Bukuteka-teki adalah sejenis buku kegiatan yang berisi kumpulan teka-teki untuk diselesaikan pembaca. Buku teka-teki dapat berisi teka-teki, semua hanya dari satu jenis, seperti teka-teki silang, sudoku, atau pencarian kata, atau campuran berbagai jenis teka-teki. Buku teka-teki mungkin ditujukan untuk orang dewasa atau anak-anak dan dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti pendidikan atau semata-mata untuk hiburan.
Pembelajaran bahasa arab yang belum tepat guna, dipandang sebagai penyebab utama tidak maksimalnya proses pembelajaran bahasa arab, terlebih lagi dalam proses pembelajaran penguasaan kosakata bahasa arab. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan awal yang dilakukan peneliti di lembaga PIQ Singosari, didapatkan hasil bahwa siswa dan guru pengajar membutuhkan media pembelajaran pendamping buku ajar dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu kitab Madarij al-Duruus al-Arabiyah Jilid IV untuk mengembangkan media buku Teka-teki silang (TTS) yang layak pakai sebagai buku pendamping dalam pembelajaran kitab Madaarij ad-Duruus al-Arabiyyah jilid 4. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Develop, Implement and Evaluate). Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah para peserta didik PIQ Singosari. Data yang disajikan dalam penelitian ini merupakan data kualitatif deskriptif yang dihasilkan dari pengambilan data angket analisis kebutuhan, validasi ahli media, ahli materi, respon siswa dan penilaian guru. Hasil dari uji validasi mendapat hasil valid dengan persentase validitas media sebesar 58,66%, persentase validitas materi sebesar 76%, dan persentase respon siswa sebesar 66,2%. Oleh karena itu, media buku teka-teki silang bahasa Arab Madaarij ad-Duruus al-Arabiyyah Jilid 1 untuk paket dasar I, dinyatakan layak digunakan sebagai buku pendambing bahan ajar mata pelajaran bahasa Arab yang digunakan di PIQ Singosari.
Learning Arabic that has not been appropriate, is seen as the main cause of the ineffectiveness of the Arabic learning process, especially in the process of learning Arabic vocabulary mastery. Based on the results of the initial needs analysis conducted by researchers at the Singosari PIQ institution, it was found that students and teaching teachers needed learning media to accompany textbooks in learning Arabic, namely the Madarij al-Duruus al-Arabiyah book Volume IV to develop media for crossword puzzles. (TTS) which is suitable to be used as a companion book in the study of the book of Madaarij ad-Duruus al-Arabiyyah volume 4. This research is a type of descriptive qualitative research using the ADDIE development model (Analysis, Design, Develop, Implement and Evaluate). The test subjects in this study were Singosari PIQ students. The data presented in this study is descriptive qualitative data resulting from the collection of needs analysis questionnaires, validation of media experts, material experts, student responses and teacher assessments. The results of the validation test got valid results with a media validity percentage of 58.66%, a material validity percentage of 76%, and a student response percentage of 66.2%. Therefore, the medium of the Arabic crossword puzzle Madaarij ad-Duruus al-Arabiyyah Volume 1 for the basic package I, was declared suitable to be used as a companion book for teaching materials for Arabic subjects used at PIQ Singosari.
Manusia yang besar di tahun 70-90an tentu tidak akan lupa dengan sarana paling menghibur untuk mengisi waktu senggang pada saat itu: Teka-teki silang alias TTS. Sebuah permainan kata yang saat kita bisa mengisi penuh kemudian dibawahnya akan dibubuhi tandatangan kita, paling tidak, itulah yang pernah saya lakukan, norak banget.
Di toko buku, saya mendadak teringat akan sosok ayah saya dulu yang setiap kali ke toko buku selalu tak pernah lupa membeli buku TTS. Saya ingat karena beberapa kali sempat diajak untuk menemani beliau ke toko buku, entah untuk membeli buku, atau sekadar membeli peralatan kantor. Kala itu, toko-toko buku belum ada yang sebesar Gramedia atau Gunung Agung, masih sekadar kios sederhana yang kemudian dibikin sesak oleh buku-buku yang ditumpuk begitu saja.
Seketika itu juga, pandangan langsung saya layangkan ke seantero sudut toko buku, mencoba untuk bernostalgia dengan buku TTS. Upaya saya berbuah nihil, karena rupanya, di toko buku tempat saya mengantar anak saya, saya sama sekali tak menemukan buku TTS.
Ya Tuhan, Apa salah TTS sehingga sekarang tidak lagi mendapat tempat di rak-rak toko buku? Apakah karena TTS dianggap sebagai sebuah karya non-sastra yang hanya diperuntukkan bagi kaum proletar yang hanya tinggal dirumah bedeng kontrakan dekat dengan proyek pembangunan sehingga penjualannya hanya layak diakomodir oleh kios-kios penjual koran, dan bukan di toko-toko buku?
Dulu, di awal-awal tahun 90-an, satu eksemplar buku TTS bisa didapatkan hanya dengan harga 500 rupiah. Ajaib bukan? uang 500 saat itu sudah bisa membuat kita melupakan sejenak beban hidup kita dan men-sugesti kita untuk menjadi manusia cerdas yang tahu apa saja. Membuat kita bangga dengan pengetahuan umum kita yang sebenarnya juga cuma segitu saja.
Melihat covernya, kita langsung memikirkan berapa tarif sekali kencan dengan gadis cover TTS ini, tapi begitu dibuka isinya, kita langsung dipaksa memikirkan apa nama mata uang Republik Kongo atau apa ibukota negara Burkina Faso. Kan bajingan betul.
Namun, diakui atau tidak, buku TTS adalah sebuah eksklusifisme kaum marginal, kita bisa lihat bagaimana para sopir jaman dulu mengusir kebosanan saat menunggu sang juragan dengan mengisi kotak jawaban menurun dan mendatar. Hal sama yang belum pernah saya lihat dilakukan oleh mereka, kaum eksekutif, yang banyak membuang waktu setiap minggu untuk menunggu pesawat delay di executive lounge sebuah bandara.
Entah mengapa, saya jadi ingin mengetuk hati para budayawan Indonesia untuk melestarikan budaya ngisi TTS yang pernah menjadi tradisi kaum marginal. Kalau beberapa waktu yang lalu sempat ramai wacana tentang kretek sebagai budaya leluhur, mestinya TTS juga layak untuk mendapatkan apresiasi yang sama, toh tak sedikit leluhur kita yang menikmati kretek sambil ngisi TTS. Paling tidak kita sebagai mantan penikmat TTS dengan kehidupan sekarang yang lebih mapan bisa turut memikirkan nasib para pengarang soal TTS, bagaimana nasib mereka jika tradisi ini punah?
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa sebagian ilmu yang kita dapat adalah hasil kontribusi mereka? Pernahkah terpikir oleh kita bahwa para pejabat dan intelektual muda itu pada masa mudanya sempat menghabiskan waktu di kosan dengan mengisi TTS yang setia terselip diantara diktat dan tugas kuliah?
Kalau saja tradisi mengisi TTS masih sebesar dulu dan buku TTS masih banyak dijual, saya kok yakin tidak banyak orang yang sok peduli dengan urusan politik atau segala macam penistaan di negeri ini. Bagaimana mereka sempat berdemonstrasi ketika otak disibukkan dengan pertanyaan mendatar dan menurun?
Banyak orang, baik dewasa, remaja, maupun anak-anak yang melakukan permainan ini dengan tujuan mengisi waktu luang. Biasanya orang bisa menemukan permainan TTS di lembar koran, majalah, buku atau satu set permainan TTS.
Selain itu, kebanyakan dari kita menyukai permainan ini karena membuat diri merasa tertantang dan penasaran dengan kata berikutnya yang belum ditemukan. Grameds penasaran dengan permainan TTS ini? Yuk, kita baca penjelasannya!
TTS merupakan singkatan dari teka-teki silang, yaitu salah satu permainan kata yang dibentuk dari kotaK-kotak kosong; ruang hitam dan ruang putih. Biasanya orang akan diminta mengisi ruang kosong dengan kata yang memiliki kesinambungan dengan huruf dari kata sebelumnya sehingga terbentuklah frasa baru. Adapun tujuan dari permainan TTS adalah menemukan atau mencari sebuah kata baru dari petunjuk pada setiap kata sebelumnya.
TTS memiliki format berbeda-beda pada setiap negara. Untuk format TTS di Indonesia mengikuti yang ada di Britania Raya, India, Australia, dan Afrika Selatan, yaitu sebuah format dengan bentuk anyaman yang memiliki kotak-kotak putih dan hitam. Jika diperhatikan lebih jelas, maka bisa kita lihat 25% berisi kotak hitam dan 50% huruf tidak saling menyilang, sisanya merupakan bagian yang berkesinambungan.
Berbeda dengan desain TTS di Amerika yang lebih banyak memiliki ruang atau kotak putih untuk diisi. Namun, untuk tata cara pengisiannya tetap mengikuti kaidah menurun dan mendatar. Itulah pengertian singkat dari permainan TTS.
TTS atau teka-teki silang pertama kali ditemukan oleh seorang jurnalis asal Liverpool. Ia adalah Arthur Wyne yang bekerja di kantor koran New York. Awalnya ia ditugaskan untuk membuat sebuah permainan yang akan dimuat dalam koran agar para pembaca tertarik membaca koran tersebut.
Akhirnya, ia mulai mencari sumber referensi permainan yang dapat dinikmati oleh pembaca. Hingga kemudian Arthur menemukan sebuah permainan kuno yang bernama Pompeii atau anak-anak di Amerika sering menyebutnya sebagai Magic Square. Dari sinilah muncul ide untuk membuat permainan TTS.
TTS sendiri merupakan permainan penyusunan kata. Untuk pertama kali permainan tersebut terbit di surat kabar New York edisi Minggu pada tahun 1913, yaitu kantor tempat Arthur bekerja. Banyak orang yang ternyata menikmati permainan tersebut, sehingga mendorong Arthur untuk terus membuatnya.
Ia membuat desain permainan TTS dalam bentuk pola kristal berlian. Dalam permainan ini ditulis secara mendatar dan menurun. Hingga akhirnya TTS menjadi sebuah permainan yang populer di Amerika dan banyak lapisan masyarakat menikmatinya.
Perkembangannya yang begitu pesat membuat TTS menjadi sebuah kontroversi di Amerika. Pasalnya, orang-orang Amerika banyak menghabiskan waktunya untuk memainkan permainan ini. The Times menjadi salah satu media yang mengeluarkan artikel bahwa TTS dapat menghancurkan jam kerja individu.
Namun, adanya artikel tersebut tidak berdampak apapun pada kepopuleran TTS. Terbukti TTS semakin dikenal di banyak negara, bahkan mengalami perkembangan yang signifikan baik dari segi bahasa maupun pola penulisan. Para ahli juga membuat penelitian yang berkaitan dengan keuntungan bermain TTS pada kecerdasan kognitif, sehingga makin membuat TTS dipercaya sebagai permainan pengasah otak.
3a8082e126