Arabesqueatau seni ornamen Islam), adalah bentuk dekorasi artistik yang terdiri dari "dekorasi permukaan" (berdasarkan pola linier bergulir dan berirama) atau garis lurus.[1] Ornamen semacam ini sering digabungkan dengan elemen lain. Biasanya terdiri dari pola tunggal yang bisa 'disusun berpetak' atau disusun berulang-ulang dan sebanyak yang dikehendaki.[2] Dari sekan banyak seni ornamen Eurasia ini menyebabkan istilah arabesque digunakan sebagai istilah teknis oleh para sejarawan seni untuk menggambarkan unsur-unsur dalam ornamen yang ditemukan dalam dua fase, yaitu seni ornamen Islam yang lahir sejak abad ke-9, dan seni ornamen Eropa yang lahir sejak zaman Renaisanse. Arabesque ini merupakan unsur dasar dalam seni Islam tetapi ia berkembang dari apa yang sudah ada sejak kedatangan Islam. Penggunaan istilah ini dulu dan sekarang masih dianggap membingungkan dan inkonsisten. Sebagian ahli arabesque Barat merujuk ini sebagai seni Islam, tetapi yang lainnya lebih kepada seni ornami Romawi Kuno. Di Barat, arabesque menjadi seni ornamen yang utama, dan karena ornamen Islam arabesque ini umumnya bukan pola gambar, maka keberadaannya menjadi unsur yang paling kuat dalam setiap karya ornamen arsitektur.
Indah. Cuma itu yang bisa tergambar bila melintas kawasan Plaza Balaikota Surakarta. Lampu kuning yang bergelantung tidak hanya di tengah jalan, namun juga menghiasi Tugu Pemandengan dan pohon-pohon besar, sehingga menambah malam Ramadan menjadi semakin bermakna.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta, kembali menghiasi kawasan Plaza Balaikota dengan berbagai ornamen. Sebelumnya, sejak menyambut Natal (2022), Tahun Baru, Imlek dan Nyepi (2023), Pemkot memasang berbagai ornamen menarik sebagai bentuk atau cermin Kota Solo adalah Kota Toleransi. Keragaman tradisi agama dan budaya menjadi salah satu ciri khas Solo, sebagai kota yang nyaman bagi seluruh pemeluk agama dan etnis.
Pada Ramadan 1444 H/2023 M ini, sepanjang satu bulan penuh, giliran ornamen Islam khas Ramadan dipasang untuk menghiasi kawasan Plaza Balikota. Sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran Gladak, juga dipasang ornamen replika menara dan kubah masjid. Bila pada malam hari, lampu yang terpasang di replika menara, makin menambah keindahan suasana di Jalan Jenderal Sudirman.
Hampir semua spot menjadi spot yang sangat instagramable dan langsung banyak diunggah warga Solo. Memang semua tempat tampak begitu indah, sangat sayang jika tidak diabadikan untuk vlog video atau foto-foto untuk diunggah di media sosial.
Tempe mendoan, tahu gejrot, dawet dan berbagai jajanan takjil untuk berbuka, sudah sangat komplit dipilih dengan harga-harga yang sangat terjangkau. Tempat ini memang asyik untuk ngabuburit dan bebas berswafoto sembari menunggu waktu berbuka.
Kampung Ramadan sengaja dibuka untuk memberikan kesempatan warga Solo sebagai areal ngabuburit yang asyik, baik bersama teman atau keluarga. Warga bisa merasakan kenyamanan menunggu waktu berbuka mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Sejak Sabtu, 25 Maret 2023, Kampung Ramadan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka dengan memukul bedug.
Kampung Ramadan 2023, tidak hanya menggelar berbagai produk 30 UMKM dalam Pasar Takjil UMKM, namun juga diisi dengan berbagai event yang menyertainya, seperti peringatan Earth Hour atau Hari Bumi, Festival Lampu, Penampilan Hadrah dan Lomba Hafalan Alquran.
Yang menyita perhatian warga Solo, ada kehadiran MasterChef Indonesia, Arnold Poernomo atau Chef Arnold dan YouTuber Bobon Santoso pada Sabtu (25/3/2023). Mereka mendemokan masak gulai ayam menggunakan wajan besar di Plaza Balaikota Surakarta. Hasil masakan itu, kemudian dibagikan ke warga secara gratis sebanyak 1.000 porsi.
Aksi para public figure tersebut, mengundang warga Solo yang berada di sekitar Plaza Balaikota ikut menyaksikan aksi mereka. Seru dan menarik, karena kehadiran public figure yang selama ini hanya dilihat di layar kaca, bisa disaksikan langsung oleh warga. Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka terlihat ikut menemani para chef ternama yang memasak gulai ayam dalam wajan besar.
Nuansa Ramadan 1444 H/2023 M kali ini memang sangat berbeda, Pemkot Surakarta memberikan kesempatan warga untuk berpartisipasi di Kampung Ramadan untuk mencicipi berbagai takjil selama bulan suci. Kalian sudah upload foto-foto dan videomu di Kampung Ramadan Balai Kota Surakarta? Kalau belum, yuk buruan datangi Kampung Ramadan dan pastikan kontenmu di sosial media bisa memberikan informasi keren untuk Kota Solo.
Perancangan bangunan masjid tidak memiliki aturan khusus kecuali tentang syarat-syarat tempat untuk beribadah, sehingga bentuk dan langgam bangunan masjid di Indonesia sangat beragam. Keberagaman langgam pada arsitektur masjid dipengaruhi oleh akulturasi antara budaya Islam dengan budaya lokal. Akulturasi pada bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya ialah integrasi antara budaya Islam dengan budaya Cina, yang salah satu wujudnya terlihat pada ornamen bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengidentifikasi wujud dan pengaruh akulturasi budaya Islam dan budaya Cina yang terdapat pada ornamen Masjid Cheng Hoo Surabaya. Artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan teknik pengumpulan data melalui observasi tidak langsung dan dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi akulturasi budaya Islam dan budaya Cina yang terwujud pada ornamen di bangunan masjid Cheng Hoo Surabaya. Akulturasi budaya pada bangunan Masjid Cheng Hoo membentuk integrasi antar dua budaya. Wujud akulturasinya berupa bentuk ornamen dan dominasi warna yang digunakan. Pengaruh akulturasi budaya pada bangunan masjid yaitu sebagai pengingat kepada keesaan Allah SWT, simbol keharmonisan dan menghormati antar umat beragama dan budaya.
Masjid Al-Aqsha Kudus dibangun tahun 1549 M dan Menara Kudus yang diprediksi dibuat tahun 1685 M adalah merupakan peninggalan bersejarah yang sangat berharga, menjadi salah satu saksi berkembangnya ajaran Agama Islam di Kudus. Berdasarkan penelitian yang telah banyak dilakukan, sampai saat ini bentuk Menara Kudus dianggap seperti bentuk candi Hindu-Budha. Ornamen yang ada dianggap kesinambungan dari tradisi Hindu Budha. Masjid Menara Kudus dianggap simbol akulturasi budaya dan toleransi Hindu, Budha, dan Islam. Keyakinan peneliti bahwa seharusnya konsep Islamlah yang menjadi pokok di dalam proses interpretasi dan kreasi ulang sehingga menjadi hasil karya arsitektur yang sampai hari ini masih dapat kita saksikan keunikannya. Maka tujuan dari penelitian ini adalah ; 1) mencari konsep Islam yang mendasari bentuk dan ornamen Masjid dan Menara Kudus, 2) komponen bentuk apa saja yang mendapat pengaruh tradisi Hindu dan Budha. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dan kualitatif deskriptif, dengan cara melakukan observasi langsung ke lokasi guna memperoleh deskripsi fisik objek dan melakukan perekaman data. Hasil penelitian menemukan bahwa konsep dasar dari Bentuk dan ornamen Masjid Menara Kudus adalah konsep Rukun Islam lima. Bentuk arsitektur candi, candi bentar, padurekso, dan ormanen-ornamen candi, menjadi inspirasi atau digunakan untuk memperindah bentuk bangunan Masjid Menara Kudus.
Festival yang bertajuk The International Cultural Festival of Illumination and Miniature ini dihelat oleh Kementerian Kebudayaan Aljazair di salah satu kota bersejarah, Tlemcen. Festival ini sekaligus menjadi ajang pertemuan para seniman, peneliti, profesor, guru, hingga dosen seni rupa di seluruh dunia.
Tercatat 9 negara dengan lebih dari 70 peserta mengikuti festival ini, mulai dari Aljazair, Turki, Tunisia, Mesir, Irak, Iran, Indonesia, Yaman, dan Uzbekistan. Festival ini digelar sejak 27 hingga 29 Desember 2023. Rangkaian acara meliputi seminar, workshop, diskusi, hingga puncak acaranya adalah perlombaan miniatur dan seni ornamen Islam.
Ornamen dinding dibalut oleh kerawang yang didesain khusus. Desain khusus ini merupakan modifikasi dari pola segi delapan yang menyatu dengan pola ornamen geometri di bagian gedung lainnya. Kerawang yang berlubang ini sekaligus menjalankan fungsi ventilasi serta pencahayaan
Bagian kaca patri juga tampil senada dengan pola yang merujuk pada segi delapan. Dengan warna khusus, kaca patri ini dibingkai de ngan timah putih. Pada siang hari, kaca patri ini tampak indah dipandang dari dalam masjid sedangkan pada malam hari bisa dinikmati dari arah luar dengan pancaran pencahayaan dari dalam.
Masuk ke bagian dalam masjid, sentuhan aneka ornamen semakin kuat. Mulai dari kaca patri, mukarnas (elemen pelembut pertemuan sudut), lampu gantung, untaian kali grafi, pagar lantai mezanin, hingga mimbar. Bentang masjid sepanjang 66 meter x 66 meter tanpa tiang adalah bentangan terbesar se-Asia Tenggara. Ini menyimbolkan 6.666 ayat dalam Alquran.
Nah, pengaruh Betawi mulai terlihat pada lampu-lampu gantung di dalam masjid. Mengadopsi bentuk kipas seperti hiasan di atas kepala ondel-ondel, lampu kipas ini hadir dalam bentuk yang saling bertumpuk. Jumlahnya ada 12 titik yang melambangkan jumlah bulan dalam setahun, yakni 12. Masingmasing lampu kipas ini memiliki bobot satu ton.
Memandang ke depan ke arah mihrab, jamaah akan disuguhi ornamen berupa bingkai-bingkai seperti di bagian luar masjid. Bingkai pada mihrab menggunakan lapisan batu alam berwarna mencolok diban dingkan warna dinding dasarnya. Bagian dalam bingkai berisi ornamen kaligrafi dari tembaga.
Bagian mimbar Masjid JIC dibuat dari konstruksi kayu dua lantai de ngan fungsi berbeda tiap lantainya. Bagian atas untuk khutbah dan bagian bawah untuk imam me mimpin shalat. Tak keluar dari tema besar, ornamen pada mimbar ini pun mengacu pada pola geometri segi delapan.
Secara keseluruhan, kombinasi warna pada bagian interior masjid lebih kaya dibanding eksteriornya. Pada mimbar muncul warna kuning, hijau muda, dan krem dengan lapis an batu alam warna cokelat dan kelabu. Bagian lantai memakai bahan mar mer berwarna kecokelatan de ngan garis shaf berwarna lebih muda. Perpaduan ornamen ini tampak indah dan anggun saat malam tiba. Pancaran cahaya dari lampu gantung menguatkan keindahan ma sing-masing ornamen. Keindahan berpadu keagungan ini sejalan dengan visi JIC sebagai penerang lingkungan sekitarnya.
3a8082e126