjo (adik dari Soeharto) dan Mbak Tutut (putri pertama Soeharto) terdiri dari beberapa bangunan utama seperti pendopo, ruang diorama dan masjid kecil di sebelah selatan persis ruang diorama ini.
Dalam kunjungannya di museum ini, redaksi
kotajogja.com sempat melakukan wawancara singkat dengan Aryo Winoto keponakan dari Bp Soeharto. Memorial ini dibangun menjadi tetenger dan sumber inspirasi bagi generasi muda, selain itu untuk mengenang jasa dan pengabdian beliau kepada bangsa negara Republik Indonesia.
Memasuki museum ini kita akan disambut dengan patung besar Jenderal Besar HM. Soeharto karya seniman Edhi Sunarso bersebelahan dengan batu besar sebagai prasasti peresmian museum. Setelah itu kita masuk dalam pendopo yang memajang multimedia perjuangan beliau serta buku elektronik yang bersebelahan dengan patuh setengah badan Soeharto.
Untuk melihat koleksi lengkap dari museum ini, pengunjung dapat memasuki ruang diorama yang dikemas dengan perpaduan tradisional dan modern. Memasuki ruangan ini, pengunjung akan disambut dengan instalasi roll film yang berisi dokumentasi visual gerak tentang perjuangan beliau, selain itu kita akan disugsuhi diorama perjuangan beliau ketika melakukan koordinasi dengan Pangsar Jenderal Sudirman ketika SO 1 Maret 1949. Di dalam diorama ini kita juga bisa melihat ketika beliau diundang oleh FAO di Roma tahun 1985 untuk mendapatkan penghargaan keberhasilan beliau dalam melakukan swasembada pangan.
BILA dalam teks-teks biografi Soeharto selama ini terdapat sejumlah kejanggalan dan pengakuan yang tak masuk akal, terutama mengenai karier militernya selama pendudukan Jepang, David Jenkins mengurainya dalam buku ini.
Seperti penelitian Jenkins sebelumnya, Soeharto and His Generals: Indonesian Military Politics, dalam buku ini tak ada petikan wawancara dengan Soeharto. Tak mudah mendapatkan kesempatan wawancara empat mata dengan tokoh kontroversial itu, terlebih wawancara soal politik (Orde Baru). Untung, ada sejumlah buku dan artikel tentang Soeharto yang membantu Jenkins melacak karier militer Soeharto pada masa pendudukan Jepang (Maret 1942-Agustus 1945).
Tahun 1942 menjadi momen akhir sekaligus awal bagi karier kemiliteran Soeharto: masa akhir sebagai serdadu KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indisch Leger) dan awal karier sebagai perwira Peta (Pembela Tanah Air). Sebelum mendaftar Peta, Soeharto sempat masuk dalam korps kepolisian Jepang. Dia menjalani pelatihan selama tiga bulan, lalu ditempatkan di Yogyakarta. Setahun lamanya Soeharto menghabiskan waktu dalam institusi yang sangat ditakuti rakyat masa itu. Di sinilah Soeharto ditempa dalam disiplin tinggi, otoriter, dan paternalis.
Enam minggu pertama setelah dinyatakan lolos, Soeharto menjalani pemusatan pelatihan komandan peleton (shodancho) di Bogor, bersama 230 calon shodancho dari Jawa Tengah di Kompi Empat. Setiap perwira Peta mengenang periode pelatihan keras itu, yang pada akhir 1944 melahirkan 37.000 tentara dari golongan pribumi. Tak salah bila Peta kemudian menjadi anatomi angkatan bersenjata Indonesia pascaproklamasi. Para perwiranya pun mengisi jabatan tinggi dalam militer Indonesia selama 30 tahun pertama.
Dalam konteks keikinian, terutama di tengah pasang-surut wacana penyematan gelar pahlawan kepada Soeharto, buku ini amat berguna sebagai bahan pertimbangan objektif. Selama beberapa tahun terakhir, wacana tersebut selalu mengemuka dan pandangan pro-kontra tak pernah berhenti bergulir. Kelak, tak ada jaminan perdebatan serupa bakal tutup buku atau minimal dipandang tak perlu diulang-ulang.
Kontras seperti itu tentu tak bisa ditelan mentah-mentah dan dipahami sebagai realitas sejarah an sich. Jenkins, biarpun tekun meneliti sosok Soeharto, bukanlah seorang dokumentator dan sejarawan murni. Acapkali dia terjebak untuk memungkasi tulisan dengan kalimat-kalimat spekulatif dan berani.
Di luar itu, riset Jenkins ini tak memberi ruang secara menyeluruh, kalau memang dipersoalkan, terhadap orang-orang di lingkaran keluarga Soeharto. Jenkins tak memasukkan mereka dalam daftar narasumber yang diwawancarai. Baik dari anggota keluarga setelah Soeharto menikah dan membangun dinasti politik Orde Baru maupun anggota keluarganya semasa muda. Tentu hal itu tak lepas dari sosok Soeharto sebagai pribadi yang cenderung tertutup dan tak ingin diketahui masa lalunya.
Sejarah masa muda Soeharto yang belum pernah diungkap. Inilah buku perjalanan hidup Soeharto di usia awal 20-an, di masa-masa pendudukan militeristik Jepang yang penuh gejolak dan perubahan kondisi sosial politik yang tak terduga. Namun dari masa itulah akar-akar fasisme dan sifat teror serta kejam Soeharto dapat dilacak permulaannya.
BUKU Young Soeharto: The Making of a Soldier, 1921-1945 adalah bagian pertama dari rencana David Jenkins, 79 tahun, menerbitkan buku trilogi tentang mantan Presiden Soeharto. Sebagai jurnalis, Jenkins ingin memberi gambaran yang utuh dan lengkap mengenai riwayat hidup Soeharto semenjak kanak-kanak hingga menggapai kekuasaan.
Pada 1969, saat umurnya baru 26 tahun, Jenkins berkesempatan mewawancarai khusus Soeharto di Jakarta. Ia...Berlangganan untuk lanjutkan membaca.
Kami mengemas berita, dengan cerita.
Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.
Secara fisik, buku setebal593 halaman ini dibagi menjadi 4 (empat) bagian, yang terurai ke dalam 12 bab. Bagian pertama diberi judul getting started dengan 2 bab yakni orientasi dan satu hal mendasar dalam hal disiplin. Bagian kedua diberijudul classroom yang mengupas masalah pembelajar, penegakan disiplin, komunikasi produktif, serta sistem berpikir. Bagian ketiga sejalan dengan judul school menyoroti fenomena pembelajar sejak masuk sekolah, visi sekolah, kenyataan di sekolah, pengembangan dan kepemimpinan sekolah. Sementara itu, bagian terakhir dengan judul community mengupas masalah identitas, hubungan, dan keberlanjutan yang ada di masyarakat, serta ditutup dengan catatan akhir dari para penulis.
Jurnal Cakrawala Pendidikan by Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan UNY is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at
Bekerjasama dengan Universitas Mercu Buana (UMB), sebanyak 34 wartawan menuangkan tulisan mereka dengan dua versi, nuansa human interest sesuai dengan kesan, kenangan serta pengalaman masing-masing dan nuansa semi tematik.
Beberapa wartawan yang terlibat di dalam penulisan buku ini diantaranya Daud Sinja (Direktur Utama Harian Sinar Harapan), Dr. Toeti Kakiailatu (Redaktur Majalah Tempo), H. Ernesto Barcelona (Wartawan Harian Pelita) dan sejumlah wartawa senior lain yang tergabung di dalam Pewaris.
3a8082e126